SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 447 Sarang Penjahat part 3



Mahadewi masih mengawasi musuh yang sepertinya sedang merencanakan sesuatu. Pertempuran yang mereka lakukan barusan telah mengundang hampir seluruh penghuni daerah sarang penjahat itu keluar dan ikut bergabung mengepung Mahadewi.


Mahadewi walaupun cukup mampu menahan serangan lima puluh orang dengan kekuatan tingkat tinggi dan beberapa tingkat shakti, tentu tidak akan mudah jika jumlahnya kini menjadi tiga kali lipat dari sebelumnya.


Dia mulai meraba kantong pill tujuh bidadari yang pernah diberikan Suro kepadanya. Mendengar suara bergremincing dari botol hatinya sedikit lega, sebab dia memiliki cadangan pill yang cukup.


Dia kembali mencoba mengumpulkan tenaga dalam, sambil mengamati musuh yang belum kembali bergerak menyerangnya.


'Andai kakang ada disini, tentu musuh sebanyak ini bukan hal besar,' Mahadewi hanya bisa berkhayal Suro datang menolongnya.


**


"Baik jika itu keputusan kalian, tetapi aku sudah mencoba memberi peringatan kepada kalian, jika kalian sedang bermain api."


"Tetapi taruhannya sangat besar kali ini kakak Hen," ucap Feng Lei kepada Feng Hen, dia mencoba meluluskan rencananya.


"Aku tidak peduli dengan apa yang akan kalian lakukan pada dara itu, tetapi ingat bagian atas harta keluarga Yang sesuai dengan janji kalian." Feng Hen menatap Huang Ren, iblis Pemetik Bunga dan juga adiknya sendiri Feng Lei.


"Jika kita berhasil, maka kita akan meninggalkan tempat kumuh ini dan pergi ke tempat yang menyenangkan. Harta keluarga Yang sangat banyak,"ucap Huang Ren membuat Feng Hen semakin tertarik dengan rencana ketiga pendekar tersebut.


"Semua habisi wanita itu!" Tanpa menunggu lama Feng Hen langsung berteriak memberi aba-aba ke seluruh pendekar yang mengepung Mahadewi.


"Sudah aku duga, berurusan dengan orang-orang seperti kalian seharusnya tidak perlu diberi ampun! Padahal sudah aku peringatkan masalah ini kepada kakang Suro," Mahadewi segera bergerak cepat.


Musuh kali ini memahami jika dengan serangan jarak dekat mereka akan kesusahan. Sebab pendekar wanita itu tidak membiarkan mereka mendekat lebih jauh.


Tring! Tring! Tring!


Hujan jarum beracun menyerang ke arah Mahadewi. Tetapi pedang milik Mahadewi bergerak sangat cepat membentengi dirinya.


Dari segala penjuru serangan musuh mencoba menembus pertahanannya.


"Jangan biarkan wanita itu bernafas lebih lama! Gunakan serangan beracun!" Melihat Mahadewi mampu menahan serangan hujan jarum membuat Feng Hen merubah siasatnya.


Pada pertarungan di Gunung Seribu Labirin, Feng Hen melihat Suro kebal terhadap racun. Tetapi dia bisa menyaksikan gadis itu selalu berlindung dibelakang Suro, jika serangan racun itu melesat ke arah mereka.


Dengan melihat kejadian lalu, dia mencoba memastikan kembali.


"Feng Lei, Huang Ren dan terutama kau Zhang iblis Pemetik Bunga yang telah membawa masalah ke daerah ini jangan hanya berpangku tangan serang wanita itu bersama yang lain!"


"Tapi..?" iblis Pemetik Bunga hendak protes tetapi niatnya dia batalkan, karena Feng Hen kembali memerintahkan dirinya bergabung dengan yang lain menyerang Mahadewi.


Kali ini dara itu mulai kerepotan mendapatkan serangan bertubi-tubi. Bukan hanya pedang miliknya yang digunakan untuk menghadapi serangan musuhnya. Jurus Langkah Kilat dia gunakan untuk bergerak dengan sedemikian cepat.


"Iblis Pemetik Bunga gunakan jurus meringankan tubuh setan terbang milikmu!" Feng Hen mencoba membentuk serangan bersama-sama.


Feng Hen adalah pendekar yang telah mencapai tingkat Shanti lapis ke tujuh. Jarak yang begitu jauh dari Mahadewi tidak serta merta mampu menghadapi jurus sepuluh pedang terbang milik Mahadewi.


Apalagi saat itu Mahadewi menggunakan jurus Langkah Kilat, sehingga wujud bayangan Mahadewi sendiri sudah bergerak seperti lesatan petir.


Lebih dari dua puluh pendekar yang memiliki kekuatan tingkat tinggi ke bawah harus meregang nyawa terkena serangan milik Mahadewi.


Mahadewi menyadari jika kekuatan miliknya memiliki batas dan akan cepat terkuras habis, jika mengerahkan jurus pedang terbang dan juga jurus langkah kilat secara bersamaan.


Tetapi dengan pill yang diberikan Suro, maka untuk saat ini dia masih mampu mengatasinya. Dia tidak tau sampai kapan kondisi itu dapat dia pertahankan.


