
Tetua Ular Puspo Kajang terkejut melihat trik serangan yang dilakukan Datuk nan Bujang. Dia tidak mengira lawannya dapat melakukan serangannya dengan begitu cepat. Bahkan siluman ular itu dapat dihabisi hanya dengan satu serangan.
Belum berhenti dari rasa terkejutnya, dia telah diterjang badai jarum es milik Datuk nan Bujang. Serangan itu sama cepatnya seperti yang telah dilakukan pada siluman ular yang telah hancur kepalanya itu.
Datuk nan Bujang berlari sambil terus melepaskan jarum-jarum es yang menghujani lawannya seakan badai. Begitu cepat dan rapatnya serangan yang dilakukan Datuk nan Bujang membuat lawannya tidak ada waktu untuk mengelak.
Tetua ular Puspo Kajang menepis semua serangan yang menghujani itu dengan dua ular perwujudan dari dua lengannya itu. Karena begitu banyaknya jarum yang menghajar, membuat dua ular sanca itu hancur.
"Setan alas kau menghancurkan ularku! Akan aku balas seratus kali lipat lebih pedih!" Tetua Ular Puspo Kajang mendesis lebih keras dari pada sebelumnya.
"Hahahahaha...!" Datuk nan Bujang mendengar makian lawannya itu hanya tertawa terkekeh.
Tubuh ular sanca yang hancur itu lalu menyusut. Kemudian kembali pada wujud aslinya, yaitu dua lengan tetua ular Puspo Kajang. Lengan yang hancur itu perlahan-lahan tumbuh kembali seperti ekor cicak.
"Jadi ini Ajian Kadal Cawal! Sungguh mengagumkan bisa menumbuhkan kembali anggota badan kalian yang telah hancur! Tetapi hidup kalian sepertinya penuh dengan dilema, membuat hidup kalian terasa membingungkan. Memiliki julukan tetua ular tetapi ilmunya kadal. Sungguh menggelikan! Hahahaha...!"
Tetua ular Puspo Kajang mendesis keras mendengar tawa dari Datuk nan Bujang yang telah melecehkannya. Tetapi dia tidak berani menyerang ke arah Datuk nan Bujang, karena kedua tangannya belum tumbuh dengan sempurna.
Kesempatan itu digunakan Datuk nan Bujang untuk menghabisi lawannya dengan serangan badai jarum es. Tetapi sebelum serangan itu dikerahkan dia harus berjungkir balik menghindari semburan api yang begitu besar. Serangan itu berasal dari siluman api yang baru saja datang membantu tetua Puspo Kajang.
Beruntung sebelum api mengenai tubuhnya dia telah merasakan arah datangnya serangan siluman api. Dia segera bergerak cepat menghindari serangan yang hendak membakarnya hidup-hidup.
Kemudian dia berbalik menyongsong datangnya siluman yang mencoba menghabisi Datuk nan Bujang dengan cambuk-cambuk api. Setelah berhasil berkelit berkali-kali, lalu dengan gerakan seperti kilat, mendadak dirinya telah berada didepan siluman api.
"Badai es utara!"
Ledakan dari jurus pukulan tangan kosong tetua Datuk nan Bujang menghajar sosok bajang yang berada didalam kobaran api merah. Api itu langsung padam bersama dengan terlemparnya sesosok makhluk bajang.
Begitu kuatnya perubahan es yang terkandung dalam serangan tangan kosong tetua Datuk nan Bujang, membuat tubuh siluman itu terbujur kaku tergeletak ditanah.
"Tebasan sejuta Pedang!"
Tanpa menunggu jeda tetua Datuk nan Bujang kembali mengerahkan serangan susulan yang langsung mengakhiri riwayat siluman itu. Tubuh siluman itu meledak hancur berkeping-keping seakan serpihan es.
Pertarungan mereka terus berlangsung dengan pulihnya kedua tangan tetua ular Puspo Kajang. Serangan demi serangan para siluman yang membantu tetua ular mampu dihajar balik oleh tetua Datuk nan Bujang.
Entah siapa yang kini berperan menjadi siluman dan yang menjadi manusia. Sebab tehnik perubahan air dan es membuat tubuh tetua Datuk nan Bujang telah menjelma dalam jumlah yang lebih dari satu. Kemudian dari setiap tubuh itu ikut menyerang musuh yang terus berdatangan mencoba menembus pertahanannya.
**
Pertarungan Medusa melawan tetua Datuk Rajo Mustiko Alam juga telah pada tingkat yang lebih mengerikan dari pada sebelumnya. Arca manusia yang merupakan korban salah sasaran serangan Medusa bertebaran semakin banyak disekitar pertarungan mereka berdua. Kemungkinan matanya yang sedikit juling itu membuat arah serangannya tidak bisa dengan tepat mengenai sasarannya.
Selain itu pancaran sinar matanya yang semakin bertambah kuat membuat jangkauan jaraknya juga bertambah jauh. Sehingga banyak yang tidak sengaja berada dalam jangkauannya terhantam sinar itu dan merubahnya menjadi batu. Tetapi Medusa tidak peduli dengan hal itu, kemarahannya sudah menguasai jiwanya. Bahkan dia tidak peduli jika sebagian yang telah menjadi batu itu berasal dari pihaknya.
