
Belitan naga bumi telah memisahkan Batara Antaga dari pusakanya yang berbentuk bulan sabit. Pusaka yang tidak ada pegangannya itu setelah terputus kontak dengan tuannya akhirnya jatuh dan hanya tergeletak di tanah tak mampu lagi bergerak leluasa, seperti memiliki pemikiran sendiri.
Batara Antaga sendiri tidak sempat memikirkan jika senjatanya telah dipungut musuh karena dia sendiri sedang kesulitan menahan serangan dari berbagai sisi. Benturan dinding yang menerjang kearahnya serentak menghajar tubuhnya.
Selain itu kondisi tubuhnya yang sedang dililit naga bumi dengan begitu kuat, membuat dia kesulitan untuk bergerak. Bahkan sekedar untuk bernafas saja dia kesulitan. Seandainya saja dia tidak memiliki tubuh abadi dan juga tingkat tenaga dalam yang telah mencapai kekuatan tingkat surga, tentu telah hancur tubuhnya menjadi bubur.
Serangan yang berturut-turut itu belumlah berakhir, sebab tidak beberapa lama kemudian tempat yang gelap dan sempit itu menjadi terang benderang dengan pengerahan jurus keempat tapak Dewa Matahari.
Duuuum!
Getaran ledakan yang berada di kedalaman bumi, membuat bumi bergoncang dengan sangat keras. Ledakan itu begitu kuat sehingga tempat dimana Batara Antaga dikurung berubah seperti di neraka. Karena akibat dari jurus yang dikerahkan Suro membuat tempat itu penuh kobaran api yang teramat panas.
Sebelum mengerahkan jurus itu Suro terlebih dahulu telah memastikan Batara Antaga kali ini tidak sempat mengerahkan jurus yang mampu menghisap seluruh kekuatan yang dia hantamkan kepadanya. Sebab tangannya telah dililit naga hingga berderak tulang-tulang tubuhnya.
Beberapa saat setelah hantaman jurus yang begitu dahsyat teriakan kemarahan Batara Antaga terdengar keras.
"Setan alas! Akan aku cincang-cincang tubuhmu bocah sialan!"
Suatu hal yang mengagumkan melihat jurus keempat Tapak Dewa Matahari ternyata tidak juga mampu menewaskan Batara Antaga. Karena memang Batara Antaga tidak hanya pasrah menerima serangan lawan barusan.
Sebab tanpa diketahui oleh Suro, sesaat sebelum jurus itu menghantam tubuhnya, dia telah membuat persiapan untuk menyambut dahsyatnya hantaman yang akan diterima. Terlihat pada saat itu jari-jari tangannya sibuk membentuk semacam segel sihir.
Dan benar saja saat ledakan itu terjadi, tubuh Batara Antaga telah dilindungi semacam sihir pelindung. Sehingga ledakan yang begitu dahsyat tidak membuat tubuhnya hancur tak tersisa sama sekali.
Namun meskipun dia selamat, semata-mata bukan karena segel sihirnya. Karena sebenarnya sihir pelindungnya itu tidak cukup kuat menahan jurus keempat dari Tapak Dewa Matahari. Dia tetap selamat karena satu alasan, yaitu tubuhnya yang memang abadi tidak mudah dibunuh.
Saat terkena hantaman jurus Suro kepala dan tubuh sebelah kanannya remuk. Tetapi luka yang sebegitu parah tetap tidak akan mampu menewaskan Batara Antaga. Tanpa membutuhkan waktu yang lama, kepalanya yang sebagian telah pulih sudah mampu melakukan sumpah serapah penuh kemarahan berentet seperti gerbong kereta.
"Mustahil dia tidak musnah dengan jurus penghancur sekuat Dewa Matahari Menampakkan Wujudnya!" Sesaat setelah dia berhasilkan menghantamkan jurusnya, Suro segera menyadari jika Batara Antaga masih hidup.
Di saat Suro terkejut menyadari lawannya dapat menahan jurusnya, maka Batara Antaga tidak mensia-siakan kesempatan itu. Dia lalu mengerahkan jurus yang sebelumnya dia perlihatkan, yaitu rantai yang tidak terhitung jumlahnya keluar dari dalam tubuh Batara Antaga dan menghajar ketempat dimana sebelumnya Suro berada.
Namun Suro telah menyadari hal itu, dia segera menyingkir cukup jauh dari tempatnya semula, dia segera menghilang dibalik dinding tanah. Kemampuannya yang unik itu membuat lawannya tidak mampu menemukan jejaknya lagi.
Batara Antaga sudah tidak sempat lagi memikirkan kemana perginya Suro, sebab kembali dia dihajar dinding tanah dari berbagai arah. Naga bumi yang sebelumnya ikut hancur akibat pengerahan jurus Suro, kini kembali muncul dan berhasil membelit tubuhnya.
