SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 124 SEBUAH RENCANA part 3



Serangan tehnik es tingkat tinggi yang dikerahkan Datuk nan Lapuk menerjang ke arah Medusa. Begitu serangan itu dimulai, udara disekitar pertarungan itu langsung turun drastis. Bahkan dalam radius hampir dua tombak semua hal menjadi membeku dengan cepat. 


Dengan kondisi itu waktu seakan telah dihentikan. Karena para siluman maupun manusia yang hendak menyerang tetua Datuk nan Lapuk telah kaku tidak bisa bergerak, semua membeku. Terjangan jarum-jarum yang meledak ke segala arah langsung menghancurkan semua tubuh lawannya yang membeku itu.


Serangan jarum yang menerjang itu bahkan mampu menyapu bersih semua lawannya dalam radius hampir tiga tombak. Kecuali satu orang yang masih berdiri, dia adalah Medusa.


"Aku adalah pengguna perubahan api. Ilmu esmu tidak akan berguna terhadapku." Medusa tersenyum sinis setelah semua jarum yang menerjang ke arahnya mampu dia tangkis.


"Gelap Sayuto!"


Teriakan Medusa mengawali sebuah serangan yang berkali-kali lipat lebih kuat daripada serangan yang pernah menerbangkan tubuh Suro. Serangan kilat petir itu langsung menerjang ke arah Datuk nan Lapuk.


Jurus ini mirip ajian Gelap Ngampar sama-sama bersumber dari kitab api dengan perubahan petir. Perbedaannya adalah ledakan kilat yang menerjang seakan sejuta kilatan petir.


"Dinding Neraka Es Abadi!"


Sebelum ribuan kilat petir itu menerjang, tetua Datuk nan Lapuk telah membentengi dirinya. Dia membentuk dinding es yang begitu tebal.


Tetapi kekuatan kilat petir yang dikerahkan Medusa begitu dahsyat dan hanya menerjang pada satu titik saja. Pada hantam kilat kali ketiga dinding es yang dibuat Datuk nan Lapuk mulai retak. Kemudian pada hantaman kilat berikutnya retakan itu terus melebar.


Hantaman kilat  petir itu berlangsung begitu cepat, ratusan atau entah berapa banyak kilat yang menghantam seakan terjadi hanya dalam satu waktu.


Duuuar!


Akhirnya dinding es yang terus diperkuat oleh Datuk nan Lapuk tidak mampu menahan kekuatan yang dikerahkan Medusa. Dinding itu hancur berkeping-keping, kemudian kilat itu berlanjut menghantam tubuh tetua. Sehingga membuatnya terpental hingga jarak tujuh tombak.


Hantaman kekuatan petir itu mampu menghancurkan tembok es, karena beberapa hal. Salah satunya adalah karena perubahan unsur petir itu akan bertambah kuat jika bertemu unsur air termasuk didalamnya adalah perubahan es. 


Walaupun pada dasarnya jurus petir itu bersumber dari kitab api, tetapi pada jurus itu telah terjadi perubahan sifat dan bentuk. Karena sifat petir tidak seperti sifat api. Kilat petir mampu merambat dan mengalir dalam media yang berwujud air.


Sehingga saat kilat petir itu menghantam dinding es pertama kali, sebenarnya petir itu sudah mengenai tubuh Datuk nan Lapuk mengalir melewati dinding es yang terhubung dengannya. 


Bahkan sebelum dinding es itu hancur, Datuk nan Lapuk sebenarnya sudah tidak sadarkan diri. Puncaknya adalah ledakan kilat petir yang menerbangkan tubuhnya yang telah gosong terbakar. Hal itu bisa terlihat dari kepulan asap yang menyertai lontaran tubuhnya yang terbang menghantam pepohonan.


Setelah lawannya sudah tidak dapat bangkit lagi matanya langsung menyisir ke kancah pertempuran untuk mencari sosok bocah dengan  pakaian perang yang sangat mencolok. Matanya akhirnya menemukan sosok itu yang tak lain adalah Suro.


Dari kejauhan tiga orang yang terus mendesak barisan lautan musuh yang menghadangnya seakan tak terhentikan. Tebasan sinar dari pedang cahaya dan jurus tapak Dewa Matahari milik Suro ampuh membabat habis setiap lawan yang menghadang.


"Apa yang sedang direncanakan bocah itu? Mengapa Dewa Pedang dan Dewa Rencong yang berada di kanan dan kirinya itu terlihat hanya membantu membuka jalan untuk bocah itu? Ini bukan pertanda bagus."


