SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Cermin Matahari Hitam 2



"Aku akan membantu kalian!" teriak Suro yang langsung menebaskan Kapak Pembelah Semesta ke arah musuh yang mencoba memukul mundur pasukan gabungan para pendekar dan juga beberapa kerajaan.


Serangan yang dikerahkan itu langsung membelah tubuh musuh yang hendak menerjang maju. Tubuh mereka tercerai berai terkena tajamnya


Itu bukanlah serangan satu-satunya yang Suro kerahkan. Dia kemudian menggunakan Pedang Akar Dewa. Maka seketika itu juga berlesatan semacam sulur berwarna kehijauan seperti warna giok mencari ke segala arah tidak terhitung jumlahnya.


"Matilah kalian semua!" teriak Suro yang membuat seluruh mata terbelalak.


Sebab sulur yang berasal dari zirah yang melindungi tubuhnya itu memiliki ketajaman yang sangat mengerikan. Pasukan kerajaan maupun para pendekar dapat terdesak, karena tubuh lawan mereka tidak dapat dilukai oleh senjata mereka.


Kini hanya dalam satu gebrakan Suro telah berhasil membantai pasukan Dewa Kegelapan itu lebih dari seratus lima puluh orang. Serangan Suro tidaklah berhenti begitu saja, sebab dia kembali mengerahkan serangan lain dengan menggunakan teknik perubahan api yang membakar tubuh musuh yang tercacah hancur oleh serangan barusan.


Suro hendak memastikan musuh benar-benar berhasil dihabisi. Serangan yang begitu dahsyat akhirnya berhasil menghancurkan barisan pasukan musuh.


"Selebihnya biar kami yang menanganinya! Gagalkan saja apa yang sedang dilakukan Dewa Kegelapan!" teriak Dewa Pedang yang memimpin pasukan yang berada di pihak para pendekar.


Suro menganggukkan kepala dan menoleh ke arah Geho Sama yang sedang menggenggam Kapak besar miliknya sendiri.


"Gunakan Kapak Pembelah Semesta milikku, kapakmu itu tidak akan mampu membunuh mereka," terang Suro yang menggerakkan kapak ya sendiri melesat ke arah Geho Sama yang berada di belakangnya bersama Dewa Pedang dan juga Mahadewi.


"Jaga Mahadewi, aku hendak menuntaskan pertarungan yang ada di atas puncak sana!" seru Suro yang hendak bergegas kembali ke puncak Gunung Mahameru demi mendengar dentuman keras bertubi-tubi yang menandakan Batara Karang kini sedang menyerang Eyang Sindurogo dan Maharesi Acaryanandana.


"Percayakan saja padaku apa yang ada disini bocah!" tegas Geho Sama yang begitu senang kini memiliki senjata Kapak Pembelah Semesta.


Geho Sama langsung melesat menuju ke arah musuh dan mengamuk di sana seperti banteng terluka. Melihat keadaan sudah mampu ditangani oleh Geho Sama, maka Suro pun melesat terbang dan menghilang menuju puncak Gunung Mahameru.


***


Saat itu di puncak Gunung Mahameru Batara Karang berupaya menghabisi Eyang Sindurogo dan juga Maharesi Acaryanandana. Jurus Cermin Matahari Hitam milik Batara Karang berulang kali berhasil membuat serangan Maharesi Acaryanandana justru menghajar kepada pemiliknya dan juga Eyang Sindurogo.


"Kalian para semut berani sekali menyerang diriku yang makhluk abadi ini!” ucap murka Batara Karang.


Dia lalu membuat jurus yang jauh lebih mengerikan dibandingkan apa yang dilakukan sebelumnya. Tangan hitam raksasa dikerahkan oleh Batara Karang dengan jumlah banyak dan bermunculan bersama awan hitam dari berbagai arah mengepung mereka berdua.


Beruntung Eyang Sindurogo yang telah menguasai Langkah Kilat dapat menghindari serangan yang datang. Sedangkan Maharesi Acaryanandana mengandalkan Gandewa yang ada di tangannya.


Berlesatan anak panah dewa menghancurkan gempuran tangan raksasa sambil bergerak mundur semakin jauh dari puncak Gunung Mahameru. Mereka berdua terpaksa menjauh dari puncak Gunung Mahameru karena begitu dahsyatnya kekuatan yang diperlihatkan oleh Batara Karang.


“Maharesi, apakah dirimu menyadari, jika kekuatan Batara Karang jauh lebih kuat dibandingkan saat dia masih berjumlah dua?” tanya Eyang Sindurogo berhasil menjauh.


“Benar apa yang dikau katakan, kekuatannya kini terasa jauh lebih mengerikan dibandingkan sebelumnya!” balas Maharesi Acaryanandana. Belum juga mereka berbicara kembali serangan datang ke arah mereka berdua dari arah yang tidak disangka-sangka.


