
"Aku mendengar kalianlah kekuatan sebenarnya dari penyerangan yang hendak menggulingkan kekaisaran Yang?" Seorang wanita sekitar umur tujuh puluhan menatap Batara Karang dengan sorot matanya yang tajam.
Wanita itu adalah ketua Yin Hua kepala Perguruan Seribu Hantu kakak dari tetua yang sebelumnya dihabisi oleh Suro, yaitu Yin Wuya.
Batara Karang menatap Yin Hua sambil tersenyum penuh kebanggaan.
"Tentu saja itu adalah diriku, aku sudah ada di negeri ini ribuan tahun lalu dan telah mempersiapkan semua ini sejak dulu. Sebenarnya aku tidak ada urusan pribadi dengan Kaisar Yang Guang penguasa Negeri Atap Langit saat ini."
Tatapan Batara Karang menyapu ke seluruh petinggi perguruan sambil tersenyum. Dibalik senyumnya dia memperlihatkan pancaran kekuatan miliknya yang sangat mengerikan.
"Tetapi semua hanya kebetulan saja. Kebetulan jika saat ini adalah waktu bagiku untuk menguasai seluruh tanah yang berada dibawah langit kembali berada dalam kekuasaan Dewa Kegelapan."
Batara Karang tertawa melihat Yin Hua memincingkan mata mendengar ucapan lawan bicaranya. Disekitar ketua Yin Hua hampir semua tetua dan juga wakil ketua dari Perguruan Seribu Hantu hadir di aula utama.
Mereka sedianya hendak membicarakan tentang langkah berikutnya terkait keputusan mereka yang menarik dukungan kepada Kaisar Yang Guang. Keputusan itu tentunya akan berdampak besar pada masa depan Perguruan Seribu Hantu.
Dengan posisi dipihak yang berseberangan dengan pemegang tampuk kekuasaan Negeri Atap Langit, tentu akan mengganggu perkembangan perguruan mereka selanjutnya.
Selama ini sudah lebih dari satu dasawarsa menjadi kekuatan pendukung penguasa penguasa Negeri Atap Langit. Tentunya bersama aliran hitam lainnya, terutama bersama kelompok Mawar Merah yang telah menarik perguruan mereka ikut serta mendukung kekuatan Kekaisaran Yang Guang.
"Apa tujuan dirimu datang ke perguruan ini secara tiba-tiba?" Tatapan penuh curiga ketua Yin Hua tertuju pada Batara Karang yang datang dengan sosok lelaki asing berkulit begitu gelap.
Tetapi ketua Yin Hua merasa mengenali lelaki yang berada disamping Batara Karang. Seragam yang dikenakan lelaki itu seperti seorang pembesar pasukan suatu kerajaan.
'Mengapa aku merasa pernah melihat zirah perang yang digunakan lelaki itu? Jika tidak salah menerka bukankah itu terlihat seperti seragam milik pasukan dari suku utara Khan Langit?' Ketua Yin Hua menatap lelaki di sebelah Batara Karang sambil membatin.
Mata wanita sepuh itu mencorong begitu tajam mencoba mengenali zirah perang yang digunakan lelaki di samping Batara Karang. Sebagian besar zirah itu terbuat dari kulit. Begitu juga penutup kepala yang diatasnya ada semacam rambut terkuncir.
Zirah perang lelaki itu sekilas akan mengingatkan pada pakaian yang digunakan Subutai. Lelaki itu berdiri tegak seakan archa batu yang hanya bergerak, jika Batara Karang memperintahkannya.
"Tujuanku mendatangi perguruanmu, seperti juga tujuanku saat mendatangi perguruan aliran hitam lainnya, yaitu mengajak kalian bergabung dalam pasukan besar milikku."
Tatapan para petinggi Perguruan Seribu Hantu, terutama ketua Yin Huang tentu saja terkejut. Tetapi pendekar itu tidak terlihat marah dengan ucapan Batara Karang. Justru disudut bibirnya yang sudah banyak terdapat keriput membentuk sebuah senyuman.
Agaknya ketua Yin Hua menemukan solusi atas prahara yang menyelimuti perguruan mereka setelah keputusannya menarik dukungannya pada Kekaisaran Yang Guang.
"Jika kalian cukup pintar, maka dengan senang hati berada pada pihak yang akan memenangkan peperangan besar di seluruh Negeri Atap Langit."
Kembali para petinggi memincingkan mata mendengar ucapan Batara Karang. Satu hal yang mencegah mereka tidak menyerang lelaki yang datang tanpa diundang, adalah pancaran kekuatan yang sangat menakutkan.
Pancaran itu begitu menakutkan dan mampu membuat pendekar sekuat Ketua Yin Hua yang sudah berada tingkat surga lapisan awal seperti ditindih besi ribuan kati. Sehingga membuat ketua Yin Hua sendiri seperti sesak dadanya.
