
"Agniyastra!"
Bersama melesatnya Dewa Obat menuju ke bawah dia kembali mengerahkan serangan dengan memanggil salah satu senjata gaib miliknya.
Buuuuum!
Sebuah bola api yang cukup besar dan menyerupai sebuah genggaman tangan meluncur dari atas seperti meteor. Ledakan keras kembali menggelegar menghancurkan barisan pasukan gabungan.
Hampir tidak ada yang selamat ketika serangan menghantam pasukan musuh dalam radius enam tombak. Serangan Agniyastra itu bahkan membuat kawah yang lumayan dalam.
Belum puas dengan serangannya barusan Dewa Obat kembali menghantamkan serangan susulan. Kali ini serangan seperti cahaya yang sangat terang dipenuhi kilat petir yang terus menyambar kesegala arah.
"Brahmastra!"
Duuuuum!
Serangan kali ini menghantam tempat dimana Jendral Ulagan dan pasukannya sedang berdiri. Kontan Jendral Ulagan menghindar dari serangan barusan.
Tetapi sebagian pasukan yang bersama dengan dirinya tidak selamat. Tubuh mereka hancur lebur terhantam Brahmastra dengan telak. Melihat kekuatan musuh yang begitu mengerikan tak pelak membuat seorang Jendral Ulagan sekalipun menjadi jirih.
"Semua pasukan munduuur!"
Melihat pasukannya yang tidak mempan di tebas dengan kekuatan surga sekalipun, kini hanya dalam satu serangan saja hancur terhantam Astra Brahmastra. Kondisi itu menyadarkan Jendral Ulagan tentang betapa kuatnya serangan barusan.
Dia kemudian menyadari, jika serangan tersebut mampu membunuh dirinya seperti yang telah terjadi pada pasukannya. Karena itulah mengapa dia memutuskan untuk mundur dan memilih menyelamatkan diri.
Dia juga mulai menyadari kekuatan yang sudah dia capai ternyata tidak seberapa dibandingkan kekuatan yang melambari serangan musuh barusan. Karena itu dia berniat hendak meningkatkan kekuatannya, yaitu dengan cara membuka gerbang kekuatan miliknya ke tahap berikutnya.
Salah satu alasan itulah yang membuat Jendral Ulagan memerintahkan seluruh pasukan yang bersamanya untuk mundur.
Walaupun sebenarnya tidak semua orang yang telah menggunakan benih iblis sampai pada tingkat kekuatan seperti dirinya. Saat ini dia baru bisa membuka gerbang iblis tahap ketiga.
Dengan kekuatan itu dia mampu membunuh seorang yang tingkat tenaga dalamnya beberapa tingkat di atasnya. Tetapi dengan kekuatan yang dia miliki sekarang dia menyadari dirinya akan mati jika menerima serangan Brahmastra barusan.
Jendral Sejong dan Jendral Joseon segera melesat mundur menyusul dibelakang Jendral Ulagan.
Dengan serangan yang mengerikan beberapa kali itu juga membuat Khan Langit dan raja dari Goguryeo sepakat untuk menarik seluruh pasukannya terlebih dahulu.
Keputusan mereka untuk kembali mundur juga disebabkan oleh ucapan pasukan yang berhasil selamat dari serangan Dewa Obat sewaktu bertarung di atas langit.
Sebab para pendekar yang selamat dari serangan Dewa Obat saat pertarungan di atas udara, mereka mengatakan kepada Khan Langit, jika kekuatan mengerikan itu dikuasai oleh beberapa orang, bukan hanya satu orang. Tentu saja Khan Langit terkejut.
Berdasarkan penjelasan pasukannya, maka Khan Langit segera menarik seluruh pasukannya. Apalagi dia juga mendapatkan penjelasan dari Jendral Ulagan utusan Utara kepercayaan yang tidak membantah betapa mematikannya serangan itu.
Keinginannya untuk menghancurkan gerbang Utara, akhirnya dia tunda. Dengan berat hati dia menarik pasukannya terlebih dahulu dan akan memikirkan bagaimana caranya mampu menembus benteng kota He Bei pada serangan berikutnya.
Mereka pantas takut melihat dahsyatnya serangan Dewa Obat yang muncul dari langit bersama pendekar yang baru saja melewati pertempuran di atas udara. Tidak ada seorangpun dari mereka yang pernah melihat ada manusia yang mampu membuat serangan sebegitu dahsyatnya.
