SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 44 PERTARUNGAN PARA BIDADARI KHAYANGAN PART 4



"Ternyata ini Tapak dari Gunung Karakatao yang terkenal itu. Aku tak menyangka penggabungan pengerahan energi bumi digabung dengan unsur api bisa sekuat ini!"


Mahadewi yang terhantam energi besar itu tidak mengira lawannya mampu mengerahkan tenaga dalam sekuat itu. Dia segera mengelap darah yang berada diujung bibinya. Membuat bibir mungil itu semakin bertambah merah merekah. Beruntung ilmu tangan seribu mampu mengurangi efek hantaman itu.


"Aku juga tidak menyangka ternyata ilmu tangan Seribu bukanlah pepesan kosong belaka. Jika para perompak yang terhantam biasanya mereka akan langsung mutah darah."


"Tentu saja! Jurus tangan seribu ini telah diakui kehebatannya oleh Eyang Sindurogo pendekar terkuat dibelahan Benua Timur ini."


"Berarti benar rumor tentang asmara tetua dengan Maharesi itu benar?"


"Apa urusanmu bertanya tentang asmara orang lain. Disini bukan waktunya membicarakan asmara nisanak! Dasar perempuan!"


"Hahahaha! Aku suka gaya berbicaramu itu, jangan sampai dirimu mengikuti jejak seperti gurumu, gadis cantik! Hahahaha..!" Anjani menyidir mengenai gurunya yang tak lain adalah Dewi Anggini. Dia yang terkenal kecantikannya sampai usianya yang mulai mendekati setengah abad, tetapi tidak ada satu pria pun yang berhasil mempersuntingnya.


"Tutup mulutmu!" Selesai berbicara Mahadewi kembali menghajar lawannya dengan cepat. Sabetan pedangnya menyapu dengan ganas ke arah Anjani.


Anjani yng melihat serangan lawannya lebih ganas daripada sebelumnya segera dia menghempaskan hawa panas lebih kuat.


Mahadewi yang merasakan hempasan tekanan dari pukulan jarak jauh Anjani berjumpalitan menghindari. dengan tidak menyurutkan satu langkahpun ke belakang.


"Gelombang Pedang Menggulung!"


Gebrakan jurus pembuka Mahadewi menimbulkan angin menderu mengarah Anjani.


Bldaar!


Sabetan pedang Mahadewi menghajar dengan keras dilantai yang mana sebelumnya Anjani berada. Beruntung serangan yang dahsyat itu mampu dihindari Anjani dengan melompat kesamping dengan cepat.


Gabungan jurus Tapak Tiga Puluh Enam Langkah dan jurus pedang Dewa pedang langsung menjebol pertahanan Mahadewi dari sisi kirinya. Tetapi kali ini jurus Dewi Tangan Seribu melayani setiap tapak yang datang dengan tapak lembutnya.


Setiap sabetan pedang dan serangan tapak terus silih berganti saling menghajar lawannya. Pertahanan mereka sama-sama terbuka karena serangan yang terus menurus mereka lancarkan dengan deras.


Dua puluh lima jurus sudah mereka mainkan belum ada hasil siapa yang paling unggul. Tapak tiga puluh enam langkah dalam setiap aksinya kebanyakan mampu merobohkan lawannya dengan cepat. Kekuatan jurus ini bergerak dalam langkah-langkah yang bisa begerak mengurung lawan, maupun bisa menghadapi serangan lawan dari berbagai arah.


Inti pergerakannya bersumber pada tenaga dari bumi. Tetapi saat melepaskan kekuatan tapaknya bersumber pada unsur api. Setiap langkahnya bergerak dengan cepat untuk mendukung serangan tapak juga sabetan pedangnya menyambar bagai kilat.


Pergerakan tapak dan pedangnya beriringan seakan membuka bagian perbagian pertahanan lawan yang tak kalah rapatnya.


"Camar menyambar menembus ombak"


Anjani bergerak mengelilingi Mahadewi seperti pergerakan burung-burung yang menyambar. Bergerak cepat lalu menyambar kemudian berpindah kemudian menyambar lagi dari arah yang berlainan.