"Perang besar itu tidak terjadi sekarang, tetapi itu sudah dimulai dan kalian harus memilih berada dipihak mana. Jadi bagaimana, apakah kalian mau bergabung dipihak kami? Aku yakin kalian akan mendapatkan banyak koleksi boneka dari para pendekar tingkat tinggi."
"Bagaimana kalian mampu meyakinkan kami, jika pihakmu akan mampu memenangkan pertempuran melawan kekaisaran yang Guang?" ucap ketua Yin Hua dengan nada ketus dan sedikit keras.
Walaupun tekanan kekuatan terus menekan seluruh pendekar diaula besar, termasuk dirinya. Tetapi dia tidak begitu saja bisa ditundukkan oleh Batara Karang.
Kewibawaan dirinya sebagai Ketua Perguruan Seribu Hantu cukup diacungi jempol. Dia menunjukkan kelasnya sebagai jagoan aliran hitam yang pantas ditakuti.
Batara Karang tertawa cukup lama mendengar pertanyaan dari ketua Yin Hua.
"Jika kalian ingin mengetahui kekuatan dari pasukan yang telah aku persiapkan sejak lama, maka inilah salah satu pasukan yang berada dibarisan terdepan. Buktikan ketajaman senjata kalian untuk menghadapi prajurit ini."
Mendengar ucapan Batara Karang, maka beberapa tetua langsung turun dari kursi dan melangkah ke depan.
"Ketua Yin Hua, ijinkan diriku mencoba kekuatan orang itu."
Ketua Yin Hua menganggukan kepala menjawab permintaan tetua kepadanya, dia juga mengijinkan para tetua lainnya untuk mencoba kekuataan lelaki yang berada disamping Batara Karang.
Mereka bertiga adalah tiga tetua yang dikenal dengan sebutan tiga bidadari kematian. Paling tua bernama Song Hong, kedua bernama Song Ling dan yang terakhir bernama Song Qing.
Sriiing...
Suara bilah senjata keluar dari sarungnya menjadi awal serangan para tetua kepada lelaki yang berdiri tegak dengan tombak yang tidak terlalu panjang. Panjang tombak itu sekitar satu depa lebih sedikit.
"Jurus tarian Hantu Kematian!"
Kelebat cepat ketiga tetua bergerak seirama mencoba menjajal kekuatan lelaki yang sekujur kulitnya berwarna hitam gilap.
"Jurus Tombak Sang Talaka!"
Cukup mengejutkan jurus yang digunakan lelaki itu adalah jurus yang dimiliki Batara Antaga. Nama jurus itu juga merupakan nama dari senjata milik Batara Antaga.
Permainan pedang ketiga tetua Perguruan Seribu Hantu sangatlah cepat. Tetapi pertahanan dari permainan tombak milik prajurit sangatlah kokoh.
Tetua Song Ing yang mencoba menembus pertahanan lawan harus kembali tersurut mundur. Sebab sabetan tombak lawan hampir saja memenggal kepalanya.
Trang!
Meskipun tombak itu cukup berat lebih dari lima puluh kati, tetapi kekuatan lelaki itu membuat senjata terasa seperti tombak kayu saja.
Wuuus...
Trang...
Tetua Song Hong yang berada di sisi lain menggunakan kesempatan itu membabat leher musuhnya. Tetapi dengan lihai dia merebahkan tubuhnya seperti posisi kayang. Lalu memutar tombak panjang itu diatas dadanya dengan salah satu tangannya.
Putaran tombak yang begitu apik dan cepat membuat ketiga lawannya serta merta harus tersurut kebelakang, jika tidak ingin kepala dan leher mereka robek oleh tajamnya serangan tombak itu.
Lima jurus terlewati, tetapi tidak ada satupun dari ketiga ketua berhasil menyarangkan serangan miliknya. Mereka bertiga tidak mampu menembus pertahanan lawan yang kokoh.
Hingga dua puluh jurus kondisi pertarungan tidak juga berubah, semua tetua tidak juga berhasil menembus pertahanan musuh. Bahkan akibat serangan balik beberapa pakaian tetua sobek disana-sini, walaupun itu tidak sampai membuat luka serius.
Tetapi dengan melihat kejadian itu dapat dipastikan jika kekuatan lelaki itu diatas kemampuan mereka bertiga. Bahkan dia sepertinya menahan kekuatan miliknya yang sebenarnya.
"Aku mendengar setiap ketua kalian memiliki mainan, mengapa tidak kalian perlihatkan dalam pertarungan ini? Apa justru ingin melihat anak buahku ini berhasil menelanjangi tubuh indah kalian bertiga, baru memilih menggunakan mainan kalian? Hahahaha...!" Teriakan dan suara tawa Batara Karang membuat kemarahan ketiga tetua tersulut.