**
Akhirnya setelah melihat pasukan musuh bergerak mundur, pasukan kekaisaran dapat bernafas lega. Mereka sudah membayangkan hal-hal yang buruk jika sampai gerbang Utara dapat dijebol oleh musuh.
Jendral Yuwen Shiji, Dewa Obat dan seluruh pasukan yang baru saja bertarung di atas udara mendarat di tembok, tepatnya diatas gerbang.
Setelah sampai di atas benteng pemandangan mengerikan terpampang didepan mata mereka. Ribuan prajurit terkapar tak bernyawa.
Sebagian yang masih hidup merintih kesakitan. Sehingga suara rintihan mereka seakan memenuhi benteng kota He Bei. Hampir seluruh area benteng kota He Bei dipenuhi mayat-mayat prajurit kekaisaran yang tidak selamat dari serangan pasukan Jendral Ulagan.
Serangan pasukan yang dipimpin Jendral Ulangan memang berhasil membantai pasukan kekaisaran dalam jumlah yang sangat banyak.
Bahkan pasukkan Macan Hitam hanya tersisa tidak lebih dari lima puluh orang. Bahkan seandainya jika Dewa Obat tidak datang, tentu seluruh pasukan Macan Hitam tidak ada yang selamat.
Selain pasukan Macan Hitam, pasukan yang mati seperti pasukan Pemanah justru lebih banyak yang tewas, bahkan lebih dari lima ribu jiwa yang tewas oleh serangan barusan.
Banyak yang mati karena berusaha menahan serangan pasukan Jendral Ulagan. Para prajurit yang mencoba menahan pasukan musuh itu hanya setara dengan pendekar tingkat tinggi ke bawah.
Sedangkan musuh yang mereka hadapi rata-rata sudah mencapai tingkat langit. Begitu jauhnya perbedaan kekuatan diantara mereka, sehingga sebanyak apapun prajurit yang mencoba menghalangi pasukan Jendral Ulagan mereka hanya seperti semut di mata musuh.
Para prajurit kekaisaran bukan tidak memahami betapa jauhnya jarak kekuatan diantara mereka. Tentu mereka menyadarinya.
Tetapi mereka tidak memiliki pilihan lain kecuali terus maju dan menghadang, meski nantinya mereka dapat dengan mudah dibantai musuh. Sebab hanya itu yang bisa mereka lakukan untuk membantu Pasukan Macan Hitam dan mampu menghalangi musuh menguasai Benteng kota He Bei.
Memang berkat pengorbanan mereka, akhirnya Pasukan Macan Hitam berhasil menahan serangan musuh lebih lama. Dan berkat itu juga akhirnya musuh kembali gagal menjebol gerbang utara.
Jendral Yuwen Shiji, yang sejak tadi tidak melihat Jendral Xiao Long menjadi penasaran. Bukan hanya Jendral Xiao Long, dia kemudian menyadari beberapa punggawa pasukan kekaisaran lainnya juga tidak nampak.
"Dimana Jendral Xiao Long dan Jendral Tian Bai, mengapa sedari tadi aku tidak melihatnya? Jendral Zhou yang datang dari kota Shaanxi juga tidak aku lihat. Apa yang terjadi dengan mereka?" Tatapan Jendral Yuwen Shiji menyapu ke arah pasukan yang berdiri dihadapannya.
Salah seorang dari pasukan Macan Hitam lalu menceritakan nasib yang menimpa para punggawa kekaisaran yang ditanyakan. Dia lalu menunjukkan mayat kedua jendral yang baru saja berhasil mereka kumpulkan.
Melihat kondisi mayat mereka berdua dalam kondisi yang mengerikan, Jendral Yuwen Shiji tidak mampu menutupi kesedihannya. Dia tidak menyangka dua punggawa itu harus berakhir setragis itu.
"Ternyata aku datang cukup terlambat." Dewa Obat yang menyaksikan ikut menyesal, karena tidak datang lebih awal.
Tetapi memang Dewa Obat tidak bisa segera datang karena ada hal penting yang dia pastikan terlebih dahulu, yaitu memperkuat para pendekar yang kini ikut datang bersama dirinya.
"Memang kekuatan Jendral Ulagan sangat menakutkan. Lalu dimana Jendral Zhou yang masih sempat diselamatkan?"
