SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch, 293 Perubahan Besar Yang Mengejutkan part 2



"Ternyata semua telah berubah setelah lama kita tidak memasuki alam ini. Semua terlihat hijau. Tidak lagi gersang kering kerontang, seperti yang kita saksikan terakhir kali. Aku jadi penasaran apa yang sebenarnya terjadi?"


"Selain itu aku juga merasakan sesuatu keanehan, mengapa para manusia kelelawar itu dapat berbicara?


Dan mereka menyebut kita sebagai cadangan makanan, itu terasa begitu janggal. Apakah kamu dapat mengetahui alasan mereka menyebut kita sebagai makanan mereka, Geho sama?"


"Entahlah tuan Suro, tapi menurut dugaanku kemungkinan mereka seperti bangsa siluman. Meskipun memiliki kecerdasan sifat mereka justru semakin bertambah buas. Aku yakin mereka memakan sesama mereka sendiri."


"Sebentar aku ingat sesuatu, nah ini dia." Sambil melesat terbang Suro mengambil sesuatu benda dari balik bajunya. Benda yang diambil itu adalah Pusaka Kaca Benggala.


Suro kemudian bertanya kepada pusaka itu untuk mencari tau keberadaan Dewa Kegelapan atau Batara Antaga maupun Batara Karang. Namun setelah beberapa kali bertanya pusaka itu tidak memperlihatkan apapun.


"Ternyata alam ini masih ditutup semacam segel sihir tertentu, mungkin alasan ini juga kita dapat dipindahkan ketempat yang berbeda dengan tujuan Batara Karang pergi." Suro kemudian memasukkan kembali pusaka yang berbentuk seperti kaca itu kedalam balik bajunya.


Suro maupun Geho sama terus melesat sambil melihat pemandangan yang berada dibawah mereka. Semakin mereka melesat ke arah timur, alam disekitar mereka semakin bertambah gelap. Tidak beberapa lama kemudian mereka menyaksikan sesuatu yang terasa ganjil.


"Geho sama makhluk apa mereka itu?"


Saat melesat terbang itu, mata mereka menangkap pemandangan yang tidak biasa. Sebab segerombolan makhluk terlihat sedang bertarung.


Kali ini bentuk tubuh makhluk yang mereka temui tidak seperti sebelumnya. Sebagian besar makhluk yang bertarung itu berukuran raksasa. Bentuknya yang begitu besar tidak pernah mereka lihat sebelumnya.


Kemungkinan mereka adalah para makhluk purba. Seperti salah satunya yang pernah dilihat Suro beberapa waktu yang lalu saat pertama kalinya memasuki alam kegelapan bersama dengan Dewa Rencong, Dewa Pedang dan juga Dewi Anggini.


Makhluk yang dimaksud adalah yang memiliki bentuk mirip seekor badak raksasa. Namun ukurannya kini beberapa kali lipat dari sebelumnya. Ukurannya mungkin setara dengan lima kali lipat ukuran gajah dewasa.


Selain ukurannya yang begitu besar, ada perbedaan lain dengan para badak pada umumnya. Meskipun memiliki cula di hidungnya, ada semacam tanduk yang juga tumbuh diseputaran kepala dekat lehernya yang membentuk seperti sebuah kipas.


"Secara pastinya aku kurang mengetahuinya tuan Suro. Namun menurut perkiraanku, mereka adalah makhluk yang pernah mendiami alam ini. Karena memang alam ini dulunya pernah ditinggali makhluk hidup seperti yang ada dibumi, namun karena ulah Batara Karang dan Batara Antaga, sehingga seluruh makhluk di alam ini mati semua."


"Aku rasa sebagian dari mereka adalah jiwa-jiwa yang terperangkap didunia ini dan dijadikan benih oleh Dewa Kegelapan menjadi semacam makhluk seperti Bhuta kala."


"Kemungkinan para makhluk itu aktif di waktu malam. Sebab di bagian barat pertama kali kita muncul tidak melihat keberadaan makhluk seperti mereka itu."


"Jika memang seperti itu adanya, kita coba saja habisi para makhluk itu. Karena mereka tidak berbeda seperti bhuta kala. Aku yakin mereka akan membuat kekuatanku semakin bertambah. Apakah kau mau ikut serta Geho sama?"


"Sebaiknya hamba melihat dari sini saja tuan Suro. Takutnya kekuatan yang dimiliki tubuhku untuk mencerna hawa kegelapan sudah sampai batasnya."