Tak kalah dengan lawannya Mahadewi menyerang balik. Sebelumnya hanya satu bilah pedang yang dia gunakan kini dua bilah pedangnya mengempur dengan ganas kerah lawannya.


Tapak dan serangan pedang Anjani terus mengempur dari berbagai arah. Gerakan Tiga Puluh Enam Langkah miliknya mengurung Mahadewi disertai serangan hawa panas berbarengan dengan ilmu pedang yang mencecar membuat jurus itu begitu menakutkan.


Jurus Dewi Tangan Seribu menghadang setiap serangan musuhnya dengan lihai. Keistimewaan jurus Dewi Tangan Seribu mampu menyerang secara hebat dengan membentuk benteng seakan ribuan lengan yang dengan kuat menghadang.


"Aku sudah lama tak melihat jurus Dewi Tangan Seribu ini!"


Dewa Pedang menatap pertarungan dipanggung dengan serius.


"Iya benar, aku juga sudah lama tidak melihat wajah cantik Dewi khayangan ini!" Eyang Tunggak Semi membalas perkataan Dewa Pedang dengan sedikit berbisik. Dia justru membicarakan hal lain yaitu si empunya jurus yang asli yang tak lain Dewi Anggini sendiri.


"Kebodohan apa yang telah merasuki Eyang Sindurogo sehingga perempuan sebegitu cantiknya dibiarkan sampai menjadi perawan tua. Betapa bodohnya!" Sambil mengeleng-gelengkan kepala dia kembali berbicara dengan nada sedikit berbisik.


"Hem! Ehem..! Hem..!" Dewa Pedang berdehem mendengar bisikan itu. Sepertinya Dewa Pedang tidak enak hati sebab orang yang dia bicarakan hanya berjarak beberapa langkah dari mereka. Dewa Pedang tidak jadi melanjutkan pembicaraannya sebab lawan bicaranya sedari tadi hanya menatap ke sesosok perempuan yang tidak jauh didepannya.


"Benar-benar bodoh Eyang Sindurogo. Wanita sebegitu cantiknya dia tolak mentah-mentah. Oh, jagat Dewabathara! Sayang, sungguh benar-benar sangat disayangkan! Kalau aku tentu akan rela mengemis-ngemis demi mendapatkan cintanya!" Tetua itu masih mengedumel sendiri. Dewa Pedang hanya bisa mengaruk-garuk kepalanya. Sekilas ia menatap sesosok wanita yang menjadi bahan pembicaraan. Memang tak dapat dipungkiri wanita itu memiliki pesona yang tak sanggup dibantah.


"Bukankah itu sudah tetua lakukan dahulu? Tiga hari tiga malam menunggu kedatangannya dibawah pohon asam. Bahkan sampai membuat para penduduk ketakutan. Mereka mengira tetua sebagai penampakan sejenis lelembut."


"Ssssssst! Jangan diingat-ingat lagi masa mudaku. Tetapi itu untuk sesuatu yang pantas kakang ketua! Lihatlah, sekarang saja pesona Bidadari tangan seribu itu masih memancar begitu cemerlang. Bisa dibayangkan seperti apa pesonanya dikala muda."


"Aku masih tidak seberapa. Apa ketua tidak mengingat apa yang terjadi dengan tetua Udan Asrep saat dia ditolak mentah-mentah oleh Bidadari tangan seribu itu. Satu purnama lebih dia tapa brata untuk menenangkan diri. Untung saja dia tidak menjadi gila akibat cintanya ditolak. Tapi aku yakin alasan dia tapa brata karena tidak doyan makan dan tak doyan minum."


"Lihat Tetua Udan Asrep, sedari awal kedatangan bidadari itu matanya hampir tak mau dikedipkan. Barangkali sebuah kerugian besar sampai matanya berkedip."


"Termasuk tetua juga!" Dewa pedang kembali menimpali perkataan tetua Tunggak Semi. Perkataan Dewa Pedang hanya dibalas dengan tawa tetua yang sedikit dipaksakan. Antara mentertawakan kehidupan asmara para tetua-tetua lain yang gagal. Atau dia justru mentertawakan kisah asmarnya sendiri yang nasibnya tidak jauh berbeda.


Blentang!


