
Mahadewi yang melihat Suro mendekati gadis cantik bernama Yang Xie Ying sepontan berdiri sambil berkacak pinggang. Matanya melotot ke arah Suro.
"Mahadewi, biarkan nakmas Suro mengobati mereka. Anak orang itu akan mati jika tidak segera ditolong." Suara seorang wanita paling disegani dan ditakuti oleh Mahadewi itu segera menyadarkan dirinya.
'Gawat aku lupa ada guru disini.' Wajah Mahadewi segera berubah menjadi pucat pasi.
"Apakah kamu sudah melupakan wejangan gurumu ini. Kamu itu adalah putri seorang akuwu dari negeri Medang, seharusnya perilakumu itu mencerminkan seorang wanita yang lemah lembut. Seperti putri kedaton lainnya.
Mau jadi wanita seperti apa kamu? Apa kamu mau jadi wanita yang urakan tidak mengerti tatakrama tidak punya suba sita, ungah-unguh?
Ayahandamu menitipkan dirimu kepadaku karena perilakumu yang selalu membuat keonaran. Bahkan dia sampai angkat tangan, karena tidak mampu mengatur dirimu yang berperilaku seperti centeng pasar."
Panjang lebar Dewi Anggini memberi ceramah kepada muridnya itu. Mahadewi hanya bisa terduduk dengan menundukkan kepala begitu dalam.
Bahkan matanya tidak berani melirik ke arah Suro yang kini memegang tubuh yang ditolongnya seperti memeluk, sebab gadis itu kembali kehilangan kesadarannya.
Sebenarnya keberadaan gurunya sejak awal membuat Mahadewi menjadi begitu kikuk. Bahkan untuk berbicara saja dia tidak berani dan memilih terus terdiam.
Namun saat melihat Suro memegang tangan gadis cantik yang berada dikejauhan itu, maka api cemburunya segera menguasai dirinya. Keberadaan gurunya dan yang lain sudah tidak dia ingat lagi.
"Teruskan nakmas,' Dewi Anggini memberi tanda dengan tangannya, agar Suro meneruskan usahanya untuk menyelamatkan gadis yang sempat kehilangan kesadarannya.
"Terima kasih tuan pendekar, diriku telah berhutang nyawa padamu,' Yang Xie Ying menatap ke arah pemuda didepannya dengan pandangan lebih bercahaya.
Wajahnya mulai merona merah menahan malu karena dia masih mengingat sebelumnya. Saat dirinya mulai kehilangan kesadarannya pemuda itu segera menangkap tubuhnya yang hendak terjatuh.
Kini satu tangannya sambil menahan dirinya agar tidak jatuh sewaktu-waktu, maka satu tangan lainnya mencoba menyalurkan tenaga dalam. Diantara dua tulang belikat tangan sang pemuda terus menempel.
Kondisi itu jika diamati seperti sedang memeluk dirinya. Tetapi wanita itu menyukai apa yang sedang dilakukan sang pemuda kepadanya.
Ada beberapa alasan yang membuatnya seperti itu selain rasa aman. Salah satunya adalah dia menyadari, jika rasa hangat yang menjalar disekujur tubuhnya itu adalah karena tenaga dalam milik sang pemuda yang disalurkan melalui tangannya yang menempel di punggungnya.
Dia tidak menyangka sama sekali, jika pemuda itu mau bersusah payah melakukan hal itu. Tetapi dia mengakui, dengan penyaluran tenaga dalam itu telah membuat dirinya pulih secara cepat.
Setelah dibantu oleh Suro gadis cantik itu akhirnya kembali sadar sepenuhnya dan selamat dari kondisi kritis. Begitu juga dengan Yang Jian dan Yang Xiaoma, mereka berdua sejak awal memang tidak sampai kehilangan kesadaran, sehingga dapat pulih dengan lebih cepat.
Sebab setelah diberikan pill penawar racun yang cukup kuat selain untuk penawar racun pelumpuh tulang, mereka segera bersamadhi untuk membantu tubuhnya menyerap khasiat obat yang telah mereka telan.
Sebenarnya mereka bukanlah pemuda biasa yang tidak memiliki tenaga dalam. Mereka sudah berada pada tingkat tinggi, kecuali gadis yang ditolong Suro barusan. Yang Xie Ying masih berada pada tingkat paling rendah diantara mereka bertiga. Gadis itu masih berada pada tingkat kelas satu.
Karena itulah dua pemuda itu sedikit lebih cepat pulih dibandingkan Yang Xie Ying.
Walaupun tidak mengetahui alasan Suro menolong mereka bertiga, tetapi Yang Xiaoma merasa itu adalah waktu yang tepat agar dapat diampuni oleh pemuda yang menolongnya. Dia segera keluar dari kolong meja dan merangkak ke arah Suro untuk bersujud didepan pemuda itu.
"Siapa yang menyuruhmu bersujud bocah bau pesing? Sana jauh-jauh jangan mendekat." Ucapan Suro sengaja disentak, agar pemuda itu segera menghentikan gerakannya.
Ucapan Suro barusan ampuh menghentikan gerakan pemuda yang hendak bersujud dan berusaha mencium kakinya. Suro tersenyum puas melihat pemuda dengan pakaian mewahnya dapat dia usir hanya dengan lambaian tangannya.
"Kalian pulihkan kondisi kalian terlebih dahulu, ada sesuatu yang hendak aku tanyakan. Kau anak dari walikota Shanxi bukan?"
