SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 38 Siluman Sungai Mahakam



Lawan dari Azura adalah Anum Panji dia berasal dari Perguruan Gerbang Mahakam. Perguruan itu berada di wilayah Kerajaan Kutai Martadipura. Kerajaan itu berdiri sejak abad keempat Masehi di Muara Kaman, tepatnya dihulu sungai Mahakam.


Perguruan tempat Anum Panji belajar juga berada disekitar hulu sungai Mahakam. Perguruan itu memiliki nama besar dengan jurus andalannya adalah "Jurus Cecaran Hujan".


Nama jurus itu dibuat karena serangan itu dapat membuat lawan seperti tersayat oleh guyuran hujan. Jurus andalan lain yang membuat perguruan itu memiliki nama di dunia persilatan, adalah tehnik khusus perubahan air yang konon kabarnya diperoleh dari siluman sungai Mahakam.


Dua peserta sudah terlihat berdiri di tengah arena pertarungan.


"Pendekar Azura, aku sudah lama mendengar nama besar pasukan topeng iblis, aku ingin merasakan kehebatan nama besar itu!"


"Aku juga mendengar pendekar Azura yang akan menjadi satu-satunya kandidat yang akan menggantikan ketua diperguruan pedang bayangan? Jika itu benar! Aku harap itu akan menjadikan pertarungan ini tidak mengecewakan?"


Anum panji bertanya sambil tersenyum penuh percaya diri. Sepertinya dia begitu percaya diri dengan kemampuan yang dia miliki.


"Aku juga mendengar sebuah jurus cecaran hujan dan ilmu dari siluman air begitu hebat? Apakah nama itu sehebat aslinya hingga menggaung sampai di tanah javadwipa?"


Sebuah senyum seakan dipaksa, terukir diraut muka Azura. Matanya yang terlihat begitu tajam memandang lawannya. Dua bilah pedang terhunus dikedua belah tangannya. Tangannya begitu erat memegang ganggang pedangnya.


Kulit Azura yang kuning langsat bersebrangan dengan semua aksesoris yang menempel ditubuhnya. Dari ujung kaki sampai ujung kepalanya serba berwarna hitam. Sebuah topeng dengan bentuk muka yang menakutkan segera ia pakai. Menyisahkan dua lubang mata memperlihatkan sorot mata yang begitu tajam masih menatap lawannya.


Dulu ada satu pasukan yang dikenal sebagai Pasukan Topeng Iblis. Pasukan itu memiliki reputasi yang tinggi sehingga sering disewa kerajaan untuk menumpas banyak perampok yang meresahkan masyarakat. Mereka disinyalir memiliki hubungan dengan Perguruan Pedang Bayangan.


Tetapi tidak ada saksi mata hidup yang bisa menceritakan ciri-ciri pasukan itu. Setiap kelompok penyamun yang akan menjadi target maka mereka semua akan dihabisi dan tidak ada sisa satu pun yang dibiarkan hidup.


Hanya ada satu cerita yang simpang siur yang mengatakan pasukan itu memiliki topeng seperti yang biasa dipakai pasukan elit Perguruan Pedang Bayangan.


Setelah kabar itu tersiar maka berbagai kalangan aliran hitam mulai melakukan rencana untuk menumpas habis perguruan itu. Beruntung kabar itu sudah bocor duluan. Sehingga membuat para tetua perguruan pedang bayangan secepatnya mengadakan pertemuan dengan Dewa Pedang dan meminta perlindungannya. Sekaligus menyatakan keikutsertaan mereka sebagai bagian cabang Perguruan Pedang Dewa yang lebih dikenal Perguruan Pedang Surga.


Setelah mendengar bahwa Perguruan Pedang Bayangan merupakan bagian Perguruan Pedang Surga maka semua aliran hitam mengurungkan niatnya menyerbu perguruan tersebut. Nama besarnya sebagai pendekar pedang nomor satu memang sangat ampuh menakuti para aliran hitam. Dia memang disegani baik lawan maupun kawan.