Suro mengangguk lalu melesat ke bawah dan mulai menghabisi para raksasa yang sebenarnya tak lebih seperti bhuta kala. Dengan variasi jurusnya dan tentu kekuatan penuh ilmu empat Sage membuat tubuh para raksasa itu lenyap dari pandangan mata.


Makhluk itu terlihat begitu buas sesaat setelah Suro turun mereka langsung bergerak mengepungnya dan hendak menjadikan dirinya sebagai santapan mereka. Kondisi itu justru membuat senyum Suro merekah begitu lebar, sebab dengan itu semakin memudahkan dirinya menghabisi para makhluk kegelapan itu.


"Menarik, kekuatanku semakin bertambah setiap kali hawa kegelapan ini aku serap. Jika seperti ini aku rasa memiliki pelung untuk mengalahkan Dewa Kegelapan."


Untuk memastikan keberadaan makhluk yang terlihat begitu banyak, dia mulai menyisir kesegala penjuru disekitar dataran itu. Setelah tidak lagi diketemukan, Suro kemudian kembali melesat ke atas untuk meneruskan perjalanan.


Meskipun hampir seluruh daratan yang mereka lihat sekarang ditutupi rumput menghijau, namun hawa kegelapan masih dapat mereka rasakan, hanya saja keberadaannya sangat tipis dan hampir tidak terlihat oleh mata.


Namun keberadaannya masih dapat dirasakan, jika Suro atau Geho sama mengerahkan tehnik empat Sage. Sebab jurus itu memiliki keunikan tersendiri, yaitu mampu menyerap kekuatan alam.


Belum lama mereka menempuh perjalanan setelah melewati beberapa bukit dan gunung, kembali mereka menemukan seperti yang sebelumnya.


"Mengapa sewaktu terakhir kali muncul di alam ini, kita tidak menemukan makhluk semacam makhluk ini? Tunggu sebentar...aku ingat sekarang. Bukankah makhluk seperti badak itu pernah aku lihat? Iya benar, aku pernah melihat sebelumnya, bukan pertama kalinya aku melihatnya. Waktu itu makhluk yang sejenis dengan itu dikendarai oleh manusia yang memiliki kaki seperti milik kaki seekor burung."


"Aku tau sekarang, sepertinya Dewa Kegelapan sengaja menjadikan ini sebagai tempat berlatih pasukannya." Geho sama menyela perkataan Suro.


"Berlatih bagaimana maksudmu, Geho sama?"


"Berlatih bertahan hidup dan akan menyisahkan terkuat dari yang terkuat. Terakhir kali kita datang ke alam ini, kekuatan manusia kelelawar hanya sekelas tingkat tinggi, tetapi sekarang mereka banyak yang sudah mencapai tingkat shakti."


"Itu artinya para manusia yang dibawa masuk ke alam ini tidak banyak yang selamat jika seperti itu caranya!" Suro mencoba memahami perkataan Geho sama yang menjelaskan fenomena yang mereka saksikan.


Suro seperti sebelumnya turun dan mulai menghabisi makhluk kegelapan yang sibuk saling memangsa.


Setelah mereka kembali meneruskan perjalanan, kali ini apa yang mereka liat terasa menggelitik keingin Tahuan Suro.


Sebab beberapa sosok yang menyerupai bentuk manusia memimpin para makhluk raksasa bertarung dengan makhluk yang sejenis.


Mereka makhluk yang menyerupai tubuh manusia mengendarai para makhluk raksasa itu. Selain mengendarai mereka juga sebagian berjalan kaki.


Seluruh makhluk itu semuanya pemakan daging dan bisa dikatakan, jika mereka semua memiliki sifat kanibal. Sebab setiap yang kalah akan langsung menjadi santapan bagi para pemenang.


Suro menyaksikan hal tersebut dan tidak mencoba menghentikan. Setelah satu pihak dapat dihabisi oleh kelompok yang lain, Suro kemudian turun. Kali ini Geho sama ikut melesat turun.


Mereka berdua melesat turun, karena secara tidak sengaja mereka berdua mendengar percakapan diantara makhluk itu dengan bahasa manusia.


Melihat hal itu Suro menjadi begitu penasaran.


"Aku penasaran dengan apa yang mereka bicarakan, agaknya kita menemukan makhluk kegelapan lain dari pada yang sebelumnya kita temukan. Aku ingin berbicara dengan mereka.


Mungkin saja kita akan mendapatkan jawaban atas berubahnya alam yang signifikan ini. Semoga saja mereka bisa diajak bicara. Karena aku ingin bertanya beberapa hal. Salah satunya adalah mengenai keberadaan Dewa Kegelapan yang belum kita temukan. Bisa jadi dari mulut mereka akan menemukan jawabannya."