Mereka kemudian menjelaskan jika Jendral Zhou dirawat di dalam ruangan bawah tanah. Satu tempat dengan Jendral Yuwen Huaji, walaupun berbeda ruangan.
Jendral Yuwen Shiji lalu memerintahkan para prajurit untuk menguburkan para punggawa dan juga seluruh pasukan yang tewas malam itu juga. Karena salah satu alasan pertempuran itu belum berakhir.
Jika mayat-mayat itu tidak mereka urus malam itu juga, kemungkinan besok pertempuran lagi, maka akan semakin menumpuk jumlahnya. Kondisinya tentu akan semakin memperburuk keadaan Benteng kota He Bei.
Semakin cepat mereka menguburkan mayat itu, maka akan semakin baik sebelum menyebarkan penyakit ke seluruh penjuru benteng.
Dewa Obat juga memerintahkan semua pendekar yang datang bersama dirinya untuk ikut membantu pasukan kekaisaran menguburkan prajurit yang tewas.
Prajurit musuh yang tersebar di luar benteng akhirnya di tumpuk dan dibakar. Mereka sudah tidak sempat lagi menggali untuk mereka. Tenaga mereka hampir habis setelah menguburkan sebegitu banyaknya pasukan kekaisaran yang telah tewas.
"Berarti saat ini sampai panglima perang Jendral Yuwen Huaji yang tak lain kakakku, maka sementara waktu aku yang akan memimpin pada pertempuran selanjutnya." Jendral Yuwen Shiji terlihat tidak semangat, meski kini dia menjadi panglima perang menggantikan Jendral Xiao Long yang telah tewas.
"Bisa kalian antarkan diriku untuk memeriksa keadaannya. Aku penasaran dengan cerita pasukanmu sebelumnya mengenai keadaan yang diderita Ke real Yuwen Huaji.
Apalagi dia menyebut berkat obat penawar dari muridku dua jendral kekaisaran ini nyawanya dapat diperpanjang. Walaupun kondisi mereka seperti mati suri." Dengan keinginan sendiri Dewa Obat ingin memeriksanya. Dia cukup penasaran ingin melihat langsung keadaan Jendral Yuwen Huaji dan Jendral Zhou Feng yang sedang dirawat.
Dia menjadi penasaran, sebab sebelumnya salah satu prajurit yang menjelaskan kondisi punggawa kekaisaran itu sempat menyebut nama Suro. Memang dua jendral itu sempat menelan Pill penawar racun yang sempat diberikan Suro sebelum berpisah jalan.
**
Penjelasan berbagai Astra dari berbagai sumber yang tidak disebutkan
Astra Brahmastra
Senjata ini milik Batara Brahma , senjata itu mampu menghancurkan seluruh pasukan sekaligus dan juga bisa melawan sebagian besar astras lainya. Dalam wiracarita Mahabharata, dikatakan bahwa senjata itu bermanifestasi dengan kepala Dewa Brahma sebagai ujungnya.
Di dalam cerita Mahabharata mereka yang menguasai Astra itu antara lain Parasurama, Bhishma, Drona, Karna, Kripa, Ashwatthama, Arjuna, Maharathi.
Karena kuatnya Astra itu, bahkan disebutkan satu-satunya senjata Astra yang mampu menembus zirah perang milik Batara Brahma yang bernama Brahma Kavacha( baju besi Dewa Brahma yang tak terkalahkan).
Atikaya, salah satu putra Raavan, memiliki baju besi Dewa Brahma yang tak terkalahkan. Dia akhirnya mati di tangan Laksmana yang memiliki Astra Brahmastra.
Dalam tulisan Sanskerta kuno, Brahmastra adalah senjata yang dibuat oleh Brahma, bersama dengan versinya yang lebih kuat, yaitu Brahmashirsha Astra dan Brahmanda Astra.
Astra Trishula
TrishulaSiwa , sang Penghancur Itu adalah Trisula Dewa Siwa. Senjata paling
ampuh dalam mitologi Hindu, menurut tradisi Shaiva, sempurna, tidak bisa dimiliki oleh siapa pun, kecuali hanya Dewa Siwa sendiri dan Dewi Shakti(permaisuri Dewa Siwa dalam bentuk Parvati).
Astra Sudarshana Chakra
Sudarshana Chakra milik Batara Wisnu yang berupa senjata berbentuk Chakra bergerigi luarnya. Ketajamannya tidak ada yang mampu menandinginya.
