
"Akan aku pastikan nyawamu melayang untuk persembahan kematian mbakyu Ular hijau!"
Kali ini tetua yang berjuluk ahli nujum dari Perguruan Ular Hitam itu menyerang dengan menggunakan ilmu sihir miliknya. Dua lengan tangannya menerjang kedepan memanjang dan berubah menjadi dua ekor ular. Kemudian dengan cepat menyerang ke arah Eyang La Patiganna. Ular itu beberapa kali mencoba menancapkan taringnya. Tubuhnya yang semakin membesar meliuk-liuk berusaha membelit lawannya.
'Ular-ularku akan menelanmu selagi dirimu masih bernafas, sebelumnya mereka akan meremukan tulang-tulangmu terlebih dahulu!"
Melihat serangan yang berbeda dari sebelumnya tetua La Patiganna sampai harus beberapa kali jungkir balik tersurut ke belakang menghindari serangan yang datang. Beberapa kali pedang miliknya akhirnya berhasil menebas kepala ular yang bergerak dengan cepat.
Jurus Ribuan Kepakan Sayap Pedang Menari menjadi perisai dirinya agar bisa menghalau serangan yang datang. Selain itu, tubuhnya juga harus bergerak dengan cepat agar bisa menghindari terjangan tubuh ular yang meliuk-liuk hendak mematuk dan juga mengulung dirinya.
Meskipun bilah pedang tetua La Patiganna telah berhasil menebas tubuh ular hingga terpenggal kepalanya, tetapi itu tidak membuat ular yang menyerangnya langsung mati. Justru setiap satu kepala yang tertebas akan kembali tumbuh kepala yang baru. Selain itu, setiap satu terpotong, maka akan bertambah satu ekor ular lagi yang keluar dari lengan baju tetua Ular Putih. Kemudian langsung bergerak dengan cepat menerjang ke arah tetua La Patiganna.
"Sihir ular sialan!" Tetua La Patiganna meruntuk melihat jurus yang begitu merepotkan. Dia tidak pernah melihat ada yang mempunyai jurus seunik seperti yang diperlihatkan lawannya itu.
"Hahahaha....! Aku adalah ular putih! Tebasan pedangmu tidak akan bisa menghentikan ular-ular kesayanganku semudah itu. Ularku hanya akan bertambah semakin banyak! Hsssshhhhhhh...!" Setelah beberapa kali kepala ular dari jelmaan tangannya tertebas, kini telah tumbuh enam ekor ular dari dua lengannya.
Ular itu bergerak dengan begitu ganas, membuat tetua La Patiganna harus berkelit dengan cepat. Dirinya terus menghindari serangan kepala-kepala ular yang terus berebutan mematuk ke arah tubuhnya. Para ular itu terus mengejarnya tanpa henti.
Kemudian saat dia sedang menghindari serangan dari ular yang akan mematuk dirinya, salah satu tubuh ular berhasil menghantamnya. Sehingga tubuh Eyang La Patiganna harus terpental sejauh lima tombak ke belakang.
Saat dirinya masih kondisi terjengkang enam ekor kepala ular itu telah menyusul dirinya dengan mulut yang terbuka lebar memamerkan taring-taring panjangnya yang penuh dengan racun mematikan.
"Pukulan Ledakan api Mahawu!"
Bersamaan dengan teriakan tetua La Patiganna sebuah terjangan api yang sangat besar dari tehnik perubahan api menerjang ke arah kumpulan ular dari dua lengan tetua Ular Putih.
"Setan laknat engkau telah membakar ular-ularku!" Tetua Ular Putih berteriak keras saat api itu telah berhasil membakar enam ekor ular yang sudah bersiap mencaplok tetua La Patiganna.
Kemudian wujud ular-ular itu menciut dan memendek tertarik kembali, masuk ke dalam lengan bajunya dan berubah menjadi kedua lengan tangannya. Hanya saja ke dua lengannya kini bentuknya menghitam seperti arang, bahkan sebagian masih ada bara yang menyala di permukaan kulit tangannya.
