
Mendengar perintah Suro untuk kembali, maka Gagak setan itu langsung mematuhi perintah tuannya. Dia kemudian mengerahkan Langkah Maya miliknya dan kemudian muncul kembali di samping Suro.
"Apa rencana tuan Suro?" Geho sama menatap Suro yang saat itu sedang fokus melihat ke arah istana kerajaan didepan mereka.
"Rencana apa? Kita tidak perlu ada rencana! Kita habisi mereka semua jangan sisakan meski satu pun. Jangan membiarkan mereka membawa penduduk Kerajaan Champa masuk ke dalam gerbang gaib."
Suro sudah cukup yakin dengan kekuatannya yang mampu menghabisi pasukan kegelapan, seperti yang sudah-sudah.
"Perintahkan Naga Raja Sisik Emas untuk memulai menarik kekuatan alam. Kita akan memerlukan itu agar kekuatan kita cepat kembali pulih. Entah Eyang Sindurogo ada didalam istana atau tidak, sebab sejak kadatangan kita di tempat ini, aku tidak melihat dia disekitar istana itu. Bahkan beberapa kali aku sudah mencoba melihat melalui pusaka Kaca benggala. Tetapi entah mengapa aku tidak dapat menemukannya. Agaknya dia tidak sedang berada disini."
"Sudahlah masalah eyang guru kita cari sambil jalan. Untuk saat ini kita harus mencegah seluruh penduduk Kerajaan Champa menjadi makhluk kegelapan. Sebaiknya kita segera mulai menghabisi mereka sekarang!"
Suro langsung melesat menggunakan jurus Langkah Maya miliknya. Setelah beberapa puluh pasukan darat yang memiliki tanduk dan kaki seperti ayam berhasil mereka habisi, kini di depan mereka berdiri seseorang yang kemungkinan bagian dari pasukan kegelapan.
Udara disekitar tempat itu langsung turun dengan drastis. Suro segera waspada dengan kedatangan sosok tersebut. Sebab mereka bukan sejenis dengan para makhluk kegelapan yang lain.
Kebanyakan makhluk kegelapan tidak memiliki kepandaian walaupun kekuatan yang dimiliki memang sangat luar biasa. Sosok didepan Suro yang berjarak sekitar dua tombak memiliki dua tanduk didahinya. Wajah yang dia miliki tidak seperti seseorang yang berasal dari kerajaan champa, selain itu tubuhnya cukup tinggi. Kemudian sekujur tubuhnya mengepul hawa dingin yang menyerupai asap.
"Badai es!"
Berbarengan dengan ucapan sosok itu mendadak angin bertiup dengan sangat kencang kemudian segala hal yang dilewati berubah menjadi es. Tidak ada yang dilewati kecuali semua telah membeku, termasuk Suro yang tidak menduga serangan yang begitu cepat. Bahkan dia tidak sempat mengerahkan jurus Langkah Maya miliknya.
Seperti juga yang dialami Suro, tubuh Gagak setan tidak jauh berbeda. Dia tidak dapat menggerakkan tubuhnya, karena telah kaku dan diselimuti es yang cukup tebal.
"Kalian hendak merusak rencana kami. Jangan bermimpi dapat melakukan hal itu!"
Lelaki itu kembali melakukan serangan susulan. Serbuan berupa ribuan mata tombak es langsung menghajar mereka berdua. Tetapi sebelum mata tombak yang dibentuk dari kristal es itu menerjang, suara keras terdengar menghentak beberapa kali.
Braak! Braak! Braak!
Susunan dinding tanah yang berlapis-lapis menahan seluruh serangan itu. Sekejap kemudian terdengar sebuah ledakan keras menghajar tubuh lelaki yang menyerang Suro.
Sebab pemuda itu telah mengerahkan jurus kedua dari Tapak Dewa Matahari. Dengan menggunakan langkah Maya dia sudah berada dibelakang musuhnya tersebut.
Sebelum Suro menyelesaikan serangannya dari arah lain serangan berupa kilat petir menghantam Suro. Beruntung Geho sama telah mampu membebaskan dirinya dari jurus es milik lawannya barusan.