Menurut Legenda senjata itu diciptakan oleh Vishvakarman. Senjata paling ampuh dalam mitologi Hindu, menurut tradisiVaishna. Senjata itu mampu terbang atas perintah Batara Wisnu. Itu hanya bisa disesuaikan oleh keinginan Dewa Wisnu.
Astra itu memiliki kekuatan gaib dan spiritual yang luar biasa yang dapat melindungi atau menghancurkan apapun. Chakra ini digunakan oleh Krishna, avatar kedelapan Batara Wisnu. Senjata itu digunakan untuk memenggal kepala sepupunya Shishupala.
Teen Baan Barbarika (tiga panah sempurna)
Dalam cerita sang Dewa Siwa Dewa Penghancur memberi Barbarika tiga anak panah sempurna (Teen Baan). Setiap panah memiliki kegunaan sendiri-sendiri. Kekuatan panah itu mampu menghancurkan semua lawan dalam perang apapun. Setiap panah itu jika selesai digunakan, maka akan kembali kepada pemiliknya.
Panah pertama digunakan untuk menandai semua hal yang ingin dihancurkan Barbarika. Panah Kedua digunakan untuk menandai semua yang akan diselamatkan Barbarika. Sedangkan panah ketiga sebagai alat untuk menghancurkan dan menyelamatkan.
Barbarika kemudian dikenal dengan sebutan Teen Baandhaari, "Pembawa Tiga Panah". Barbarika adalah anak dari Ghatotkacha dan cucu dari Bhima, Pandawa bersaudara, dan Hidimbi.
Astra Indrastra
Indrastra adalah senjata milik Batara Indra. Dia adalah penguasa cuaca alam. Sehingga dengan senjata itu dapat menciptakan 'hujan' panah, seperti hujan, dari langit. Indra memberikan Astra ini kepada putranya Arjuna ketika Arjuna mengunjungi Svargra.
Astra Vasavi Shakti
Vasavi Shakti Indra adalah senjata kedua milik Batara Indra. Senjata itu hanya bisa digunakan sekali. Setelah itu astara ini akan kembali kepada Batara Indra.
Senjata ini lah yang digunakan Karena untuk membunuh Gatot kaca. Juga digunakan Indrajit untuk membunuh Lakshmana. Namun, kehidupan Lakshmana dipulihkan oleh Sanjeevani.
Astra Praswapastra Vasus
Senjata ini mampu membuat musuh tertidur. Senjata ini lah yang digunakan Bisma untuk mengalahkan gurunya, yaitu Parashurama. Menurut cerita di Ramayana dan Mahabharata, hanya Bisma yang memiliki senjata ini.
Astra Agneyastra
Senjata ini milik Dewa Api. Senjata ini jika dilepaskan akan memancarkan api yang tidak bisa dipadamkan dengan cara biasa. Arjuna menggunakannya untuk melawan Angaraparna, Gandharva.
Astra Varunastra
Senjata ini milik Batara Baruna atau Dewa Air. Jika senjata ini dilepaskan, maka akan memunculkan air dalam jumlah besar. Sehingga mampu menciptakan banjir bandang yang mengerikan.
Menurut cerita, senjata inilah yang digunakan untuk melawan Astra Agneyastra. Senjata itu dimiliki oleh Rama, Indrajit, Rahwana, Lakshman, Arjuna, Bhishma, Drona, juga para pejuang.
Astra Manavastra
Senjata ini mampu membawa kesuatu tempat yang berada ditempat yang sangat jauh. Senjata ini dimiliki oleh Sri Rama. Arjuna juga memiliki senjata ini.
Astra Varunapasha
Senjata ini milik Batara Baruna. Senjata milik Dewa Laut ini berupa Jerat kuat yang bahkan dewa lain tidak mampu lepas darinya. Mereka yang memiliki Astra ini antara lain Rama, Indrajit, Arjuna.
Astra Bhaumastra
Bhargavastra Parashurama
Senjata ini dalam cerita diberikan Parashurama kepada muridnya Karna.
Astra Nagastra
Senjata ini milik para naga. Setiap kali dilepaskan maka akan berubah menjadi naga besar. Arjuna pernah menggunakan ini untuk melawan Susharma.
Astra Nagapasha
Senjata ini mampu menjelma menjadi naga raksasa yang berbisa dan mampu digunakan untuk menjerat musuh. Dalam cerita Ramayana senjata itu digunakan untuk Indrajit untuk melawan Rama dan Lakshmana. Senjata ini diperoleh Indrajit dari istrinya Ulupi.
