
"Ternyata apa yang kau katakan benar Geho Sama." Dewa Obat tertawa senang.
Dia cukup senang melihat patung-patung dapat dihancurkan. Sebab dia cukup kerepotan melihat patung yang bisa kembali pulih dengan cepat setiap kali dihancurkan.
Tidak butuh waktu lama, mereka akhirnya berhasil menghancurkan seluruh pasukan. Namun itu ternyata hanyalah awal dari serangan yang sesungguhnya.
Bldaar! Bldaar! Bldaar!
Rentetan suara mengema seperti tanah terbelah mengawali penampakan seekor makhluk raksasa.
Melihat wujud seekor naga raksasa yang begitu mengerikan, justru Geho Sama melengos dan berbalik arah kebelakang.
"Nah, kalau musuhnya seperti ini berarti jatahmu bocah!" ucap Geho Sama sambil menepuk-nepu bahu Suro.
"Kuatkan hatimu nak, tugas berat ini aku serahkan dipundakmu." Geho Sama berbicara sambil tertawa kecil.
"Sinting dasar!" Pemuda itu membalas sambil tersenyum kecut. Tangannya juga mulai menggaruk-garuk kepalanya.
"Apa kau tidak salah raksasa sebesar itu kau serahkan kepada pemuda itu sendiri?" ujar Dewa Obat mencoba menegaskan ucapan Geho Sama bukan bercandaan belaka. Dia mengikuti dibelakang Geho Sama yang meninggalkan pertempuran tanpa ada rasa bersalah.
Dewa Obat terlihat kebingungan mendengar ucapan dan sikap Geho Sama yang berjalan kebelakang dan justru duduk di sebuah kursi emas yang agak jauh dari tempat munculnya naga raksasa.
"Tenang saja, menurut tuan pertapa Dewa Obat, siapakah yang akan menjadi pemenang naga itu atau justru bocah sinting itu yang akan kalah?"
Dewa Obat menggaruk-mengaruk kepalanya mendengar pertanyaan Geho Sama. Justru kerutan didahinya semakin bertambah banyak mendengar pertanyaan dari Geho Sama barusan.
"Kau yakin dia tidak memerlukan bantuan kita?"
"Jika tuan pertapa hendak membantu silahkan saja, tetapi kalau aku lebih baik memilih tidak."
"Hooooaaaaaammmmmmmm! Tiba-tiba aku merasa mengantuk bawaannya, mengapa tidak ada bantal disini." ucap Gego Sama sambil menoleh ke kanan-kekiri mencari sesuatu hal.
Dewa Obat mulai berkacak pinggang menatap Geho Sama yang justru bersantai seperti tidak ada beban pikirannya.
"Geho Sama, pikiranmu itu sepertinya memang sudah rusak berat."
Geho Sama memincingkan mata mendengar ucapan Dewa Obat yang berbicara ke arahnya dengan nada tinggi. Namun tatapan Dewa Obat telah berpindah ke arah Suro yang sedang berhadapan dengan naga besar yang muncul dari dalam tanah.
"Jika Dewa Obat berniat ikut bergabung bocah sinting melawan naga itu, aku tidak memaksa. Tapi saat ini aku lebih memilih mengistirahatkan tubuhku barang sebentar sampai bocah itu menyelesaikan tugas yang aku berikan padanya."
Meskipun jengkel melihat Geho Sama yang justru menjauh dan memilih cukup menjadi penonton, entah mengapa dia justru memilih mengikuti ucapan dan langkah Geho Sama.
Tetapi dia cukup kagum melihat Suro tetap berdiri tidak bergerak meskipun di depannya telah muncul ular sangat besar hendak menyerangnya. Pemuda itu menunggu ular itu keluar secara penuh dari lubang tanah yang barusan terbentuk.
"Apalagi sejak awal kita harus bertarung secara terus menerus. Tentu tidak ada salahnya kita melihat pertunjukan sambil bertaruh." Geho Sama berbicara sambil mengusap-usap pipinya.
"Jadi menurut Dewa Obat, apakah bocah itu mampu mengalahkannya atau tidak?"
"Oooo...kau ingin mengajakku bertaruh, baiklah aku akan memegang calon muridku itu."
Geho Sama langsung bangkit dari tempat duduknya saat mendengar pilihan Dewa Obat.
"Tidak bisa, kau harus memilih yang lain. Bocah itu sudah aku pilih."
Dewa Obat tidak mau kalah kali ini, sebab dia sudah mendapatkan pengalaman dengan makhluk didepannya.
"Kau ingat bukan, jika seorang lelaki itu yang dipegang lidahnya bukan ekornya!"
Geho Sama mendelik mendengar ucapan Dewa Obat.
"Memang sejak kapan seorang manusia memiliki ekor?"
"Ah, itu tidak penting, tadi dirimu sudah membiarkan diriku untuk memilih. Sekarang aku sudah memilih. Maka pilihan itu tergantung diriku!" Dewa Obat mendengus lebih keras tidak mau kalah.
