
Pedang Kristal Dewa melesat dari arah luar dan langsung membabat orang-orang yang telah mengepung mereka bertiga. Kejadian itu berlangsung begitu cepat, hampir tidak ada prajurit maupun para pendekar yang ikut mengepung menyadarinya.
Puluhan orang langsung tergeletak tidak bernyawa bersama lesatan pedang yang menembus tubuh mereka. Bilah pedang yang dalam kendali Lodra terus melesat menuju ke arah Suro.
Trang!
Trang!
Suro segera mengendalikan pedang itu lalu digunakan untuk merebut pedang milik lawan. Dalam waktu singkat dia berhasil mendapatkan sepuluh bilah pedang. Semua itu kemudian dipindah tangankan kepada Mahadewi.
Musuh yang datang semakin banyak, kini jumlah pasukan yang ikut bergabung mengepung mereka bertiga lebih dari lima ratus orang.
Mahadewi yang sebelumnya hanya bisa berlindung dibelakang Suro, kini mulai menunjukkan kebolehannya memainkan jurus sepuluh pedang terbang.
"Kenapa jadi seperti ini?" Suro berdecak kesal.
Dia tidak bisa memahami alasan Pangeran Yang Jian ternyata berniat menjebak mereka sejak awal. Suro tidak mengetahui alasan pangeran itu melakukan penyergapan kepada mereka bertiga.
"Tidak usah kebanyakan berpikir bocah, jika mereka menginginkan perang, maka kita berikan perang yang mereka minta!" Geho Sama cukup kesal mendengar gerutuan Suro.
"Jangan melukai dara itu, Pangeran Yang Jian menginginkannya!" Suara seorang prajurit yang berkedudukan tinggi memecah suara diantara bising pertarungan yang berlangsung.
Mendengar teriakan barusan Suro sedikit menemukan benang merah dari penyergapan yang menimpa mereka. Tetapi jika hanya untuk mendapatkan Mahadewi, seharusnya mereka tidak perlu diundang masuk kedalam istana.
Jawaban segala pertanyaan yang menggelanyuti Suro belum sepenuhnya terjawab.
Mahadewi yang mendengar teriakan itu semakin meradang. Bukan hanya Geho Sama yang mengamuk, kini amukan dara itu tidak kalah mengerikannya.
"Jangan rusak tubuh mereka, aku juga masih ingin menggunakannya untuk aku jadikan sebagai bagian pasukanku!" Nenek yang sebelumnya memulai penyerangan kembali berteriak keras.
Wanita tua itu adalah salah satu tetua dari Perguruan aliran hitam yang dikenal cukup dekat dengan kaisar Yang, selain kelompok Mawar Merah. Dia berasal dari Perguruan Seribu Hantu.
Perguruan Seribu Hantu di kenal luas dengan kemampuannya mengendalikan dan menguasai tubuh manusia hidup menjadi selayaknya boneka. Wanita tua itu dikenal dengan panggilan Nenek Yin.
Nama lengkapanya adalah Yin Wuya. Dialah tetua yang memiliki pasukan mayat hidup paling banyak. Kebanyakan korbannya justru dari kalangan para pendekar aliran putih.
Dengan keahliannya yang mumpuni musuh yang dia hadapi kebanyakan justru berakhir menjadi bagian dari pasukannya. Karena kemampuannya itu nama Nenek Lin termasuk tokoh aliran hitam yang paling ditakuti.
Para pendekar yang sudah menjadi pasukannya dalam jangka waktu lama, jika tidak segera diselamatkan, maka mereka menjadi mayat hidup. Jika sudah seperti itu mereka tidak lagi dapat diselamatkan.
Sihir terkutuk itu adalah gabungan beberapa ilmu. Salah satunya adalah semacam tehnik akupuntur yang sesat. Ditambah mantra pengendali sukma dan juga pusaka yang dibuat khusus melalui ritual terlarang, nama pusakanya adalah jarum pengunci sukma.
Setelah mendengar teriakan itu, Suro mencoba menelaah kembali alasan mereka hendak ditangkap hidup-hidup.
