SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 331 Hilangnya Para Shurala



Satu purnama penuh Geho sama menunggu Suro menyelesaikan pengerahan tehnik sembilan putaran langit untuk mengolah kekuatan besar yang berada didalam tubuhnya.


Setahap demi setahap tubuh Suro yang mengembung dan menampilkan urat-urat nadinya yang hampir saja pecah, mulai kembali mengecil.


Mata Suro yang sebelumnya melotot penuh seakan hendak meloncat dari rongga matanya, kini sudah mampu menutup.


Walaupun sebelumnya matanya melotot sampai memerah, sepertinya tidak bersama kesadarannya. Namun suara erangan kesakitan, terus mengiringi usahanya untuk dapat menguasai kekuatan besar yang berhasil dia masukan ke dalam tubuhnya.


"Arus energi yang melewati nadi susumna miliknya terus bersirkulasi bertambah semakin lancar. Agaknya kekuatan yang berhasil dia serap mulai dapat dia kuasai."


"Melihat perkembangannya sampai sejauh ini membuat aku cukup lega. Hari demi hari secara kasat mata tubuhnya tidak lagi terlihat seperti awal sewaktu aku menemukannya. Ini adalah perkembangan yang sangat baik."


"Sukurlah dia telah melewati masa kritis. Meskipun tubuhnya telah kebentuk semula, agaknya waktu yang dibutuhkan oleh tuan Suro lebih lama lagi. Aku harus menjaga agar tidak ada yang mengganggu dirinya atau menyerangnya."


"Tetapi aku merasa sangat aneh, mengapa tidak ada Shurala atau makhluk kegelapan yang menyerang tempat ini. Bahkan sejak aku datang bersama tuan Suro tidak satupun aku melihatnya."


"Hingga sekarang pun tempat yang sudah hancur luluh lantah seperti ini saja, tetap tidak ada yang mendekat ketempat ini."


"Ini sangat mencurigakan, walaupun sebenarnya membuat tugasku menjaga tuan Suro menjadi ringan. Karena tidak perlu bertarung sepanjang waktu demi melindungi tuan Suro dari serangan para Shurala."


Geho sama tidak mengetahui alasan para Shurala yang tidak diketahui keberadaannya. Seakan mereka semua telah habis menghilang dari alam itu.


Tetapi Geho sama memiliki pandangan lain. Jika kondisi itu disebabkan mereka ketakutan untuk mendekat, sebab ada Suro yang berhasil menyerap dan terus berusaha menguasai kekuatan mengerikan dari Dewa Kegelapan.


Apapun itu Geho sama telah mendeteksi dalam jarak yang jauh sekalipun dia tidak lagi merasakan ada hawa kegelapan yang sebelumnya menyebar dengan pekat ditempat tersebut.


Kondisi itu jugalah yang membuat Geho sama sekalipun merasa aman dan menggunakan waktu menunggu Suro dengan mencoba berlatih dan bermeditasi.


Karena kekuatan iblis Kalipurusha yang sebelumnya telah dia serap sampai tuntas juga memiliki kekuatan sesat yang tak kalah menakutkannya dibandingkan kekuatan kegelapan yang diserap oleh Suro.


Setelah lebih dari satu purnama dan justru mendekati hampir dua purnama, akhirnya mata Suro terbuka lebar bersama kesadarannya.


"Geho sama?"


"Benar tuan Suro ini aku..." Geho sama menganggukan kepala ada rasa haru, setelah melihat Suro dapat mengenali keadaan sekitar.


"Sukurlah tuan Suro sudah mampu mengendalikan kekuatan mengerikan itu."


"Aku pikir tubuhku akan meledak Geho sama, beruntung tubuhku mampu beradaptasi dengan cepat."


"Sudah berapa hari aku mengolah kekuatan sejati dari Dewa kegelapan menjadi kekuatan.milikku, Geho sama?"


"Usaha tuan untuk menguasai kekuatan Dewa Kegelapan yang berhasil diserap ke dalam tubuh, telah melewati waktu hampir dua purnama."


"Aku tidak menyangka, perasaan aku hanya seperti melewati waktu tidak lebih dari beberapa hari saja."


Geho sama menyadari kekuatan yang telah dicapai Suro terasa jauh lebih kuat dari pada sebelumnya.


"Sebaiknya kita kembali ke negeri bawah tanah. Orang-orang yang telah kita kirim ke tempat paman sakti, tentu telah membuat dia cukup kerepotkan."


Suro tidak segera bangun, tubuhnya yang sudah duduk bersila selama dua purnama tentu tidak mudah langsung dapat digerakkan.


