
Setelah selesai memastikan kondisi putri Jendral Zhou, Suro lalu keluar dari kamar itu. Dia lalu mengajak Jendral Zhou untuk meneruskan pembicaraannya yang sebelumnya tertunda.
"Anak paman sudah sepenuhnya sembuh tidak ada lagi yang dikhawatirkan."
"Terima kasih atas pertolongan yang pendekar telah lakukan. Aku tidak menyangka, jika anakku bisa sembuh.
Aku sangat bersyukur tidak terukur melihat putriku akhirnya sembuh dan pulih secepat itu. Tidak ada kata yang dapat mewakili kebahagiaan yang aku rasakan hari ini."
"Tidak mengapa paman, jika memang aku bisa menolong, tentu aku akan lakukan. Karena itu adalah kewajiban sesama manusia untuk tolong menolong."
"Tetapi paman sebenarnya masih penasaran dengan minuman yang pendekar barusan berikan kepada putriku? Sebab seketika itu juga dia langsung segar. Bahkan rasa kantuk yang dia rasakan juga ikut menghilang."
Jendral Zhou masih penasaran, karena dia melihat sendiri jika air yang diberikan itu hanyalah air putih yang dibawa oleh pelayannya.
"Mengenai hal itu, aku tidak bisa mengatakannya paman. Tetapi paman bisa menyobanya sendiri seperti apa rasanya air tersebut." Suro lalu memberikan sisa air seteko kepada Jendral Zhou.
Dia segera meminum air itu setelah diberikan oleh Suro.
Beberapa saat setelah Jendral Zhou meminum air dalam teko itu dia merasakan sesuatu sensasi yang luar biasa. Seluruh sendi dan nadi dalam tubuhnya seperti dipenuhi aliran chakra yang hendak mendobrak keluar.
Seluruh aliran darah dalam tubuhnya juga bersirkulasi dengan begitu lancar, sehingga membuat seluruh badannya begitu segar dan dipenuhi tenaga.
"Luar biasa...pantas saja anakku terasa segar badannya. Ternyata ini air yang menakjubkan." Jendral Zhou tidak mampu menutupi ketakjubannya setelah merasakan manfaat dari air yang terlihat biasa itu.
Tetapi lelaki itu kembali menyadari dan segera mengingat sesuatu hal ,"bukankah ini hanya air biasa yang dibawakan oleh pelayanku?" Jendral Zhou kembali mencoba mencari tau, tetapi Suro hanya menganggukkan kepala tanpa menjawab apapun.
"Sekarang paman bisa melanjutkan cerita mengenai sihir kutukan setan lapar. Sebab makhluk itu sempat menyebut suatu tempat bernama kota iblis Moguicheng."
Jendral Zhou mengangguk-anggukan kepala mendengar penjelasan Suro ,"jadi begitu, sesuai dengan apa yang aku perkirakan. Ilmu itu memang berasal dari utara."
"Apakah itu artinya paman mengetahui tempat itu?"
"Benar, paman mengetahui perihal kota iblis Moguicheng. Tempat itu adalah suatu daerah yang berada di pegunungan sebelah utara. Jauh jika dari kota Shanxi ini."
Menurut cerita Jendral Zhou tempat itu adalah sebuah kawasan gurun yang luas. Dan memiliki beberapa keunikannya.
Moguicheng disebut kota iblis karena di lokasi tersebut menyimpan fenomena misterius. Jika berjalan menuju tempat itu pada hari yang cerah saat angin berhembus sepoi-sepoi, maka akan terdengar alunan melodi yang menyerupai dentingan bel ataupun dawai-dawai gitar yang dipetik dengan lembut.
Tetapi, ketika badai tiba, maka akan melihat debu-debu beterbangan dan membuat langit seketika menjadi gelap. Alunan melodi itu pun akan berubah menjadi suara auman harimau, jerit tangis bayi, suara hewan yang sedang disembelih, jeritan wanita sekarat, dan akan berubah menjadi suara teriakan, tangisan, hingga kemarahan.
Menurut mitos, suara-suara aneh yang terdengar di Moguicheng merupakan suara hantu yang menghuni kota tersebut.
Hal-hal aneh itulah yang membuat Moguicheng disebut sebagai kota Iblis. Tetapi ada hal lain yang berhubungan dengan tempat itu, yaitu sebuah kelompok aliran sesat yang menguasai sihir hitam.
"Salah satu ilmu hitam yang dikenal adalah kutukan setan lapar. Karena itulah paman segera mengenalinya saat pendekar menyebutkannya."
"Memangnya apa nama kelompok tersebut paman." Suro menjadi tergelitik untuk mengetahui, karena dia merasakan ada hawa sesat yang sangat dia kenal.
"Memang ada rahasia apa pendekar? Sepertinya ada sesuatu hal yang membuat pendekar begitu tertarik hendak menyelidikinya?"
"Sebenarnya sejak kedatangan diriku di rumah paman, aku telah menangkap sebuah hawa yang sangat aku kenal sekali.
Itu adalah milik sesuatu makhluk yang sangat sesat, atau bahkan segala kesesatan berasal darinya. Aku yakin kelompok itu ada hubungannya dengan makhluk yang aku maksudkan."
Walaupun Jendral Zhou tidak mengetahui makhluk apa yang di maksudkan, tetapi demi menghormati pemuda yang telah menolong putrinya dia mengangguk-anggukan kepala untuk menghormatinya.
