
“Jangan khawatir Geho Sama, sepertinya aku sudah mulai terbiasa dalam mengendalikan kekuatan Kegelapan, aku pasti bisa mengatasi serangan Dewa Kegelapan kali ini,” seringai Suro sambil menatap ke arah serbuan serangan dari lawannya.
Duuuuuuuuuum! Duuuuuuuum!
“Tidak mungkin ini terjadi, sungguh ini mustahil!” seru Dewa Kegelapan dengan wajah tidak percaya.
Pandangan mata Dewa Kegelapan berubah nanar saat menyaksikan dengan menajubkannya muncul ribuan tangan raksasa meninju segala godam yang dia ciptakan untuk menghancurkan Suro. Serangan yang dikerahkan Suro itu adalah kemampuan yang berasal dari pengendalian dari unsur kegelapan seperti juga Dewa Kegelapan.
Semua itu dapat beralasan, sebab selain unsur kegelapan, maka semua hal akan hancur saat berhadapan dengan serangan milik makhluk itu. Hal itu juga yang dinasehatkan oleh Sang Hyang Lodra pada pertempuran sebelumnya.
Sang hyang Lodra meminta Suro untuk membawa pertempuran ke dalam Dunia Kegelapan melalui kemampuan khusus Sosrobahu penguasa dari Pedang Pelahap Sukma. Sebab kekuatan dari Pedang Pelahap Sukma itu adalah mampu mengirim apapun menuju Dunia Kegelapan dan tentunya bagi orang biasa akan tewas dan hancur. Namun itu tidak berlaku pada Suro.
“Bagaimana makhluk buruk rupa, apakah kau terkejut dengan kemampuan yang baru saja aku perlihatkan?” ucap Suro sambil tertawa terkekeh.
“Jangan besar kepala kau manusia sialan, ini yang baru saja aku perlihatkan hanyalah sebagian kecil dari kekuatanku yang sebenarnya!” dengus Dewa Kegelapan dengan sorot mata yang penuh dengan kemarahan.
Setelah itu sebuah badai muncul disekitar Dewa Kegelapan dan mulai membentuk pusaran yang semakin lama semakin membesar. Lalu tanpa diduga sama sekali pusaran itu mulai menyusut dan menjelma membentuk tubuh dari Dewa Kegelapan. Kini tubuh Dewa Kegelapan tubuhnya menjadi sedemikian besarnya.
Telapak tangannya lalu mengapai ke arah Suro hendak menggenggamnya. Besar telapak tangan itu sepanjang mata memandang antara timur dan selatan. Tentu saja sangat sulit bagi Suro dapat menghindarinya, maka saat
itulah Geho Sama dan Suro tertangkap dalam genggaman dari Dewa Kegelapan.
“Matilah!” teriak kegirangan dari Dewa Kegelapan dengan begitu senangnya merasa berhasil dapat menangkap Suro.
Hanya saja seringai wajahnya yang menutupi langit itu mendadak berubah dengan sangat cepat, sebab tanpa di duga telapak tangan raksasa miliknya itu secara cepat memuai dan menghilang seperti baru saja tersapu angin.
Matanya lalu menyaksikan sebuah pusaran yang berasal dari dalam telapak tangannya itulah yang membuatnya hancur. Itu adalah pusaran yang dikerahkan oleh Suro. Seperti juga yang dilakukan oleh Dewa Kegelapan, kini
Suro juga membuat pusaran yang sangat kuat, sehingga unsur kegelapan yang menjadi bahan tubuh dari Dewa Kegelapan ikut tersedot dan menjadi bagian pusaran milik Suro.
Secara cepat pusaran itu yang dikerahkan oleh Suro menjelma menajdi sosok raksasa yang ukurannya hampir seperdelapan dari tubuh Dewa Kegelapan. Lalu dengan lincahnya tubuh raksasa Suro yang di dalmnya ada Geho
Sama berloncatan di tubuh Dewa Keglepan sambil memberikan serangan berturut-turut.
Tendangan dan juga hantaman yang dilakukan oleh Suro itu tidak disangka begitu kuatnya, sehingga tubuh Dewa Kegelapan terlempar beberapa kali setiap kali terkena serangan dari Suro. Suara dentuman itu begitu
kerasnya, sehingga jika itu pertempuran masih berada di atas Gunung Mahameru, maka tidak akan ada makhluk hidup yang ada di sekitarnya dapat hidup.
