SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 66 PERTARUNGAN TAHAP FINAL part5



Widura akhirnya membuktikan bahwa dia memang pantas menjadi tetua muda. Dengan taktik dan kelihaiannya mampu mengecoh tetua, sehingga bilah pedangnya bisa menyentuh pinggang tetua Kaliki. Dengan keberhasilannya telah membuat Wakil ketua Eyang Udan Asrep tersenyum lebar.


"Apa yang sudah aku katakan! Pasti dia punya rencana yang cemerlang untuk bisa menembus pertahanan tetua Kaliki." Eyang Udan Asrep terlihat begitu semangat sampai bangun dari duduknya dan tangannnya menunjuk-nunjuk ke arah Widura yang masih ditengah arena pertarungan. Dia begitu bergembira melihat muridnya telah memenangkan pertarungan.


Setelah pertarungan Widura selesai pertarungan sesi berikutnya sudah menunggu.


Dewa Rencong segera mengambil sebuah gulungan nama dan mulai membacanya.


"Datuk Bandaro Putih! Silahkan peserta yang barusan aku sebutkan namanya segera turun ke arena untuk bertarung melawan tetua Tunggak Semi."


Mendengar namanya dipanggil dia segera bangkit dan berjalan turun ke arena dimana tetua Tunggak Semi telah menunggu.


Tetua Tunggak Semi tersenyum mendengar nama murid utama yang akan menjadi lawannya.


"Dewa Rencong bukankah anda juga dari Svarnadwipa sama seperti murid utama yang akan menjadi lawanku? Apakah benar jika pengamal silek itu mampu merubah wujudnya menjadi seekor harimau jadi-jadian?"


"Menurut kabar memang seperti itu. Tetapi aku tidak pernah melihat langsung perubahan wujudnya. Namun dari pertarungan pada babak sebelumnya, anak itu mampu meningkatkan kekuatan fisik dan tenaga dalamnya saat matanya berubah menyala seperti mata harimau. Peningkatan tenaga dalam itu terjadi pada saat pertarungan sudah berjalan sekitar lima puluh jurus. Peningkatan yang tidak wajar, bukan?"


Datuk Bandaro putih yang telah sampai dihadapan dua pendekar itu langsung menjura memberi hormat.


"Murid telah hadir, mohon petunjuk tetua!"


"Apakah nakmas sudah tahu aturan pada babak ini?"


"Sudah tetua!"


"Baiklah kalau memang nakmas sudah mengetahuinya. Gunakan setiap kesempatan yang ada sebaik mungkin. Jika sudah siap silahkan nakmas mulai menyerang!"


"Sendiko dawuh tetua!"


Mendengar perintah tetua Tunggak Semi Datuk Bandaro segera mencabut dua kerambit yang terselip di pinggangnya. Kemudian tanpa menunggu lama tubuhnya bergerak menerkam ke arah tetua. Lontaran tubuhnya yang begitu cepat hampir sejauh dua tombak melewati tetua yang bergeser menghindar. Kerambit di kedua tangannya sempat berputar menyambar namun mampu ditepis oleh tetua dengan mudah.


Tetua Tunggak semi seakan tak mau kalah serangan pedangnya mengejar tubuh Datuk Bandaro. Tetapi dengan kelincahannya tubuhnya mampu menghindari serangan itu. Ditambah saat bergerak dia lebih banyak mengunakan kuda-kuda rendah yang berbeda pada umumnya, sehingga agak menyulitkan serangan tetua.


Trang!


Satu hantaman keras pedang tetua yang menyongsong terkaman serangan lawan, membuat tubuh Datuk Bandaro terlempar sejauh lebih dari satu tombak. Murid utama dari perguruan cabang yang berada dalam wilayah Kerajaan Kandis, tepatnya berada di pinggir aliran sungai Batang Kuantan itu kembali berdiri. Matanya menyala mulutnya menyeringai. Serangan pedang dari tetua Tunggak semi itu ditahan dengan lengannya yang dilapisi baja hitam.


