SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch.416 Salah Mencari Musuh



Suro bersama pertapa dan Geho sama telah menghilang dan meninggalkan gunung Thaihang Shan jauh ke arah timur. Meskipun pertapa itu memiliki kekuatan astra dewa, tetapi dia tidak memiliki jurus ruang waktu.


Karena itu Suro memegang tangan pertapa dan ikut menghilang bersamanya. Mereka bergerak mengikuti aura musuh yang masih dapat dirasakan. Tetapi setelah sampai di kota He Bei, mereka kehilangan jejak.


"Geho sama, apakah kau menemukan jejak mereka?" Suro menoleh ke arah Geho sama yang sedang mengerahkan tehnik empat sage untuk melacak aura pasukan Elang Langit.


Geho Sama tetap terdiam, matanya juga memilih tetap terpejam. Dia sedang berkonsentrasi tingkat tinggi untuk dapat menemukan aura musuh yang mungkin saja masih dapat dilacak.


Tehnik empat sage yang dia kerahkan untuk melacak sudah menjangkau jarak yang teramat jauh. Tehnik ini hanyalah untuk merasakan aura bukan untuk menyerap kekuatan.


Pengerahan tehnik itu ditujukan, terutama untuk melacak siluman elang yang sebelumnya bertarung dengannya, yaitu Roku Suzaku. Dia sebenarnya sudah mengunci aura yang dimiliki.


Tetapi karena telah tertunda oleh pertarungan yang dia hadapi sebelumnya, sehingga musuh sudah terlalu jauh dari jangkauan yang bisa dia kerahkan.


Geho sama mendengus kesal sebelum menjawab," terlalu jauh, aura kekuatan mereka sudah tidak dapat aku temukan."


Geho sama menggeleng-gelengkan kepala setelah beberapa kali mencoba melacak tidak juga menemukan jejak musuhnya.


"Aku hanya mampu melacak aura kekuatan mereka sampai di kota ini. Apa mungkin salah satu markas mereka ada dikota ini?" Geho sama menatap ke arah Suro.


Suro mengangguk-anggukan kepala setelah mendengar ucapan Geho sama yang gagal menemukan musuhnya. Dia lalu mengambil sesuatu benda dibalik bajunya.


"Sebaiknya aku bertanya kepada Kaca Benggala."


Suro lalu berbicara dengan kaca benggala yang ada dalam genggamannya.


Pertapa yang melihat Suro mengeluarkan sebuah pusaka, membuatnya tertarik untuk mendekat lebih jelas.


"Bagaimana kau mampu memiliki pusaka dari Sang Hyang Anantaboga?"


Kali ini gantian Suro yang terkejut mendengar ucapan sang pertapa.


"Bagaimana tuan pertapa mengetahui tentang pusaka ini?"


"Tentu saja aku mengetahuinya, tetapi terus terang baru pertama kali ini aku melihatnya secara langsung. Sebelumnya aku hanya mendengar saja tidak pernah melihat pusaka dewa tanah ini. Aku tidak mengira seorang pemuda sepertimu memilikinya."


Sang pertapa itu melangkahkan kakinya untuk lebih mendekat agar bisa melihat penampakan gambar yang muncul di dalam Kaca Benggala. Setelah Suro bertanya kepada pusaka Kaca Benggala sesuatu kilasan gambar muncul.


"Aku tau, ini berada dikota Yangzhou cukup jauh dari sini." Pertapa yang berada disamping Suro mengenali gambar yang ada didalam kaca benggala.


"Sebentar, aku sepertinya merasakan aura kekuatan yang mirip seperti yang dimiliki siluman elang yang kabur dariku."


Geho sama setelah mengerahkan empat sage dengan jangkauan yang lebih luas, dia merasa mengenali aura kekuatan yang dia tangkap. Walaupun sedikit berbeda, tetapi dia cukup yakin, jika makhluk yang memiliki aura itu adalah jenis siluman elang.


Setiap manusia memiliki aura kekuatan yang berbeda-beda. Dengan tehnik empat sage, memungkinkan Geho sama menyerap energi alam sekaligus semua aura kekuatan dan juga energi kehidupan makhluk hidup.


Sehingga dengan tehnik itu dapat digunakan sebagai alat untuk melacak keberadaan manusia seperti yang biasa digunakan Suro. Tetapi kali ini dikerahkan dengan tingkat kekuatan yang luar biasa.


