
Pedang yang ditenteng Suro seperti perkataan Dewa Pedang memang benar mengandung sesuatu hal yang tidak biasa. Tetapi Suro tidak bisa mengetahui letak permasalahannya.
Hanya saja sejak dia menenteng bilah pedang itu dia seperti mendengar suara tertentu dan ada perasaan lain yang susah dijelaskan. Tetapi terlepas dari itu semua, dia begitu menyukai bilah pedang tersebut. Baik dari kwalitasnya maupun keunikannya tidak pernah ditemui pada pedang lain.
Dia berlari kencang sesuai arah yang ditunjukan Dewa Pedang. Setelah berlari selama kurang lebih tiga puluh tarikan nafas, lamat-lamat dari kejauhan terdengar suara pertarungan.
"Jika didengar dari suara yang begitu riuh, pertarungan ini tidak hanya melibatkan dua orang saja." Suro segera mempercepat langkah kakinya yang terus berlari.
Sesuai perkiraan Suro memang benar didepannya terlihat tujuh tetua sedang bertarung dengan orang-orang yang tidak dia kenal. Tetapi dari cara berpakaiannya sekilas mirip dengan orang yang berlari cepat sebelum menghilang kedalam hutan, saat dirinya menolong Dewa Pedang.
Salah satu tetua yang sedang bertempur itu adalah tetua Tunggak Semi. Dia terlihat kewalahan menghadapi lawannya. Sebab musuh yang sedang dia hadapi adalah salah satu yang terkuat dari ketujuh Pedang Sesat.
Mereka semua adalah jagoan dengan kemampuan yang sudah berada pada tahap pedang neraka. Dengan kondisi itu mereka satu tingkat dibawah Pedang iblis.
Aura hitam yang menyertai setiap serangan yang dilakukan lawan dari Tetua Tunggak Semi mirip sekali dengan milik Pedang iblis. Tetapi tidak sepekat yang dimiliki junjungannya itu. Kemudian sebuah serangan berkekuatan penuh dari lawannya membuat tetua Tunggak Semi terlempar menghantam dinding tebing.
"Paman Tunggak Semi!" Suro berteriak keras setelah melihat dari kejauhan Eyang Tunggak Semi terlempar begitu jauh.
"Awas nakmas Suro, dia bukan lawanmu!" Tetua Tunggak Semi berteriak keras ke arah Suro yang hendak membantu menyerang lawannya.
Dia tidak membiarkan Suro melawan musuh yang begitu kuat, bahkan dia sendiri saja dibuat kewalahan. Karena lawan yang sedang dia hadapi tingkat tenaga dalamnya sudah pada tingkat shakti tahap atas.
Tujuh Pedang Sesat itu memiliki nama Baga, Wulusan, Welahan, Wanawasa, Wanadri, Jenggala, Kenana. Nama mereka yang berbeda-beda itu sebenarnya memiliki arti yang sama yaitu hutan. Sedangkan yang menjadi lawan tetua Tunggak Semi itu bernama Jenggala.
Dia terlihat begitu terkejut melihat Suro menggengam bilah pedang milik Pedang iblis. Bahkan karena begitu terkejutnya membuat dia menghentikan serangan susulan yang akan menghabisi tetua Tunggak Semi.
”Bagaimana Pedang Pembunuh iblis itu ada ditanganmu? Dimana Kanjeng Junjungan Pedang iblis berada?"
Niat Suro saat melihat tetua Tunggak Semi dalam bahaya, yang ingin dia lakukan hanyalah memberikan serangan untuk mengalihkan perhatian Jenggala. Sehingga dengan itu dapat memberikan waktu bagi tetua Tunggak Semi terhindar dari serangan susulan lawannya.
Tetapi sepertinya tanpa memberikan serangan, lawan dari Eyang Tunggak semi telah menghentikan serangan susulan. Dia terlihat begitu kaget dengan kedatangan Suro yang menggengam bilah pedang yang sangat dikenalnya.
Suro yang telah melihat Jenggala tidak meneruskan serangan susulan, membuat dia juga memilih untuk tidak meneruskan langkahnya. Dia berhenti didepan Jenggala dalam jarak lebih dari dua puluh langkah.
"Jadi pedang ini memiliki nama Pedang Pembunuh iblis, sebuah nama yang sangat bagus." Suro justru mengelus-elus bilah pedang yang sedang dia gengam.
"Dimana Kanjeng Junjungan Pedang iblis berada?" Kembali Jenggala bertanya ke arah Suro.
"Pemilik pedang ini yang paman maksud? Dia sudah kabur setelah kalah bertarung. Satu tangannya telah hancur. Beruntung dari luka yang timbul tidak membuat dia mati kehabisan darah. Jika paman ingin mencari keberadaanya, larilah ke arah sana secepatnya!" Suro menunjuk ke arah selatan dimana sebelumnya Pedang iblis telah menghilang.
"Bahkan dia tidak sempat membawa serta bilah pedangnya yang bagus ini."
"Tidak mungkin junjungan bisa dikalahkan!" Matanya langsung melotot mendengar perkataan Suro yang menyebut junjungannya telah kalah bertarung. Dia tidak akan semudah itu mempercayai perkataan Suro.