"Baiklah, jika itu maumu, tetapi jangan salahkan kami, jika anak buahmu ini akan berakhir menjadi salah satu koleksi boneka kami!" Tetua Song Hong berbicara sambil bersungut-sungut.
"Datanglah pasukanku!"
Secara bersamaan ketiga tetua itu membentuk segel tangan untuk memanggil pasukan yang menjadi koleksi mereka.
Seperti juga tetua Yin Wuya, mereka bertiga memiliki koleksi pasukan yang berjumlah tidak kurang dari enam lusin boneka manusia hidup.
Kali ini serangan yang mengempur lelaki itu tidaklah sama, hujan senjata tajam dan senjata rahasia seperti badai. Dari empat penjuru arah mata angin para pendekar yang menjadi boneka tiga Bidadari kematian bergerak serempak.
Mendadak mereka tercengang menyaksikan lelaki itu mampu menahan serbuan senjata itu tidak hanya menangkis dengan menggunakan tombaknya, tetapi juga dengan menggunakan tangan kosong miliknya.
Pahamlah mereka jika kekuatan puncak lelaki itu sudah mencapai tingkat surga. Tetapi yang tidak mereka mengerti adalah ilmu kebal yang dimiliki lelaki itu.
Kali ini serangan berpuluh pendekar sebagian memang berhasil mengenai tubuh lelaki itu. Tetapi tidak satupun yang mampu melukainya.
"Cukup!" Mendengar teriakan dari ketua Yin Hua, maka ketiga pendekar segera menarik seluruh serangan yang dilancarkan pasukannya.
"Kami masih sanggup untuk mengalahkannya ketua!" Tetua Song Hong masih ngotot ingin meneruskan pertarungan. Tetapi mulutnya segera terkunci mendengar jawaban dari ketua Yin Hua.
"Aku rasa kau tidak mampu mengukur kekuatanmu Song Hong, apa kau tidak sayang seluruh pasukan yang kau kumpulkan dengan susah payah itu terpenggal semua kepalanya. Apakah matamu tidak melihat kekuatan lelaki itu sudah mencapai tingkat surga?"
"Hahahahaha...!" Suara tertawa keras dari Batara Karang sambil bertepuk tangan mengakhiri upaya ketiga tetua untuk menguji kekuatan lawan.
"Siapa sebenarnya pendekar yang bersamamu, aku merasa pernah mengenalnya?" tanya ketua Yin Hua dengan tatapan penuh selidik.
"Bukankah dirimu berasal dari suku utara?"
"Benar, memang diriku berasal dari suku utara."
"Bagaimana kalian tidak mengenal bangsa kalian sendiri? Apakah kalian tidak melihat jika sesungguhnya dia adalah salah satu jendral milik Khan Langit?
Dia adalah Jendral Ulagan yang terkenal itu. Tetapi memang tampilannya terlihat berbeda. Sebab aku telah memperkuat tubuhnya berkali lipat lebih kuat dibanding sebelumnya."
Ketua Yin Hua menatap penuh selidik ke arah Batara Karang, "memperkuat?"
"Iya memperkuat tubuh dan kekuatannya. Begitu juga aku mampu membuat meningkatkan kekuatan dan tubuh baik pada boneka-boneka kalian dan maupun kekuatan anggota perguruanmu. Sehingga meningkat tajam berkali lipat dibandingkan sebelumnya."
"Salah satunya adakah tehnik zirah iblis yang mampu membuat tubuh mereka kebal terhadap senjata melebihi kerasnya baja sekalipun. Tetapi tentu saja ada harga mahal yang harus dibayar. Salah satunya kulitnya berubah menjadi menghitam seperti ini." ucap Batara Karang sambil menunjuk Jendral Ulagan yang kembali berada disampingnya.
Para petinggi Perguruan Seribu Hantu sangat terkesima dengan penjelasan Batara Karang. Sehingga mereka dibuat penasaran dan sangat tertarik untuk mengetahuinya, termasuk ketua Yin Hua.
"Tehnik apa yang telah digunakan untuk membuatnya berubah menjadi sedemikian rupa?"
"Aku menggunakan tehnik rahasia yang aku gabungkan dengan kekuatan lain yang bernama benih iblis. Dengan inilah aku yakin mampu mengalahkan seluruh penguasa."
"Jika kalian berada dipihakku, maka kalian akan mendapatkan yang seharusnya kalian dapatkan."
Batara Karang terdiam sebentar sebelum melanjutkan ucapannya. Pandangannya menatap tajam dan menyapu ke seluruh petinggi Perguruan Seribu Hantu. Tatapan matanya itu berakhir pada Ketua Yin Hua.
"Begitu juga sebaliknya, jika kalian menolak untuk bergabung, maka aku anggap kalian telah berpihak pada musuh. Dan itu artinya aku akan menurunkan tanganku untuk menghabisi kalian dan seluruh perguruan ini!"
**
Pasukan Khan Langit.