Karena mampu mendeteksi aura seseorang, sehingga menjangkau dalam jarak yang sangat jauh. Rahasia dari tehnik itulah yang membawa mereka ketengah kota He Bei.


Sebab setelah Geho sama merasa menemukan aura yang mirip Roku Suzaku, mereka kemudian memutuskan untuk memastikannya terlebih dahulu.


Mereka bertiga menjadi pemandangan yang tidak biasa. Sebab Geho sama yang memiliki sayap dan memiliki tinggi yang jauh dari rata-rata, membuat anak-anak jalanan kota He Bei tertarik untuk mengikutinya. Perbuatan anak-anak yang terus mengarak itu menjadi awal kehebohan.


Tentu saja arak-arakan itu semakin bertambah panjang seiring langkah mereka yang memasuki kota He Bei.


Anak-anak itu mengira Geho sama sedang menggunakan topeng atau pakaian tertentu yang biasa digunakan oleh sekelompok pertunjukkan.


Geho sama tentu saja meruntuk kesal melihat anak-anak kota He Bei terus mengikuti dibelakangnya. Melihat hal itu, Suro justru ikut tertawa terkekeh.


Suara teriakan sorak-sorai anak-anak semakin keras, begitu juga suara tawa Suro yang tidak mampu menahan geli. Apalagi melihat ekspresi kekesalannya yang sudah mencapai ubun-ubun. Tawa Suro meledak semakin keras melihat wajah Geho sama yang terasa begitu lucu.


Kota He Bei merupakan tempat persinggahan bagi para pedagang. Salah satu kota besar yang jauh lebih besar dibandingkan kota Shanxi.


Dikota itu banyak para pendekar baik dari aliran putih maupun aliran hitam. Sebab memang dikota itu juga tempat berkumpulnya para pendekar.


Alasan yang mendasari para pendekar itu, karena dikota He Bei merupakan pusat bagi penjualan berbagai bahan yang biasa digunakan untuk meningkatkan tenaga dalam. Dengan kata lain, bahwasannya kota He Bei adalah surga bagi para para peracik obat terbesar.


Di kota tersebut juga berdiri salah satu perguruan aliran putih terbesar di Negeri Atap Langit. Sebuah perguruan paling berpengaruh dalam dunia persilatan Benua Tengah, yang bernama Kuil Suci.


Perguruan itu berada agak jauh dari kota He Bei. Justru mendekati kota Henan yang berada disisi tenggara kota He Bei.


Walaupun ada Perguruan Kuil Suci, tetapi daerah kota He Bei tersebut tidak serta merta langsung dikuasai sepenuhnya oleh aliran putih. Justru sejak lama dikota He Bei antara aliran hitam dan aliran putih saling bersaing berebut pengaruh.


Sebab selain Perguruan Kuil Suci, ada satu perguruan yang termasuk dalam tiga perguruan aliran hitam terkuat. Perguruan itu berdiri disisi utara kota He Bei. Nama perguruan aliran hitam itu adalah Perguruan Lembah Beracun.


Walaupun perselisihan antara dua aliran itu tidak pernah sampai perang besar, namun persaingan itu sangat lah sengit. Bisa dikatakan hampir setiap hari terjadi persaingan antara dua kelompok tersebut. Ada saja yang diperebutkan oleh mereka.


Seperti peristiwa yang menyulut terjadinya perang besar antara dua kelompok kali ini.


Pada awalnya para pendekar yang berlalu lalang tidak memperhatikan rombongan Suro yang bersama Geho sama dan pertapa. Tetapi karena keriuhan anak-anak yang mengarak Geho sama, tidak sengaja telah memancing para pendekar untuk melonggokan kepala mereka yang sedang berkumpul di sebuah rumah makan terbesar kota itu.


Banyaknya para pendekar yang berkumpul ditempat itu, sebab rumah makan itu menawarkan masakan yang terkenal kenikmatannya. Selain itu ada hal lain yang sangat menarik bagi mereka semua. Tempat itu menjadi favorit para pendekar untuk singah, karena kwalitas araknya yang susah dicari tandingannya.


Para pendekar itu segera menyadari keanehan yang ada pada mereka bertiga. Terutama dengan penampilan Geho sama yang sangat mencolok.