Penampakan itu hanya sebentar, sebab setelah itu kulit yang terbakar mulai berjatuhan dan berganti dengan kulit yang baru. Sehingga mirip ular yang sedang berganti kulit. Setelah selesai, kedua tangannya kembali pulih seperti sedia kala.
"Hahaha...! Aku pikir ularmu tidak terpengaruh dengan apiku. Agaknya sihirmu itu mewakili tubuhmu juga. Bagaimana jika aku bakar saja seluruh tubuhmu! Aku ingin melihat apakah seluruh tubuhmu juga bisa berganti kulit seperti sekarang ini?" Selesai berbicara Tetua La Patiganna segera melontarkan api yang lebih besar ke arah tetua Ular Putih dengan jurus perubahan apinya.
Berkat kepemimpinan Eyang La Patiganna yang mengatur seluruh barisan pasukan disisi selatan, sehingga serangan musuh yang mereka hadapi, walau begitu menganas dan datang seakan air bah, sampai sejauh ini masih mampu diatasi.
Selain itu berkat reaksi cepat dari Eyang Kaliki dan Dewi Anggini yang membantu tetua La Patiganna, dengan mengerahkan seluruh pasukan yang berada dibawah kepimpinan mereka berdua, membuat pasukan lawan yang berada disisi kanan dan kiri tidak mampu meneruskan serangannya lebih jauh.
Berlanjut pada pertarungan yang dilakukan Eyang La Patiganna serangan miliknya kali ini membuat kalang kabut tetua Ular putih. Serangan lengannya yang menjelma menjadi ular sudah tidak lagi banyak membantu dirinya menghadapi serangan balasan yang dilakukan Eyang La Patiganna.
"Kakang Puspo Kajang! Bantu aku menghabisi setan laknat yang telah membunuh mbakyu Ular hijau!"
Tetua Puspo Kajang yang mendengar teriakan tetua Ular Putih segera menghabisi lawannya. Kemudian dia bergerak ke arah asal teriakan. Walaupun peperangan itu sudah riuh rendah, karena teriakan itu dilambari kekuatan tenaga dalam, membuat suaranya dapat didengar dengan jelas oleh tetua Puspo Kajang yang berjarak lumayan jauh.
"Hahaha...! Ternyata kalian hanyalah ular-ular lemah yang penakut, sehingga tidak mampu melawan diriku sendirian!"
Dua tetua ular itu mendesis keras mendengar perkataan Eyang La Patiganna.
"Tidak usah berbicara tentang etika dunia persilatan dengan kami! Kau pikir kami peduli tentang etika seperti itu! Pikirkan saja mulai dari sekarang, bagaimana caranya dirimu bisa mempertahankan kepalamu tetap menempel di lehermu? Karena sebentar lagi kami akan memisahkan kepalamu dari badanmu!"
Sekejap kemudian serangan maut dua tetua ular itu telah menghajar dengan ganas ke arah Tetua La Patiganna. Mendapatkan lawan yang berada ditingkat shakti yang tidak jauh berbeda dengan tingkatan yang dimilikinya tentu bukan lawan yang ringan ditambah satu lawan lagi yang tingkatannya tidak jauh berbeda juga, membuat Eyang La Patiganna cukup berhati-hati dan menghemat kekuatan tenaga dalamnya.
Karena dia tau kali ini pertarungan dirinya akan membutuhkan durasi yang lebih panjang. Akhir dari pertarungan itu antara dirinya bisa bertahan kemudian mendapatkan bantuan atau justru dihabisi oleh kedua tetua ular itu.
Dia hanya berharap dapat menahan musuh selama mungkin sampai bantuan datang. Sebab jika dia tidak mampu menahan serangan lawan, kemungkinan besar tidak akan banyak yang selamat. Atau justru pasukan musuh akan menghabisi semua anggota Perguruan yang memutuskan bertahan didalam Perguruan Pedang Halilintar. Karena lawan yang sedang mereka hadapi adalah orang yang rata-rata haus darah semua.
