
Kehebatan dari pasukan Macan Hitam sebenarnya sudah dikenal luas sebagai pasukan andalan Kaisar Yang Guang. Mereka cukup ditakuti karena aksi mereka.
Pengalaman tempur mereka sudah tidak perlu diragukan lagi. Tidak terhitung sudah berapa banyak kepala penyamun yang mereka habisi. Sudah tidak terhitung bagaimana mereka berhasil menumpas habis pemberontakan yang terjadi di berbagai wilayah kekusaan Kekaisaran Yang Guang.
Tetapi kali ini mereka harus menghadapi kenyataan, jika lawan yang mereka hadapi sangatlah kuat.
Apalagi kekuatan musuh sudah ditingkat langit. Walaupun jumlah Pasukan Macan Hitam dari kekaisaran itu menang jumlah.
Setiap satu musuh yang berada ditingkat langit dikepung oleh lebih dari selusin Pasukan Macan Hitam. Dengan menggunakan formasi Pedang Penggempur Langit yang menjadi andalan mereka sekalipun belum juga sanggup menghabisi musuh yang telah terkepung.
Kelebat pedang yang menghajar musuh dengan mudah ditangkis menggunakan jurus Tombak Sang Talaka. Pasukan Macan Hitam tidak seperti harimau yang sedang mengelilingi mangsanya. Justru musuh lah yang menyerang laksana singa lapar yang haus darah.
Tombak tidak sampai dua depa itu bergerak begitu lihai ditangan musuh. Kekuatan tingkat langit yang melambari membuat serangan balik pengguna tombak itu begitu menakutkan.
Jendral Yuwen Huaji menatap penuh kesal melihat jalannya pertarungan digaris terdepan. Sebab setelah pasukan Macan Hitam dikerahkan, justru pasukan elit miliknya mulai berjatuhan mati diujung tombak musuh.
Serangan itu juga membuat pasukan miliknya terus diporak porandakan, sehingga barisan pasukan miliknya kesulitan untuk terus dipertahankan.
Kenyataan itu diluar perkiraan Jendral Yuwen Huaji. Semua itu disebabkan karena meremehkan kekuatan lawan.
Sebab kedahsyatan pasukan musuh selain tingkat kekuatannya, mereka juga menguasai ilmu kebal yang tidak mampu dilukai hanya dengan senjata yang biasa. Bahkan pusaka tingkat langit sekalipun belum tentu sanggup melukai tubuh mereka.
Walaupun pasukan khusus milik Khan Langit yang berada digaris terdepan itu berjumlah sangat sedikit, tetapi mereka berhasil memperkuat pasukan Khan Langit di garis terdepan.
Amukan mereka tidak mampu dihentikan Pasukan Macan Hitam. Anggota pasukan itu justru terus bertumbangan dengan cepat.
Bahkan senjata milik Pasukan Macan Hitam banyak yang patah setelah menghantam tubuh musuh yang berkulit hitam gilap. Pukulan tangan kosong yang menghantam tubuh musuh juga tidak membuat mereka terluka.
Apalagi kekuatan milik pasukan Macan Hitam masih ditingkat shakti, sehingga serangan itu tidak mampu menembus energi pelindung milik musuhnya.
Bersama pasukan Khan Langit lainnya, mereka terus menerjang pasukan kekaisaran seperti air bah. Para prajurit Khan Langit yang memiliki kulit hitam seperti tidak merasakan kelelahan sama sekali.
Padahal Pasukan Macan Hitam terus berusaha menggempur mereka sekuat tenaga secara terus menerus. Tetapi pertahanan musuh terlampau kokoh.
Formasi serangan Pedang Penggempur Langit sudah tidak ampuh lagi melawan jurus tombak yang selalu mampu mematahkan serangan mereka. Kecepatan jurus tombak itu melebihi kecepatan serangan dari beberapa orang yang menyerangnya secara serempak.
"Makhluk apa sebenarnya mereka itu?" Jendral Yuwen Huaji tidak habis pikir setelah mengetahui kekuatan lawan. Dia tidak mampu mengendalikan kegundahannya.
"Merekalah yang telah membuat pasukan penjaga wilayah Bei Ping tersapu dengan mudah." Lelaki yang barusan menjawab pertanyaan dari Jendral Yuwen Huaji adalah Jendral Tian Bai.
Jendral Tian Bai adalah salah satu jendral dari pasukan penjaga wilayah yang akhirnya jatuh ke tangan pasukan Khan Langit. Dia sebelumnya adalah kepala pasukan penjaga wilayah Bei Ping.
Pengalamannya sebagai kepala pasukan penjaga yang tangguh baru kali ini menghadapi lawan yang begitu berat. Beruntung dia bersama sisa pasukan yang ada berhasil menyelamatkan diri dan ikut bergabung dengan pasukan Jendral Yuwen Huaji.
Seperti yang dia saksikan saat ini, seperti itulah dia sempat menjadi bulan-bulanan pasukan musuh. Beruntung dirinya masih selamat, meski akhirnya wilayah Bei Ping jatuh ke tangan musuh.
Pasukan milik kekaisaran kini juga tidak jauh berbeda dengan kondisi pasukan penjaga wilayah yang berhasil ditaklukan. Di garis terdepan pasukan pembuka jalan milik Khan Langit terus menggempur barisan pasukan kekaisaran.
