
Setelah kepergian Ichiro, Subutai bersama dua orang pasukan dari Elang Langit mencoba menahan Suro sampai Ichiro berhasil meloloskan diri. Kedua orang yang membantu Subutai masih ditingkat Shakti lapisan awal dan pertengahan.
Kondisi itu sebenarnya semakin memperlemah perlawanan yang dilakukan mereka, tetapi Subutai sudah memperhitungkan dengan masak keputusannya untuk menyuruh Ichiro pergi meminta bantuan.
Sebab kabar tentang kekuatan musuh harus diketahui oleh pimpinan suku Elang Langit lainnya. Keberadaan para pendekar yang memiliki kekuatan luar biasa itu tidak mereka ketahui sebelumnya.
Tugas yang mereka lakukan seperti beberapa malam sebelumnya, akhirnya gagal total. Bahkan Hideyoshi yang berhasil menculik satu bayi pun tetap dapat digagalkan oleh Suro.
Bersama Kenjiro, Subutai membantu memimpin pasukan. Diantara pasukan yang dipimpin itu adalh Hideyoshi dan Ichiro. Mereka menyatroni kota Shanxi seperti malam sebelum-sebelumnya.
Salah satu sebab mengapa tidak ada yang melihat atau menangkap kegiatan mereka, adalah kemampuan mereka yang cukup tinggi. Apalagi diantara mereka ada dua pendekar yang sudah ditingkat langit.
Ditambah kemampuan unik mereka yang mampu menghilang dan berpindah tempat sepeti jurus Langkah Maya milik Suro. Dengan kekuatan dan kemampuan mereka, selama dua Minggu mengobrak-abrik kota Shanxi tidak satupun pendekar, maupun penjaga kota yang sanggup menghentikan mereka.
Tetapi kejadian malam ini menjadi sesuatu yang tak mereka bayangkan sama sekali. Salah satunya adalah anak buah mereka yang dihabisi di dalam kota oleh beberapa pendekar yang kekuatannya jauh diatas mereka.
Kekuatan mereka cukup mengerikan. Saat sedang menyatroni kota Shanxi, Subutai menemukan lawan yang sudah ditingkat surga. Bahkan bukan dia saja yang bertemu dengan lawan kuat dan berada ditingkat surga.
Dia mendapatkan informasi dari ucapan pasukan yang berhasil menyelamatkan diri. Dari informasi yang terkumpul itu diketahui, jika ada tiga pendekar di dalam kota Shanxi yang telah berada ditingkat surga.
Salah satu alasan itulah dia meminta Kenjiro untuk menarik pasukannya yang tersisa keluar dari kota Shanxi. Mereka selanjutnya sebenarnya hendak langsung kembali ke markas.
Tetapi ternyata semua berubah menjadi berbeda, sebab seorang pemuda terus mengejar mereka. Keputusan mereka hendak menghabisi pemuda itu, justru berbalik menjadi bumerang bagi mereka.
Sebab kekuatan pemuda itu tidak mereka duga sama sekali. Bahkan Kenjiro yang hendak menghabisi sendiri, justru terbalik berhasil dibunuh.
Subutai sebenarnya merasa sangat ganjil dengan cara berbicara dan gaya bertarung Suro. Apalagi saat dia menghadapi Kenjiro, dia awalnya mengira pemuda itu sedikit tidak waras.
Sebab saat menghadapi Kenjiro yang sedang mengamuk, justru pemuda itu menghadapi pendekar tingkat langit itu dengan cara yang terlihat tidak begitu serius.
Namun setelah melihat akhir dari pertarungan, kejadian itu telah merubah pandangannya terhadap Suro. Walaupun dia tidak mengetahui tingkat kekuatan yang dimiliki pemuda itu, namun dia merasa jika kekuatannya tidak kalah menakutkannya dengan para pendekar tingkat surga yang ada di dalam kota Shanxi.
Kini setelah bertarung langsung dengan Suro, Subutai merasa kekuatan yang dia lihat sebelumnya bukanlah kekuatannya yang sebenarnya. Kekuatan yang dimiliki lawannya sepertinya disembunyikan.
Hal itu dirasakan saat Suro menyerang balik ke arah mereka bertiga. Sebab kini jurus pedang terbang Suro menerjang dengan jumlah dan kekuatan yang luar biasa meningkat dan terasa lebih menakutkan.
Bahkan Subutai harus berulang kali menggunakan jurus lipat bumi untuk menghindar. Itupun dia masih harus menggunakan jurus goloknya untuk melindungi dirinya sendiri.
Satu orang yang bertarung bersama dirinya, justru telah tewas tidak beberapa lama setelah Suro menyerang balik dengan kecepatannya yang berkali lipat dibanding sebelumnya.
Apalagi lelaki itu hanya berada pada tingkat shakti lapis permulaan, sehingga dia lah yang paling lemah diantara yang lain.
Lelaki itu berhasil dibunuh bukan saat hendak menghilang menggunakan jurus lipat bumi, tetapi justru saat lelaki itu muncul. Sebab Suro merasakan kemunculannya sesaat setelah muncul ditempat lain.