"Bolehkah paman memanggil nama pendekar dengan sebutan Suro'er?"
Suro mendelik mendengar Jendral Zhou menyebut dirinya dengan tambahan yang aneh.
"Tidak, tidak paman tidak usah menambahkan sesuatu dibelakang namaku, karena itu terdengar cukup aneh."
Lelaki itu memaklumi ucapan pemuda itu dan membatalkan keinginannya. Tetapi keinginan dirinya memanggil Suro dengan panggilan yang terdengar cukup asing dikuping Suro, adalah sebagai langkah awal untuk niat dia yang sesungguhnya.
"Apakah pendekar sudah memiliki pasangan?"
Suro segera menggaruk-garuk kepalanya mendengar pertanyaan Jendral Zhao, karena dia segera menyadari arah pembicaraan lelaki setengah baya didepannya. Karena itu dia mencoba mengalihkan arah pembicaraan.
"Sepertinya paman belum menjawab pertanyaanku sebelumnya. Apa nama kelompok sesat yang memiliki ilmu hitam di kota iblis Moguicheng?"
"Maafkan diriku kelompok itu bernama Sekte Penyembah Dewa Kegelapan."
Mendengar ucapan Jendral Zhou barusan, Suro terdiam cukup lama sambil mengelus-elus dagunya.
"Apakah ada yang salah dengan ucapanku pendekar?"
"Tidak ada yang salah paman, tetapi kemungkinan tempat itu adalah salah satu markas musuh yang sedang aku kejar."
"Sepertinya pendekar akan berhadapan dengan kekuatan besar, sebab dari berita yang aku dengar kelompok itu telah bersatu dengan sebuah penguasa Padang rumput di utara yang menyebut dirinya sebagai Khan Langit."
"Mereka adalah pasukan bar-bar yang menguasai daerah utara. Bahkan kaisar Yang tidak berani mencari masalah dengan penguasa daerah utara itu."
Suro mendengarkan penjelasan Jendral Zhou sampai selesai. Dia mendengarkan semuanya dengan cermat, karena informasi yang dikatakan lelaki itu sangat berharga sekali.
"Terima kasih paman sudah menjelaskan semua dengan begitu gamblang. Kami akan menyelidiki tempat itu, walau tidak akan secepatnya. Tetapi aku meyakini kelompok itu ada hubungannya dengan musuh yang kami cari.
Jadi kami akan tetap mendatangi tempat itu. Mungkin setelah kami berhasil menyelidiki pemimpin pasukan Elang Langit, yaitu Karuru dan juga Kurama Tengu yang kemungkinan memiliki hubunga dengan salah satu musuh kami."
"Sebentar pendekar, apakah pendekar masih mengingat perkataan Subutai yang menurut penjelasannya dia sebelumnya adalah bagian dari pasukan Khan Langit?"
"Iya benar paman, aku ingat itu."
"Nah, mending setelah ini kita bertanya saja kepada lelaki itu, mengenai kelompok Penyembah Dewa Kegelapan yang menguasai kota iblis Moguicheng."
"Sebenarnya aku juga ingin sekali menyelidiki kelompok itu sejak lama. Tetapi aku tidak pernah melakukannya. Karena selain kekuatan yang dimiliki kelompok tersebut sangat mengerikan.
Tempat dimana mereka berada juga cukup jauh. Sedangkan kondisi anakku sebelumnya tidak dapat ditinggalkan."
"Memang ada hal apa, sehingga paman hendak menyelidiki kelompok tersebut?" Suro menjadi ikut tertarik dengan alasan lelaki didepannya yang hendak menyelidiki kelompok penganut ilmu hitam itu.
Sebab suatu hal yang sangat beresiko untuk lelaki yang tidak mengerti ilmu sihir berhadapan dengan kelompok tersebut. Apalagi kekuatan jiwa lelaki itu belum dibangkitkan, tentu akan sangat beresiko jika berhadapan dengan ilmu sihir mereka.
"Itu semua karena menyangkut sakit yang diderita putriku selama beberapa tahun ini. Sebab setelah aku melakukan penyelidikan lebih lanjut, aku menemukan asal-usul pemuda yang sempat datang melamar putri paman."
"Dari ciri-ciri yang sempat diketahui para pendekar persilatan, lelaki itu adalah putra pemimpin dari kelompok Penyembah Dewa Kegelapan."
"Bisakah paman ceritakan lebih lengkap tentang gurun yang memiliki sebutan kota iblis itu?"
"Sebenarnya gurun itu memiliki cerita misterius yang tak dapat diungkapkan alasannya, Moguicheng merupakan kota gurun indah yang terdapat banyak batu berwarna merah, biru, putih, dan oranye.
"Kebanyakan orang yang mendatangi tempat tersebut tidak banyak yang selamat. Jika ada yang kembali dengan selamat dia akan berubah menjadi orang gila seperti anakku, lalu mati dengan mengenaskan.
Beruntung putriku bertemu dengan pendekar, jika tidak, tentu dia akan bernasib seperti mereka.
Tetapi dari penjelasan orang-orang yang selamat, daerah itu seperti memiliki istana atau kastil yang dibentuk oleh alam dalam jumlah yang banyak. Seakan tempat itu memang sebuah kota."