Semua pasti akan mati karena begitu dahsyatnya suara dan juga hempasan kekuatan yang melambari serangan berturut-turut. Keadaan itu terjadi secara cepat melebihi kilat dan berlangsung cukup lama.
“kau pikir dengan tubuhmu yang cukup besar ini mampu mengalahkanku, kau salah makhluk terkutuk!” seringai Suro yang memang dengan sengaja membentuk tubuh keduanya dengan ukuran yang jauh lebih kecil dibandingkan tubuh raksasa Dewa Kegelapan.
serangan yang dikerahkan Suro tidak mampu dihindari maupun ditangkis oleh Dewa Kegelapan kecuali hanya sebagian kecilnya saja.
“Manusia sialan, kau akan aku hancurkan!” teriak Dewa Kegelapan dengan kemarahannya yang berapi-api. Tubuh makhluk yang begitu besar itu terlempar begitu jauh hingga hancur setelah serangan dari Suro menghajarnya
secara berturut-turut tanpa ampun.
Namun itu tidaklah membuat Dewa Kegelapan tewas, justru itu hanya menyulut kemarahan dari makhluk yang menjadi musuh para dewa tersebut. Kemudian dia mengerahkan kemampuannya dalam mengendalikan kekuatan kegelapan dengan sedemikian mengerikan. Dia membuat pusaran yang seakan menyedot segala hal yang ada di dalam Dunia Kegelapan.
Mata Suro menjadi maspada dengan apa yang dilakukan lawannya kali ini. Geho Sama yang berada di dalam tubuh raksasa Suro berubah menjadi sedemikian ketakutannya, tubuhnya menggigil, andai dia tidak dilinduni oleh
aura kekuatan Suro, maka tubuhnya akan tersedot oleh pusaran yang kini tengah dikerahkan oleh Dewa Kegelapan.
“Berhati-hatilah bocah, aku rasa dia kini akan mengerahkan kemampuan pamungkasnya,” ucap terbata Geho Sama dengan jantung yang seakan hendak meledak oleh rasa takut yang menghinggap.
“Justru ini lah yang aku tunggu, dia akan merasakan kekuatannya sendiri,” ucap Suro tetap dengan ketenangannya.
“Tenang saja Geho Sama, percayakan padaku,” imbuhnya.
“Tenang matamu!” gerutu Geho Sama yang masih dilanda ketakutan. Matanya menyaksikan kekuatan pusaran dari Dewa Kegelapan semakin dahsyat. Bakan dia melihat kilat petir juga muncul dari dalam pusaran tersebut.
Setelah kilat petir dia juga melihat semburan api yang semakin lama semakin besar. Selain itu matanya juga menangkap kekuatan dahsyat dari pusaran itu secara pasti ikut menyeret tubuh Suro hendak ditelan ke dalamnya.
“Apa yang sebenarnya yang kau rencanakan bocah sialan, mengapa kau justru terdiam dan tidak melakukan apapun, lihatlah makhluk sialan itu hendak menelan kita!” seru Geho Sama bertambah panik.
Andai Geho Sama itu tidak berbicara dari ruang batin di dalam pikiran Suro, maka mustahil teriakan dan pembicaraan mereka berdua dapat saling di dengar. Beruntung mereka memiliki kemampuan saling berbicara dan
berbagi kesadaran dalam pikirannya, sehingga dapat berbicara.
Suara menggelegar dan suara bising lainnya dari pusaran maha raksasa itu sungguh mampu menelan Gunung Mahameru seperti sebuah nyamuk yang berada di depan hidung seekor gajah. Bahkan lebih dari pada itu seakan nyamuk yang berhadapan dengan badai yang melanda sebuah benua. Namun uniknya dengan kekuatan yang begitu mengerikan itu pusaran tersebut tidak dapat menyedot keberadaan Suro kecuali hanya sejengkal demi sejengkal.
“kau sudah mengerti bukan rencana yang aku buat untuk memastikan keberadaan Dewa Kegelapan yang sangat mengerikan ini lenyap dari alam semesta untuk selama lamanya?” ujar Suro membalas kegaluan yang dirasakan
Geho Sama yang bertambah ketakutan.
“Apakah kau yakin dengan rencana ini bocah sialan?” tanya Geho Sama dengan wajah semakin kusut.
Entah apa yang sebenarnya direncanakan oleh Suro, sebab setelah mendengar dari perkataan Suro ketakutan Geho Sama bertambah semakin menjadi. Ekspresi yang diperlihatkan Geho Sama itu seperti seorang terhukum
mati yang sedang berada di depan para penembak jitu yang hendak melakukan eksekusi.