SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 308 Iblis Kalipurusha



Batara Karang setelah mendapatkan perintah, dia segera membentuk mudra simbol tangan beberapa kali. Setelah itu dia mulai membuka sebuah gerbang gaib cukup besar. Tujuan perjalanan mereka kali ini adalah ketengah samudera dimana Iblis Kalipurusha berada.


Bersama Batara Karang empat sosok Azura yang menyerupai Dwarapala atau patung penjaga gerbang yang masing-masing menggenggam gada besar.


Sesungguhnya mereka dua belas Ashura itu memiliki sebutan lain, yaitu Lokapala atau penjaga empat penjuru arah mata angin. Seperti juga ilmu sedulur papat, sesungguhnya kedua belas penjaga Dewa kegelapan memiliki peran seperti empat penjaga gaib yang dimiliki Suro.


Karena alasan itulah mengapa para Dewa juga memutuskan menyegel penjaga gaib. Bahkan para Dewa menyegel Ashura penjaga gaib milik Dewa kegelapan lebih dahulu, sebelum menyegel pemiliknya sendiri.


Sebab jika mereka tidak menyegel para Ashura itu, maka mereka akan dapat membuka segel dewa yang telah dibentuk. Karena memang seperti itulah kekuatan utama sebenarnya dari penjaga gaib yang dimiliki, selain kekuatannya yang memang sangat mengerikan.


Setelah para Ashura masuk ke dalam gerbang gaib, maka yang lain juga menyusul. Terlihat juga dua tetua ular yang dulunya adalah petinggi Perguruan Ular Hitam ikut dalam rombongan itu. Hantu Laut, Dewi Kematian ketua Perguruan Sembilan Selaksa Racun dan juga siluman Gurita cincin biru berjalan mengikuti.


Begitu juga pasukan kegelapan mengikuti dibelakangnya. Tidak kurang dari seratus jumlah mereka yang mengikuti Batara Karang. Setelah semua pasukan yang menyertainya ikut masuk, sekejap kemudian mereka lenyap dari pandangan mata bersama tertutupnya gerbang gaib.


Mereka kemudian muncul didasar lautan yang cukup gelap. Namun sesaat sebelum mereka muncul, Hantu Laut telah membuat segel sihir. Dengan kekuatan itu seluruh pasukan yang bersama Batara Karang dilindungi semacam gelembung udara.


Didasar lautan yang cukup gelap itu dari kejauhan nampak sebuah cahaya cukup terang. Sinar itu mampu menerangi dalam radius cukup jauh.


Dengan pengendalian sihir yang dimiliki Hantu Laut, gelembung udara yang melindungi pasukan bergerak menuju ke arah cahaya terang tersebut. Dalam jarak sekitar sepuluh kali selemparan batu, maka penampakan sebuah istana megah mulai terlihat.


Sinar yang terlihat dari kejauhan itu ternyata bersumber dari tempat disekitar istana tersebut. Bebatuan yang berasal dari bebatuan khusus memiliki kemampuan menyerap panas bumi.


Bebatuan itu membentengi tempat itu sekaligus menjadi penerang yang bersinar hingga sampai di kejauhan, seakan istana itu memiliki matahari di dalamnya.


Tempat dimana cahaya itu bersinar sebenarnya berada ditengah-tengah jurang yang sangat dalam. Sehingga keberadaan cahaya itu sangat kontras dengan kondisi dasar lautan yang sangat gelap.


Para pasukan yang memiliki kemampuan khusus didalam air segera keluar dari gelembung udara. Wujud dari siluman gurita kemudian berubah menjadi gurita raksasa. Delapan tentakelnya bergerak seperti ular naga.


Begitu juga Hantu Laut telah berubah menjadi seekor wujud makhluk campuran. Bentuk dari kepalanya mirip seekor hiu. Namun makhluk itu memiliki tangan dan kaki. Bentuk ekor dan punggugnya lebih mendekati milik seekor buaya. Ditangan Hantu laut tergengam sebuah trisula hitam.


Mereka bergerak tidak serta merta. Hal itu dipicu kedatangan makhluk yang sebentar lagi muncul untuk menghadang. Perasaan Hantu Laut yang sangat sensitif dilautan merasakan kehadiran musuh meski belum terlihat.


Dan benar saja selang tidak beberapa lama dari kegelapan jurang melesat dua sosok yang mengendarai semacam belut raksasa. Kemungkinan itu belut listrik dengan ukuran sebesar pohon kelapa. Mereka berdua melesat dengan kecepatan renang seperti anak panah yang membelah angin.


"Siapa kalian? Berani sekali kalian masuk wilayah Kanjeng Junjungan Iblis Kalipurusha...!" Salah satu dari mereka berteriak keras.


