SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 453 Berikan Satu Alasan



Melihat kekuatan dahsyat yang diperlihatkan musuhnya, Nenek Yin lalu membentuk simbol tangan beberapa kali. Lalu kembali tongkat ditangannya digunakan untuk menggebrak lantai dengan keras.


"Datanglah kalian semua pasukanku!"


Kali ini ledakan asap yang muncul begitu luas, bahkan hampir seluruh area pertarungan dipenuhi asap. Setelah itu muncul pasukan yang entah datang dari mana.


Keadaan sebagian besar dari mereka lebih buruk dibandingkan kondisi tetua Dewi Anggini dan Dewa Rencong. Tetapi aura kekuatan mereka cukup mengerikan. Sebagian besar dari mereka sudah berada ditingkat langit ke atas.


Tidak tanggung-tanggung Nenek Yin mengeluarkan seluruh koleksi pasukannya. Dia tidak lagi memandang remeh kekuatan Suro dan yang lain. Entah sudah berapa lama Nenek Yin mengumpulkan pasukan dari musuh yang dia kalahkan. Paling lemah kekuatan para pendekar yang menjadi bonekanya berada pada tingkat shakti.


"Serang mereka!"


Bersama teriakan Nenek Yin, maka seluruh pendekar dalam kendalinya secara serempak menyerang mereka bertiga.


"Aku tidak akan mengampunimu, kekuatan sesat milikmu begitu mengerikan! Entah kau jelmaan iblis mana? Bagaimana mungkin kau menjadikan manusia menjadi seperti ini?" Tatapan ngeri dan penuh kemarahan menjelma menjadi satu membuat Suro bertekad menghabisi lawannya.


Suro menyadari jika para pendekar yang muncul setelah dipanggil oleh Nenek Yin awalnya adalah manusia seutuhnya. Seperti juga Dewi Anggini dan Dewa Rencong yang sudah tidak memiliki ingatan lagi.


Suro segera bergerak untuk memulai serangannya, namun sebelum melakukan serangan lebih dahulu dia memastikan keselamatan Mahadewi.


"Geho Sama kamu jaga Dinda Mahadewi, biar aku yang akan menghabisi nenek sihir itu!"


Tubuhnya segera lenyap. Satu tujuan serangan dia kali ini, yaitu menghabisi tetua Yin Wuya. Seketika tubuhnya muncul di hadapan pendekar dari aliran hitam itu.


"Tendangan Penghancur Langit!"


Bldaaar!


Tendangan dengan kecepatan tinggi itu mampu ditangkis oleh Nenek Yin menggunakan tongkatnya. Tetapi dia tidak menyangka energi yang melambari kekuatan itu begitu dahsyat.


Secara berturut-turut Suro menyerang musuh. Suro tidak memberi kesempatan musuh untuk bernafas. Namun Nenek Yin tidak mudah dirobohkan begitu saja.


Dia memanfaatkan kelemahan Suro, yaitu dengan menggunakan boneka miliknya. Diantaranya adalah tetua Dewi Anggini dan Dewa Rencong.


Mereka berdua menyerang Suro dengan segenap kemampuan yang mereka miliki. Tentu saja hal itu cukup menyulitkan Suro.


Sebab dia tidak ingin melukai mereka berdua. Kesulitannya semakin bertambah selain menghadapi dua pendekar itu. Sebab musuh yang dia hadapi bukan hanya Dewi Anggini dan Dewa Rencong.


Selain menghindari serangan dua pendekar yang dia kenal, secara bersama dia juga harus menghindari serangan musuh lain yang tak kalah mematikan.


Gandewa Wijaya miliknya dia gunakan untuk menangkis serangan pedang dari tetua Dewi Anggini yang menyergapnya dari berbagai arah.


Tetapi karena dia sendiri yang menciptakan jurus itu, maka dengan lihai dia dapat merebut setiap bilah yang digunakan untuk menyerang dirinya.


Kelihaian Suro dalam memainkan pedang begitu mengagumkan membuat Nenek Yin tercekat," bagaimana dirimu mampu mengalahkan gurumu sendiri putri Yifu Yuan dengan semudah itu?"


"Aku sendiri yang menciptakan jurus ini, jadi mudah bagiku untuk mematahkan dan merebut semua bilah pedangnya!" Suro menyeringai dan melesatkan bilah pedang yang barusan direbut ke arah Nenek Yin.