"Jangan menolak, jadi lah pasukanku! Jika kalian menjadi pasukanku, maka kalian akan hidup abadi. Tentu saja setelah aku segel tubuh dan nyawa kalian menggunakan jarum Sesat Pengunci sukma milikku! Kikikikikik...!"
Geho Sama kali ini yang murka mendengar akan disegel," kalian hendak menyegel diriku, jangan harap kalian mampu melakukannya!"
Geho Sama yang sudah merasakan disegel selama ribuan, tentu tidak ingin kembali merasakan situasi seperti itu. Dia cukup trauma jika diancam hendak disegel.
"Brahmastra!"
Ledakan petir dari cahaya cukup menyilaukan mata tergenggam ditangan Geho Sama, sehingga membuat pasukan musuh berloncatan mundur.
Mereka mengenal jurus dahsyat itu milik Dewa Obat.
"Bagaimana kalian mampu mengerahkan jurus milik Dewa Obat!" Nenek Lin yang sebelumnya memulai serangan dengan jarum beracun tidak mampu menutupi keterkejutannya.
"Geho Sama kita datang tidak berniat untuk berperang dengan kekaisaran ini!" Suro kehabisan cara menahan kemarahan Geho Sama.
"Katakan saja hal itu kepada mereka!" Geho Sama menjawab sambil bersungut-sungut. Ditangannya Brahmasta siap dia ledakan untuk menghancurkan seluruh bangunan besar itu.
"Ooo...kalian ternyata punya kekuatan yang sekuat ini. Aku semakin tertarik untuk menjadikan kalian salah satu koleksiku.
Ucapkan Pangeran Yang Jian, yang menyebut kalian memiliki jurus yang dimiliki putri Yifu Yuan memang tidak salah.
Jurus pedang terbang kalian cukup rumit. Ditambah kemampuan milik Dewa Obat yang kalian kuasai, semakin menguatkan niatku untuk menjadikan kalian sebagai bagian dari pasukanku."
Mendengar ucapan nenek Lin, kali ini berubah roman muka Suro. Dia merasakan firasat buruk menimpa putri Yifu Yuan alias tetua Dewi Anggini.
"Jika kalian ingin kehancuran seluruh tempat ini, maka akan aku kabulkan! Majulah kalian semua!"
Melihat situasi yang mengancam, maka Nenek Lin mencoba mengertak mereka bertiga.
"Jika kalian ingin menggunakan Brahmastra untuk menghancurkan kami, maka kalian juga akan membunuh putri Yifu Yuan guru kalian bersama kami!" Nenek Lin menggebrak lantai menggunakan tongkat miliknya dengan keras.
Bersamaan dengan itu terjadi ledakan asap yang cukup banyak. Dari balik kepulan asap mendadak muncul tetua Dewi Anggini dan Dewa Rencong disamping Nenek tua itu.
"Guru!" suara Mahadewi tercekat melihat gurunya dalam kondisi yang tidak biasa.
"Dengan melihat jurus pedang terbang kalian, aku yakin, jika putri Yifu Yuan lah yang menjadi guru kalian. Jadi menyerahlah. Jika tidak, maka kalian akan berhadapan dengan kekuatan guru kalian sendiri!" Nenek tua itu terkekeh menatap merek bertiga yang begitu terkejut.
Entah mengapa dua pendekar yang baru saja muncul secara mendadak terlihat cukup aneh. Tatapan keduanya kosong tanpa ekspresi. Suro segera menyadari, jika dua pendekar itu dalam suatau pengaruh sihir sesat.
Di saat Nenek Lin dengan bangganya memperlihatkan tubuh Dewa Rencong dan tetua Dewi Anggini, Suro segera bergerak cepat dia menggunakan Langkah Maya untuk merebut tubuh dua pendekar itu.
Dalam waktu yang sekejap itulah Suro melihat dari dekat jika ditengkuk mereka berdua ada satu jarum yang menancap. Entah ada berapa jarum hitam yang menancap diseluruh tubuh mereka, Suro tidak sempat menghitung.