"Benar tuan pendekar, nama hamba Yang Xiaoma anak satu-satunya dari Yang Taizu. Pejabat Walikota Shanxi ini."
Suro menganggukan kepala mendengar jawaban Yang Xiaoma. Melihat sebuah senyum kecil disudut bibir Suro, pemuda itu bernafas lega, sepertinya lelaki yang terlihat jauh lebih muda darinya itu tidak lagi murka.
**
"Yaah domba panggangnya habis," Suro menggaruk-garuk pipinya melihat makanan yang dia sukai sudah tidak tersisa lagi.
Dewa Rencong terkekeh melihat Suro tidak memiliki kesempatan merasakan kembali makanan lezat itu.
"Enaknya...hmmmm empuk sekali daging ini." Pendekar itu mengelap mulutnya, setelah selesai memakan paha domba panggang yang terakhir.
Sengaja pendekar itu berbicara sambil membuat mimik wajah tertentu agar Suro mengerti betapa lezatnya daging domba pangang yang telah dia habiskan. Senyum puas menghiasi wajah Dewa Rencong melihat Suro hanya bisa menelan ludah berkali-kali, sebelum duduk dan kembali meneruskan makannya.
**
Setelah selesai dengan urusan makan, mereka berlima lalu mendekati dua pemuda dan seorang pemudi yang masih berusaha memulihkan tubuh mereka.
"Jelaskan kepada kami tentang kabar adanya penculikan atau pencurian bayi-bayi di kota ini," Dewi Anggini mulai berbicara kepada Yang Xiaoma yang kini sudah merasa pulih seratus persen dari pengaruh racun.
"Seharusnya sebagai anak seorang walikota dirimu mengetahui tentang kabar tersebut?" imbuh Dewi Anggini.
Yang Xiaoma kemudian mulai menjelaskan tentang kejadian yang melanda kota Shanxi. Menurut penjelasannya kota itu mengalami kejadian seperti itu sekitar seminggu yang lalu.
"Apakah setelah kejadian itu diikuti dengan peristiwa orang-orang yang mati karena kehabisan darah. Dengan kondisi mayat kering seakan tidak ada lagi cairan darah didalam tubuhnya." Suro ikut bertanya kepada Yang Xiaoma.
"Benar, tepatnya lima hari setelah kejadian hilangnya para bayi, beberapa penduduk ditemukan mati, seperti kondisi yang tuan pendekar tanyakan.
"Panggil diriku dengan nama Suro saja."
"Baik tuan Suro." Yang Xiaoma masih merasakan ketakutan teramat sangat kepada Suro. Sehingga pemuda itu tidak berani menyebut Suro hanya dengan namanya saja.
Mendengar ucapan Yang Xiaoma yang tidak juga ketinggalan menyematkan kata tuan didepan nama Suro, membuat pemuda itu mengaruk-garuk pipinya. Sebenarnya dia tidak menyukai, tetapi akhirnya dia mendiamkan saja.
Entah sebab apa pemuda itu masih seperti orang meriang setiap kali dia menatapnya. Hal itu bisa diketahui dengan tangan dan rahangnya yang bergetar seperti orang kedinginan.
Suro tidak memahami entah karena sebab apa, Padahal pemuda itu ketakutan setengah mati, setelah mengetahui Surolah yang menghancurkan markas Mawar Merah dan juga karena kemampuan mengerikan yang diperlihatkan sebelumnya.
"Sepertinya aku mengetahui dengan apa yang terjadi di kota ini. Aku pernah menghadapi pengguna ilmu sesat ini. Tetapi aku tidak yakin, jika itu memang dia. Sebab pengguna ilmu hitam yang aku maksudkan adalah seseorang yang berjuluk Tongkat iblis."
"Maksud nakmas pemimpin Perguruan Tengkorak Merah?" Dewi Anggini langsung mengenal nama itu, sebab dia beberapa kali pernah bertarung dengannya.
Apalagi memang letak perguruan mereka sama-sama berada di dekat negeri Medang. Perseteruan panjang dengan perguruan aliran hitam yang cukup berpengaruh itu terus terjadi dan berakhir saat perguruan itu dihancurkan oleh Suro.
"Benar tetua, lelaki itu yang aku maksudkan." jawab Suro diiringi anggukan kepala.
"Walaupun dia terakhir kali aku bertemu dengannya masih berada di Yawadwipa. Tetapi semua itu dapat terjadi, jika itu dihubungkan dengan Batara Karang yang memang sedang berada di negeri ini.
Apalagi sudah cukup lama dia tidak pernah kembali keperguruannya dan terdengar keberadaannya. Sesuatu hal yang sangat mungkin, jika dia sedang mencoba menyusun sebuah pasukan besar di daratan Benua Tengah ini."
Suro merasa cukup yakin, jika kecurigaannya memiliki landasan yang kuat.
"Kita akan melihat, apakah yang diucapkan angger Suro memang terbukti kebenarannya. Oleh karena itu, lebih baik kita berdiam di kota ini barang sebentar sampai kita cukup yakin." Eyang Sindurogo membalas ucapan muridnya itu dengan pelan.
"Eyang guru, lalu bagaimana dengan rencana awal kita mencari seseorang yang disebut Dewa segala tau itu di gunung Thai Hang itu?" Suro segera bertanya kepada gurunya, sebab dia masih mengingat, jika rencana awal mereka adalah mencari tempat dimana pusaka kunci langit disimpan.