Tetapi kembali para pendekar yang menjadi boneka Nenek Yin menghalangi serangan Suro. Terutama yang digunakan untuk menghalangi serangan itu adalah Dewa Rencong dan juga tetua Dewi Anggini.


"Licik sekali," Suro mendecak kesal menggunakan mereka berdua untuk menahan serangan miliknya. Sebab dengan itu dia terpaksa menarik kembali serangannya.


Nenek Yin berusaha membuat jarak dengan Suro dan menjadikan tubuh para pendekar menjadi tameng bagi dirinya. Kondisi itu membuat Suro harus memutar otak agar serangannya tidak melukai mereka.


Tetua Dewi Anggini yang seluruh pedangnya dilucuti kini menggunakan tubuhnya untuk menghalangi serangan pedang terbang Suro yang berusaha membunuh Nenek Yin.


"Keberadaan mereka berdua membuat seranganku tidak mampu aku kerahkan secara maksimal." Beberapa kali Suro terpaksa menarik serangannya. Sebab tubuh tetua Dewi Anggini dan Dewa Rencong bergerak menghadang.


Para pendekar yang telah berubah layaknya mayat hidup terus berusaha mendekati dan menghabisi Suro, tetapi dengan jurus pertama dan kedua dari ilmu Tapak Dewa Matahari mereka akhirnya mati dengan tenang tidak lagi menjadi boneka pendekar aliran hitam itu.


Kali ini Suro berkonsentrasi penuh agar secepatnya mampu menghabisi Nenek Yin Wuya tetua dari Perguruan Seribu Hantu. Setiap serangan yang dia kerahkan dilakukan dengan sangat hati-hati.


Dia lakukan itu untuk mencegah serangannya benar-benar tidak akan melukai Dewa Rencong dan tetua Dewi Anggini. Keselamatan Mahadewi sudah dia serahkan pada Geho Sama, sehingga dia dapat menghadapi musuh tanpa beban pikiran.


Apalagi saat itu Pedang Kristal Dewa yang dalam kendali Lodra, terus melesat menyerang musuh dan ikut melindungi Mahadewi.


Kemampuan Suro yang diluar perkiraan Nenek Yin akhirnya membuat jagoan aliran hitam itu ketar-ketir. Sebab pasukan boneka yang dia panggil tidak juga mampu menghentikan langkah Suro untuk terus mengejar dirinya.


Ilmu Langkah Maya menjadi kunci serangannya yang tak terduga dan dapat bergerak dengan begitu cepat.


Suro akhirnya mendapatkan kesempatan, di saat Nenek Yin itu lengah. Dia segera menyerang dengan menggunakan tehnik perubahan tanah miliknya.


Serangan Suro kali ini berhasil mengenai musuhnya, dia hendak menenggelamkan tubuh musuhnya itu amblas masuk ke dalam tanah.


Langkah pertama tanah yang dipijak Nenek Yin berubah menjadi telapak tangan raksasa yang menggenggam tubuh musuhnya itu dengan sedemikian erat, seakan hendak menghancurkan seluruh tulang musuhnya.


Kemudian secara bersamaan Suro juga memanggil Naga Bumi. Tubuh naga itu bergerak dengan cepat mencegah Nenek Yin mampu meloloskan diri dari cengkraman tangan raksasa.


Sebab saat itu Nenek Yin telah meledakkan kekuatan miliknya, sehingga mampu menghancurkan tehnik perubahan tanah yang baru saja dikerahkan Suro.


Meskipun ledakan kekuatan tingkat surga milik Nenek Yin berhasil menghancurkan gengaman tangan raksasa, namun itu hanya mampu membebaskan tubuhnya hanya sekejap saja.


Belum sempat bernafas lega Naga Bumi telah menggulung tubuhnya dengan begitu cepat. Tidak ingin buruannya lepas, Suro kembali memperkuat serangannya dengan mengerahkan tehnik perubahan api miliknya.


Pukulan tangan kosong melemparkan kobaran besar api hitam pada tubuh Naga Bumi. Dalam waktu yang singkat Naga itu berubah menjadi Naga Api.


Kemudian dalam satu tarikan nafas tubuh itu dibawa masuk ke dalam tanah.


Duuuum!


Rengkahan tanah memanjang tempat munculnya Naga Bumi kembali menutup dengan kecepatan tinggi, hasilnya suara dentuman keras menggelegar dan membuat bumi bergoncang dengan hebat.


Rengkahan tanah yang menutup kembali itu menandai akhir dari riwayat Nenek Yin Wuya tetua dari Perguruan Seribu Hantu. Dia akhirnya berhasil dibawa ke dasar bumi oleh Naga Api yang membelit dan membakar habis seluruh tubuh tetua Yin Wuya.


