SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 27 Pantai Karang Ampel



"Berarti menurut Eyang Sindurogo Naga raksasa yang meneror adalah wujud dari jelmaan Lembu jahanam?" Senopati dari Kerajaan Tarumanegara yang bernama Bahadura Harigana Jayasakti tidak sabar lagi untuk mencari tahu tentang makhluk raksasa yang telah membuat kekacauan dibanyak tempat itu.


Dia diutus untuk datang mewakili rajanya yang bernama Sri Maharaja Kertawarman. Kedatangan mereka ke Kerajaan Kalingga selain sebagai bentuk keikut sertaan kerajaan mereka dalam koalisi yang dibentuk. Sekaligus untuk mencoba mencari tau tentang makhluk yang telah menteror beberapa kerajaan tersebut.


Langkah yang diambil Kerajaan Tarumanegara adalah salah satu upaya mereka untuk mencegah terjadinya kehancuran pada kerajaan mereka, seperti yang telah terjadi pada Kerajaan Kendan. Kejadian yang telah menimpa Kerajaan Kendan adalah sesuatu yang mengerikan. Karena itulah mereka bergerak cepat mencari tau tentang makhluk raksasa tersebut.


"Kabar yang kami dengar mengenai jagoan dari Gunung Ararat itu bukankah sudah lama mati saat peperangan Kerajaan Kalingga? Apakah artinya Lembu jahanam itu bangkit lagi dari kematian dengan wujud yang berbeda, yaitu seekor Naga raksasa?"


Keraguan Senopati Kerajaan Tarumanegara cukup beralasan sebab kejadian itu berlangsung sudah cukup lama, yaitu sudah berlangsung sekitar hampir dua belas purnama yang lalu. Menurut kabar yang mereka dapatkan, pada kejadian itu Lembu jahanam ikut terbunuh. Walau tidak secara mendetail mereka mengetahui kabar tersebut.


Tetapi mempercayai orang yang sudah mati cukup lama dan secara tiba-tiba muncul kembali dengan wujud yang berbeda, tentu hal tersebut akan sangat susah diterima.


"Kemungkinan itu benar, seperti apa yang dikatakan Maharesi Eyang Sindurogo yang juga dikenal luas didalam dunia persilatan sebagai Lelananging jagat." Mahapatih Lembu Anabrang menjawab punggawa kerajaan Tarumanegara itu sambil tersenyum.


"Eyang Sindurogo? Lelananging jagat? Apakah yang dimaksud Mahapatih adalah Pendekar Tapak Dewa Matahari?" Agaknya Senopati Kerajaan Tarumanegara itu baru menyadari siapa yang dimaksud Eyang Sindurogo barusan.


"Benar sekali pendekar terkuat di kolong langit Benua Timur Eyang Sindurogo."


"Berarti benar, mengenai desas-desus yang tersebar bahwa pada peperangan Kerajaan Kalingga melawan pasukan yang mencoba kraman, telah dihentikan oleh pendekar Tapak Dewa Matahari?"


"Kabar itu memang benar adanya. Justru dialah yang telah membunuh Lembu jahanam dalam satu serangannya."


"Walaupun kabar itu sampai di kerajaan kami, tetapi cerita itu sangat sulit kami percayai kebenarannya."


"Salah satu alasan yang membuat kami sulit mempercayainya, karena Pendekar Tapak Dewa Matahari sudah menghilang sejak lama, hampir setengah abad yang lalu. Dan kabar tentang kematiannya juga sudah lama terdengar. Sehingga berita tentang Lembu jahanam dibunuh oleh Lelananging jagat, tentu terasa mengada-ada."


"Kabar mengenai kematiannya puluhan tahun lalu itu adalah kabar bohong. Entah siapa yang menyebarkannya? Kemungkinan adalah seseorang yang mencoba memancingnya untuk tampil lagi didalam dunia persilatan."


"Sebab pendekar itulah yang telah menghentikan jalannya peperangan hanya cukup dengan hentakan suaranya. Selain itu, dari pendekar itu juga akhirnya kita bisa mengetahui, bahwa Naga raksasa yang meneror seluruh negeri memiliki hubungan dengan masa lalunya. Sebuah kejadian yang sudah berlangsung hampir empat ratus tahun yang lalu."


