SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 322 Ilmu Beladiri Kalaripayattu



Panglima perang dari negeri Bharata itu memiliki nama Gajah Seno. Namanya sudah mewakili tubuhnya yang memang seperti raksasa. Tubuh Dewa Pedang sekalipun hanya setinggi dadanya.


Meskipun tubuh yang cukup besar, namun dia dapat bergerak dengan begitu lincah. Begitu juga anak buahnya yang memiliki sebutan Asta Airawata atau delapan gajah dewa.


Nama Airawata sendiri diambil dari nama gajah tunggangan Batara Indra. Menurut cerita, Airawata merupakan salah satu gajah penjaga alam semesta. Ia dianggap sebagai pemimpin para gajah.


Namun bagi Gajah Seno nama itu digunakan sebagai kedelapan pasukan khusus yang selalu menyertainya dalam setiap pertempuran. Gerakan mereka sekuat gajah selincah kera dan secepat harimau. Sebab inti jurus yang mereka gunakan berasal dari ilmu bela diri kalaripayattu


Kata kalaripayattu merupakan gabungan dari dua kata yaitu "kalaria" dan "payattu" yang artinya adalah tempat latihan dan pertarungan. Kalaripayattu adalah bentuk seni kuno dan dianggap sebagai salah satu bentuk seni bela diri tertua di Jambudwipa.


Bela diri Kalaripayattu menjadi sebuah ilmu yang wajib digunakan di beberapa kerajaan Jambudwipa bagian selatan antara lain Cholas, Pandyas dan Cheras.


Selain bela diri Kalaripayattu ada ciri khas lain dari pasukan Bharata, adalah penggunaan tameng bulat ditangan kiri dan sebilah pedang ditangan kanannya. Gerakan mereka yang terlihat begitu harmonis saling mengisi dan melindungi satu sama lain, sudah memperlihatkan jika mereka telah menghabiskan waktu berlatih dalam jangka waktu yang panjang.


Pasukan inti yang berjumlah delapan orang terus menggempur Dewa Pedang dari segala sisi untuk membantu tuannya yang menyerang dengan begitu buas. Dentuman gada yang menggelegar terus terdengar karena menghantam tempat kosong.


"Habisi Dewa Pedang agar aku bisa mendapatkan hadiah tenaga murni yang menurut Batara Karang mampu meningkatkan kekuatan sampai tingkat surga lapis pertengahan!"


Serangan yang dilakukan Asta Airawata bersama Gajah seno membuat tanah tempat bertarungan itu terus bergetar hebat, seakan telah terjadi gempa bumi.


Setiap hentakan kaki mereka seperti langkah kaki gajah. Selain itu pedang yang digunakan para Asta Airawata, memiliki bentuk yang tidak biasa.


Pedang mereka mirip seperti jurus pedang lentur milik Made Pasek, tetapi lebih panjang. Cara menggunakannya justru mirip sebuah cambuk.


Selain Asta Airawata pasukan pendukung lain ikut membantu menyerang. Setiap kali Asta Airawata mundur serentak, maka serangan lain yang berupa senjata rahasia menghujani Dewa Pedang.


Senjata rahasia itu berupa logam baja bulat kecil-kecil seperti gotri yang dilesatkan menggunakan semacam sumpit panjang. Kecepatan lesatan gotri dari logam itu sangat sulit ditangkap oleh mata manusia biasa.


Selain itu mereka menyerang pada titik-titik vital. Seperti sistem saraf, pembuluh darah, otot, organ tubuh, dan persendian. Sehingga jika terkena akan membuat tubuh lumpuh atau bahkan akan mati.


Karena serangan yang mereka lakukan menggabungkan dengan sebuah tehnik pengobatan varmam yang dikenal di Jambudwipa bagian selatan.


Meskipun hujan serangan datang secara berlapis-lapis dengan sebegitu banyaknya, seakan tidak ada celah sedikitpun bagi Dewa Pedang mampu menghindar, namun tidak ada satupun serangan lawan yang menghujaninya itu mampu menembus pertahanan jurus pedang miliknya.


Karena memang seperti itulah jurus Dewa Pedang bukanlah jurus yang mudah ditaklukan. Jurus yang namanya sudah terkenal kedikdayaannya sejak ratusan tahun.


Begitu juga nama Dewa Pedang tetaplah Dewa Pedang, saat kekuatannya baru mencapai tingkat shakti tahap puncak, namanya sudah ditakuti golongan hitam dan disegani semua tokoh rimba persilatan di seantero Benua Timur.


Kini kekutannya telah mencapai tingkat surga, meskipun tidak ada satu pun gerbang yang sudah dia buka. Namun itu sudah cukup baginya untuk menahan seluruh serangan lawan.


Serangan berupa gotri baja tidak mampu menyentuhnya. Begitu juga pedang milik Asta Airawata yang menyabet dirinya dan menghantam seakan cemeti tetap mampu dia tangkis.


Begitu juga serangan yang dilakukan panglima pasukan dari negeri Bharata itu, serangan yang meledak-ledak dan bergerak dengan begitu buas tidaklah mampu menyentuh tubuh Dewa Pedang.


Dia kemudian mengerahkan jurus yang sama, seperti saat dia menyerang Pedang gila.