"Hahahaha.....! Aku tidak menyangka!Ternyata tuan pendekar Azura menggenal jurus perguruan kami juga!" Anum panji sambil berkata dia mencabut satu bilah pedangnya ditangan kanan. Bentuk pedangnya tidak seperti pedang kebanyakan. Bahkan lebih pantas disebut golok. Mereka menyebut pedang itu dengan nama sendiri "Mandau Panglima Angin."


Sesaat setelah wasit memberi aba-aba dimulainya pertarungan Azura langsung menyerang lawannya. Dia berubah menjadi empat bayangan hitam.


Anum panji yang melihat lesatan bayangan manusia menyerang dari berbagai arah tidak memberikan reaksi terkejut. Dia yang memiliki postur tubuh tinggi sedikit ramping terlihat cepat meraih sesuatu dari balik pakaiannya.


Serangan begitu dahsyat segera disambut Anum panji dengan serbuan jarum-jarum yang dibentuk dari air tertentu. Serangan dari Anum Panji melenyapkan seluruh bayangan Azura.


Bersamaan dengan lenyapnya bayangan itu muncul dari sisi kanan dan kiri arena. Saat Anum panji menyerang dua sisi bayangan yang mendekati dirinya dengan begitu cepat hanya terlihat seperti kelebat bayangan, sekonyong-konyong dari sisi belakang muncul dua bayangan lain yang meluncur dengan cepat.


Traaang!


Serangan itu segera ditahan dengan permainan pedang milik Anum panji. Perubahan serangan pedang bayangan begitu cepat dan tak terduga. Kembali kelebatan bayangan manusia muncul dari berbagai arah menyerang Anum panji.


Serangan tehnik ilusi yang diperlihatkan Azura berkali-kali menyerang Anum Panji dari berbagai arah. Tetapi serangan jarum es milik Anum Panji mampu mematahkan serangan lawan.


Setiap kelebat bayangan mendekat oleh Anum panji dia hadang dengan serangan jarum yang dibuat dari tetesan air segera melenyapkan mereka semua.


Kemudian sebuah bayangan dari belakang begitu cepat meluncur. Segera Anum panji menyabetkan pedangnya menyambut serangan itu. Seakan bersamaan muncul kelebat bayangan dari atas berhasil menerobos pertahanan Anum panji. Sebilah pedang menancap dileher. Kemudian satu kelebat bayangan lain menyusul dengan cepat menancapkan bilah pedang menembus ulu hati Anum panji sampai tembus bagian belakang tubuhnya.


Semua bayangan Azura lenyap menyisahkan tubuh Azura yang asli. Pria dengan topeng yang menyeringai seperti iblis itu menancapkan pedangnya tepat diuluhati musuhnya.


Semua begitu cepat berlangsung bahkan penonton yang memiliki ilmu dibawah tingkat kelas satu hanya akan melihat kelebat bayangan yang bergerak sangat cepat. Penonton berteriak begitu histeris melihat Anum panji tertusuk dengan begitu telak.


Teriakan histeris memenuhi arena. Beberapa penonton perempuan memalingkan muka. Mereka tidak mampu melihat pemandangan yang begitu sadis.


Bahkan wasit tak sempat menghentikan gerakan Azura.


Ada hal yang aneh saat bilah pedang itu menancap tidak terdengar suara kesakitan atau teriakan dari Anum panji.


Lebih anehnya dalam kondisi Anum panji tubuhnya mengalami luka tusukan yang begitu parah justru mimik mukanya seakan mengejek lawannya. Luka itu menembus sampai bagian belakang tubuhnya. Satu senyuman yang terkesan mengejek sambil menatap lawannya. Wajah Azura yang hanya menyisahkan dua lubang mata terlihat begitu terkejut dengan reaksi lawannya yang aneh.


Wasit yang merupakan salah satu tetua dari timur jauh yang bernama La Patiganna. Dia sempat mencoba menghentikan pertarungan sebelum sesuatu semakin buruk. Tetapi hal yang terjadi berikutnya membuat dia berhenti bahkan membuat semua orang terhenyak.


Tubuh Anum panji langsung mencair dan jatuh membasahi lantai arena.


Penonton yang melihat peristiwa itu terkesima dengan jurus penuh trik-trik sihir.


Traaang...!