**
Diluar dinding Perguruan Pedang Halilintar pertarungan Dewa Pedang sudah berlangsung ratusan jurus. Kekuatan Pedang Iblis benar-benar luar biasa satu bukit yang menjadi area pertarungan mereka akhirnya hancur lebur. Hutan yang berada disekitar pertarungan mereka juga telah rata.
"Hahahahah......! Aku sangat menikmati pertarungan ini! Sudah sejak lama sekali aku merasakan kenikmatan memiliki lawan yang tangguh. Terakhir sejak aku menghabisi guruku yang tidak mau turun sebagai ketua perguruan! Itu sudah terjadi sangat lama sekali puluhan tahun yang lalu!"
"Sangat membosankan sekali jika tidak ada lawan yang mampu mengimbangi kekuatanku! Akhirnya setelah sekian tahun menunggu, dahagaku mulai terobati dengan merasakan kembali pertarungan seperti ini!" Pedang iblis berkelebat cepat bersama aura hitam yang selalu menyelimuti tubuhnya.
Seiring berjalannya waktu setiap jurus yang dia kerahkan mampu dipatahkan Dewa Pedang, aura iblis yang berwarna hitam semakin bertambah pekat menyelimuti tubuhnya. Semakin bertambahnya aura itu semakin bertambah buas serangan yang dikerahkan Pedang iblis.
"Kekuatan Pedang iblis ternyata memang seperti yang diceritakan orang-orang dari Benua Tengah!" Dewa Pedang menyerang balik ke arah Pedang iblis setelah dia mampu mematahkan serangan lawan.
"Hahahaha...! Ternyata kekuatan Dewa Pedang juga tidak mengecewakanku. Aku menjadi semakin penasaran dengan sosok Pendekar Tapak Dewa Matahari yang konon katanya pendekar terkuat di Benua Timur ini!"
Serangan Pedang iblis yang selalu dapat dipatahkan Dewa Pedang membuat dia semakin mengila. Dewa Pedang merasakan Kekuatan Pedang iblis justru semakin bertambah dari waktu ke waktu setelah ratusan jurus yang dilewati. Bahkan terasa semakin mengerikan kekuatan yang dia kerahkan.
"Jangan bermimpi akan mampu melawan Eyang Sindurogo. Jalan pedangmu yang kau pilih ini adalah kesalahan terbesar yang kau buat. Seharusnya engkau tau kekuatanmu tidak akan mencapai kekuatan puncak ahli pedang. Naluri pedangmu akan semakin terkikis oleh sifat buasmu yang bertambah seiring penyatuanmu dengan sisi gelap dalam hatimu."
"Laknat siapa yang meminta nasehat darimu makan jurusku ini!"
"Tcihh! Jurus picisanmu ini, bahkan tidak ada apa-apanya dibandingkan jurus buatan anak kemarin sore!" Jurus yang dimaksud Dewa Pedang adalah jurus ciptaan Suro, yaitu Tebasan sejuta Pedang yang telah menghancurkan hutan disekitar pertarungan mereka.
"Hahahaha...! Sepertinya kau akan berbangga dengan kematianmu Dewa Pedang. Kali ini aku benar-benar serius menghadapimu. Rasakan kekuatan Pedang iblis yang sesungguhnya. Inilah tahap penyatuan iblis yang sempurna!"
Bersama dengan ucapan Pedang iblis ledakan aura hitam pekat keluar dari seluruh tubuhnya. Matanya yang telah menghitam semakin menambah kengerian bagi yang melihatnya. Dari dahinya keluar tonjolan seperti tanduk iblis. Mulutnya menyeringai lebar.
"Berbahagialah Dewa Pedang engkau akan merasakan kekuatan terkuatku!"