SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Hukuman Bagi Pasukan Kegelapan



“Matilah kalian semua!” teriak kuat Suro yang langsung melest ke arah pasukan kegelapan.


Semua mata langsung tertuju atas kemunculan Suro yang disertai aura kekuatan yang begitu mengerikan. Pasukan kegelapan yang melihat kedatangan Suro tentu saja tidak kalah terkejutnya, sebab dia menghilang bersama dengan pemimpin mereka, yaitu Dewa Kegelapan.


Wajah mereka memucat, sebab kini Suro dan Geho Sama telah muncul tanpa terlihat adanya Dewa Kegelapan. Mereka segera menyadari, jika hal buruk telah terjadi pada Dewa Kegelapan. Hanya saja mereka tidak menerima kondisi itu, karena mereka begitu percaya dengan kekuatan Dewa Kegelapan.


Oleh karena itu mereka tetap memberikan perlawanan, terutama salah satu jendralnya yang tidak lain adalah Pendekar Tongkat iblis. Dia segera menyambut kedatangan Suro menggunakan senjatanya.


“Kau pikir kami takut denganmu, aku yakin kau hendak menjatuhkan mental kami!” teiraknya. “Semua serang pemuda sialan itu!” sambungnya lalu dia melepaskan serangan berupa cahaya kemerahan dari ujung tongkat berwujud tengkorak merah.


Blaaaam!


Ledakan keras mengguncang medan pertempuran, sehingga daya hempasannya mampu melemparkan kedua pasukan yang sedang berkecamuk terlempar jauh. Sebagian langsung mati, terutama para prajurit dari pasukan Kerajaan Tarumanegara, Kalingga dan juga Galuh.


Mereka yang selamat tentu saja segera bergegas menjauh dari zona pertempuran yang akan dilakukan Suro di garis pertempuran. Karena memang setelah itu Eyang Sindurogo memerintahkan seluruh pasukan yang berada di bawah kepimpinannya untuk menjauh area tersebut.


Termasuk Geho Sama juga membantu  Eyang Sindurogo, meskipun wujudnya kini dalam bentuknya sebagai seorang siluman, namun karena dia datang bersama dengan Eyang Sindurogo membuat pasukan kerajaan dan juga pasukan pendekar tidak merasakan takut.


“Cepat menjauh dari Gunung Mahameru!” teriak Geho Sama yang dapat didengar oleh orang dalam radius lebih dari sepuluh kilometer.


Tekanan kekuatan yang diberikan Geho Sama sebenarnya ikut membuat Eyang Sindurogo terkejut diak menyangka dengan perubahan kekuatan Geho Sama jauh dari yang terakhir diingatnya. Namun Eyang Sindurogo memilih berkonsentrasi mencoba membawa pasukannya secepatnya menjauh dari Gunung Mahameru dan membuat parameter sejauh mungkin dari pertempuran Suro yang akan sebentar lagi pecah.


Bukaqn hanya Eyang Sindurogo, tetapi semua pasukan yang bersamanya justru jauh lebih kebingungan, sebab mereka baru saja sampai di kaki Gunung Mahameru. Walaupun pertempuran sudah berlangsung sedemikian dahysat dan telah menelan korban hingga ribuan, sesungguhnya itu masih awal pertempuran, karena Geho Sama telah kembali pada saat awal pertempuran.


Meskipun begitu mereka segera mengerti apa tujuan Eyang Sindurogo dan Geho Sama meminta mereka segera mundur kembali setelah berusaha menahan pasukan kegelapan untuk tidak dapat menyebar dan menyerang ke segala wilayah.


Duuuuuuuuum! Duuuuuuuuum!


Ledakan itu berasal dari serangan Tongkat iblis dan juga kekuatan Suro yang berasal dari jurus Dua Matahari Kembar. Wajah Suro cukup terkesima melihat serangan yagn dia kerahkan dapat dipatahakan oleh serangan Tengkorak iblis. Namun serangan yagn dikerahkan Suro itu memang tidak dengan kekuatan miliknya yang sesungguhnya.


Dia masih berupaya menahan kekuatannya untuk memberikan waktu pasukan yang bersama Eyang Sindurogo dapat menyelamatkan diri. Rupanya Suro telah belajar dari pertempuran yang dia lalui berkali kali. Dampak pertempuran yang hampir menghabisi seluruh pendekar dan pasukan kerajaan ingin dia hindari.