Di saat dia hendak meraih tubuh kedua pendekar untuk diselamatkan, justru secara ganas Dewa Rencong dan tetua Dewi Anggini menyerang dirinya. Terpaksa Suro segera menjauh dan menggunakan Langkah Maya untuk kembali ketempat semula.
Tehnik yang dilakukan Suro terjadi dalam kecepatan tinggi seperti hanya sekejap. Sehingga tidak banyak yang mampu menangkap kejadian itu dengan mata mereka.
Salah satu yang mampu melihat seluruh kejadian itu adalah Geho Sama. Makhluk itu terlihat begitu geram dengan tindakan Suro yang gagal menyelamatkan dua pendekar tersebut.
"Gunakan Sastra Jendramu bocah, aku yakin mereka akan tersadarkan kembali seperti biasanya."
Geho Sama segera meminta Suro untuk mengembalikan kesadaran mereka. Tetapi Suro justru menggeleng.
"Lihat beberapa bagian tubuh mereka tertanam beberapa jarum seperti yang di pegang nenek sihir itu."
Suro sudah melihat dari jarak dekat, jika di tubuh dua pendekar itu menancap beberapa jarum hitam yang telah mengendalikan tubuh dan pikiran mereka. Kali ini bukan hanya Geho Sama maupun Mahadewi yang murka.
Suro segera mengerahkan senjata gaib yang belum lama diajarkan Dewa obat kepadanya.
"Aku akan memberikan perang sesuai yang kalian inginkan. Tindakan kalian yang memperlakukan Dewa Rencong dan tetua Dewi Anggini telah membuat diriku murka. Kita lihat seberapa mengerikannya kemarahanku yang telah kalian buat!"
Tangan kanan tergengam gandewa wijaya dan di tangan kiri sebuah busur dari cakra telah terbentuk.
Nenek Lin tercekat menyaksikan pemuda didepannya mampu mengerahkan panah chakra.
Sebelum keterkejutan mereka berhenti, Geho Sama sudah melepaskan Brahmastra miliknya ke arah kerumunan pasukan yang mengepung. Hasilnya seluruh atap bagian depan dan seluruh pasukan yang masuk dalam radius serangan Brahmastra hancur.
Belum selesai di situ, Pedang Kristal Dewa yang bergerak dalam kendali Lodra tidak mau ketinggalan, lesatan bilah pedang itu telah dilambari oleh perubahan api hitam.
Di saat bilah pedang itu melesat ditengah-tengah pasukan musuh, maka api hitam yang melambari bilahnya meledak. Hasilnya tidak jauh mengerikan dibandingkan dengan serangan Brahmastra milik Geho Sama.
Tubuh pasukan yang berada didekatnya langsung dikepung kobran api yang dahsyat. Pasukan yang mengepung langsung tercerai berai.
Mereka semua ketakutan setelah ledakan api barusan. Sebab banyak yang tubuh mereka diselimuti api hitam dan terbakar dengan sedemikian cepat. Sehingga lenyap menjadi abu dalam waktu yang tidak dimasuk akal.
Serangan yang dikerahkan Suro tidak kalah mengerikan. Dengan gandewa wijaya, maka panah chakra yang melesat terus menghujani musuh dan menghabisi mereka.
Sebab sekali Suro melepaskan anak panah chakra, maka akan memecah dan akan melesat secara bersamaan menjadi puluhan anak panah.
Nenek Lin yang menyaksikan serangan balasan yang begitu dahsyat bergidik dengan penuh kengerian.
"Kalian tidak tau diuntung, berani-beraninya melukai orang yang berniat baik. Apa yang menguasai pikiran kalian?Padahal mereka datang untuk menolong kekaisaran ini dengan memberitahukan akan adanya ancaman serangan pasukan musuh dari kerajaan lain!"
Pasukan yang mengepung mereka hampir tidak tersisa, kecuali yang berada tidak jauh dari Nenek Lin. Sebab bersama wanita tua itu disampingnya berdiri tetua Dewi Anggini dan Dewa Rencong.
**
Tetap Dukung SB crazy up menunggu dukungan dari reader.
vote masuk pemenang 20 besar secara otomatis akan ada crazy up