Astra Garudastra
Garuda adalah kendaraan Batara Wisnu. Dalam cerita Rama dan Arjuna memilikinya. Senjata yang bisa bertahan melawan Nagastra saat diserang lawan.
Astra Anjalika AstraIndra , Senjata ini yang digunakan Arjuna untuk membunuh Karna.
Astra Vayuvyastra
Senjata ini milik Batara Bayu. Senjata ini mampu menciptakan badai yang sangat hebat. Dalam cerita Mahabharata diceritakan, jika Ashwatthama menggunakan dalam pertempuran di Kuruk Shetra, yaitu pada hari keempat belas.
Senjata ini digunakan Ashwatthama untuk menembus ilusi yang dibuat oleh Anjanaparvan putra Ghatotkacha. Arjuna , Indrajit, Rama juga memiliki senjata ini.
Astra Suryastra
Senjata ini milik Batara Surya. Senjata ini akan menciptakan cahaya menyilaukan yang mampu melenyapkan kegelapan dan mampu membuat lawan menjadi kering, seperti terbakar matahari. Arjuna menggunakan astra ini untuk melawan Shakuni pada Peperangan besar di Kurukshetra.
Astra Maghavan
Senjata ini milik Batara Indra yang mampu menciptakan ilusi. Senjata ini dimiliki Arjuna.
Astra Vajra
Senjata ini milik Batara Indra Dewa cuaca. Wujudnya serangannya berupa petir besar. Selain Batara Indra hanya Arjuna yang memiliki Vajra. Batara Indra memberikan Astra ini kepada putranya Arjuna.
Astra Mohini
Senjata ini mampu menyingkirkan segala bentuk sihir ilusi. Arjuna pernah menggunakan astra ini untuk melawan Nivata Kavachas dan menghilangkan semua ilusi yang diciptakan oleh mereka.
Astra Twashtar
Senjata ini mampu menciptakan kebingungan diantara pasukan musuh, sehingga mereka justru bertarung dengan rekan mereka sendiri. Senjata ini hanya dimiliki oleh Arjuna.
Astra Sammohana atau PramohanaGandharvas
Senjata ini mampu membuat pasukan musuh pingsan semua. Arjuna pernah menggunakan senjata ini untuk melawan tentara Kurawa selama perang Virata.
Pada hari keenam dalam peperangan di Kurukshetra, Dhrishtadyumna menggunakannya melawan pasukan Kurawa. Sehingga pasukan Kurawa pingsan. Tetapi guru Drona menyembuhkan dengan melepaskan senjata tandingan bernama Prajna astra.
Astra Parvatastra
Senjata ini sanggup menghancurkan sebuah gunung sekalipun. Arjuna memiliki astra ini.
Astra Brahmashirsha
Senjata ini milik Batara Brahma. Senjata ini dalam cerita Mahabharata pernah digunakan oleh Ashwatthama untuk membunuh Parikesit. Astra ini lebih kuat dibandingkan senjata Brahmastra.
Menurut cerita kekuatannya empat kali lipat kuat dibandingkan kekuatan senjata Brahmastra. Dalam wiracarita Mahabharata , dikatakan bahwa senjata itu bermanifestasi dengan empat kepala Dewa Brahma sebagai ujungnya.
Di dalam cerita Mahabharata beberapa orang memilikinya diantaranya adalah guru Dorna, Arjuna, Ashwattama. Namun dari mereka semua yang menguasai, hanya Arjuna seorang yang mampu mengerahkan dan menarik kembali Astra tersebut. Selain Arjuna hanya mampu memanggil saja.
Astra Brahmadanda
Senjata ini milik Batara Brahma. Wujud dari senjata ini berupa dansa atau tongkat. Senjata pribadi Batara Brahma. Senjata ini dapat digunakan sebagai sensya pertahanan yang kuat. Bahkan mampu menangkis senjata dengan kekuatan yang setara senjata dewa lainnya.
Senjata ini pernah digunakan oleh oleh Vashishta untuk melawan Vishwamitra. Senjata ini merupakan senjata pertahanan yang sangat kuat.
Astra Narayanastra
Senjata ini milik Batara Wisnu. Wujud senjata ini adalah ribuan atau lebih hujan anak panah dan chakram. Semakin kuat musuh mencoba melawan, maka kekuatannya juga semakin bertambah semakin kuat.