"Karena dari hasil penyelidikan telik sandi yang telah kami sebar diperoleh bukti bahwa kata-kata Lelananging jagat itu bisa dibuktikan kebenarannya."


"Bukti pertama adalah mengenai tempat di mana dikuburkannya para korban peperangan yang belum lama terjadi. Setelah diselidiki diketahui, bahwa ada saksi mata yang melihat pertama kali kemunculan makhluk itu berasal dari kuburan masal korban perang. Seluruh pasukan yang meninggal berjumlah hampir sepuluh ribu prajurit. Ditambah hampir dua ratus ekor Naga pasukan Lembu jahanam ikut dikuburkan disitu."


"Para prajurit yang telah mengecek kondisi kuburan yang seakan terangkat dari dalam tanah meninggalkan lubang cukup dalam dan besar. Dari lubang yang tertinggal setelah dilakukan penyelidikan secara lebih teliti, tidak diketemukan sama sekali tulang yang tertinggal."


"Kemungkinan besar mayat dan bangkai yang dikubur telah diserap menjadi bagian tubuhnya."


"Kemungkinan ini diperkuat dengan warta dari para telik sandi yang mendapatkan cerita tentang sejarah yang dimiliki Lembu jahanam. Dalam berbagai pertempuran yang dia jalani banyak saksi mata menyebutkan dia sebagai monster yang tidak bisa dibunuh."


"Karena kemampuannya yang mengagumkan itu sebuah gelar disematkan pada dirinya, yaitu Rajanya para monster."


"Kemampuan yang dia peroleh bisa dipastikan berhubungan dengan gurunya Bathara Karang. Selain itu dapat dipastikan bahwa gurunya tersebut adalah orang yang sama dengan musuh Eyang Sindurogo yang dia hadapi dalam pertarungan sekitar empat ratus tahun yang lalu. Walau kemudian menghilang setelah lolos dari kejaran Eyang Sindurogo."


"Perlu diketahui bahwa Bathara Karang adalah salah satu dedengkot Perguruan Awan Merah yang dulu dihapus oleh Eyang Sindurogo seorang diri. Dan dia juga yang paling bertanggung jawab atas hilangnya puluhan ribu manusia untuk tumbal praktek ilmu sesatnya."


Maha patih Lembu Anabrang menjelaskan secara panjang lebar semua fakta kepada seluruh utusan yang hadir mewakili semua koalisi tiga kerajaan. Semua fakta yang dia katakan telah dia pastikan kebenarannya.


"Perguruan Awan Merah? Apakah yang dimaksud Mahapatih adalah perguruan aliran hitam yang pernah ada dijavadwipa sekitar empat abad yang lalu?" Mahapatih Singaranu penasaran dengan nama Perguruan Awan Merah.


"Ya perguruan itu yang saya maksud!"


"Aku tidak menyangka jika kejadian ini berhubungan dengan Perguruan Awan Merah yang sudah munas ratusan tahun lalu." Senopati dari Kerajaan Tarumanegara itu mengeleng-gelengkan kepala seakan tidak mempercayai apa yang dia dengar.


"Tempat persembunyian Naga penjelmaan Lembu jahanam berada di alam lain atau dimensi lain. Pintu masuknya berupa formasi sihir."


"Untuk saat ini murid Eyang Sindurogo sedang mencoba mendeteksi keberadaan pintu dimensi itu."


"Murid!"


Mereka secara bersamaan terkejut dengan kata murid. Bagaimana mungkin kekuatan sihir yang sangat langka seperti itu justru dilakukan oleh muridnya bukan gurunya langsung.


"Iya karena yang mampu membuka gerbang dimensi alam lain hanya murid Eyang Sindurogo. Saya juga kurang begitu paham tetapi saya hanya mengulang perkataan Eyang Sindurogo."


"Apa! Bagaimana mungkin?"


Mereka seakan berdecak kagum dengan kemampuan sihir yang baru pertama kali mereka dengar justru hanya bisa dilakukan oleh seorang yang masih setingkat murid.


"Mereka bertiga bersama Dewa Pedang, Eyang Sindurogo dan muridnya sedang mendeteksi keberadaan gerbang dimensi tersebut . Perjalanan mereka untuk sementara belum ada laporan perkembangan lanjut."