Beberapa kali terlihat Datuk Bandaro bergerak menerkam dengan ganas. Kerambit yang berada digengamannya ikut bergerak mencoba mencabik-cabik tetua. Tetapi semua serangan itu mampu dipatahkan semua. Bilah pedang ditangan tetua selalu dengan mudah menangkis serangan Datuk Bandaro. Permainan pedangnya yang mengagumkan mampu menahan serangan Datuk Bandaro yang seakan berubah menjadi makhluk buas.


Trang! Trang!


Dia kali ini bergerak merapat mencoba menyerang tetua dari jarak dekat. Tetapi konsekuensi yang diterima serangan tetua yang menerjang ke arahnya seperti banjir bandang. Beruntung berkali-kali lengannya mampu menahan serangan itu. Kembali serangan kerambit mencecar ke arah tubuh bawah maupun ke leher lawannya. Membuat tetua sibuk menghentikan serangan itu dengan tebasan pedangnya.


Dentang!


Hantaman keras bilah pedang tetua kembali menghantam keras ke arah datuk. Beruntung kedua lengannya dengan sigap menahan tebasan pedang itu. Begitu kerasnya hantaman bilah pedang itu membuat kuda-kuda rendahnya tak mampu menahan tekanan itu, sehingga salah satu dengkulnya menghantam lantai dan membuatnya sampai jatuh terduduk.


Hrrrrrggg!


Tetua terperanjat sampai membuatnya tersurut dua langkah. Mata Datuk Bandaro berubah melebar dan tak lagi berwarna hitam seperti manusia pada umumnya. Matanya bercahaya seakan mata seekor Harimau. Tetapi itu bukan yang menjadikan tetua tersurut tetapi ada hal yang lain yaitu, seringainya kali ini memperlihatkan gigi taring Datuk Bandaro yang berubah memanjang.


Selang tak beberapa lama hanya dalam satu tarikan nafas dia kembali menerjang ke arah tetua. Kali ini serangannya bertambah cepat dan kuat. Tetua menyadari ada perubahan kekuatan dalam serangannya kali ini. Kemungkinan seiring perubahan fisik pada diri Datuk Bandaro. Hal itu semakin membuat tetua Tunggak Semi tambah penasaran dengan ilmu silek harimau yang tersohor itu.


Meskipun tenaga dan kecepatan Datuk Bandaro berubah lebih dahsyat, tetapi itu tidak merubah jalannya pertarungan. Sebab setiap serangan yang datang dengan mudah dipatahkan oleh tetua.


Memang bukan pekerjaan yang mudah untuk menjebol pertahanan para tetua. Sebab kekuatan seorang tetua sudah berada pada tingkatan yang jauh darinya. Sehingga wajar pada tahap ini seperti melakukan sesutu yang mustahil bisa dilakukan. Karena pada tahap ini memang bertujuan untuk menguji keteguhan, tekad dan kecerdasan sekaligus kekuatan murid. Sehingga akan terseleksi orang-orang yang benar-benar pantas mengemban tugas sebagai seorang tetua muda.


Dan jika ada yang mampu melakukan tentu suatu hal yang menajubkan. Sebab tingkatan antara tetua dan peserta seperti melawan gurunya sendiri, terpaut jarak tingkatan yang sangat jauh. Sehingga bisa dibayangkan bagaimana sulitnya mereka menembus pertahanan para tetua itu. Karena itulah setiap peserta biasanya akan membuat strategi tersendiri untuk mengatasi kesulitan tersebut.


Seperti yang dilakukan Azura maupun widura mereka membuat taktik dan strategi yang mampu membuka celah kesempatan. Sehingga dengan itu, satu serangannya bisa menembus pertahanan lawan. Meskipun begitu bukan sesuatu yang mudah sehingga harus benar-benar matang strategi yang dilancarkan. Tetapi memang tidak semua peserta bisa membuat strategi seperti yang dilakukan Azura maupun Widura yang memang memiliki tingkat kecerdikan yang tinggi. Jika memilih beradu keras dengan keras tentu itu bukan pilihan yang bijak mengingat tingkat kekuatan para tetua sudah pada tingkat shakti. Namun apa yang dilakukan Datuk Bandaro Putih berbeda dari yang lain. Dia memiliki cara tersendiri untuk menghadapi tetua, sesuatu yang sangat misterius. Memang sejak awal dia terlihat misterius terutama gerak-geriknya yang agak aneh.


