SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 323 Hilangnya Dewi Anggini



Setelah pertarungan panjang akhirnya seluruh pasukan musuh dapat dikalahkan. Semua itu berkat bantuan pasukan yang bersama Dewa Pedang. Termasuk diantaranya Dewa Rencong dan tentu saja eyang Sindurogo.


"Terima kasih para pendekar yang telah membantu pasukan kerajaan kami yang hampir saja dapat dikalahkan oleh serangan pasukan dari negeri Bharata.


Apalagi kedatangan pasukan dari Negeri Atap Langit juga ikut membantu, tentu negeri kami akan rata dengan tanah, jika pasukan perguruan Pedang Surga tidak datang membantu."


"Ingsun merasa sangat lega bukan saja karena kerajaanku selamat. Tetapi karena ingsun begitu khawatir dengan keselamatan rakyat ingsun. Ingsun juga telah mendengar nasib rakyat yang kerajaannya berhasil mereka kalahkan."


"Tentu saja ingsun tidak ingin mengalami hal yang sama."


"Sebab dari kabar yang telah ingsun dengar, setiap kerajaan yang berhasil mereka kalahkan, maka hampir seluruh rakyat kerajaan itu akan mereka sandera.


Tetapi sampai sekarang tidak ada yang mengetahui nasib rakyat setiap kerajaan yang berjumlah ribuan atau mungkin lebih dari puluhan ribu jiwa itu.


Seharusnya tidak ada tempat yang mampu menyembunyikan dan mengumpulkan orang sebanyak itu tanpa tidak diketahui keberadaannya. Semuanya lenyap seakan mereka tidak pernah dikumpulkan.


Walaupun itu terdengar tidak masuk di akal, tetapi dari informasi yang dikumpulkan oleh para telik sandi kami, kabar itu memang benar adanya."


Dewa Pedang yang duduk didekat Raja Dharmaswara membenarkan ucapan raja itu jika kabar yang mereka terima benar adanya.


"Kemungkinan mereka dikirim menuju tempat lain menggunakan gerbang gaib. Tetapi aku tidak mengetahui kemana mereka dikirim?" sahut Eyang Sindurogo.


"Apalagi pada pertempuran yang baru saja kita lewati, salah satu pemimpin pasukan yang berhasil aku habisi menyebut mereka memang ditugaskan untuk mencari tumbal manusia sebanyak-banyaknya," sambung eyang Sindurogo mencoba menjelaskan kepada raja Kerajaan Kandis.


Raja Darmaswara yang tidak memahami arah ucapan eyang Sindurogo mengernyitkan dahi. Para hulu balang yang sebelumnya ikut bertempur dengan mereka ikut tertarik dengan penjelasan eyang Sindurogo.


Eyang Sindurogo kemudian menjelaskan secara garis besar adanya serangan yang dilakukan pasukan dari negeri Bharata dan negeri Atap Langit ada kaitannya dengan Dewa Kegelapan.


Walaupun mereka tidak dapat memahami secara penuh penjelasan eyang Sindurogo. Namun penjelasan itu sedikit banyak telah menjawab beberapa alasan dari datangnya pasukan ke negeri mereka.


Setelah penjelasan yang dia utarakan itu eyang Sindurogo juga mengutarakan niatnya kepada Raja Kerajaan Kandis, yaitu Raja Dharmaswara yang berjuluk Datuk Rajo Bertahta.


"Paduka raja yang dipertuan agung, ada sesuatu hal yang ingin hamba utarakan kepada sinuwun. Ini terkait dengan keselamatan Kerajaan Kandis kedepannya. Sebab pasukan yang lebih mengerikan kemungkinan akan datang, bahkan lebih mengerikan dibandingkan serangan yang baru saja kita lewati."


"Pasukan yang lebih mengerikan akan kembali menyerang negeri kami? Mengapa mereka akan kembali menyerang negeri kami pendekar?"


"Sesungguhnya kedatangan kami selain mencegah dan menghentikan serangan dari bangsa lain di tanah Swarnadwipa ini, ada sesuatu hal yang juga berkaitan dengan salah satu benda yang ada di dalam istana paduka."