Tentu saja dia tidak percaya dengan kekuatan yang barusan dapat dia hentikan itu mampu membunuh Dewa Kegelapan. Suro tidak menjawab, dia justru menyapukan pandangannya dan tetap berada di atas ketinggian terbang di atas udara untuk memastikan pasukan yang bersama Eyang Sindurogo sudah aman.


“Kurang ajar, setan alas! Berani sekali saat berhadapan denganku matamu kau alihkan. Rupanya kau menganggapku enteng!” teriak Tongkat iblis yang langsung menghantamkan sinar yang keluar dari ujung tongkatnya.


“Kali ini matilah!” teriak Tongkat iblis. Kali ini serangan yang dikerahkan itu jauh lebih kuat dibandingkan sebelumnya. Suro juga menyadari hal itu, namun dia seperti tidak merasa itu sebagai ancaman pandangannya masih sempat memperhatikan Geho Sama dan Eyang Sindurogo memberi perintah semua pasukan dibawah perintahnya untuk menjauh sejauh mungkin.


“Sekarang giliran kalian yang harus menerima hukuman karena berpihak kepada Dewa Kegelapan!” ucap Suro yang langsung mengerahkan jurus Empat Sage. Tentu saja tindakan itu membuat mata Tongkat iblis terbelalak, karena dengan tindakan itu membuat serangan yang baru saj dia kerahkan semakin cepat menuju ke arah Suro.


“Ternyata kau begitu bodoh berani menerima seranganku tanpa perlindungan apapun!” seringai Tongkat iblis.


“Kau yang begitu bodaoh menjadikan Dewa Kegelapan sebagai sesembahan, terima lah akibatnya jika kalian berada di seberang sisiku!” ucap Suro yang segera memperlihatkan kekuatan tidak disangka sama sekali oleh musuhnya.


Wajah Tongkat iblis terbelalak saat menyaksikan jurus yang baru saja dia kerahkan langsung lenyap tertelan oleh jurus Empat Sage yang dikerahkan Suro tanpa terlihat sedikitpun ada cidera. Tubuh Suro itu masih mengambang di udara, sehingga sekilas mereka melihat Suro seperti mengendarai sebuah angin topan.


Pusaran angin yang muncul di sekitaran tubuh Suro segera membesar dengan teramat cepat, maka setelahitu seluruh energi alam yang ada disekitarnya juga ikut terhisap. Termasuk energi kehidupan yang dimiliki pasukan lawan.


“Astaga kekuatan apa ini?” teriak Tongkat iblis terkejut. Dia tentu saja terkejut saat dia menyadari aura kekuatan yang dia miliki tersedot oleh jurus Empat Sage. Bukan itu saja dia melihat ada sesuatu yang aneh dengan kekuatan yang dimiliki Suro itu terasa tidak begitu asing.


“Apakah kalian merasakan, jika aura kekuatan dari Sang Junjungan ada bersamanya?” tanya Tongkat iblis bertanya kepada rekannya yang merupakan Siluman Gurita Cincin Biru.


“Aku juga merasakannya, tetapi bukankah saat ini bukan itu yang sebaiknya kita pikirkan?” balasnya.


“Aku tahu, sepertinya kita tidak dapat lagi menahan kekuatan kita, serang semuanya dengan seluruh kekuatan kalian, kita lihat apakah dia juga dapat menelan seluruh kekuatan kita dalam sekali waktu?” seringai wajah Tongkat iblis yang menganggap musthail Suro dapat menyerap seluruh kekuatan mereka yang berjumlah ribuan.


Dalam pemikiran mereka tentu saja itu adalah sama saja bunuh diri, jika hendak menyerap kekuatan mereka. Selain jumlah mereka yang teramat banyak, ada hal lain yang membuat Tongkat iblis berpikir Suro telah melakukan tindakan bodoh yang hendak menyerap kekuatan mereka semua, yaitu kekuatan kegelapan.


Sebab dengan menyerap kekuatan kegelapan, maka itu sama saja memasrahkan dirinya dikendalikan oleh Dewa Kegelapan dan menjadi bagian mereka semua.


“Kau telah menggali kuburanmu sendiri manusia sombong!” ucap Tongkat iblis yang kali ini mengerahkan kekuatan puncaknya dan berharap Suro akan tewas kali ini akibat menerima seluruh serangan miliknya bersama seluruh pasukannya.