"Para tetua dan para siluman! Hentikan pergerakan Dewa Pedang dan bocah itu! Jangan biarkan mereka menembus pasukan kita!"


**


Sesaat setelah Medusa memberikan perintah beberapa tetua dan jagoan dari golongan hitam bersama para siluman langsung merangsek, mereka meluncur cepat secara serentak. Dengan serangan bersama mereka berharap dapat menghabisi lawan. Jika tak mampu pun mereka berharap dapat menghentikan langkah mereka bertiga menembus barisan pasukan Medusa. 


Tetua Ular Weling yang telah menghabisi lawannya segera menanggapi perintah Medusa. Dia langsung meluncur cepat ke arah Suro. Tetua Ular kobra, juga ketua Perguruan Tengkorak Merah yaitu Tongkat iblis dan bersama jagoan yang lain ikut bergabung dan secara bersama-sama menyerang mereka bertiga. 


Para siluman tidak mau ketinggalan mereka semakin gencar menyerang dari berbagai arah. Dua ular siluman berkali-kali menyemburkan racun hendak menghancurkan mereka bertiga, justru berakhir dengan kepala hancur. Sebab Suro telah melesatkan jurus sinar dari ujung jari telunjuknya.


Mereka kemudian bertukar peran Suro yang sebelumnya berada didepan kini berpindah tempat dibagian belakang. Para duo pendekar papan atas itu langsung menghadapi para jagoan milik pasukan Medusa. 


Sedangkan Suro mendapatkan peran melindungi serangan musuh dari arah belakang. Kesempatan itu justru digunakan Suro untuk menghisap para siluman yang menyerang dirinya. Kekuatan itu lalu diserap dengan rakus oleh Lodra. Dia hendak memperkuat racun api dari bilah pedang Pembunuh iblis yang dipegang erat ditangan Suro.


"Gawat pergerakan kita terbaca oleh Medusa, adimas!" Dewa Rencong terkejut gelombang musuh yang mengepung mereka semakin bertambah banyak.


"Aku tidak peduli mereka membaca atau tidak! Berapapun banyaknya musuh yang datang akan tetap aku habisi semua! Seribu musuh yang datang seribu tebasan akan aku lakukan!" Dewa Pedang kembali menghajar dengan serangan terkuatnya ke arah para siluman dan juga para jagoan yang berasal dari aliran hitam.


Dalam jarak dua puluh tombak jalan langsung terbentang ke depan bersama hancurnya semua musuh dalam jangkauan serangan Dewa Pedang. 


"Kurang ajar tanganku putus!" Tetua Ular Weling yang tidak sempat menghindar harus kehilangan tangan kanannya. Dia berhenti mengejar musuh dan mulai memulihkan tangannya yang terputus itu dengan ilmu Kadal cawal. 


Tongkat iblis tidak jauh berbeda dari tetua Ular Weling, dia yang merasa mampu menahan serangan terkuat Dewa Pedang, akhirnya menyadari jika dia bukan lawan dari Pendekar pedang nomor satu itu. 


Padahal sebelumnya dia begitu percaya diri menahan serangan itu mengandalkan pusaka iblis miliknya. Akibat kecerobohannya yang tidak mengukur kekuatan sendiri, dia harus rela terbang lebih dari tiga puluh tombak terhempas kuatnya serangan Dewa Pedang.


Dia juga langsung mutah darah, beruntung jurus tongkatnya dan digabung dengan senjata sekelas pusaka iblis itu mampu mengurangi dahsyatnya serangan lawannya. Jika tidak badannya pasti telah hancur tak berbentuk.


Seperti yang dialami para siluman dan orang-orang yang tak sempat menghindar dari serangan Dewa Pedang barusan. Tetapi tetap saja beberapa tulang miliknya telah patah, membuat tubuhnya tidak bisa segera bangkit.


Para jagoan dari aliran hitam yang mencoba menahan kekuatan dua pendekar yang memiliki gelar Dewa itu, tidak bertahan lama. Mereka bertiga tetap bisa melenggang melewati rapatnya lapisan demi lapisan barisan musuh yang menghadang jalan mereka. Apalagi dua pendekar yang menemani Suro kali ini tidak lagi menahan kekuatan mereka.


Setiap serangan yang mereka lakukan begitu mengerikan, untung saja didepan mereka hanya lautan barisan musuh. Jika tidak tentu banyak korban dari pihak mereka sendiri.