Pengalaman adalah guru terbaik, semboyan itulah yang dipegang Dewa Obat. Kali ini dia tidak akan membiarkan dirinya dipecundangi oleh makhluk mengerikan didepannya.
"Jadi kali ini kau yang ganti harus memegang ucapanmu," ujar Dewa Obat melanjutkan ucapannya.
Matanya melotot sambil menunjuk hidung Geho Sama yang panjang.
**
Ular naga yang ada dihadapannya segera membuka mulutnya sedemikian lebar hendak mencaplok tubuh Suro. Tubuh besar itu melesat dengan sangat lincah
Namun sebelum ular raksasa itu sampai, Suro segera mengerahkan tehnik perubahan tanah.
"Muncul lah Naga Bumi!"
Kraaak! Kraaak!
Wuuuusss
Duuuum!
Tanah yang berada persis di depan Suro membelah, lalu dari dalam tanah melesat sangat cepat sebuah sosok yang dua kali dari tubuh ular raksasa yang berusaha menyerang Suro.
Duuum!
Naga bumi langsung menghantam dengan keras ular raksasa musuhnya. Hentakan keras itu membuat seluruh tempat itu bergetar kuat.
Dua naga itu lalu bergulung-gulung saling membelit menghancurkan patung-patung tanah liat yang berserakan diseluruh tempat lapang tersebut.
Dentuman dari hantaman ekor kedua naga terus menggelegar membuat seluruh ruangan dibawah tanah itu kembali bergetar hebat seakan mau runtuh.
"Cepat habisi makhluk itu, bocah! Jangan sampai tempat ini runtuh!" Geho Sama berteriak keras diantara suara dentuman.
Ucapan Geho Sama bukanlah menakut-nakuti, sebab beberapa batu mulai berjatuhan dari langit-langit goa besar tempat mereka berada. Hal itu disebabkan oleh pertarungan dua makhluk raksasa yang saling menyerang dengan ganas.
Naga penjaga makam itu sebenarnya sangat kuat. Bahkan beberapa kali tubuh naga bumi yang dua kali lipat besarnya dapat dibelit hingga hancur. Tetapi Suro segera mengembalikan bentuknya kembali seperti semula.
Setelah beberapa kali berhasil menghancurkan naga bumi, naga penjaga makam itu kini merasakan kelelahan. Tenaganya seperti terkuras habis.
Karena itu dia berusaha lepas dari belitan naga bumi. Setelah berhasil lepas naga itu berusaha kabur dan kembali hendak masuk ke dalam tanah, tempat dimana sebelumnya dia muncul.
Naga itu akhirnya berhasil melarikan diri, walaupun sebenarnya naga bumi yang dikendalikan Suro berusaha menahannya. Naga yang menjadi lawan naga bumi walaupun berhasil melarikan diri, tetapi berhasil dilukai cukup parah.
Tubuhnya penuh luka akibat naga bumi yang sebelumnya membelit dirinya dirubah bentuk luarnya oleh Suro menjadi penuh duri tajam.
Setelah naga raksasa itu berhasil masuk ke dalam tanah, maka Suro mencoba memeriksa apa yang menunggu didalam lubang raksasa itu.
Kedua telapak tangannya dia letakkan ke permukaan tanah. Suro segera meraba seperti apa tempat persembunyian naga-naga penjaga makam.
Setelah merasakan sesuatu yang mencurigakan Suro segera mengirim naga bumi masuk ke dalam lubang tempat persembunyian naga penjaga makam.
Begitu Naga bumi masuk, maka Suro segera melesat menyusul masuk ke dalam tanah sambil berteriak," kalian cepat menyusul!"
Geho Sama dan Dewa Obat kebingungan mendengar perintah Suro. Mereka berpandangan sebelum akhirnya memilih menyusul Suro.
Dewa Obat yang pertama melesat menyusul Suro hendak masuk ke dalam lubang besar tempat ular raksasa keluar dan kembali masuk. Tetapi sebelum tubuhnya masuk ke dalam lubang, dia sempat menoleh ke arah Geho Sama. Dia masih menyempatkan berteriak keras.
"Aku menang, kau kalah Geho Sama!"
"Berarti kau yang harus membayar ayam goreng bocah itu!"
"Sial, aku akhirnya yang harus membelikan ayam gorengnya?"
Geho Sama tidak segera menyusul justru meruntuk kesal. Padahal rencana dia mengajak taruhan agar dirinya bisa mendapatkan ayam goreng gratis dari Dewa Obat.
Kini buyar sudah keinginannya mendapatkan ayam goreng gratis. Dia segera menyusul Suro dan Geho Sama yang telah mendahuluinya sambil terus merutuk.
**
Ingat jangan lupa like ya.
sumbangan poin untuk vote yang banyak biar crazy up-nya tambah semangat thanks yang sudah mendukung