"Sesuatu benda apa yang tuan pendekar maksudkan? Sebelumnya ingsun mengucapkan terima kasih kepada sira yang telah membantu kerajaan kami dan juga menyelamatkan seluruh rakyat kami."


"Hal itu sudah menjadi kewajiban kami sebagai seorang pendekar, kanjeng gusti sinuwun."


"Mohon ampun kanjeng sinuwun prabu, benda yang hamba maksudkan adalah berupa sebuah archa kecil segenggaman tangan yang terbuat dari sebuah batu giok khusus yang mampu memancarkan cahaya kehijauan," eyang Sindurogo menjawab pertanyaan Raja Dharmaswara yang sedang duduk disinggasananya sambil menundukkan kepalanya.


"Pasukan yang menyerang dan memporak-porandakan beberapa kerajaan yang juga baru saja menyerang negeri ini ada kaitannya dengan benda tersebut. Begitu juga pasukan mengerikan yang hamba barusan jelaskan."


"Mereka akan datang menyerang negeri ini demi merebut archa batu tersebut. Ada sesuatu hal yang sebaiknya hamba tidak dapat ceritakan kepada sinuwun agar tidak menjadi beban pikiran gusti prabu."


"Seyogyanya benda tersebut tidak lagi disimpan diistana paduka. Sebab itu akan membahayakan kerajaan dan seluruh rakyat di negeri ini. Hal itu sudah dibuktikan dengan kejadian hari ini."


"Baiklah jika seperti itu adanya. Jangan khawatir mengenai hal tersebut, ingsun justru dengan suka rela akan memberikan kepada pendekar. Apalagi jika benda tersebut dapat mengundang musuh yang mampu membahayakan seluruh negeri ini, tentu ingsun tidak akan menyimpan lebih lama lagi."


"Ingsun akan memberikannya kepada pendekar Sindurogo, jika bersedia menyimpan benda tersebut."


Tanpa menunggu lama raja dan hulu balangnya mengantar eyang Sindurogo, Dewa Pedang dan Dewa Rencong menuju tempat penyimpanan relik kuno.


Tempat yang mereka tuju berada didalam ruang bawah tanah dibawah istana Dhamna. Untuk menuju ruangan rahasia itu mereka harus melewati pintu khusus yang tidak akan dapat diketemukan, kecuali oleh Raja Dharmaswara.


Keberadaan ruang itu memang sangat dirahasiakan oleh para raja pendahulu mereka. Informasi tentang ruangan tersebut pun hanya diketahui oleh raja yang berkuasa dan juga raja penerusnya.


Dengan menggunakan cara tertentu, yaitu berupa mantra yang diajarkan para pendahulunya Raja Dharmaswara mulai membuka pintu rahasia dihadapannya.


Dia terlihat berdebar-debar, sebab dia sendiri baru kali kedua ini memasuki ruangan tempat relik kuno disimpan. Pertama kali adalah saat ayahandanya memberi tahukan dan memperlihatkan keberadaan relik kuno itu.


Dalam perjalanan itu eyang Sindurogo baru menyadari sesuatu yang kurang.


"Kemana adinda Dewi Anggini, perasaanku saja atau memang sedari tadi dia tidak bersama kita?" Pandangan mata eyang Sindurogo menatap Dewa Pedang.


Dia justru mengernyitkan dahi mendengar pertanyaan eyang Sindurogo.


"Bukankah pada pertempuran sebelumnya Dewi Anggini bertempur berdampingan dengan eyang?"


Eyang Sindurogo ganti menggaruk-garuk kepalanya. Dia segera mengingat sesuatu yang diucapkan seseorang yang mengaku sebagai pembunuh nomor satu di Negeri Atap Langit yang berhasil dia habisi.


"Semoga saja apa yang aku takutkan tidak terjadi?"


Dewa Rencong kali ini ikut mengernyitkan dahi demi mendengar ucapan eyang Sindurogo barusan.


"Hal apa yang eyang Sindurogo takutkan?"


"Kita urus itu nanti, lebih baik kita selamatkan relik kuno dari dalam istana ini terlebih dahulu."


Mereka terus berjalan hingga akhirnya langkah mereka terhenti pada sebuah pintu dari batu.