Setelah melewati dua puluh jurus serangan Datuk Bandaro bukan bertambah lemah, justru semakin bertambah kuat dan cepat. Mungkin sudah tiga kali lipat baik kecepatan maupun kekuatannya yang terkandung didalam serangannya kali ini dibandingkan dengan serangan awal.


Sambil menangkis serangan dari datuk, tetua itu mulai menyadari kembali perubahan fisik yang terjadi di tubuh lawannya. Otot diwajah dan lengannya seakan dipompa membuatnya terlihat lebih besar dari sebelumnya.


Meskipun sudah berusaha meningkatkan kekuatan dan kecepatannya. Tetapi setiap serangan yang berkali-kali dia lancarkan ke arah tetua Tunggak Semi masih mampu dipatahkan dengan mudah.


Suro menatap ke arah Narashinga yang tiba-tiba sudah berada di hadapannya tanpa disadari. Dia begitu serius berbicara dengan Mahadewi yang masih meminta penjelasan tentang ilmu pedang miliknya, sehingga tidak menyadari sedari tadi Narashingga sudah berdiri disitu untuk meminta bantuan kepadanya.


"Kalau boleh tahu bantuan apa yang senior minta dari saya agar aku tahu jawaban yang harus aku berikan kepada senior bisa atau tidaknya?"


"Setelah pertarungan terakhirku dengan kisanak, aku sudah menggunakan tenaga dalamku sepenuhnya. Untuk menghimpun tenaga dalamku kembali seperti semula adalah suatu hal yang mustahil. Mengingat waktu yang ada tidak cukup sampai namaku dipanggil. Sedangkan lawan yang harus aku hadapi pada babak ini para tetua yang kekuatannya sudah ditingkat shakti."


"Dengan kekuatan penuhku pun dan dalam kondisi terbaik belum tentu mampu menembus pertahanan para tetua. Apalagi dengan kondisi tenaga dalamku yang sekarang jauh dari kondisi terbaik, tentu akan sangat mustahil jika bisa menembus pertahanan tetua. Karena itu sekiranya kisanak masih ada obat yang sebelumnya pernah kisanak berikan, Jika kisanak mau menjualnya kepadaku. Aku berani membelinya dengan harga mahal. Sebab hanya itu harapan satu-satunya yang bisa membuat tenagaku bisa pulih secepatnya. Khasiat obat itu sudah aku rasakan setelah mendapatkan dari pemberian kisanak sebelumnya. Begitu cepat obat itu bereaksi bahkan tanpa perlu aku membantu penyerapannya melalui samadhi."


"Kalau hanya itu yang senior minta tentu saja aku akan memberikan."


Suro kemudian memberikan satu butir obat yang dia ambil dari balik bajunya.


"Berapa aku harus membayar obat yang luar biasa ini kisanak?"


Narashinga yang menerima obat itu seakan tidak percaya begitu mudahnya Suro memberikan obat yang bagi dia sangat berharga itu.


"Tidak perlu membayar senior seperti yang aku katakan aku memberikan bukan menjualnya."


"Benarkah kisanak?


"Tentu saja senior nggab saja itu sebagai balas budiku kepada senior yang telah memperlihatkan tehnik perubahan air dan es yang membuat diriku bisa mempelajarinya."


"Terima kasih kisanak! Terima kasih kisanak, budimu ini tidak bakal akan aku lupakan!"


Narashinga berterima kasih berulang-ulang dan akan menjura ke arah Suro, tetapi buru-buru Suro mencegah Narashinga melakukannya.


"Tidak perlu senior melakukan hal itu. Anggab saja ini sebagai balas budiku, karena secara tidak langsung senior juga telah memberikan pencerahan padaku tentang tehnik perubahan air dan es. Sudah silahkan senior gunakan. Semoga tenaga dalam senior bisa kembali pulih seperti semula. Aku yakin senior mampu mendapatkan jabatan tetua muda. Karena senior sangat pantas mendapatkannya."