Senjata ini diperoleh dari pemberian Batara Wisnu langsung. Namun senjata ini hanya bisa digunakan sekali saja. Jika digunakan untuk kedua kalinya, maka senjata itu justru akan menyerang penggunanya.
Di dalam cerita Mahabharata, dikisahkan Batara Wisnu memberikan senjata ini kepada guru Dorna. Kemudian guru Drona memberikan astra ini kepada putranya Ashwatthama. Dalam perang Mahabharata Ashwatthama menggunakan senjata ini melawan tentara Pandawa setelah kematian Drona.
Serangan itu berhasil menghancurkan barisan pasukan Pandawa. Satu-satunya cara agar dapat selamat dari serangan senjata ini hanyalah kepasrahan dan penyerahan total kepada Narayanastra, seperti yang diajarkan Sri Krishna.
Dia yang seorang titisan Batara Wisnu menjadikan dia mengetahui cara tersebut.
Ketika digunakan, Ekadasha (Sebelas) Rudra muncul di langit untuk menghancurkan musuh. Jutaan jenis senjata seperti Chakra, Gadha, panah yang sangat tajam muncul untuk menghancurkan musuh. Siapapun yang mencoba melawannya akan dihancurkan.
Astra Vaishnavastra
Senjata ini adalah milik Batara Wisnu. Satu-satunya cara agar selamat dari serangan Astra ini hanyalah dengan memanggil Astra Vaishnavastra lainnya.
Dalam cerita Mahabharata disebutkan jika Bhagadatta, Sri Krishna dan Arjuna memiliki Astra ini. Bahkan Bhagadatta pernah menggunakan senjata ini untuk membunuh Arjuna
Tetapi Sri Krishna tidak membiarkan hal itu terjadi. Dia lalu berdiri di depan Arjuna untuk mengambil senjata itu. Sri Rama juga pernah menggunakan senjata ini untuk menghancurkan energi Bharghava Rama atau Pashurama.
Astra Kaumodaki
Senjata ini adalah milik Batara Wisnu yang berupa Gada. Sri Khresna pernah menggunakan senjata ini untuk membunuh iblis Dantavakra.
Astra Sharanga atau Vaishnav Dhanush
Senjata ini milik Batara Wisnu yang berupa busur. Senjata itu dimiliki oleh para Titisan Batara Wisnu atau para Avatar Wisnu, antara lain Sri Rama dan Sri Krishna .
Astra Nandaka
Senjata ini milik Batara Wisnu. Senjata ini berupa pedang yang tidak bisa dihancurkan. Pernah digunakan Sri Krishna untuk membunuh iblis yang tak terhitung jumlahnya.
Astra Vijaya
Senjata ini merupakan senjata milik Dewa Siwa. Senjata ini berupa busur yang menurut cerita dibuat oleh Vishvakarma. Vijaya Dhanush adalah busur pribadi Dewa Siwa, yang sebagai busur utama. Busur ini akhirnya nanti akan dimiliki Parashurama.
Astra Pinaka
Senjata ini milik Dewa Siwa yang memiliki bentuk berupa busur panah. Senjata ini digunakan untuk membunuh Asura dalam pertempuran di kota Tripura. Seluruh kota itu berhasil dihancurkan dengan menggunakan astra Pinaka. Senjata ini pada akhirnya nanti akan dimiliki Pashurama.
Dari Parashurama senjata itu diberikan kepada Raja Janaka, ayah dari Dewi Shinta, dan dipatahkan oleh Dewa Rama di swayamvara nya.
Astra Maheshwarastra
Senjata ini milik Dewa Siwa. Kekuatan senjata ini berisi kekuatan mata ketiga Dewa Siwa. Senjata ini mampu melesatkan sinar api yang sangat cepat yang bahkan dapat mengubah makhluk angkasa menjadi abu.
Astra Rudra
Astra ini adalah senjata milik Dewa Siwa , sang PenghancurBerisi kekuatan Rudra. Ketika digunakan, itu memanggil kekuatan Rudra dari Ekadasha (Sebelas) Rudra dan menghancurkan target. dalam Mahabharata Arjuna menggunakan ini dan membunuh tiga setan crore dalam satu tembakan. Didalam cerita Mahabharata hanya Arjuna yang memiliki senjata ini.