Karena serangan mereka memiliki daya perusak tinggi yang sudah tidak memakai acara pilih-pilih. Karena jika tidak menggunakan serangan terkuatnya, maka pasti mereka tidak akan bisa melangkahkan kaki ke depan, meski hanya satu langkah.


Pertahanan musuh yang begitu rapat tidak akan bisa ditembus oleh serangan biasa. Apalagi musuh yang menghalangi mereka adalah para siluman yang memiliki kekuatan dan ukuran yang tak wajar.


Begitu banyaknya tenaga yang mereka gunakan membuat tenaga mereka terkuras. Untung saja obat tujuh bidadari milik Suro ampuh mengembalikan tenaga mereka yang terpakai. Dengan kondisi itu membuat mereka semakin beringas menghabisi musuh yang berani menghalangi.


"Saat-saat seperti ini sudah lama aku tidak rasakan!"


"Kondisi ini mengingatkanku saat usiaku masih dipenuhi gelora muda." Dewa Rencong begitu bersemangat menebaskan bilah rencongnya menghancurkan barisan lawan dengan jurus Rencong Nirvana Mengamuk. 


"Kerahkan seluruh kekuatanmu kakang, kali ini berkat nakmas Suro tenaga dalam kita seperti lautan yang tidak ada tepinya. Hahaha...majulah kalian semua jika sudah bosan hidup!" Jurus pedang dari Dewa Pedang sudah memakan korban yang tak terhitung lagi.


Mereka terus menerjang menuju tempat yang diinginkan Dewa Rencong.


"Cukup sampai disini saja adimas. Usir mereka semua sejauh mungkin!" Dewa Rencong telah merasa cukup setelah sampai ditempat yang dia inginkan. Kemudian dia segera menghentikan langkahnya.


Setelah sampai ditempat yang diinginkan Dewa Rencong, tepatnya persis dibawah awan hitam  mereka bertiga mulai melaksanakan rencana awal mereka. Diawali dengan serangan Dewa Pedang mengusir seluruh musuh dari sekeliling mereka.


"Nakmas, apakah kamu sudah siap?"


"Aku sudah siap paman!" Suro segera memposisikan tubuhnya agar bisa mudah dilemparkan oleh Dewa Rencong setinggi mungkin


"Baik, aku melemparkanmu sekarang!" Kemudian Dewa Rencong melemparkan tubuh Suro terbang ke langit. Musuh belum memahami apa yang sedang mereka rencanakan, kembali dia melemparkan tubuh Dewa Pedang terbang melesat menyusul tubuh Suro.


"Hancurkan semua, bocah!" Dewa Rencong berteriak, sambil kembali mengerahkan kekuatan tebasan miliknya sekuat mungkin keseluruh penjuru mata angin. Dia hendak melindungi luncuran tubuh Suro maupun Dewa Pedang agar tidak terganggu oleh serangan musuh.


"Aku percayakan semua kepadamu nakmas!" Pada ketinggian sekitar seratus tombak Dewa Pedang menghantamkan pukulan tangan kosong ke kaki Suro dengan gerakan seperti mendorong.


"Baik, paman guru!" Setelah didorong oleh kekuatan milik Dewa Pedang tubuh Suro semakin cepat melesat ke atas.


Dewa Pedang yang sudah pada tingkat shakti hampir mendekati tingkat langit hanya bisa membuat tubuhnya seringan mungkin, agar jatuhnya tidak terhempas ke bawah dengan keras. Dia memandang ke arah Suro yang telah menghilang ditelan awan hitam yang menaungi Perguruan Pedang Halilintar.


Dewa Pedang kembali mulai berkonsentrasi untuk menghadapi lautan musuh yang sudah menunggunya dibawah. Dia masih sempat melihat Dewa Rencong mengamuk dikepung dari berbagai penjuru. 


'Sampai disini aku akan membantumu bocah agar dirimu dapat melaksanakan apa yang kau rencanakan!' Seperti yang dikatakan Lodra tubuh Suro seperti ditarik terbang untuk menembus awan hitam yang ada diatasnya.


Tidak seperti yang dia sangka sebelumnya saat terlihat dari bawah, ternyata awan itu begitu tebal. Dia terus meluncur mencoba menembus sampai tempat teratas dari awan hitam itu.


Dalam beberapa waktu didalam tebalnya awan itu, bahkan dia tidak bisa melihat apapun. Akhirnya dia sampai diatas awan hitam. Saat sampai diatas awan itu dia terkejut dengan apa yang dia lihat.