Kembali serangan Mahadewi menghajar lantai dengan keras. Jurus kedua dari Dewi Tangan Seribu "Putaran Roda Samsara". Serangan pedang yang berputar menerjang begitu cepat. Serangan itu merupakan gabungan dengan jurus Dewa Pedang Pusaran Pedang Dewa.


Anjani tetap tenang menghadapi serangan yang begitu mengerikan. Dia menghadapi dengan jurus Tapak Tiga Puluh Enam Langkah digabung dengan jurus Camar menyambar menembus ombak. Dengan itu dia justru memanfaatkan putaran lawan dengan mengitari sambil menghindari serangan lawan. Sesekali pedangnya menyambar dengan cepat. Jurus tapaknya terus melabrak dengan terjangan hawa panas yang semakin kuat.


Seakan bergantian serangan terkuat mereka beberapa kali membuat lawannya terluka. Meskipun bukan luka yang cukup serius sebab setelah itu mereka tetap bisa melanjutkan pertarungan mereka.


Pertarungan yang sudah melewati lima puluh jurus itu belum memperlihatkan pihak yang paling unggul. Hantaman tapak milik Anjani hanya sesekali diledakan ke arah lawannya. Sepertinya dia ingin menghemat chakranya. Tenaga dalam miliknya banyak terbuang untuk jurus tapaknya. Pukulan tapak yang pertama kali begitu telak ternyata mampu dinetralisir dengan jurus lawannya.


Dewi Anggini terlihat tidak begitu puas dengan kemampun murid utamanya. Dia terlalu berkonsentrasi dengan pertarungan yang sedang dilakukan muridnya. Sampai tidak menyadari berpuluh pasang mata justru sedang mengamati kecantikan wajahnya.


"Apakah arena pertarungan sudah berpindah diatas kepalaku sehingga mata kalian hanya terpaku mengarah kepadaku saja sedari tadi?" Dewi Anggini berbicara dengan pandangan matanya tetap fokus menatap arena pertarungan.


Para tetua yang merasa tersindir segera berubah arah pandangnya dengan salah tingkah tidak karu-karuan. Eyang Tunggak Semi dan Dewa Pedang yang melihat dari arah belakang kejadian itu tak mampu menyembunyikan tawanya.


Bahkan tetua Eyang Tunggak Semi sampai tertawa cekikikan. Dia melihat kelucuan barisan aki-aki yang salah tingkah. Mereka tak mampu lagi menutupi rasa malunya setelah ketahuan selalu mencuri-curi pandang menatap wajah cantik Dewi Anggini.


Bldaar! Craass!


Sebuah sabetan pedang mengakhiri serangan dari Anjani membuat dia terkapar di lantai. Tidak berbeda jauh dengan lawannya Mahadewi juga terkapar terhantam tapak lawan dipunggungnya.


Walau serangan tapak telak menghantam punggungnya tetapi dia sempat memutar tubuhnya sesaat sebelum tubuhnya terlempar. Sabetan dua bilah pedangnya langsung menyasar lawannya.


Anjani sempat menangkis satu sabetan pedang yang mengincar tangannya yang barusan menghantam punggung lawan. Dia begitu cepat bereaksi saat lawannya berputar sambil menyambar ke arahnya. Tetapi serangan lawannya yang bergerak cepat membuat serangan pedang yang berjumlah tak terhitung tak sempat menahan salah satu pedang yang menebas ke arah pingang sebelah belakang.


Kemampuan bertempur mereka sebenarnya seimbang. Andai saja Anjani tidak memaksakan diri menyarangkan serangan tapaknya mengenai telak kearah tubuh lawan. Tentu kemungkinan alur cerita akan berkata lain.


Sebab pertahanan lawan begitu kokoh untuk didekati, walau saat itu memang ada peluang yang mampu menyarangkan serangan tapaknya tetapi itu tidak sepadan dengan serangan balik lawan. Andai saja dia bisa berpikir lebih cermat.


Ini adalah pertarungan yang membutuhkan konsentrasi tinggi dan kemampuan berpikir dan refleks yang cepat. Sehingga kadang serangan yang dilancarkan masih kurang matang dengan melihat untung dan ruginya bisa berakibat fatal. Beruntung ini hanyalah pertarungan sesama sekte yang tidak bertujuan akhir hidup dan mati.