Keadaan itu semakin diperburuk dengan semakin banyaknya pasukan Khan Langit yang berkulit hitam melesat langsung memuju garis terdepan pertempuran. Kedatangan pasukan musuh yang memiliki kekuatan tingkat langit adalah untuk memperkuat daya serangan mereka. Hasilnya memang sudah dapat ditebak dengan mudah.
Pasukan Macan Hitam yang berada digaris terdepan yang sudah kerepotan menggempur lawan, kini bertambah lawan yang lebih banyak dan tak kalah kuat dibanding lawan mereka sebelumnya, sehingga mereka semakin keteteran. Mereka kini sudah tidak mampu lagi untuk menahan laju serangan musuh.
Melihat kehancuran barisan pasukan miliknya yang tidak terkira itu, dengan terpaksa akhirnya Jendral Yuwen Huaji bukan hanya menarik Pasukan Macan Hitam, dia juga menarik seluruh pasukannya untuk mundur.
Walau keputusan itu seperti terkesan terlalu cepat. Tetapi peperangan sendiri sudah berlangsung sejak pagi, kini matahari telah condong ke barat belum satu tombak.
Jendral Yuwen Huaji tidak mau kehilangan pasukannya semakin banyak, dia harus mengatasi masalah itu dan membuat siasat. Salah satu keputusannya adalah menarik seluruh pasukan untuk mundur. Selain itu dia juga tidak ingin kehilangan seluruh pasukan elit miliknya habis dibantai pasukan musuh.
Membangun pasukan elit sekelas Pasukan Macan Hitam bukan sesuatu yang mudah. Butuh biaya dan juga membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Tentu saja dia tidak akan mensia-siakan semua kerja kerasnya membentuk pasukan itu.
Walaupun pasukan Macan Hitam yang sedang berada di garis terdepan bukanlah pasukan inti. Tetapi hanya pasukan lapisan kedua. Sebab pasukan inti dari Macan Hitam memiliki kekuatan tenaga dalam yang telah mencapai tingkat langit.
Entah mengapa pasukan Macan Hitam yang telah mencapai tingkat langit tidak dia turunkan untuk menghadapi pasukan musuh. Justru dia memilih untuk menarik pasukannya mundur ke arah wilayah He Bei.
"Munduuur!" Teriakan Jendral Yuwen Huaji sempat membuat Jendral Tian Bei terkejut.
"Jangan khawatir, aku sudah membuat rencana!" Jendral yuwen Huaji memberikan penjelasan singkat kepada Jendral Tian Bei yang baru bergabing dengan pasukannya. Sehingga tidak mengetahui rencana yang sejak awal dipersiapkan olehnya.
Mendengar penjelasan itu Jendral Tian Bei menganggukan kepala. Dia kemudian ikut memberikan perintah mundur, begitu juga yang dilakukan para punggawa lainnya.
Pasukan kekaisaran bergerak mundur teratur mendengar perintah jendral Yuwen Huaji. Pasukan kekaisaran yang berjumlah lebih dari sembilan puluh ribu tidak mampu menahan lebih lama serangan pasukan Khan Langit yang justru berjumlah jauh lebih sedikit dibandingkan mereka.
Sebab pasukan Khan Langit berjumlah tak lebih dari enam puluh ribu prajurit. Tetapi Khan Langit memiliki kartu sakti kemenangan yang berupa pasukan khusus berkulit hitam. Mereka memang memiliki kemampuan yang sangat menakutkan dan mampu menjadi dinding pertahanan musuh yang tidak mudah ditembus.
Khan Langit melihat peluang kemenangan, dia bernafsu untuk secepatnya dapat mengalahkan pasukan Jendral Yuwen Huaji. Karena itu dia segera memerintahkan pasukannya untuk terus mengejar.
Kini puluhan pasukan khusus milik Khan Langit ikut mengejar pasukan kekaisaran. Pertarungan terus berlanjut. Di beberapa tempat pasukan kekaisaran sempat bertahan.
Melihat kondisi seperti itu Khan Langit tidak memberi peluang. Khan Langit lalu kembali memperkuat pasukan terdepannya. Bertambahnya pasukan khusus miliknya yang memiliki kulit hitam di garis terdepan, membuat pasukan kekaisaran terpaksa harus kembali mundur teratur.
Pasukan Kekaisaran terus bergerak mundur hingga sampai ke suatu daerah pegunungan. Tempat itu hanya memiliki satu jalur yang bisa dilewati untuk menuju wilayah He Bei dan juga satu-satunya jalur yang bisa dilewati pasukan Jendral Yuwen Huaji untuk terus bergerak mundur.
Jalur itu harus melewati sebuah lorong lumayan lebar sekitar empat tombak dan cukup panjang. Di kedua sisinya berupa tebing yang sangat tinggi, seakan hendak menghimpit lorong panjang tersebut. Tempat itu bernama Tebing besar Yangu.
Ditempat itulah pasukan kekaisaran memberikan perlawanan yang sebenarnya. Pasukan Khan Langit yang berada di garis terdepan kini terpisah cukup jauh dengan pasukan inti.