Tiba-tiba satu sabetan pedang begitu kencang menghantam dari sisi belakang Azura. Tetapi sabetan pedang itu hanya mengenai lantai arena. Sepertinya Azura menyadari lawan yang akan menyerangnya. Sosoknya langsung melesat menjauhi Anum panji yang entah bagaimana sudah berada dibelakang Azura.


Pertarungan dua pendekar itu begitu rumit. Selain itu ilmu yang mereka kerahkan membuat penonton sulit untuk mengikuti kecepatan mereka.


Nafas penonton seakan tertahan melihat bagaimana gencarnya serangan antara mereka berdua.


**


Rithisak somnang yang berada dibangku peserta terlihat begitu kagum dengan pertarungan mereka.


"Menurutmu apakah jurus pedangmu mampu menandingi pedang bayangan itu?"


Pertanyaan Rithisak somnang ditujukan kepada peserta yang ada disebelahnya yang dikenal memiliki jurus tujuh pedang terbang.


"Menurutmu apakah jurus pedangku tidak terlalu hebat dibandingkan dengan trik sihir murahan itu?" Mahesa agak tersingung dengan pertanyaan Rithisak seakan merendahkan jurus kebanggaanya.


"Jurus pedangmu kuakui sangat hebat tetapi variasi serangan pedang bayangan itu begitu cepat berubah. Bahkan perubahan jurusnya begitu banyak dan sangat cepat."


"Aku melihat berbagai jurus Dewa Pedang juga dirangkum dalam perubahan jurusnya."


"Ditambah trik sihir itu benar-benar menambah kesulitan dalam menghadapi jurus itu."


"Ah itu trik murahan mudah bagiku menghadapinya."


"Menurutku tanpa sihir itupun jurus Pedang Bayangan sudah sangat hebat. Penggabungan berbagai jurus pedang yang dia gunakan begitu sempurna." Suro tiba-tiba menyela percakapan mereka.


Rithisak menoleh ke arah Suro sambil melotot.


Suro yang mendengar ocehan Rithisak hanya menyengir kuda. Kemudian duduk kembali sambil mengaruk-garuk kepalanya.


"Hei.. bocah! Bagaimana kamu bisa lolos menjadi peserta seleksi ini? Aku dengar kau adalah salah satu kandidat yang mewakili Perguruan pusat? Tetapi mereka para murid Perguruan pusat tidak mengenalimu. Bahkan mereka mengaku tidak pernah melihat wajahmu sebelumnya."


Rithisak bertanya dengan nada tinggi dan tidak lupa dengan mata melotot.


"Eeee....! Mohon maaf senior saya kurang paham masalah itu. Aku rasa senior bisa bertanya langsung kepada para petinggi perguruan. Entah mereka mendaftarkan namaku mewakili mana?"


"Mengenai masalah-masalah lainnya Dewa Pedang sendiri sepertinya yang mengurus. Aku hanya disuruh datang kesini oleh Dewa Pedang untuk ikut seleksi menjadi tetua muda."


"Kamu pikir dirimu siapa! Pendekar pedang nomor satu kamu anggap seperti pembantumu!"


"Saya hanya mengulang kata-kata Dewa pedang. Kalau ingin lebih tau tentang hal itu, bisa tanyakan langsung kepada Dewa Pedang. Aku pikir Dewa Pedang bisa menjelaskan lebih jelas daripada senior bertanya padaku tentang hal itu."


Jawaban Suro membuat semua terhenyak. Apalagi Rithisak dia seperti gelagapan tidak bisa membalas. Perkataan Suro seakan menganggab Dewa Pedang hanya seperti teman sepermainan. Karena bagi mereka Dewa Pedang berada diposisi yang tak mungkin mereka dekati.


Apalah arti mereka dihadapan Ketua Perguruan itu. Mereka yang hanya murid utama bertatap muka langsung saja mereka akan menunduk sedalam-dalamnya. Apalagi harus mencecarnya dengan pertanyaan-pertanyaan tidak penting. Tentu mereka tidak akan ada nyali untuk melakukan itu. Bagi para perwakilan cabang yang jarang bertatap muka dengan Dewa Pedang kharismanya saja bisa membuat keringat dingin.