Serangan tapak Anjani yang melabrak dengan cepat dengan kekuatan penuh sempat bersarang ke tubuh Mahadewi. Tetapi hentakan kekuatan lawan yang dahsyat itu justru dimanfaatkan Mahadewi untuk membuat serangan balik. Dengan menyerang balik mengunakan tenaga lawan ikut juga menetralisir efek hantaman tenaga dalam Anjani.


Mahadewi memanfaatkan sekaligus menetralisir kekuatan lawan itu dengan cara digunakan untuk membuat gerakan memutar dengan cepat. Dari gambaran itu sudah terlihat bahwa Mahadewi tidak mengalami luka yang tidak begitu serius. Meskipun suara ledakan tapak Anjani terdengar keras.


Berbeda dengan lawannya, Anjani terluka cukup serius. Walaupun tidak sampai merengut nyawanya atau membuatnya cacat seumur hidup. Tetapi dengan luka itu sudah menghentikan dirinya untuk meneruskan pertarungan.


Mahadewi tak lama sanggub berdiri lagi. Serangan tapak Anggini meninggalkan bekas di baju Mahadewi bagian belakang. Sebuah lubang dibajunya seperti bekas terbakar membentuk telapak tangan manusia.


Beruntung tidak sampai membuat luka yang parah ditubuhnya. Sebentuk bekas telapak tangan berwarna merah tertinggal dibagian belakang tubuhnya. Terlihat begitu kontras dengan warna kulit Mahadewi yang terlihat putih bersih.


Tetua La Patiganna segera menghentikan pertarungan itu. Setelah Anjini selesai diberikan pertolongan dan dibawa turun dari pangung dia mulai mengumumkan pemenangnya.


"Dalam pertarungan antara Mahadewi melawan Anjani akhirnya dimenangkan pada pihak Mahadewi."


"Pertarungan mereka adalah sesi terakhir untuk hari ini. Mengenai sesi tahap berikutnya akan dilanjutkan dua hari kedepan."


"Untuk dua belas peserta selamat telah lolos melalui seleksi tahap awal. Semoga kalian mengunakan jeda waktu yang ada dengan sebaik mungkin. Selain itu persiapkan semua dengan baik untuk pertarungan ditahap selanjutnya. Terima kasih!"


Dengan berakhirnya pertarungan itu maka berakhir pula pertarungan untuk sesi hari itu. Pertarungan untuk tahap berikutnya akan dilanjutkan besok lusa. Dengan pertimbangan memberikan waktu bagi para peserta untuk bisa beristirahat memulihkan kekuatannya kembali.


"Selamat tetua Dewi Tangan Seribu atas kemenangan murid utama tetua!" Eyang Udan Asrep tak peduli lagi tatapan orang yang dia lewati dengan terburu-buru. Sepertinya dia punya alasan yang masuk akal untuk bisa menjabat erat tangan pujaan hatinya yang setelah sekian lama tak mampu dia lakukan.


Semua tercengang, sebelum akhirnya mereka menyadari bahwa ada kesempatan bagus yang tidak boleh dilewatkan. Kesempatan untuk mereka bisa menyentuh tangan halus Bidadari yang ada dihadapannya. Tak terkecuali kesempatan bagus itu juga langsung disamber oleh tetua Tunggak Semi.


Hal yang terjadi kemudian tentu saja membuat wajah Dewa Pedang seakan terbakar karena menahan malu. Bagaimana tidak malu tingkah para tetua itu berebutan memberikan selamat kepada Dewi Anggini mengingatkan kelakuan bocah yang sedang berebut mainan. Yang lebih memalukan lagi tujuan utama mereka sebenarnya bukan untuk memberi selamat tetapi untuk mendapatkan kesempatan bisa menyentuh tangan halus pujaan hatinya.


***


MOHON BANTUAN REKAN-REKAN UNTUK MEMBERIKAN VOTE UNTUK NOVEL INI DENGAN MENGUNAKAN POIN


TERIMA KASIH SEBELUMNYA KEPADA YANG SUDAH MEMBERIKAN VOTE PADA NOVEL INI MELALUI APLIKASI NOVEL TOON