"Mereka bertiga dikawal Adipati Rakai kalungwarok dan Adipati Lowo Ireng bersama pasukan elit yang dibentuk Koalisi tiga Kerajaan."


"Laporan terakhir mereka sudah berada di pesisir utara."


 


**


 


Para pasukan ini bukanlah pasukan sembarangan mereka adalah para jagoan yang dimiliki tiga Kerajaan. Rata-rata mereka setara dengan tingkat kelas satu ke atas. Bahkan Eyang Raga Dewa ikut serta dalam penyisiran kali ini.


Keputusan mereka menyusuri daerah tersebut dikarenakan penampakan terakhir sebelum penyerangan ke Kerajaan Kendan monster itu muncul di daerah Karangampel.


Setelah beberapa kali penyerangan mereka menyimpulkan rata-rata penyerangan terjadi saat bulan purnama. Tidak diketahui apa penyebab monster itu memilih waktu penyerangan disaat bulan purnama.


"Kemungkinan berhubungan dengan formasi sihir untuk membuka gerbang Eyang Guru!"


"Apa hubungannnya bulan purnama dengan Formasi Sihir?"


Eyang Sindurogo menimpali perkataan Suro. Mereka berkuda beriringan menyisir pantai utara yang sedang pasang karena efek purnama. Deburan ombak laut malam itu lebih besar dari biasanya memecah kesunyian menjelang datangnya malam yang mulai menghampiri bersamaan dengan tenggelamnya sang Surya. Tak terasa entah aura apa yang menyelingkupi area pesisir tersebut, kali ini tiba-tiba berubah sedikit mencekam


"Suro merasa Formasi Sihir yang beberapa kali telah dicoba, ternyata sinar rembulan membuat kekuatan sihir semakin bertambah kuat."


"Jadi begitu, pantas monster itu melakukan penyerangan sering dilakukan saat malam bulan purnama."


Eyang Sindurogo membenarkan pendapat muridnya yang tidak berlawanan dengan fakta dilapangan.


"Lalu bagaimana dengan bawahanmu kenapa Suro malah memberi perintah kepada mereka membantu para penduduk yang terkena musibah, bukan ikut membantu kita melawan monster raksasa."


Dewa Pedang ikut menimpali perkataan Suro tetapi berbeda topik. Sebab dari awal dia sedikit kecewa dan agak khawatir para mantan kawanan perampok Kolo Weling ditinggal di Kademangan Cangkring untuk membantu memulihkan kademangan yang sudah hancur.


Keberadaan mereka sekaligus membantu memulihkan Perguruan Pedang Surga yang ikut hancur luluh. Satu peti koin emas yang tersisa bersama obat-obatan dititipkan kepada mereka untuk digunakan sebagai sarana pengobatan dan juga segala keperluan yang memerlukan bantuan secara materiil.


Selama dalam perjalanan Suro mengajari Kolo weling meramu obat untuk luka-luka. Kolo weling sebagai ahli racun bukanlah hal yang sulit menerima pelajaran pengobatan yang diberikan Suro. Sebab seorang ahli racun pada tahap dasarnya mereka mempelajari ilmu pengobatan dulu sebelum masuk ilmu mengolah racun.


"Mereka tidak perlu dikhawatirkan. Keberadaan mereka disana lebih diperlukan para penduduk dan orang-orang yang membutuhkan perawatan gratis. Karena tidak semua penduduk mampu membayar pengobatan kepada Perguruan yang paman pendekar pimpin!"


"Uuk! Uhuk!" Dewa Pedang terbatuk kata-kata gratis seakan menyindir kearahnya.


Memang sebelum kedatangan Eyang Sindurogo dikademangan Cangkring untuk para penduduk yang meminta pengobatan kepada Perguruan Pedang Surga dipungut biaya.


Mengingat sedikitnya bahan obat-obatan yang mampu diselamatkan. Selain itu mereka sendiri kewalahan mengobati anggota perguruan mereka sendiri yang tak terhitung ikut menjadi korban serangan Naga raksasa.


"Selain itu Suro rasa mereka juga tidak terlalu membantu jika monster itu datang mengingat paman Pendekar Dewa Pedang sudah ada disini."


"Kikikikikik!" Ringkikan kuda secara bersama-sama sambil mengangkat-angkat kakinya membuat beberapa orang sempat dibuat kewalahan untuk menenangkannya.