Begitu segan dan hormatnya mereka kepada ketua perguruan itu tentu ada alasannya. Mengingat betapa ketua perguruan cabang mereka menaruh penghormatan kepada Dewa pedang begitu tinggi. Sebab berkat perlindungannya, perguruan cabang mereka dapat terselamatkan dari kehancuran.


"Pintar sekali kau memainkan kata. Tidak usah mempermainkan kita yang ada disini dengan menjual nama besar Dewa Pedang!"


"Bukan kapasitas kami untuk menanyakan hal itu kepada Ketua Perguruan!"


"Semua yang ada disini adalah murid utama yang langsung mendapatkan bimbingan dari para tetua yang menjadi guru kami! Sekarang sebutkan tetua cabang mana yang menjadi gurumu?"


"Eeeee....! Jika berhubungan dengan perguruan ini, bisa dikatakan Dewa Pedang yang menjadi guruku. Jadi aku rasa ini yang menjadi alasan namaku masuk sebagai perwakilan Perguruan pusat."


"Kebohongan apa lagi ini! Jangan mempermainkan kami bocah! Jika berita besar ini memang benar tentu kami mendengar berita besar itu. Dewa Pedang yang tidak pernah memiliki murid utama akhirnya dia mengangkat seseorang menjadi murid. Hal ini tentu akan menjadi sebuah berita besar yang menyebar ke seluruh perguruan. Tetapi mereka orang-orang perguruan pusat saja tidak mendengar berita ini!"


"Tidak usah membuat lelucon yang mengada-ada!"


Suro hanya mengangkat bahu sambil memberi ekspresi wajah yang


Mengisyaratkan, bahwa dia tidak tau menahu masalah itu. Kemudian dia duduk kembali.


"Kalau kau katakan Dewa Pedang secara tidak langsung menjadi gurumu berarti ada guru yang lain. Sebutkan gurumu yang sebenarnya siapa?"


Suro kembali bangun sambil menatap Rithisak sambil menarik nafas panjang. Sepertinya dia mulai jengah dengan tingkah Rithisak yang mencecarnya. Tetapi dia tetap tersenyum.


"Guruku hanya seorang petapa yang kebetulan kenal dengan Dewa Pedang. Jika aku sebutkan namanya tentu senior tidak akan mengenalnya."


Semua orang yang mendengar seakan tidak mempercayai bahwa Suro merupakan kandidat yang langsung direkomendasikan Dewa Pedang. Mereka tidak mempercayai hal itu. Sebab dimata mereka Suro tidak ada kelebihan dibandingkan yang lain. Penampilan Suro yang tidak meyakinkan tentu membuat mereka semakin ragu.


Tetapi ada satu hal yang menambah kebingungan mereka tentang perkataan Suro. Ada satu hal yang membuat mereka diam-diam mengamini perkataanya. Dalam peraturan perguruan hanya para tetua yang boleh mencalonkan murid utama yang termasuk murid dalam perguruan.


Orang yang bukan dari anggota perguruan tentu saja dilarang mengikuti. Bahkan yang termasuk murid luarpun tidak akan bisa mengikuti seleksi untuk menjadi kandidat. Apalagi orang luar tentu saja tidak akan bisa masuk kandidat.


Jika ada orang yang bisa menabrak peraturan itu, jawabnya hanya ada satu orang yang bisa melakukan itu. Orang yang dimaksud tentu saja Dewa pedang sendiri. Posisi dia sebagai ketua perguruan punya hak khusus untuk melakukan itu.


Apa yang dikemukakan Suro sebenarnya masuk diakal selaras dengan fakta. Alasan dia ditunjuk langsung oleh Ketua Perguruan membuat kemungkinan dia bisa lolos menjadi kandidat menjadi suatu hal yang mungkin. Meskipun dia awalnya bukan dari bagian perguruan.