Narashinga tersenyum lebar segera dia kembali ke tempat duduknya. Obat itu langsung dia telan dan mulai bersemadhi untuk membantu mempercepat tubuhnya menyerap khasiat obat tersebut.


"Bukankah itu obat terakhir yang kakang bawa. Kenapa kakang tidak memakainya sendiri? Bukankah kakang juga membutuhkan untuk memulihkan kembali tenaga dalam kakang?"


Suro menatap Mahadewi sambil mengaruk-garuk dahinya.


"Benar juga, ah sudahlah. Tidak mengapa, sepertinya senior itu lebih membutuhkan daripada diriku. Selain itu tenaga dalamku sudah pulih."


Mahadewi seakan tidak percaya dengan perkataan lelaki yang ada disebelahnya itu. Sebab dia melihat sendiri sepanjang pertarungan pengerahan tenaga dalamnya yang sebegitu besar tentu sudah menguras tenaga dalam miliknya. Tetapi sangat aneh jika sekarang dirinya justru mengatakan tenaga dalamnya telah pulih sangat tidak wajar. Sejak awal dia memang merasa kondisi Suro sangat tidak wajar, dilihat dari kekuatan yang mampu dia kerahkan dan tingkat tenaga dalamnya sangat tidak seimbang. Jika dilihat dari tingkat kundalini yang telah dia capai tak lebih dari tingkat pendekar kelas atas, tetapi pengerahan tenaga dalam yang dia lakukan bukanlah milik seseorang yang berada ditingkat kelas atas. Sesuatu yang aneh, sebab menurut perhitungannya sendiri kemampuan yang dia perlihatkan itu menunjukan dirinya sudah ditingkat shakti.


Pertarungan yang berlangsung ditengah lapang bertambah semakin sengit. Kekuatan Datuk Bandaro yang menerjang ke arah tetua Tunggak Semi yang sudah berjalan tiga puluh jurus dengan kekutan penuh seakan tak ada habisnya.


Kejutan demi kejutan dia lakukan setiap kali kekuatannya meningkat. Pertarungan kali ini seperti hewan buas bertarung dengan pawangnya. Silek harimau yang dipertontonkan dikhalayak ramai ditanah Javadwipa tentu sesuatu yang jarang dilihat. Walaupun setiap serangan yang dilakukan Datuk Bandro mampu dipatahkan, tetapi serangan tetua juga tidak mampu membuat patah semangat pesilek dari daratan Swarnabhumi itu.


Buuk!


Tendangan dari tetua mengenai pinggang Datuk yang bergerak menerkam ke arahnya. Serangan itu begitu kuat sampai melemparkan lawannya sejauh hampir satu tombak setengah. Entah bagimana tubuh Datuk bisa menahan kekuatan tendangan tetua yang begitu kuat. Bahkan saat mendarat tubuhnya berputar diudara terlebih dahulu. Seperti seekor kucing tangan dan kakinya menyentuh tanah terlebih dahulu, sehingga tidak menimbulkan cidera.


"Hrrrrrrrggggg!


Sorot mata Datuk Bandaro terlihat semakin garang. Berikut dengusannya begitu keras seperti seekor harimau yang marah. Dia sudah bersiap kembali dengan kuda-kuda rendahnya seakan telah bersiap menerkam mangsanya.


"Ampang nan Limo aia datanglah cucumu membutuhkan kekuatanmu!"


Kerambit yang sedari tadi dia pegang telah diselipkan dipinggangnya. Sambil merapalkan sesuatu dia menangkupkan kedua telapak tangannya. Kemudian dari perisai baja hitam yang ada di kedua lengannya keluar sepasang pusaka berbentuk cakar sepanjang hampir satu hasta.


***


 


SEKIRANYA ADA READER YANG MO KASIh BINGKISAN POIN DIBAWAH INI ADA LANGKAH LANGKAH UNTUK MELAKUKANNYA.