Sebab bermunculan dari sekeliling mereka berdua yang sedang terbang berdiri diatas udara. Sehingga serangan itu menghajar secara bersamaan dari arah samping, belakang, depan, bawah dan atas.


Duuuuuuuum! Duuuuuuum! Duuuuuum! Duuuuum!


Ledakan itu sebenarnya berasal dari kekuatan Ilmu Tapak Dewa Matahari Sepuluh Matahari Meminta Jawaban. Wujud jurus yang dikerahkan Eyang Sindurogo dan diserap jurus Cermin Matahari Hitam milik Batara Karang adalah sepuluh bola energi yang sangat mengerikan.


Bukan sekali Eyang Sindurogo melakukan serangan dengan jurus itu, seharusnya saat serangan itu dikerahkan terjadi ledakan yang sangat luar biasa mengerikan. Nyatanya semua hanya sanggup menghentikan serangan Batara Karang tetapi tidak membuat ledakan dahsyat.


Semua jurus yang dikerahkan Eyang Sindurogo itu juga bernasib persis seperti yang dikerahkan Maharesi Acaryanandana, maka kini semua jurus itu dikembalikan secara serentak dan tanpa dapat disadari sebelumnya. Bahkan Eyang Sindurogo yang menguasai Langkah Kilat sekalipun tidak sempat menghindarinya.


“Aaaaarrrggggghhhh! Aaaaarrrrrrggggghhh!”


Teriakan kesakitan dua jagoan terkuat itu menandai tumbangnya mereka dan meluncur deras dari langit dan hendak menghujam jatuh ke dalam kawah puncak Gunung Mahameru.


Tidak ada yang menolong mereka berdua selamat dari tenggelam masuk ke kawah Mahameru yang menggelegak dengan penuh mengerikan. Karena memang kondisi kawah Gunung Mahameru seakan hendak meletus.


Suro memang sebelumnya telah mengutus salah satu kembarannya yang bernama Purbaangkara Sang Pengendali Api Hitam. Namun Batara Karang berhasil menangkap dan melenyapkan dalam genggaman tangan raksasa dari jurus Cermin Matahari Hitam.


“Matilah kalian berdua masuk ke dalam neraka kawah Mahameru! Hahahahaha!” ucap Batara Karang yang sudah merasa berhasil menghabisi mereka berdua, karena mereka dalam sekejap lagi telah jatuh dalam kumbangan lahar yang menggelegak dengan sangat mengerikan.


“Aku tidak akan membiarkan kau membunuh kedua guruku!”


Namun sebelum keduanya jatuh masuk ke dalam gelegak magma, secara mendadak Suro berhasil menyusul dan menangkap keduanya. Lalu menghilang kembali dan muncul di dekat Dewa Pedang.


“Kurang ajar, kau pikir kali ini dengan ilmu menghilang kau dapat lepas dariku!”


Batara Karang menggerung penuh kemarahan dan mengerahkan jurus Cermin Matahari Hitam ke arah pasukan yang dipimpin Dewa Pedang. Melihat hal itu, maka Dewa Pedang segera mengerahkan energi pedang terkuatnya untuk menghentikan serangan itu.


“Sejuta Tebasan Pedang!”


Bukan hanya Dewa Pedang yang mengerahkan serangan untuk menghentikan serangan dari Batara Karang. Geho Sama juga mengerahkan serangan dahsyat dengan kekuatan setara dewa.


Dewa Rencong juga tidak mau kalah ikut melesatkan serangan terkuatnya. Para sesepuh Perguruan dari berbagai aliran juga mengerahkan serangan jarak jauh terkuat mereka untuk membantu Dewa Pedang.


Serangan yang dikerahkan secara bersamaan itu memang berhasil menghentikan awan hitam yang hendak menggulung mereka.


Tidak dinyana serangan gabungan itu tidak benar-benar menghentikan kekuatan dari jurus Cermin Matahari Hitam yang dikerahkan Batara Karang, karena itu hanya siasat dari Batara Karang untuk membuat terlena Dewa Pedang dan juga para pendekar yang lain.


Sebab setelah itu serangan yang dikerahkan Dewa Pedang dan yang lainnya langsung dikembalikan oleh Batara Karang menghajar ke arah barisan pasukan musuhnya. Terutama dimana Suro muncul.


***


Jika ada yang berkenan mampir, ada karya Author lain yang ada di Karyakars#.com dengan nama pena Lelanangjagat_biru


Begitu juga di plat kuning Nov#lme.com ada karya Author dengan nama pena Lelanangjagat


Terima kasih yang masih setia menunggu maaf jika terlalu lama, akan saya selesaikan secepatnya