
"Kakang sebaiknya pindah disebelah sana saja. disebelah sini aku yang menjaganya. Kita kepung dari dua arah yang berbeda."
"Diantara semak-semak yang cukup rapat inilah ayam hutan itu bersarang. Karena itu saat aku akan menangkap ayam hutan dari sisi sebelah sini, maka kakang dapat menangkap para ayam dilorong sebelah sana."
"Tetapi kakang jangan khawatir, sebab aku sudah sangat mahir menangkap ayam hutan ini. Sebab aku memiliki tehnik yang manjur untuk menangkapnya."
"Yakin adinda yang akan menangkapnya?"
"Tenang kakang, percaya saja padaku. Sudah sedari kecil aku bersama ramanda menangkap ayam hutan ini. Jadi jangan ragukan bagaimana kelihaianku."
"Baiklah kalau memang adinda yang meminta. Aku akan menjaga lorong di ujung sana."
Tempat mereka berdua berada diantara dua tebing. Menurut Luh Niscita, tempat itulah persembunyian dan sarang para ayam hutan.
Wuuuss...
Demi menghindari ayam ketakutan Suro lalu menghilang dan muncul di seberang lorong. Suro sebenarnya berencana menangkap para ayam hutan denga menggunakan Langkah Maya.
Tetapi demi membuat Luh Niscita senang yang akan menunjukkan keahlinnya, akhirnya Suro setuju dengan rencana dara cantik tersebut.
"Kakang Suro!"
"Tolong ada musuh yang mengepungku!"
Namun sebelum mendapatkan ayam tangkapan, justru Luh Niscita berteriak memanggil namanya dan meminta tolong.
Teriakan yang dilakukan Luh Niscita begitu keras membuat penghuni lorong itu terbangun dan menyadari bahaya. Karena itulah mengapa lorong yang tidak terlalu luas kini berubah menjadi begitu riuh.
Petok! Petok! Petok!
"Gawat! ayamku!"
"Waduh siapa dulu yang harus aku tangkap?"
"Gagal sudah rencana ayam bakarku!"
"Ayamku!"
Wuss..wuss..wuss
Dengan jurus Langkah Suro kemudian secepatnya menangkap ayam yang berterbangan ke arahnya.
Dalam satu tarikan nafas tertangkap sudah lebih dari satu lusin ayam hutan.
"Sekarang saatnya berurusan dengan cecunguk tidak punya rasa terima kasih itu!"
Suro kemudian menghilang dan muncul di dekat Luh Niscita. Dara itu terlihat sedang ditodong sebuah belati, setelah dia berhasil dilumpuhkan dengan ilmu totok.
"Kalian juga mengejar diriku sampai disini!" Suro tidak mempedulikan ancaman orang yang menyandera Luh Niscita. Dia justru sibuk menghitung jumlah orang yang sedang mengepungnya.
"Jika aku tidak salah menghitung saat berangkat. Kalian seharusnya berjumlah tiga lusin. Mengapa kini hanya tinggal dua lusin. Apakah gagak sinting itu telah membantai sepertiga dari kalian?"
"Dasar gagak sinting sudah aku katakan untuk tidak campur tangan!"
Mereka yang mengepung justru kebingungan, sebab saat melihat Suro terlihat begitu santai dan justru sibuk mengikat ayam-ayam yang baru saja ditangkap. Tentu saja kondisi itu bagi mereka terasa konyol.
Saat sedang dikepung dan diancam justru sibuk dengan ayam yang ditangkap dan juga sibuk mempertanyakan jumlah lawan yang justru kurang banyak. Hal itu tentu membuat mereka marah, sebab itu artinya keberadaan mereka seakan bukan sebuah ancaman yang perlu ditakuti.
"Bocah sialan, apa urusanmu dengan jumlah kami yang berkurang? Apa kau kira jumlah kami yang hanya sebanyak ini tidak mampu menghabisimu?"
"Kalian hanya berani kepada wanita saja, coba aku yang kalian sandera!"
"Penawaran macam apa ini?"
Suro tertawa kecil mendengar jawaban dari sosok yang menahan Luh Niscita.
"Apakah ini balasan yang paman berikan kepadaku dan juga paman sakti yang selama ini memberikan pelajaran ilmu olah kanuragaan kepada paman?"