"Jadi seperti ini ilmu Kalaripayattu yang terkenal itu. Jurus kalian cukup dahsyat, namun tidak cukup kuat untuk membunuhku!"


"Sekarang giliranku, lihatlah mata kalian baik-baik, inilah jurus Pedang Dewa yang sesungguhnya!"


"Jurus Hati Pedang!"


Kesepuluh pedang yang dia gunakan sedari tadi untuk menangkis serangan lawan, kini bergerak menyerang balik. Setiap bilah pedang yang melesat dengan kecepatan tinggi, seakan memiliki pikiran sendiri.


Serangan balik dari Dewa Pedang tidak ada satupun yang mampu menghindar atau menangkis. Sebab setiap kali mereka mencoba menangkis, pedang itu justru berkelit menghindari tangkisan lawan. Kemudian melesat menembus tubuh lawan.


Kemudian Dewa Pedang menutup serangan balik miliknya dengan jurus yang lebih kuat.


"Jurus Tebasan Sejuta Pedang Api!"


Blaaar! Blaaar!


Wuuussss...


Serangan yang dikerahkan Dewa Pedang menghancurkan seluruh pasukan musuh. Dalam sekali tebasan yang dia kerahkan barusan, mampu mencapai lebih dari jarak lima puluh langkah.


Serangan yang digabungkan dengan tehnik perubahan api telah meledakkan kekuatan tingkat api biru. Akhirnya seluruh musuh yang mengepungnya berakhir dengan tubuh tercincang dan lenyap dibakar api biru.


**


Disaat Dewa Pedang, eyang Sindurogo, Dewa Rencong dan seluruh tetua Pedang surga sedang berjibaku dengan musuh mereka masing-masing, tanpa mereka ketahui musuh dari negeri atap langit memanfaatkan kesempatan itu.


"Kita datang ke Swarnabhumi ini ada beberapa tugas utama yang harus kita laksanakan, pertama kita ditugaskan untuk mengumpulkan tumbal manusia sebanyak mungkin. Kedua ditugaskan untuk merebut relik kuno yang berada didalam istana Dhamna milik Kerajaan Kandis.


Tetapi dengan kedatangan pasukan dari Perguruan Pedang Surga, kesempatan itu sepertinya sudah tidak memungkinkan lagi. Pasukan dari kita dan juga dari Jambudwipa sebentar lagi akan hancur.


Karena itu lebih baik kita melaksanakan tugas utama yang ketiga, yaitu menangkap hidup-hidup putri Yifu Yuan atau Bidadari Tangan Seribu.


Jangan menyerangnya secara frontal kita gunakan bubuk pelemah tulang yang telah aku buat demi misi ini.


Bubuk ini sangat ampuh melumpuhkan musuh. Apalagi bubuk ini tidak berwarna dan tidak berbau, pasti dia tidak akan mengenali, maupun menyadarinya."


Lelaki yang menggunakan topeng itu adalah pemimpin dari pasukan pembunuh. Dia dan pasukan yang bersamanya tidak menggunakan pakaian yang seperti digunakan musuh yang sempat dihabisi oleh eyang Sindurogo.


Mereka justru berpakaian seperti layaknya pasukan dari negeri atap langit lainnya. Seluruh pasukan pembunuh yang bergabung hanya patuh kepada lelaki itu.


Mereka sama sekali tidak menganggap perintah yang diberikan para senopati maupun panglima pasukan negeri atap langit atau juga panglima dari negeri Jambudwipa.


"Rencanaku sejak awal untuk menangkap putri Yifu Yuan memang akan aku lakukan dengan diam-diam. Sebab tidak akan mudah menghadapi wanita itu secara terbuka.


Apalagi ada pelindung yang sangat kuat dibelakangnya, yaitu si Monster dari Yawadwipa. Dia adalah Sindurogo alias Pendekar Tapak Dewa Matahari.


Lihatlah bagaimana dia menghabisi pasukan dari Jambudwipa dengan begitu mudahnya. Pantas saja dulu pasukan yang aku kirim tidak pernah ada yang kembali.


Kita bergerak jangan sampai terendus oleh lelaki itu. Jika sampai itu terjadi, maka rencana yang telah aku buat secara matang akan berantakan.


Cukup kalian tau jurus yang dimiliki lelaki itu konon katanya diajarkan langsung oleh seorang dewa. Karena itulah mengapa begitu mengerikan, seakan tidak ada yang mampu melawannya.


Baiklah akan aku mulai jelaskan rencanaku untuk menangkap putri Yifu Yuan hidup-hidup..."


Lelaki itu sengaja mengumpulkan pasukan miliknya dibelakang pasukan negeri atap langit yang sedang menghadapi pasukan dari Kerajaan Kandis dan juga pasukan yang dipimpin Dewa Pedang.


"Apakah kalian sudah memahami penjelasanku?"


"Siap, kami sudah memahami penjelasan ketua. Kami siap mati demi kejayaan ketua."


"Baiklah kita lakukan sekarang!"


Mereka segera melesat menembus peperangan yang berlangsung. Mereka menetapkan niatnya untuk menangkap Dewi Anggini hidup-hidup, bahkan demi mulusnya rencana yang telah dibuat, mereka tidak mempedulikan jalannya peperangan yang sedang berlangsung.