Menyadari serangannya tidak juga membuat Batara Antaga tewas Suro kemudian mempersiapkan serangan berikutnya. Setelah menghindari serangan rantai barusan, maka Suro kembali muncul tanpa diketahui oleh Batara Antaga. Dia kini akan memulai serangan yang tidak kalah kuat dan pasti akan membuat musuhnya musnah menjadi abu.
Dia hendak menggabungkan tehnik perubahan tanah dengan wujud Maha Naga Taksaka. Karena dia tidak ingin pengerahan api yang membutuhkan kekuatan yang besar itu tidak berakhir sia-sia, dengan musnah diserap jurus yang mampu dikerahkan Batara Antaga yang wujudnya seperti pusaran hitam.
"Sialan wujud apalagi yang sedang dikerahkan bocah sialan itu?!"
Batara Antaga segera menyadari keberadaan wujud naga bumi yang besarnya lebih besar dari naga bumi yang terus membelit tubuhnya. Belum berhenti dari keterkejutannya naga raksasa yang baru muncul seperempat dari tubuhnya itu mulai diselubungi api hitam oleh Lodra.
Dalam waktu yang begitu cepat tubuh naga itu telah membara dan menjadi lahar yang sangat panas. Kini yang nampak di hadapan Batara Antaga adalah naga api yang hendak menjadikan tubuhnya menjadi abu.
Sekejap sebelum Maha Naga Taksaka menghantamkan tubuhnya untuk melilit Batara Antaga, penampakkan lain muncul. Itu adalah pusaka berbentuk bulan sabit melesat membelah tubuh naga Maha Taksaka.
Sebelumnya senjata milik Batara Antaga yang bernama Sang Chandra Suci tergeletak ditanah dan telah diambil oleh beberapa murid perguruan. Mendadak pusaka itu mulai bergetar.
Para murid yang membawa pusaka bukan hanya satu orang, karena ukurannya yang besar dan berat. Maka beberapa murid perguruan berinisiatif mengangkat pusaka yang menjadi andalan Batara Antaga.
Setelah bergetar hebat, pusaka itu mulai bergerak dan mendadak berputar dengan sangat kencang. Beberapa murid perguruan Pedang Bayangan yang sedang memegang pusaka itu tidak menyangka hal itu. Mereka semua berakhir dengan tubuhnya hancur terpotong-potong.
Agaknya pusaka itu dapat kembali terhubung oleh tuannya dan seperti mendengar perintah tuannya pusaka itu kemudian melesat ke atas sangat tinggi, lalu menghujam ke bumi dengan sangat keras. Semua orang terkejut melihat gerakkan pusaka yang seakan memiliki pikiran sendiri itu.
Setelah menghantam bumi dengan begitu kuat, pusaka itu terus berputar. Bahkan putarannya semakin kencang seperti hendak menggali tanah menyusul tuannya. Dan benar saja pusaka itu, kemudian melesat masuk ke dalam tanah dengan cepat.
Lalu setelah berhasil menebas tubuh Maha Naga Taksaka, maka pusaka itu terus menerjang ke arah tuannya. Pergerakannya yang begitu cepat akhirnya berhasil membebaskan tubuh Batara Antaga dari belitan naga bumi dalam sekejap.
Semua berlangsung dengan begitu cepat, bahkan sebelum Naga Taksaka kembali menyerang, Batara Antaga sudah membuka gerbang gaib dan melarikan diri dari kurungan Suro. Tetapi masih terdengar makian Batara Antaga yang penuh kemurkaannya yang sudah tidak terbendung.
"Setan alas aku akan membalas kekalahan ini bocah sialan!"
Suro tidak mau buruannya kabur Maha naga Taksaka mengejar Batara Antaga masuk ke dalam gerbang gaib yang baru saja dibuat. Namun sesaat setelah Batara Antaga masuk ke dalam gerbang gaib, maka dia segera langsung menutupnya dengan cepat.
"Balas saja sekarang kenapa harus nanti? Makhluk sialan!" Suro berteriak keras membalas makian Batara Antaga sebelum lenyap ditelan gerbang gaib.
"Makhluk itu sangat kuat dan cerdas, sehingga mampu lepas dari kurungan yang aku buat!"
"Lain kali aku harus mampu menghabisinya."
Melihat Batara Antaga dapat meloloskan diri Suro lalu melesat naik ke atas diikuti Maha Naga Taksaka yang tubuhnya berupa magma yang sangat panas. Dia sepertinya hendak menghabisi seluruh pasukan kegelapan yang masih tersisa.