
"Aku telah mengampuni nyawa kalian. Lalu tindakan nyata apa yang kalian berikan sebagai bukti, jika kalian telah tunduk padaku?"
Kembali Suro seperti mengulang pertanyaanya sambil menatap ratusan orang yang bersimpuh dihadapannya dengan tatapan tajam. Disampingnya Maung menggerung keras membuat mereka semakin ketakutan.
Setelah tidak berapa lama seorang tetua yang sebelumnya meminta pengampunan kepada Suro, kembali maju kedepan untuk mewakilkan semuanya.
"Setelah tuan pendekar mengampuni nyawa kami. Dengan pengampunan itu, maka artinya nyawa kami yang masih tetap hidup ini hanyalah karena belas kasihan tuan pendekar. Karena itu kami telah sepakat akan bersedia menjadi bawahan tuan pendekar untuk memimpin kami kembali mendirikan perguruan ini." Lelaki tua itu berbicara mewakili yang lain dengan menundukkan kepala.
Walaupun mereka jumlahnya masih ratusan, tetapi dengan jumlah sebanyak itu, tidak membuat mereka terlintas untuk kembali menyerang Suro yang sendirian.
Suro terkejut dengan pernyataan mereka barusan.
"Tidak aku tidak akan menjadi pemimpin perguruan ini, tetapi aku punya penawaran yang lebih baik. Tetapi ada syarat yang harus kalian penuhi."
"Apapun yang tuan pendekar kemukakan akan kami penuhi." Tetua itu kembali menjawab.
"Maaf nama paman siapa, sejak tadi kita berbicara, tetapi Suro tidak mengetahui nama paman. Sangat tidak sopan jika aku yang muda ini memangil tetua dengan panggilan kalian."
"Nama hamba Tohjaya tuan pendekar. Silahkan kemukakan syarat yang tuan pendekar inginkan. Saya akan mengabulkan apapun syaratnya. Bahkan jika tuan pendekar menginginkan kepala orang tua ini, hamba siap memenggal kepala hamba yang tidak berharga ini. Asalkan nyawa yang lain diampuni."
"Tidak, tidak perlu. Aku sudah berjanji mengampuni nyawa kalian semua selama kalian tidak kembali menindas yang lemah, terutama kepada para penduduk. Kalian tinggalkan praktek sesat yang sudah mendarah daging terjadi didalam perguruan ini. Tidak ada lagi tumbal manusia untuk alasan apapun."
Suro menjelaskan panjang lebar kepada seluruh anggota Perguruan Racun Neraka yang sedang bersimpuh dihadapannya. Dia mengemukakan syarat-syarat yang dia inginkan, jika mereka hendak mendirikan kembali perguruan yang sudah dia bumi hanguskan itu.
"Ditambah satu lagi, Syarat yang paling utama agar bisa bergabung dalam aliansi besar Perguruan Pedang Surga, yaitu kalian harus memegang prinsip-prinsip dasar perguruan aliran putih."
"Baik jika itu saja yang tuan pendekar inginkan, kami akan menyanggupinya."
"Bagus jika itu bisa dipenuhi. Mulai sekarang paman sendiri yang akan memimpin perguruan ini. Dan saya sendiri yang akan datang untuk memastikan kembali janji yang telah paman kemukakan. Jika kalian tidak mampu menepati maka tidak akan ada kesempatan kedua bagi kalian semua."
Mereka lalu bersumpah kepada Suro tentang kesanggupan dengan segala syarat yang telah Suro kemukakan.
"O, iya. Siapa diantara kalian yang paling terbaik dalam penguasaan ilmu racunnya?"
"Saya sendiri tuan pendekar. Tidak ada yang menguasai ilmu racun sebaik saya. Hanya ketua perguruan ini yang sanggup melampaui kemampuan hamba. Karena ketua memiliki kanda yang unik, yaitu kanda air racun. Sehingga membuat tubuhnya memiliki ketahanan terhadap racun lebih baik dari siapapun diperguruan ini." Tohjaya tetua yang sedari tadi berbicara dengan Suro kembali menjawab.
"Kanda dasar segala sumber kekuatan tenaga dalam yang berada dichakra muladhara. Aku kebetulan juga memiliki kanda itu." Suro menyahut perkataan Tohjaya barusan.
"Apakah aku juga mampu mencapai seperti yang telah dicapai Dukun Sesat dari Daha?"