"Sebenarnya aku hendak memancing kalian semua keluar dari pemukiman, agar tidak melukai yang lain. Tetapi ternyata kalian sepertinya punya rencana lain."
"Kekuatan kalian sepertinya telah disembunyikan untuk mengelabuhi paman sakti. Sebab sebelum aku pergi bersama paman sakti, aku masih ingat tingkat praktik kekuatan kalian."
Luh Niscita yang sedang ditotok tidak dapat menyembunyikan rasa amarahnya setelah tau siapa lelaki yang menyergapnya. Matanya melotot penuh kemarahan kepada La Temmalureng.
"Aku hitung sampai tiga kali, jika paman tidak menyerah, maka jangan salahkan Suro jika harus mengambil tindakan! Jika itu terjadi, maka kalian semua akan menyesalinya!"
"Sungguh sangat disayangkan bakat pengobatan paman yang cukup bagus itu, andai saja paman tidak melakukan hal seperti ini, tentu aku akan memberikam ilmu yang lebih banyak."
"Apakah paman mengira setelah kekuatan paman dengan begitu mengagumkan telah menembus tingkat surga, lalu dengan mudahnya dapat mengalahkanku?"
"Apakah paman tidak melihat bagaimana aku bertempur melawan Shurala yang terlanjur memasuki negeri ini?"
"Dengan melihat pertempuranku itu seharusnya paman sudah dapat mengira-ira sendiri jika kekuatan paman tidak cukup untuk menghadapiku."
La Temmalureng merasa telah ditelanjangi akhirnya membuka topeng yang menutupi wajahnya.
Wajahnya terlihat begitu murka karena rencana miliknya mencoba menghabisi Suro sepertinya telah diketahui sejak awal.
"Bagaimana kau mengetahui ini adalah aku dan juga semua rencanaku?"
"Hahahaha...sebenarnya aku hanya menebak asal saja paman...eeeh ternyata benar hahaha...!"
La Temmalureng hanya bisa menggerung penuh amarah.
"Seharusnya dengan resep pill yang aku ajarkan kepada paman tidak akan membuat paman meningkat pesat secepat ini hingga menembus tingkat surga."
"Dengan melihat kondisi tubuh paman yang tidak berubah, hanya satu jawaban yang dapat melakukan itu, yaitu energi murni Laghima."
"Apakah tebakanku benar adanya paman?"
"Dan satu lagi tebakanku jika tidak salah, pelaku yang memberikan energi murni adalah orang yang sama dengan pelaku dibalik pencurian air Nirvilkalpa selama ini? Bukan begitu paman?"
"Serang bocah sialan ini!"
Merasa semua telah ditelanjangi akhirnya La Temmalureng segera memerintahkan semua anak buahnya untuk menyerang Suro.
"Sangat disayangkan, sebenarnya aku menghindari kekerasan untuk menghadapi kalian. Jika aku mau sejak awal aku mampu menghabisi kalian!"
Suro menarik nafas panjang sebelum memulai jurus untuk menyambut serangan lawan.
"Entah akal kalian yang tidak jalan atau bagaimana? Seharusnya kalian sudah mampu mengukur kekuatan kalian tidak akan mampu menandingiku!"
"Tidak jika kami menyerangmu dengan jurus beracun ini! Hahaha...!"
"Sejak awal kami memang tidak ingin melawanmu secara langsung."
Suro yang hendak bergerak tiba-tiba lemas seakan setiap tulangnya telah lumpuh tidak bertenaga.
"Ini adalah racun pelumpuh tulang. Siapa sekarang yang dijebak dan yang menjebak bocah?"
"Kau pikir hanya kau yang cukup pintar? Aku juga seorang jenius. Kau orang luar, mencoba menguasai negeri yang telah kami tinggali sejak lama, jangan bermimpi!"
"Apalagi hendak mempersunting dan membawa pergi wanita paling cantik di negeri bawah tanah, tidak usah bermimpi disiang bolong!"
"Asal kau tau, dia itu harus menjadi istriku yang kedua!"
"Sekarang tubuhmu telah lemas tidak berdaya. Bahkan untuk berdiri saja kesusahan." La Temmalureng tertawa terbahak-bahak sebab beberapa kali tubuhnya yang mencoba bangun dari duduk justru jatuh kembali.
"Racun ini tanpa warna tanpa bau, tidak ada yang mampu mengetahuinya, tidak terkecuali kau bocah!"