Dia sudah mengetahui kekuatan Pedang iblis yang begitu mengerikan. Tentu suatu hal yang mustahil jika bocah bau kencur bisa mengalahkan Pedang iblis. Dia mengira jika yang telah mengalahkan Pedang iblis adalah Suro.
Jenggala yang mendengar ancaman dari seorang bocah ingusan didepannya, ingin rasanya dia memecahkan kepalanya. Suara giginya berglemetuk menandakan kemarahannya sudah di ubun-ubun. Satu alasan dia tidak melampiaskan kemarahannya, karena Eyang Tunggak semi juga sudah bersiaga untuk balik menyerangnya.
Belum selesai dengan keterkejutan barusan, dia kembali dikejutkan dengan penampakan api hitam yang mulai berkobar dari bilah pedang yang dipegang Suro.
Sebenarnya Suro juga begitu terkejut saat dia merasakan bilah pedang yang digunakan untuk menunjuk Jenggala tiba-tiba menghisap chakra miliknya dengan cepat. Setelah bilah pedang itu menghisap chakranya api itu mulai muncul.
Walaupun dia agak khawatir dengan kuatnya bilah pedang itu menghisap chakranya. Tetapi dia bisa mengatasi bahaya dari hal itu dengan menggunakan tehnik empat sage dan juga kemampuan khususnya yang dapat menyerap kekuatan matahari menjadi chakra.
Selain itu dengan penampakan api hitam barusan, agaknya telah membuat lawannya ketakutan. Sehingga membuat dia tersurut sampai dua langkah.
'Kampret, ternyata pedang ini sangat berbahaya. Jika bukan karena kemampuan khususku kemungkinan besar aku sudah mati kehabisan tenaga. Bagaimana bisa mendadak pedang ini menghisap chakraku. Padahal sejak tadi tidak terjadi apa-apa. Apakah pedang ini merespon kemarahanku barusan?" Suro tetap penuh waspada jika sewaktu-waktu musuh menyerangnya.
Daya hisap pedang itu begitu mengerikan. Saking kuatnya daya hisap pedang itu membuat Suro tidak mampu melepasnya dari gengaman tangannya.
Suro memasang wajah yang jumawa saat melihat kobaran api yang bertambah besar seiring chakra yang terus dihisap oleh bilah pedang itu. Padahal saat itu dia sudah mulai berkeringat dingin melihat api hitam berkobar semakin besar.
Jenggala menatap pedang yang sedang dipegang Suro. Dia mengusap-usap matanya seakan tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Tanpa sadar dia mulai mempercayai perkataan Suro yang menyebut junjungannya telah dikalahkan.
'Benarkah bocah bau kencur ini mampu mengalahkan junjungan Pedang iblis?' Jenggala masih sulit menerima kabar tentang kekalahan Pedang iblis.
Apalagi jika dikalahkan oleh seorang bocah tentu sesuatu yang tidak bakal terjadi. Tetapi begitu melihat besarnya api hitam yang muncul di bilah pedang, membuat perkataan Suro menjadi sesuatu hal yang mungkin.
"Bocah laknat bagaimana bisa dirimu mampu membuat api hitam pada bilah Pedang Pembunuh iblis berkobar sebesar itu?”
"Mengapa tidak bisa? Ini perkara mudah bagiku paman. Apakah paman tidak pernah melihat api hitam berkobar sebesar ini? Aku rasa masa kecil paman kurang bahagia. Melihat api sebesar ini saja sudah terlihat begitu bahagia."
"Menurut Eyang guru api hitam adalah jenis api terkuat. Begitu kuatnya api ini membuat seseorang yang terbakar jenis api ini akan berubah menjadi abu dalam waktu relatif cepat. Bagaimana jika aku membuktikan perkataan Eyang guru pada tubuh paman?"
Suro mengertak Jenggala sambil menebaskan bilah pedang itu berkali-kali berharap api itu akan padam. Tetapi alih-alih mati, justru tebasan demi tebasan yang dilakukan Suro membuat kobaran api itu semakin bertambah besar.
”Ha, ha, hahaha...hahaha...! Apakah kobaran api yang semakin bertambah besar ini sudah membuat paman bertambah senang?"
'kampret kenapa apinya tidak mati-mati malah tambah besar. Gawat ini.' Suro tertawa keras untuk menutupi kepanikannya.
Jenggala tentu saja semakin dibuat terkejut dengan kejadian itu sebab api sebesar itu dia lihat hanya sekali saja, saat junjungannya sudah pada tahap penyatuan sempurna dengan iblis.
'Waduh gawat sepertinya ucapannya bukan omong kosong belaka. Agaknya bocah ini keturunan iblis, kekuatannya begitu mengerikan!’ Jenggala mengetahui bahwa apa yang dilakukan Suro bukan sesuatu yang mudah, sebab itu memerlukan tenaga dalam yang sangat besar.
Jenggala adalah yang terkuat dari ketujuh Pedang Sesat, karena itulah dia menjadi pemimpin dari mereka bertujuh.
"Munduuur semua...! Baga, Kenana, Wulusan, Welahan, Wanawasa, Wanadri, ! Tinggalkan tempat ini!"