Tetapi atas dasar apa sepertinya mereka tidak menemukan alasannya. Pikiran mereka buntu tidak mampu menemukan jawabannya. Mereka tidak menanyakan lebih jauh dikarenakan pertarungan Azura dan Anum panji semakin bertambah seru


**


Beberapa luka terlihat sudah menghiasi tubuh Azura meski itu bukan luka yang cukup serius. Bukan hanya Azura yang mendapatkan luka, sebenarnya sudah beberap kali bilah pedang Azura menghujam tubuh Anum panji dengan telak. Tetapi setiap kali tubuh itu terkena serangan Azura yang terkena adalah tubuh duplikatnya saja yang akan berubah menjadi air dan menghilang.


Tehnik mereka yang begitu unik membuat semua orang takjub dan menghibur. Seakan mereka sedang melihat pertunjukan trik sihir, dengan ditaburi tehnik pedang yang mengagumkan.


Mandau Panglima Angin milik Anum panji menghantam lantai arena dengan begitu keras. Serangan tehnik siluman air yang begitu cepat hadir dari atas Azura. Tetapi dengan cepat mampu dihindari oleh Azura. Dia yang bergerak selayaknya siluman, bergerak hanya seperti kilasan bayangan. Seakan hantu yang sedang lewat.


Pertarungan mereka berlangsung begitu alot. Banyak penonton yang harus dibuat mutah-mutah melihat beberapa kali adegan Azura memotong tubuh duplikat Anum panji.


Walaupun dalam aturan pertarungan seleksi ini dilarang membunuh lawan, tetapi setiap serangan yang dilakukan para serta merupakan serangan maut. Jika tidak dapat dihindari maka akan berujung kematian karena begitu mematikannya serangan mereka.


Matanya menatap Azura yang berdiri dalam kondisi siaga berjaga dari serangan Anum panji yang entah bagaimana kadang muncul dari sudut tak terduga tanpa bisa diantisipasi terlebih dahulu. Untungnya kecepatan geraknya mampu menyelamatkan dirinya dari serangan yang begitu mendadak.


"Ternyata cerita tentang kehebatan pasukan topeng iblis bukan isapan jempol belaka!"


Anum panji membuka pembicaraan saat melihat Azura yang juga terlihat mencoba mengumpulkan tenaga kembali. Sepertinya gerakan dia yang begitu cepat sangat menguras tenaganya.


"Hahahahaha....! Begitu juga jurus cecaran hujan dan tehnik siluman sungai Mahakam memang pantas namanya mampu menyebrangi lautan luas dan bergaung sampai terdengar ditanah Javadwipa."


Dengan berhentinya kata-kata Azura kembali dia menyerang lawannya.


Sebuah strategi baru digunakan Azura untuk menangkap wujud asli Anum panji. Kemampuan uniknya selalu mampu mengecoh serangan Azura dengan tubuh duplikatnya.


Kali ini dia berusaha tidak terkecoh oleh tubuh duplikat Anum panji lagi. Dia mencoba memecahkan trik Anum panji.


Gulungan kilasan bayangan tubuh Azura yang mengepung mengelilingi Anum panji begitu banyak. Seakan dia tidak memberikan kemungkinan adanya celah yang digunakan Anum panji untuk lolos dari kepungannya.


Kelebatan bayangan dari tubuh Azura semakin bertambah banyak dan berputar hampir mengelilingi seluruh arena. Tubuhnya tetap berkelebat dengan cepat entah mengejar apa. Sesuatu terjadi saat satu kelebat bayangan Azura menebas bayangannya sendiri.


Trang...!


Kemudian terdengar dentingan pedang beradu. Terlihat pedang Anum panji terlempar jauh. Kebanyakan para penonton belum menyadari apa yang terjadi.


Sekejab kemudian sosok Azura telah menyilangkan kedua pedangnya dileher Anum panji. Dengan posisi terlentang dilantai arena dadanya ditindih satu dengkul Azura.


Dua bilah pedang Azura menyilang dan menjepit leher Anum Panji dilantai arena dengan erat. Membuat Anum panji tak berani bergerak sedikitpun bahkan untuk bernafaspun dilakukan dengan pelan. Sebab jika lehernya digerakan sedikit saja maka leher itu akan tersembelih.


Tetua La Patiganna yang menjadi wasit segera menghentikan pertarungan. Sebuah kemenangan gemilang telah dipegang Azura.