Wajah dua sosok yang mengendarai belut raksasa itu memiliki insang dikanan kiri sesuatu yang mengantikan kupingnya. Matanya bulat seperti mata seekor Tarsius. Giginya runcing seperti ikan piranha.


Teriakan para prajurit yang mampu merambat melewati air sesuatu yang cukup unik dan mengagumkan. Seperti suara paus raksasa. Namun suara itu tersapu oleh suara berikutnya yang datang lebih dahsyat.


Hentakan keras dari suara tersebut menimbulkan riak gelombang air yang menyapu ke segala penjuru dengan lebih kuat. Bahkan mampu membuat ketakutan kawanan ikan hiu karang yang sebelumnya terlihat bergerombol ditempat tersebut.


Terlihat dua sosok yang mengendarai belut listrik terkejut dengan kuatnya gelombang suara. Meskipun begitu, dua sosok yang terhentak dengan kuat itu tidak menghiraukan kekuatan lawan.


Mungkin mereka tidak memiliki rasa takut atau memang sudah dilatih, sehingga tidak memiliki rasa takut. Sebab setelah itu mereka menjawab dengan ucapan yang menyiratkan ketidak takutannya atau justru terlihat penuh kecongkakan.


"Kanjeng Junjungan sedang tidak ingin diganggu, katakan saja kepadaku aku akan menyampaikan, jika Kanjeng Junjungan berkenan! Kalian bisa kembali nan...!"


Duuuum!


Craaas!


"Kurang ajar! Mulut lancang! Berani sekali!"


Sebelum mereka selesai berbicara Hantu laut langsung menghantamkan satu penjaga itu dengan ekor besarnya. Belut listrik raksasa yang hendak menyerang dihantam dengan tombak trisula milik Hantu laut.


Siluman gurita tidak mau kalah, satu tentakelnya langsung meraih prajurit satunya. Dengan sekali gulung, akhirnya tubuh prajurit itu remuk hancur.


Belut listrik hendak menyerang dengan kekuatan listriknya, justru dua lengan milik gurita raksasa lainnya berhasil menangkap tubuh belut listrik tersebut. Entah kekuatan apa yang membuat siluman gurita tidak mempan oleh serangan kuat dari energi listrik yang dimiliki belut itu.


Kemudian dua lengan gurita yang mampu memegang erat, menarik keras ke arah berlawanan membetot hingga terputus menjadi dua.


Sebelum mereka kembali melanjutkan langkahnya, berduyun-duyun pasukan manusia setengah ikan seperti sebelumnya, lengkap dengan belut listrik sebagai tunggangannya telah menyerbu dalam jumlah yang lebih banyak. Tetapi semua langsung dilibas oleh Hantu Laut, siluman gurita raksasa, dan juga pasukan kegelapan yang kekuatannya cukup mengerikan.


Pasukan kegelapan yang datang bersama Batara Karang rata-rata telah berada ditingkat langit. Tehnik serangan mereka tidak kalah mengerikan dengan Hantu Laut maupun siluman gurita. Tubuh pasukan kegelapan yang ikut menyerang memiliki bentuk menyerupai kadal Basilisk. Jenis kadal yang memiliki kemampuan dapat berenang dan dapat berjalan diatas air.


Namun pasukan kegelapan kali ini terlihat begitu beringas, melihat manusia ikan dan belut listrik raksasa, mereka justru seperti melihat santapan siang. Dalam waktu yang tidak berselang lama semua pasukan yang mencoba menahan kedatangan mereka telah habis dimangsa oleh pasukan kegelapan.


Batara Karang bersama empat Ashura, makhluk yang menyerupai bhuta kala, melihat dari kejauhan dan tetap berada dalam gelembung udara. Bersama dirinya pasukan yang tidak memiliki kemampuan khusus bertahan dalam air. Mereka memilih tetap bertahan didalam gelembung udara yang diciptakan Hantu Laut.


Melihat serangan pasukan yang mencoba menahan mereka, hal itu membuat Batara Karang cukup murka. Dia merasa jika itu sengaja dilakukan oleh Iblis Kalipurusha.


"Apakah seperti ini caramu menyambut seorang tamu dari penguasa semesta hitam, iblis Kalipurusha!" Teriakan Batara Antaga membentuk gelombang yang bergerak menghantam istana besar yang berada dikejauhan.


Tetapi entah mengapa hentakan kuat itu sepertinya tidak mampu mengenai istana yang berada dikejauhan. Rasa Penasaran itu membuat Batara Karang segera memerintahkan pasukannya bergerak cepat mendekat ke arah cahaya dikejauhan itu.


Pasukan pengikut Iblis Kalipurusha yang berdatangan silih berganti dapat dihabisi dengan mudah oleh Hantu Laut dan yang lainnya.