"Tapak Kapas!" Tidak ada jalan lain bagi Geho sama selain menerima langsung kilat petir itu.
Jurus Tapak Kapas milik Geho sama adalah sebuah jurus yang menggunakan tapak lembut. Tapak itu memiliki kelebihan yang memungkinkan penggunanya menyerap seluruh kekuatan lawan yang terkandung di dalam serangannya. Kekuatan yang diserap dapat langsung digunakan untuk menyerang balik.
Kelemahan dari jurus tersebut adalah, jika kekuatan lawan terlalu besar akan membuat cidera penggunanya sendiri. Apalagi jika kekuatan serangan lawan terpaut terlalu jauh, maka tubuh tidak akan dapat menampung seluruh kekuatan serangan lawan yang datang. Sebab seluruh kekuatan yang terkandung dalam serangan itu disimpan terlebih dahulu di dalam tubuh, sebelum digunakan untuk membuat serangan balik.
Tetapi beruntung lawan yang menyerang kekuatannya masih berada pada tingkat langit lapis kelima. Sedangkan Gagak setan sudah berada pada tingkat langit lapis kedelapan. Kekuatannya yang telah kembali saat menjadi siluman berkat menyerap laghima atau energi murni dan juga hawa kegelapan yang cukup banyak, saat berada di alam kegelapan.
Kondisi alam kegelapan yang dipenuhi kekuatan yang berlimpah, membuat tenaga dalamnya kembali pulih dengan sangat cepat. Bahkan Geho sama sendiri tidak menyangka dapat melakukannya dengan begitu cepat.
Serangan kilat petir itu langsung dikembalikan ke arah musuh. Musuh tentu tidak menyangka dengan serangan balik lawan yang lebih kuat dari pada serangan yang dia lancarkan.
Dia langsung terlempar cukup jauh setelah terkena jurusnya sendiri.
Suro segera menyadari lawan yang menunggu mereka bukanlah para makhluk kegelapan yang biasa mereka hadapi. Kemungkinan mereka adalah para pendekar semacam Tongkat iblis dan kedua Tetua ular yang bergabung dan menjadi kaki tangan Dewa Kegelapan secara sukarela.
Beberapa jagoan dengan tampang yang tidak jauh berbeda dari dua orang yang sebelumnya. Kini total semua ada delapan orang, termasuk dua orang yang berhasil dihabisi. Tetapi sepertinya dua orang yang baru saja dihabisi, seperti juga para makhluk kegelapan lainnya yang tidak mudah dibunuh. Sebab mereka kini sudah bangkit kembali dengan tanpa kekurangan sedikitpun.
Mereka semua memiliki dua buah tanduk di dahinya. Kondisi itu mengingatkan kepada keadaan Tongkat iblis, Dukun sesat dari Daha dan juga kedua Tetua Ular yang menyerap kekuatan di alam kegelapan.
Geho sama dan Suro berdiri saling membelakangi.
"Geho sama hadapi mereka semua gunakan tubuh ilusimu yang memiliki kekuatan sembilan perubahan unsur alam. Mereka sangat layak untuk dijadikan latihan atas kekuatan yang telah kamu dapatkan kembali!"
"Nuwun inggih, hamba akan melaksanakannya."
Selesai membalas ucapan Suro dia segera mengerahkan jurus tubuh ilusi. Sembilan wujud Geho sama muncul dihadapan mereka.
Sebelum Geho sama memulai serangan, justru kedelapan lawannya telah memulai serangannya terlebih dahulu.
Serangan kedelapan lawannya itu langsung ditahan oleh wujud kembaran Geho sama.
Selain kedelapan orang yang menguasai delapan perubahan unsur alam, para pasukan kegelapan mulai berdatangan mengepung mereka berdua. Pasukan darat yang mengepung mereka rata-rata sudah berada pada tingkat shakti.