Saat pertempuran telah melewati lebih dari seratus jurus Feng Hen mulai geram, dia mengira dara itu akan kehilangan kekuatan tenaga dalamnya, tetapi dia tidak melihat tanda-tanda kelelahan pada Mahadewi.


Melihat hal itu dia tidak sabar untuk menghabisi dara tersebut.


Feng Lei mengikuti ucapan kakangnya. Dia yang sedari tadi bertarung menggunakan pedang, setelah mendapat perintah kakangnya dia mengganti senjata sebentuk sabit.


Di saat Mahadewi sudah cukup kerepotan mendadak dari arah luar muncul pasukan yang dipimpin Yang Xiaoma.


Bersama kedatangan Yang Xiaoma ikut dua ratus prajurit penjaga kota hendak membantu Mahadewi. Yang Jiang sebenarnya sudah datang. Tetapi dia tidak langsung membantu.


Yang Jiang cukup sadar diri jika dia langsung terjun, tentu hanya akan membuat beban bagi Mahadewi. Apalagi dalam pengamatannya dara itu belum benar-benar terdesak.


Walaupun telah diserang dengan jurus beracun sekalipun, dara itu tubuhnya tidak tumbang. Tentu saja karena obat penawar racun membuat Mahadewi tetap dapat berdiri tegak.


Dia juga menggunakan jurus langkah kilat untuk keluar dari kabut beracun yang digunakan lawan.


"Biarkan kami yang menghadapi mereka pendekar Mahadewi!" Yang Xiaoma menyerang pasukan yang kebanyakan berada dibawah tingkat tinggi.


Yang Xiaoma memberikan kesempatan bagi dara tersebut berkonsentrasi. menghadapi Feng Lei dan Feng Hen yang dibantu iblis Pemetik Bunga dan juga Huang Ren.


Mahadewi cukup lega dengan datangnya bala bantuan yang dibawa Yang Xiaoma dan juga Yang Jiang.


Kini dia hanya melawan empat orang membuat dirinya memiliki nafas lebih panjang.


Feng Lei dan Feng Hen menyerang secara berpasangan. Bedanya serangan yang dikerahkan Feng Hen dilambari perubahan api.


Sehingga tiap tebasan sabit seperti dua capit kelabang yang siap memberikan sengatan mematikan. Mahadewi memahami jika serangan dua orang itu cukup beracun.


Karena itu dia berusaha menjaga jarak dari serangan kembar dua Feng. Tetapi itu artinya akan berhadapan dengan Huang Ren maupun Zhang An yang lebih dikenal dengan nama iblis Pemetik Bunga.


Kondisi Iblis Pemetik Bunga yang udah terluka olehnya dia jadikan sasaran serangannya kali ini. Sepuluh pedang terbang berlesatan mengelilingi tubuhnya.


Sebab Huang Ren atau berjuluk si jarum setan terus menghujani dirinya dengan serangan senjata rahasia miliknya. Sesuai dengan namanya, senjata beracun yang menghujani Mahadewi adalah jarum yang berukuran cukup kecil.


Lawan yang mengepung dirinya tiga diantara memiliki tingkat tenaga dalam lebih tinggi dibanding dirinya yang masih tingkat Shakti lapis ke dua. Sehingga pertempuran yang dia lalui berjalan sampai lebih dari seratus jurus bukanlah hal yang mudah.


Jika sejak tadi dia tidak menggunakan pill tujuh bidadari, tentu dirinya sudah ambruk kehabisan tenaga dalam. Sebab tehnik langkah kilat yang dikerahkan secara terus menerus untuk mengimbangi kecepatan serangan musuh, terus menguras tenaga dalamnya. Kondisi itu membuat dia cukup khawatir.


Lebih dari seratus jurus mereka bertukar serangan. Mahadewi tetap kokoh menghadapi empat lelaki yang sama-sama mencapai kekuatan tingkat Shakti.


Wusss...


Craaasss...


"Arrrgghhhh...!" Semua terkejut saat menyaksikan iblis Pemetik Bunga tertembus perutnya oleh pedang milik Mahadewi yang melesat menyerang dari arah belakang.


Dia memang membuat setiap satu musuhnya melayani lebih dari satu bilah pedang. Feng bersaudara masing-masing melayani tiga bilah pedang.


Sehingga sisanya empat bilah pedang terbagi dua untuk menyerang Huang Ren dan Zhang An atau iblis Pemetik Bunga.


Di saat Zhang An sedang berkonsentrasi menghadapi dua bilah pedang yang mencecar dengan sangat cepat, satu bilah lain menyelinap dengan sangat apik melesat dan menembus perutnya.


Zhang An langsung ambruk, berakhir sudah riwayat lelaki itu ditangan wanita yang hendak dia gagahi.


"Kalian bertiga juga akan menyusul!" Suara geraman Mahadewi membuat mereka tidak menyangka dara semuda itu dapat mempercundangi mereka berempat.


Feng Hen sebelumnya sudah sangat percaya diri mampu menghabisi Mahadewi. Apalagi dia sudah dibuat begitu kerepotan harus menghadapi begitu banyak musuh yang mengepung dirinya.


Kenyataannya ternyata tidak seperti yang dia bayangkan seperti perkiraan pada awal. Sebab wanita itu datang menyerang ke daerah sarang penjahat tidak sendirian, tetapi didukung oleh pasukan penjaga kota Shaanxi.