Kembali dengan cara tertentu pintu itu bergeser ke kanan tanpa ada yang menariknya.


"Ruangan ini sudah ada, jauh sebelum istana Dhamna berdiri diatas bukit ini. Sebenarnya ini dulu bukanlah sebuah kerajaan. Tetapi awalnya ini hanyalah sebuah bentuk benteng pertahanan yang menurut cerita telah dibangun ribuan tahun yang lalu.


Kami tidak mengetahui makhluk jenis apa yang sebenarnya mereka coba berlindung."


Dewa Rencong yang mencoba menjelaskan kepada Raja Dharmaswara dicegah oleh eyang Sindurogo. Dia tidak ingin membuat raja itu semakin ketakutan, jika mengetahui bahwa karena makhluk kegelapan lah benteng itu dibangun.


"Apakah ini yang pendekar Tapak Dewa Matahari maksudkan?"


Raja Dharmaswara menunjuk archa batu yang bercahaya kehijauan didalam ruangan yang temaram itu.


"Benar paduka raja, memang benda inilah yang saya maksudkan."


Eyang Sindurogo segera mendekat ke arah archa yang berada ditengah altar putih seperti dari batu kristal. Relik kuno itu berada ditengah-tengah ukiran yang membentuk sebuah lambang berbentuk gambar dua belas sudut. Atau juga disebut dodekagon tetapi semua gambar itu dibentuk dengan sangat rumit.


**


Setelah mengambil relik kuno, eyang Sindurogo, Dewa Rencong dan Dewa Pedang segera berpamit kepada Raja Dharmaswara. Karena mereka hendak mencari keberadaan Dewi anggini. Raja Dharmaswara juga memerintahkan prajuritnya untuk membantu pencarian yang dilakukan eyang Sindurogo.


Mereka segera berkeliling ke bekas medan pertempuran. Mereka juga bertanya kepada prajurit dan yang lainnya jika menemukan sosok yang mereka cari.


Para anggota perguruan cabang Inyiak Balang yang mengenal sosok Dewi Anggini juga bergerak mencari dirinya. Eyang Sindurogo bertanya kepada beberapa tetua Pedang Surga, dia berharap mereka melihat belahan jiwanya itu.


"Benar juga aku tidak melihat tetua Dewi Anggini. Mengapa aku tidak menyadarinya sejak tadi?"


Mendengar jawaban eyang Kaliki wajah eyang Sindurogo semakin bertambah muram. Setiap orang dapat membaca betapa khawatirnya pendekar itu.


"Sialan, mengapa aku tidak menyadarinya sejak tadi? Para pasukan pembunuh amatiran itu sepertinya yang melakukannya. Karena tidak mungkin adinda Dewi Anggini dapat ditangkap oleh mereka dengan mudah."


Para tetua lainnya juga baru menyadari, jika Dewi Anggini tidak ada bersama mereka. Karena setelah selesai peperangan itu, para tetua juga sibuk membantu mengobati orang-orang yang terluka. Karena korban dari pihak Kerajaan Kandis, maupun dari pihak Perguruan cabang Inyiak Balang tidak lah sedikit.


"Aku akan mengejar pasukan musuh yang telah melarikan diri, kemungkinan aku juga akan mengejar musuh sampai ke negeri Atap Langit." Eyang Sindurogo menatap ke arah utara dimana sebelumnya pasukan bergerak menuju muara sungai Batang Kuantan yang langsung terhubung dengan selat Malaka. Sebab di tempat itulah kapal-kapal yang mengangkut pasukan mereka bersandar.


"Aku akan ikut dengan eyang Sindurogo," Dewa Rencong menyahut ucapan pendekar tersebut.


"Apakah kami perlu ikut bersamamu eyang?" Dewa Pedang memandang ke arah lelaki yang wajahnua terlihat penuh kecemasan yang sulit digambarkan.


"Tidak, cukup aku dengan Salya saja. Kalian kembali ke Yawadwipa, aku khawatir akan ada serangan yang dilakukan oleh Batara Karang ke perguruan kalian. Sebab Perguruan Pedang Surga selalu terlibat dalam menggagalkan semua rencana Dewa Kegelapan, terutama muridku."