Gempa bumi sempat melanda tempat itu. Karena begitu kerasnya getaran, maka sisa bangunan yang sebelumnya dihancurkan Geho Sama akhirnya sepenuhnya runtuh.


Suro berpikir dengan dihabisinya Nenek Yin, maka pasukan yang berada dibawah kendali jagoan dari aliran hitam itu akan kembali sadar. Pemikiran yang dilakukan Suro tidak sepenuhnya salah.


Namun segel yang ditanamkan pada setiap pendekar termasuk Dewa Rencong dan Dewi Anggini tidak serta merta lepas begitu saja. Sebab jarum Sesat Pengunci Sukma membuat mereka dalam kondisi tetap mengamuk mengikuti perintah terakhir yang diberikan Nenek Yin.


Suro dan Geho Sama lalu bergerak berbarengan mencoba mencabuti setiap jarum yang menancap pada tubuh mereka.


Setelah itu Suro mulai menggunakan Sastra Jendra untuk menyadarkan ratusan pendekar itu. Pupuh atau larik yang berisi tentang Bhagavad Gita atau nyanyian Sri Kreshna dia lantunkan melalui permainan suling miliknya.


Dengan Sastra Jendra tehnik sihir penyegel Sukma berhasil dia hancurkan. Dengan itu, seluruh pendekar yang berada dalam pengaruh kekuatan sihir hitam kembali sadar.


Kejadian berikutnya cukup membuat Suro terkejut. Sebab sebagian besar pasukan yang dia kembalikan kesadarannya sudah sangat terlambat untuk dapat diselamatkan.


Setelah segel pengunci Sukma berhasil di lepas, maka tubuh mereka segera membusuk dengan cepat. Tetapi satu senyuman dan kata-kata terakhir berupa ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada Suro, menandai moksanya Sukma mereka dari jasadnya yang berubah menjadi debu.


Para pendekar yang masih bertahan segera dipulihkan oleh Suro.


Disaat Suro sedang berkutat mencoba menyelamatkan para pendekar, maka Geho Sama yang mendapatkan giliran untuk menghadapi pasukan musuh. Sebab saat itu prajurit kekaisaran telah mengepung mereka dalam jumlah ribuan yang menutupi seluruh area itu dengan senjata terhunus.


"Dimana Pangeran Mahkota sialan yang mengundang kami datang? Akan aku pecahkan kepalanya! Berani sekali menipu kami!" Geho Sama menjadi begitu murka, setelah melihat langsung bagaimana akhir tragis dari perjalanan hidup para pendekar yang berhasil diselamatkan Suro.


Dia tidak pernah menyangka ada manusia yang begitu kejam memperlakukan manusia lain sampai pada tingkat yang dia sebagai bekas siluman merasa miris.


Pandangan matanya menyapu keseluruh musuh yang telah mengepung mereka bertiga dalam jumlah tak terkira banyaknya. Tetapi tidak ada sama sekali dalam tatapannya itu rasa takut sedikitpun.


Senjata Brahmastra yang dia lemparkan beberapa kali membuat barisan musuh hancur lebur. Tetapi musuh yang berdatangan justru puluhan kali lipat lebih banyak.


Walaupun begitu dengan serangan Brahmastra miliknya barusan, telah membuat musuh berpikir untuk kembali mendekat lebih jauh.


"Berikan satu alasan yang mampu meyakinkan diriku untuk tidak menghabisi kalian semua!" Teriakan suara Geho Sama yang dilambari tenaga dalam kembali mengema.


Suara itu begitu keras sehingga mampu menggetarkan seluruh bangunan di komplek istana yang luas.


**


Trala terima kasih yang telah memberikan dukungan. Semakin banyak dukungan maka semakin semangat Authornya nulis.


Seperti janji bulan lalu jika menjadi pemenang 20 besar vote dua mingguan, maka in Sha Allah akan ada 20 chapter tambahan.


sekian dan terima kasih buat semua.


satu lagi semua masukan saya baca mengenai kwalitas tulisan yang saya buat banyak yang tidak puas.


setiap chapter sudah beberapa kali saya revisi sebelum di upload, pun setelah di upload sekalipun berkali-kali tetap saya revisi. meskipun begitu tetap saja ada kekuranag dari sudut pembaca.


Apapun itu saya berusaha untuk membuat yang terbaik.


terima kasih dukungan semuanya