Dia mengetahuinya dari aura kekuatannya dan juga dari pijakan kaki lawan yang menyentuh tanah.
Kini Suro hanya tinggal menghadapi dua lawan. Tetapi jurus pedang terbang yang dikerahkan Suro justru membuat lawannya lah yang seakan sedang dikepung.
Subutai sedikit lebih mampu menghindari serangan Suro, sebab dia dapat berpindah tempat diatas udara. Walau itu tidak mampu terlepas dari serangan pedang yang kembali mengejarnya.
Sebenarnya Subutai tidak berhenti menyerang balik. Seperti serangan dia kali ini, dia berhasil mendekat ke arah Suro dan menyerang secara beruntun.
Sebab satu rekannya itu akhirnya tewas tanpa kepala. Walaupun saat itu dia telah menggunakan jurus ruang waktu dan hendak menukar tubuhnya dengan batang kayu. Namun itu tidak cukup cepat, sehingga didahului oleh lesatan pedang terbang yang mengurungnya.
Setelah beberapa kali golok besar milik Subutai beradu dengan pedang milik Suro dia merasakan kekuatan pemuda itu begitu kuat. Walaupun pada saat menahan sabetan goloknya, Suro hanya menggunakan satu tangannya.
Apalagi setelah bertukar serangan itu dia merasa pedangnya mulai terjadi keretakan dibeberapa tempat. Bahkan kedua tangan Subutai terasa sakit dan bergetar, setelah menahan tebasan pedang Suro dengan menggunakan goloknya.
Kali ini Subutai menyadari, jika kekuatan lawan sesungguhnya telah berada ditingkat surga.
"Kurang ajar ternyata kekuatanmu telah berada ditingkat surga. Jadi sedari tadi kau menyembunyikan kekuatanmu untuk mengelabuhi kami?
Aku sudah curiga saat kau melayani serangan Kenjiro tanpa ada rasa takut sedikitpun!"
Subutai langsung menjaga jarak setelah menahan tebasan pedang Suro barusan. Tangannya masih bergetar tidak dapat dia hentikan.
"Paman terlambat menyadarinya," Suro tersenyum puas melihat Subutai yang sedang berdiri mencoba menghimpun kekuatan kini justru mendadak ambruk.
"Apa yang terjadi dengan tubuhku? Ini...ini racun pelumpuh tulang? Bagaimana kau memilikinya? Berarti kau adalah mantan anggota kelompok Mawar Merah?"
Pertanyaan Subutai yang merepet dibalas dengan tawa Suro yang terkekeh.
"Sudah aku katakan paman sudah terlambat. Aku sengaja memberi peluang agar paman mendekat ke arahku."
Subutai masih tidak mempercayai dengan apa yang terjadi padanya. Dia kemudian teringat tentang kabar hancurnya markas kelompok Mawar Merah.
"Aku sepertinya mengenalimu bocah!"
"Benarkah? Kapan kita pernah berjumpa paman?"
"Aku tidak menyebut jika kita pernah berjumpa, tetapi aku pernah mendengar seorang pemuda yang berhasil menghancurkan markas Mawar Merah dengan jurus pedangnya yang berjumlah puluhan."
Suro tidak menjawab mendengar pertanyaan dari Subutai. Dia justru menoleh ke arah larinya Ichiro.
"Aku tau paman hendak mengulur waktu untuk memberi kesempatan kepada lelaki yang berlari ke arah sana!" Suro menunjuk ke arah timur persis ke arah dimana Ichiro berada.
"Bahkan aku masih mampu merasakan setiap langkah kakinya. Seharusnya paman yang pergi meminta bantuan, sebab paman sudah berada ditingkat langit.
Sehingga dengan kemampuan paman dapat lepas dari pengawasanku. Tetapi semua sudah terlanjur.
Karena itu aku memiliki penawaran yang bagus kepada paman. Pertama jika paman mau menunjukkan markas suku Elang Langit, maka aku akan mengampuni nyawa paman.
Dan itu juga tidak gratis. Aku sempat mendengar paman berbicara sendiri saat berada diketinggian, jika bayaran untuk bertarung denganku tidak sesuai. Karena itu aku akan memberikan upah kepada paman.
Tentu saja jika paman setuju dengan penawaranku ini." Suro menunjukkan sekantong koin emas yang bergemerincing saat Suro mengayun-ayunkan didepan mata Subutai.
"Atau aku akan memengal kepala paman seperti lelaki itu, kemudian aku akan mengejar lelaki yang tadi meninggalkan tempat ini."
"Paman jangan meragukan kemampuanku untuk melakukan hal itu. Jika paman menolak, maka kerugian bukan padaku, tetapi itu terletak pada paman. Sebab aku tetap dapat mendapatkan informasi yang hendak aku cari.
Aku tau paman hanyalah pasukan bayaran, jadi seharusnya penawaranku ini sangat bagus untuk paman ambil." Suro tertawa kecil sambil mengoyang-goyangkan kantong yang masih berada ditangannya.