Astra Pashupatastra
Senjata ini adalah salah satu senjata terkuat milik Dewa Siwa Sang Penghancur. Salah satu senjata terkuat di antara semua Astra. Setiap kali panggilan, kepalanya tidak akan pernah sama. Menurut cerita Astra ini mampu menghancurkan seluruh dunia. Senjata ini dimiliki oleh Arjuna dan resi Wiswamitra
Astra Parashu
Senjata Parashu atau yang artinya kapak ini adalah senjata yang dimiliki Dewa Siwa. Senjata ini diberikan Dewa Siwa kepada Parashurama, karena pengabdiannya.
Astra Chandrahas
Senjata ini milik Dewa Siwa yang berupa sebuah bilah pedang. Senjata ini diberikan kepada Rahwana. Tetapi dengan catatan, jika senjata itu digunakan untuk sebuah ketidakadilan, maka akan kembali kepada Dewa Siwa.
Astra Gandiva
Senjata ini milik Batara Brahma yang berupa busur. Batara Brahma memiliki senjata ini selama seribu tahun. Kemudian diberikan kepada Prajapati. Dia memiliki senjata ini selama lima ratus tiga tahun.
Kemudian Batara Indra memiliki pusaka ini selama lima ratus delapan puluh tahun. Kemudian diberikan kepada Soma. Dia memiliki senjata ini selama lima ratus tahun.
Setelah itu, Batara Baruna memilikinya selama seratus tahun, kemudian senjata itu diberikan kepada Arjuna lengkap bersama dengan sebuah kereta. Lengkap dengan dua buah panah yang tak habis-habisnya, seperti yang berhubungan oleh oleh Agniselama Khandava-daha Parba. Busur itu terjadi dengan ratusan bos emas, dan ujungnya bercahaya. Busur itu dipuja olehpara Dewa , Gandharvas dan Danavas. Tidak ada orang selain Arjuna yang dapat menggunakanGandiva dan Arjuna adalah pengguna Gandiva, kemudian ia dikenal sebagai gandivdhari (pembawa busur gandiva).
Astra Sabda-veda
Senjata ini mampu membuat tubuh tidak terlihat oleh musuh. Senjata ini pernah digunakan Arjuna untuk melawan raja Ghandarva Citasena. Di zaman Mahabharat, hanya Arjuna dan Krishna yang senjata ini.
Astra Antardhana
Senjata ini milik Batara Kubera. Kemampuan senjata ini mampu melenyapkan banyak hal, orang, atau seluruh tempat. Senjata ini diberikan Batara Kubera kepada Arjuna.
Astra Prajnastra
Senjata ini digunakan untuk memperbaiki pikiran dan seseorang. Itu adalah perisai yang bagus untuk Sammohanastra. Prajurit seperti Drona, Indrajit dan Arjuna pernah dan Drona menggunakan astra ini dalam perang.
Astra Tej Prabha
Senjata ini milik Batara Surya yang mampu meniru kecerdasan musuh. Arjuna memperoleh ini ketika dia mengunjungi surga.
Astra Sailastra
Senjata Sailastra memiliki kemampuan menghilangkan angin kencang. Senjata ini mampu menghentikan serangan Astra Vayvayastra milik Batara Bayu atau Dewa angin. Senjata ini dimiliki Rama, Krishna, Indrajit dan Arjuna.
Astra Visoshana
Senjata ini milik Batara Indra. Kekuatannya adalah mampu mengeringkan apapun. Senjata ini dimiliki Indrajit. Senjata ini dapat digunakan untuk menangkal serangan Astra Varunastra. Arjuna memperoleh senjata ini dari Batara Indra sewaktu dia pergi ke Swarga loka.
Astra Jyotiksha
Senjata ini milik Batara Surya. Kegunaannya adalah mampu menciptakan cahaya yang mampu melenyapkan kegelapan yang pekat. Senjata ini dimiliki Arjuna.
Astra Sauparna
Senjata Sauparna akan melepaskan burung-burung mengerikan sebangsa elang raksasa. Senjata ini adalah untuk menangkal astra Nagastra yang mampu berubah menjadi naga raksasa. Senjata ini pernah digunakan oleh Susharma dalam perang Mahabharata ketika Arjuna menggunakan Nagastra pada tentara Sampshapataka.
Astra Govardhana
Senjata ini milik Batara Wisnu yang berupa busur panah. Busur ini dalam cerita Mahabharata di miliki Widura.