Kemarahannya meledak-ledak setiap kali lawannya terus berhasil menghindari setiap serangannya. Bahkan tetua Datuk Rajo Mustiko dengan kelincahannya yang luar biasa, justru mampu menyarangkan beberapa serangan balik ke tubuh Medusa. Tentu saja hal itu semakin membuat isi kepala Medusa serasa mendidih.
Jurus silek harimau yang dimainkan Datuk Rajo Mustiko begitu ampuh mempermalukan Medusa sebagai pemimpin tertinggi dalam pasukannya. Tetapi itu tidak berlangsung lama, sebab setelah itu para siluman mulai berdatangan membuat wajah Medusa kini penuh senyum kemenangan.
"Hari kematianmu telah tiba setan laknat! Aku pasti akan menjadikanmu arca batu, harimau sialan! Kemudian aku ingin melihat bagaimana suara mulutmu saat tubuhmu kuhancurkan, setelah kujadikan arca batu terlebih dahulu!"
Siluman kera yang namanya dipanggil Ratu Medusa segera melesat mendekat dalam bentuk asap hitam. Setelah sampai dihadapan Medusa, tubuhnya mulai terbentuk dan memperlihatkan wujud sebenarnya. Tubuhnya besar mirip seekor kingkong tapi besarnya hampir menyamai seekor gajah.
"Nguk! Nguk!"
"Sendiko dawuh Kanjeng Ratu!"
"Bantu aku Habisi makhluk sialan ini!"
Melihat musuh yang wujudnya begitu mengerikan membuat Datuk Rajo Mustiko mulai meningkatkan kekuatannya. Matanya kini telah berubah seluruhnya menjadi selayaknya seekor harimau. Wajahnya menyeringai saat lawannya telah bertambah satu memperlihatkan taringnya telah memanjang.
"Rajo nan basi, Rajo aia, Rajo agni, Rajo angin bersatulah bersama jiwaku!" Bersama teriakan Datuk Rajo Mustiko Alam sebuah aura berdatangan dalam wujud yang sekilas mirip harimau dengan warna yang berbeda-beda.
Kali ini tubuh Datuk Rajo Mustiko Alam seperti membengkak, otot-ototnya membesar seakan dipompa. Hal yang terjadi kemudian sebuah serangan mematikan dari Jurus Amukan Inyiak Balang menghajar siluman yang sebesar gajah.
Buuum! Buum!
Setiap hantaman tangan dari siluman kera raksasa yang tidak mengenai sasaran membuat tanah itu bergetar dengan keras.
Pertarungan dari dua kekuatan yang tak lagi bersumber dari kekuatan manusia berlangsung cepat. Kemudian sebuah serangan dari jurus cakar harimau miliknya dikerahkan dengan pengabungan tehnik Tebasan Sejuta Pedang langsung menghajar kepala siluman kera itu. Kekuatan pengerahan serangannya kali ini dengan kekuatan penuh tingkat shakti tahap pertengahan.
Blaaar!
Sebuah ledakan keras mengakhiri perlawanan siluman kera, hantaman dua pasang cakarnya itu telah menghancurkan kepala siluman. Saat tetua Datuk Rajo berhasil menghabisi siluman kera itu, dia sedikit lengah. Medusa langsung menggunakan celah yang sesaat itu untuk menyerang lawannya.
Zraaat!
Serangan sinar dari kedua bola mata Medusa langsung menerjang ke tubuh Datuk Rajo Mustiko.
"Akhirnya aku berhasil membuatmu menjadi arca! Hahahaha...!" Tawa Medusa langsung terdengar begitu keras, saat dia telah berhasil menyarangkan serangan dari kedua matanya ke tubuh tetua Datuk Rajo Mustiko Alam.
Tubuh tetua yang terhantam serangan itu langsung berhenti bergerak. Tubuhnya kaku dan perlahan-perlahan berubah menjadi batu.
"Sesuai janjiku, aku akan menghancurkan tubuhmu sebelum mulutmu ikut berubah menjadi batu! Supaya suara teriakanmu dapat aku dengar lebih jelas!"
"Gelap Ngampar!"
Sebuah serangan kilat petir melesat keluar dari telapak Medusa menerjang ke arah tubuh tetua yang sebagian sudah mulai menjadi batu.
Duuuuuaaaar!
Mendadak sebuah serangan sinar besar menghentikan laju kilat petir dari serangan yang dilakukan Medusa. Begitu kuatnya serangan sinar itu membuat Medusa sekalipun harus tersurut lima langkah.
"Setan laknat siapa yang telah berani campur tangan menghentikan seranganku?"
Jawaban dari teriakan kemarahan Medusa adalah sebuah satu lesatan sinar yang kali ini justru menerjang ke arahnya. Beruntung tubuhnya mampu berkelit. Siluman ular yang baru saja datang untuk melindungi dirinya langsung terhantam. Tubuhnya yang begitu besar terlempar dua tombak dengan kondisi hancur terbelah menjadi dua.
"Apakah barusan jurus Tapak Dewa Matahari?Tidak mungkin.. tidak mungkin Sindurogo berhasil lolos dari dunia lain!" Tubuhnya langsung mengigil ketakutan tanpa sadar. Matanya mulai menatap nanar, kemudian dia mulai berlari menjauh.