Suro terkejut melihat begitu banyaknya para jagoan sekuat mereka berkumpul di satu tempat seperti ini. Dia juga tidak mampu mengetahui bagaimana kali ini para pasukan kegelapan yang berada dihadapan mereka tidak seperti yang dia hadapi sewaktu di alam kegelapan.
Sebab saat berada di alam kegelapan musuh yang dia hadapi rata-rata hanya sekelas tingkat tinggi ke bawah. Sekarang musuh memiliki kekuatan yang luar biasa kuat.
"Lodra kali ini giliran bagimu untuk bermain-main." Suro mencabut Pedang Kristal dewa ditangan kanannya. Tetapi dari punggungnya melesat lima bilah pedang lain yang langsung menyerang musuh yang mengepungnya.
Ribuan senjata rahasia dari berbagai bentuk telah menghujani dari berbagai arah. Tetapi mereka justru dibuat terkejut, sebab Geho sama dan Suro telah lenyap, setelah mengerahkan jurus Langkah Maya sebelum ribuan senjata rahasia itu mengenai mereka berdua.
Gerakan mereka yang bisa begitu selaras, karena memang antara Suro dan Geho sama telah berbagi kesadaran. Seperti yang Suro lakukan kepada Lodra maupun kepada Kavacha.
Suro langsung menghilang dan muncul kembali di tempat berbeda-beda. Dia berpindah dari satu tempat ke tempat lain secepat kilat. Keadaan itu membuat lawannya berkurang dengan cepat. Kali ini Suro menyerang dengan menggabungkan tehnik serangannya menggunakan api hitam miliknya. Geho sama juga segera mengerahkan tehnik yang diajarkan Sang Hyang Ismaya.
Setelah itu mereka berdua kembali menghilang dari hadapan para musuh yang terus berdatangan. Pasukan kegelapan itu tidak menemukan jejak mereka berdua. Sebab kini mereka sudah muncul di tempat lain yang lumayan cukup jauh dari tempat mereka semula. Sebab kini mereka berdua sudah berada didalam istana.
Seperti juga ketika mereka baru saja sampai di gerbang istana, mereka langsung diserbu pasukan yang memiliki kekuatan yang tidak bisa dipandang remeh.
Kali ini setelah sampai di dalam istana mereka kembali dikepung para musuh yang memiliki tingkat kekuatan yang lebih kuat dari sebelumnya. Sebab kekuatan musuh kali ini rata-rata telah berada ditingkat langit. Beberapa dari mereka justru telah mencapai tingkat langit lapis kedelapan seperti Geho sama.
Kali ini para pasukan kegelapan bukanlah pasukan yang dengan mudah Suro habisi, seperti kejadian di Kerajaan Mataram. Entah bagaimana mereka dapat berubah sekuat itu. Tetapi pasukan kegelapan yang mengepung Suro dan Geho sama memang tidak seperti manusia kelelawar ataupun para naga.
Mereka masih berwujud seperti manusia biasa dan masih memakai pakaian layaknya para pendekar. Senjata yang mereka gunakan tidak jauh berbeda dengan para pendekar kebanyakan.
Namun yang membedakan dari para manusia lainnya adalah keberadaan tanduk yang muncul dikepalanya.
"Jangan-jangan mereka mampu mendapatkan kekuatan sekuat ini seperti yang dilakukan diriku dan juga dirimu Geho sama? Mereka sepertinya telah menyerap kekuatan yang ada di alam kegelapan."
Geho sama mendengar ucapan Suro segera menyadari hal itu. Apa yang diucapkan Suro terasa masuk akal. Sebab Suro sendiri juga mengalami peningkatan kekuatan yang sangat cepat, setelah menyerap kekuatan di alam kegelapan.
Mereka semua tidak bisa dibunuh melalui cara yang biasa, oleh karena itu mereka berdua harus membuat rencana yang cerdas untuk mengalahkan mereka semua. Beruntung Geho sama adalah seorang ahli sihir yang sangat kuat. Dia mempunyai banyak trik untuk menghadapi musuh kuat sebanyak itu. Salah satunya adalah Langkah Maya miliknya yang ampuh menghindari serangan dan membuat serangan mendadak.