"Lihat diujung ufuk timur sebuah penampakan yang mencurigakan terlihat! Kemungkinan itu formasi sihir yang aku bicarakan tadi! Gerbangnya sudah mulai terbuka."


Teriakan Suro mengagetkan mereka semua mengikuti arah ujung jari telunjuk yang menunjuk arah timur dibalik sebuah bukit sebuah formasi sihir membentuk sebuah gerbang dimensi alam lain terbuka dengan sangat lebar.


Formasi sihir itu memiliki bentuk yang agak unik berbentuk oktagonal tidak benar-benar bulat. Setiap sisi dari tepi gerbang itu berupa garis besar yang bercahaya. Gerbang itu ditengah-tengahnya menyerupai sebuah pusaran cahaya menelan apapun yang melewatinya.


Adipati Rakai Kalungwarok bersama Adipati Lowo Ireng segera memerintahkan seluruh pasukan mengarahkan kuda-kuda mereka berlari cepat menuju penampakan gerbang alam lain yang berada dibalik bukit.


"Awas hati-hati semua tetap dalam formasi, kemungkinan monster itu akan datang!" Eyang Sindurogo segera berteriak mengingatkan pasukan yang begitu bersemangat mengarah ke balik bukit.


Benar saja tidak berselang lama sebuah terpaan angin seakan sebuah badai datang dan menerjang kearah mereka dengan kuat. Sebelum mereka menyadari dari balik bukit muncul sebuah Naga raksasa dengan begitu gagahnya.


"Hooaaaaaarrrggggghhh! Hooooaaaaaarrrrrgh!"


Suara Naga raksasa menggelegar seakan memenuhi langit diatas pantai Karangampel.


"Blaaaar!"


sebuah larik sinar yang sangat kuat menghajar tubuh Naga yang terbang rendah menuju kearah pasukan yang belum sempat memperlambat laju kudanya. Larik sinar berasal dari Eyang Sindurogo yang langsung menghantamkan kekuatannya, dengan jurus kedua Telunjuk Dewa Mencari Kebenaran.


Hantaman sinar itu memotong tubuh Naga menjadi dua bagian, dari kepala sampai ekor. Mereka semua terkagum-kagum dengan kedahsyatan kekuatan yang ditunjukan Eyang Sindurogo. Sebelum sebuah balasan hantaman semburan api yang sangat dahsyat menghantam ke arah mereka.


"Bldaaar! Bldaaar! Bldaaar!"


Semburan itu menghasilkan ledakan api yang begitu kuat. Salah satu semburan itu menghantam ke arah pasukan elit koalisi tiga kerajaan. Sebelum semburan itu mengenai, beruntung sebuah aura kekuatan yang begitu kuat membelokkan arah serangan.


Aura kekuatan yang membentuk kepalan tangan itu meluncur deras seakan memayungi para pasukan berkuda itu. Segera mereka memacu kudanya menjauh sejauh mungkin untuk menyelamatkan diri.


"Buuum! Buuum! Buuum!"


Semburan api naga berbenturan dengan aura kekuatan pukulan yang sangat dahsyat milik Eyang Raga Dewa. Dan melabrak cepat ketubuh raksasa yang berada, persis diatas mereka. Tubuh monster seperti terhantam sebuah godam raksasa bagian tubuh yang terkena efek pukulan amblas kedalam tak kurang dari dua depa. Sebuah kekuatan penghancur yang tak bisa dianggab remeh, sebuah jurus pukulan yang kekuatannya sangat menakutkan.


"Tebasan Sejuta Pedang!"


"Craaaas!"


Belum berhenti disitu seakan tak ingin ketinggalan Dewa Pedang dengan gagahnya melompat tinggi keatas. Kemudian menghantamkan pedangnya ke tubuh Naga raksasa dengan Jurus pedang ciptaan Suro bledek.


Dalam sekali tebas sebuah pemandangan yang membuat semua orang menganga melihat jurus pedang yang digunakan Dewa Pedang. Sebuah tebasan menghasilkan kekuatan yang sangat mengerikan. Tubuh raksasa itu dalam sekejap telah hancur lebur dan jatuh kebawah seperti guyuran hujan yang berupa darah dan daging.