Namun bagi kalangan pendekar yang berkecipung dalam dunia peracikan obat, tentu mengenali sosok itu. Sebab sosok itu cukup dikenal atau sangatlah dikenal.


Namanya juga disebut-sebut sebagai peracik obat nomor wahid, konon belum ada yang mampu mengalahkannya. Dari sebab itulah sosok pertapa itu mengapa dikenal dengan sebutan Dewa Obat.


Meskipun kabar tentang Dewa Obat tinggal di puncak Gunung Taihang Shan sudah menyebar, namun tidak seorangpun dapat menemukannya. Kecuali lelaki itu menghendaki.


Karena pertapa itu telah memasang sebuah mantra sihir yang membuat keberadaan tempat tinggalnya tidak bakal diketahui oleh siapapun. Banyak sudah yang memaksa berusaha bertemu lelaki itu, akhirnya pulang dengan tangan kosong.


Salah satu pendekar yang beruntung bertemu dengan Dewa Obat adalah Eyang Sindurogo. Sebab pertapa itu mendapatkan penglihatan yang membuatnya mengetahui, jika lelaki itu akan membantu dirinya mendapatkan nirwana yang dia impikan.


Para pendekar yang menyaksikan kedatangan Dewa Obat muncul di kota He Bei awalnya tidak membuat kehebohan seluruh kota. Namun saat Geho sama telah memuncak kekesalannya karena dilempari anak-anak dengan batu dan sampah, maka dimulailah kehebohan itu.


Sebab tanpa disengaja, dia kembali mengerahkan aura milik Iblis Kali purusha dalam tubuhnya. Seketika itu juga para pendekar aliran putih yang berada didekat itu segera bergerak.


Mereka pada awalnya hendak menolong para anak-anak yang berada dibelakang Geho sama. Namun semuanya berubah menjadi tidak terkendali.


Sebenarnya Suro telah menyelamatkan dengan kecepatan yang tidak mampu ditandingi para pendekar aliran putih. Tetapi tindakannya itu justru disalah artikan.


Sebab apa yang dilakukan Suro itu sesuatu yang merupakan ancaman besar bagi golongan mereka. Mereka juga mengira tindakan Suro hendak mencelakai para bocah jalanan itu.


Pendekar aliran putih segera bergerak hendak menyerang Suro dan Geho sama. Para pendekar itu juga tidak mengira, jika sepasang sayap di punggung Geho sama bukanlah sayap asli. Mereka tidak menyangka sama sekali setelah sayap itu bergerak.


Kini mereka segera menyadari jika lawan mereka bukan lah makhluk yang selumrahnya manusia. Karena itu lah para pendekar aliran putih yang ada segera bergerak ikut menyerang dan bertambah semakin banyak.


Kali ini serangan yang diarahkan para pendekar itu bukan hanya menyerang Suro dan Geho sama. Sebab para pendekar aliran hitam juga ikut menyerang, tetapi serangan mereka tertuju pada Dewa Obat. Bahkan para pendekar aliran hitam itu telah menunggu kesempatan untuk dapat menyerang sudah sejak kedatangannya di kota He Bei.


Sedari awal kedatangan mereka bertiga telah dipantau oleh para pendekar aliran hitam. Para Pendekar aliran hitam tidak segera menyerang, sebab mereka sedang menunggu pasukan yang lebih banyak.


Kedahsyatan kekuatan Dewa Obat sudah dikenal menakutkan. Karena itulah mereka cukup pintar agar bisa berhasil membunuhnya dengan mengumpulkan pasukan sebanyak mungkin, lalu berencana menyerang secara serentak.


Walaupun Dewa Obat sering menyerang perguruan aliran hitam, namun para pendekar yang berasal dari aliran putih tidak menganggap pertapa unik itu masuk dalam golongan mereka. Dan golongan hitam sangat membenci Dewa Obat, sehingga dalam kalangan dunia persilatan, Dewa Obat masuk dalam golongan netral.


Berbagai kejadian serangan yang di lakukan Dewa Obat kepada aliran hitam, menjadi pemicu keputusan mereka untuk mencoba menghabisi pendekar tersebut.


Bahkan sejak lama para pendekar aliran hitam berusaha menghabisinya. Tidak terhitung berapa kali mereka datang ke gunung Taihang Shan untuk menuntut balas. Namun nasib para pendekar aliran hitam sama seperti mereka yang hendak meminta obat kepadanya.