Sebab meningkatkan kekuatan tenaga dalam kitab agni sampai ketingkat tertinggi, yaitu jenis api hitam dengan kondisi kanda yang melebihi satu adalah sesuatu yang mustahil dilakukan, atau sesuatu keajaiban. Tohjaya tidak mengetahui jika Suro mempunyai kanda yang lebih unik daripada kanda air-api yang sangat melegenda itu. Karena Suro memiliki kanda yang paling unik dan sebenarnya yang paling buruk untuk belajar ilmu olah kanuragan, karena dia memiliki sembilan unsur alam dalam kandanya .
Walaupun itu adalah kondisi terburuk, tetapi akan mampu menjadi yang terkuat. Jika mampu menguasai keseluruhannya. Beruntung Suro sekarang telah menguasai semua dengan tehnik rahasia Perguruan Pedang Surga, yaitu dengan menggunakan tehnik tenaga dalam sembilan putaran langit.
Itulah mengapa, walaupun kekuatannya jika dilihat dari pencapaian dalam pelatihan kundalini sebanding dengan pendekar tingkat tinggi. Tetapi dari besarnya kekuatan yang dia himpun setara dengan pendekar tingkat awal.
Tetapi karena dia juga mampu menggabungkan beberapa tehnik tenaga dalam menghimpun chakranya, maka seharusnya kekuatannya lebih dari itu.
Suro segera memahami apa yang sedang dipikirkan Tohjaya barusan.
"Aku tau apa yang paman Tohjaya pikirkan, tetapi aku tidak akan menjabarkan lebih lanjut. Mungkin untuk saat ini aku tidak akan melakukannya. Intinya aku akan meminta paman Tohjaya untuk mengajariku ilmu racun perguruan ini. Aku juga meminta terlebih dahulu pil penawar dari segala racun yang telah kalian buat."
Suro meminta ramuan penawar atas segala racun yang ada diperguruan itu sebagai bukti mereka menyerah. Dia melakukan itu untuk berjaga-jaga jika tanpa sepengetahuannya dia justru diracuni. Peristiwa sebelumnya membuatnya begitu waspada, betapa berbahayanya racun yang dikuasai Perguruan Racun Neraka itu.
Karena memang kemampuan perguruan itu dalam meracik racun hanya bisa disaingi oleh Perguruan Sembilan Selaksa Racun dari negeri Champa.
Dengan kejadian yang menimpa tetua Tunggak Semi membuat Suro berpikir untuk mencari obat penawar dari para ahli racun. Tetapi para ahli racun biasanya berada dipihak aliran yang berseberangan dengan aliran putih. Sehingga membuat Perguruan sebesar Pedang Surga sekalipun tidak memiliki obat penawar racun yang kuat.
Sekarang kesempatan itu terbuka lebar untuknya. Apalagi mereka siap memenuhi syarat yang diinginkannya. Dengan keadaan itu Suro ingin memperkuat aliansi perguruan surga dengan menambahkan sebuah perguruan racun didalamnya. Apalagi didalam perguruan itu terkenal dengan ilmu racunnya yang terkuat diseluruh tanah Javadwipa.
Suro mulai belajar ilmu racun bersama Tohjaya. Disebuah ruangan yang sebelumnya sebagai tempat meramu racun dan juga sebagai tempat menjajal seberapa kuat racun itu, dengan menggunakan langsung pada tubuh tawanan. Karena ruangan itu memang berada di bagian paling ujung sedikit lebih jauh dari ruangan para tahanan.
Di depan pintu ruangan itu Maung berjaga dengan cukup setia. Karena itu tidak ada yang mendekatinya selama berhari-hari.
Karena memang selama beberapa hari Suro terus mempelajari ilmu racun yang mereka miliki. Satu kitab racun milik perguruan itu dibawa oleh Suro. Bahkan hanya salinannya yang ditinggalkan didalam koleksi perguruan itu.
Bersama Tohjaya dia terus mempelajari dan membaca kitab-kitab terbaik dalam koleksi perguruan itu. Tentu saja semua dibawah bimbingan Tohjaya.
**
****Terimakasih dukungannya. Crazy up akan ada maksimal dua hari setelah pengumuman 20 besar pemenang yang masuk periode minggu ini.
Tetap semangat semua, tetap di rumah. Semoga semua dapat melalui pandemik yang melanda seluruh dunia ini dengan selamat. aamiin.
Silahkan bergabung ke dalam grub chat saya, biasa untuk info up saya share di grub chat atau mengenai hal lain. terima kasih**