Akhirnya mereka kembali dengan tangan kosong. Mereka tidak pernah berhasil menemukan pendekar tersebut.


Seperti ucapan eyang Sindurogo, tidak seorangpun yang mampu menemukan pertapa itu, kecuali sang pertapa alias Dewa Obat itu memang menghendaki bertemu dengannya.


Karena itulah sejak melihat kedatangan Dewa Obat, maka pendekar aliran hitam tidak mensia-siakan kesempatan itu, mereka segera bergerak semua.


Dewa Obat bukan tidak mengetahui, tetapi dia memang sengaja membiarkannya. Dia justru sengaja memancing para pasukan aliran hitam itu untuk mengumpulkan pasukannya sebanyak mungkin.


Sebab dia memang hendak menjadikan para pendekar itu sebagai alat untuk menjajal kemampuan dua pendekar yang bersamanya.


Syarat yang diberikan Suro kepada Dewa Obat untuk memberikan astra miliknya, tentu saja tidak dapat dipercayai dengan begitu mudah. Dia ingin melihat bukti, jika Suro pantas mendapatkan atau tidak.


Dengan kata lain, dia hendak membuktikan ucapan Suro sebelumnya, yaitu ucapan Suro yang sesumbar dapat menghabisi sang pertapa dengan mudah.


Pertempuran sudah menjadi begitu kacau. Sebab semua pendekar dari dua aliran yang berseberangan itu justru bersatu menyerang mereka bertiga.


Seakan tidak ada lagi ruang bagi mereka bertiga meloloskan diri. Namun dalam kondisi terdesak seperti itu, mendadak Dewa Obat, melakukan tindakan yang ganjil.


"Kalian habisi mereka para pendekar aliran hitam! Jika kalian tidak mampu melakukannya, maka aku sendiri yang akan menghabisi kalian berdua!


Sebab jika kalian tidak sanggup melakukannya, itu sudah membuktikan, jika kalian tidak pantas menjadi lawanku! Apalagi bermimpi sanggup membunuhku!"


Dewa Obat lalu melesat terbang dan memilih melihat semua pertarungan itu dari tempat yang cukup tinggi.


Geho sama meruntuk melihat kejadian barusan. Tindakan Dewa Obat sesuatu yang tidak terduga sama sekali olehnya. Sebab bukannya ikut membantu musuh, justru pertapa itu meninggalkan mereka berdua begitu saja.


"Apa yang dipikirkan pertapa itu?" Geho sama sempat menoleh kearah Suro.


Dia mendengus kesal dan segera meminta jawaban atas kebingungan yang dia rasakan kepada Suro. Tetapi pemuda itu terlalu sibuk, sehingga tidak memiliki kesempatan atau justru dia begitu malas menanggapi omelan Geho sama.


Serangan yang menghujani dirinya membuat pemuda itu tidak memiliki waktu berbicara. Tetapi itu tidak berlaku bagi Geho sama. Sambil melayani serangan musuh dia terus mengomel ke arah Suro.


"Sudah aku katakan jangan pernah membuat kesempakatan dengan orang gila! Lihat, apa yang dia lakukan?


Ini semua pasti rencana dia! Jika tidak, mana mungkin kita langsung diserang oleh kampret-kampret ini!"


Serangan yang dilakukan para pendekar aliran putih dipicu aura sesat yang dikerahkan oleh Geho sama. Begitu sesatnya aura itu menjadi alasan kuat bagi mereka untuk segera menghabisinya.


Diiringi hujan serangan Suro berusaha menjelaskan kesalahpahaman itu, namun tidak satupun para pendekar itu menggubris perkataannya. Tetapi dia cukup bernafas lega, sebab anak-anak telah berhasil dia selamatkan semua


Wujud Geho sama yang tidak biasa, bagi para pendekar semakin menegaskan bahwa musuhnya adalah makhluk sejenis siluman yang pantas dihabisi.


Sedangkan alasan bagi para pendekar aliran hitam, mereka menganggap dua pendekar itu dapat mereka jadikan sandra untuk memaksa Dewa Obat menyerahkan diri.


Tetapi kali ini para pendekar dari dua aliran dunia persilatan yang berebut pengaruh itu bertemu sial. Sebab musuh yang mereka hadapi sekarang, seharusnya tidak mereka usik.