"Dalam kondisi selapar ini, paling enak makan ayam goreng Geho sama."


Geho sama kali ini tertawa kecil mendengar bayolan Suro.


"Tentu, kita bisa meminta itu kepada Tongeq sakti untuk mencarikan ayam hutan." Geho sama tertawa kecil sambil bernafas lega.


Sebab itu artinya Suro telah pulih seperti sedia kala. Bahkan dia justru telah menguasai kekuatan yang sangat besar.


Setelah Suro mampu menguasai tubuhnya kembali, dia segera menyadari kekuatan yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Aliran chakra dalam tubuhnya begitu deras seakan banjir bandang.


"Luar biasa kekuatan ini sungguh sangat mengagumkan. Bagaimana aku dapat menguasai kekuatan sebesar ini?"


Mereka kemudian muncul didepan kediaman La Tongeq sakti, setelah Geho sama mengerahkan jurus Langkah Maya.


Suro segera menemui La Tongeq sakti, dia hendak meminta maaf, sebab dia tidak mengetahui tempat paling dekat dan aman yang mampu menampung ratusan orang yang tidak bersalah itu.


"Maafkan kami berdua paman sakti, karena telah membuat paman kembali kerepotan, karena harus mengurus orang-orang tidak bersalah, setelah kami selamatkan dari pembantaian yang dilakukan Dewa Kegelapan."


"Tidak mengapa nakmas, ini sudah menjadi tugas kita sebagai sesama manusia untuk saling tolong menolong."


"Mereka sudah menceritakan apa yang telah nakmas lakukan. Aku tidak mengira jika kami masih dapat melihat nakmas."


"Apakah nakmas akhirnya dapat menghabisi makhkuk biadab itu?"


"Sayangnya kami gagal mencegah Dewa Kegelapan meraih kekuatannya dan juga kami gagal menghabisi makhluk itu. Namun..."


Suro lalu menceritakan garis besar kejadian saat menghadapi Dewa Kegelapan. Beberapa hal sengaja tidak dia ceritakan.


Setelah dua purnama orang-orang yang diselamatkan oleh Suro dan diungsikan ke negeri bawah tanah, mereka merasa betah. Selain itu berkat air Nirvilkalpa mereka telah disembuhkan dari racun hawa kegelapan.


Suro kemudian menanyai satu persatu bagaimana mereka dapat dikumpulkan untuk dibantai oleh Dewa Kegelapan.


Dari orang-orang itu Suro mendapatkan kesimpulan semua itu adalah ulah dari Batara Karang. Dari mereka juga, Suro mengetahui telah terjadi serangan besar-besaran diberbagai wilayah.


Setelah selesai menanyai mereka satu persatu, lalu Suro menawarkan kepada mereka yang berniat kembali ke tempat mereka masing-masing. Sebagian kecil justru memilih tetap tinggal di alam bawah tanah itu.


Mereka yang memilih tetap bertahan ditempat itu kebanyakan karena mereka sudah tidak memiliki sanak saudara apalagi keluarga yang hendak mereka temui. Sebab semuanya ikut menjadi korban Dewa Kegelapan.


Karena alasan itu mereka justru menghindar untuk kembali, sebab hanya akan mengingatkan duka mereka atas rasa kehilangan yng teramat dalam. Suro tidak melarang mereka yang memilih tinggal.


La Tongeq sakti yang mendengar niat mereka untuk tinggal juga tidak mempermasalahkan hal itu. Dia mengijinkan mereka tinggal disana.


Tetapi bagi mereka yang tetap ingin kembali ke negeri dimana berasal, Suro dan Geho sama membantu mengembalikan mereka semua.


"Aku tau kalian berasal dari tempat yang berbeda-beda, karena itu aku akan mengelompokkan asal kalian."


"Karena aku akan mengirim kalian semua menuju ketempat kalian dengan lebih cepat."


Setelah mengelompokkan asal mereka, Suro dibantu dengan Geho sama mulai mengirimkan ratusan orang-orang kembali ke asalnya dengan menggunakan gerbang gaib.


"Puuuuft...! Akhirnya selesai sudah tugas kita mengirim mereka kembali ketempat mereka."


"Benar sekali tuan Suro."


"Tetapi ada beberapa hal yang hendak aku coba pastikan mengenai menghilangnya para shurala."


"Apa shurala?" La Tongeq sakti yang menyebut nama yang terasa asing sampai mengernyitkan dahinya.


Geho sama lalu menjelaskan, jika itu adalah istilah untuk menyebut makhluk kegelapan. Dia juga bercerita tentang kondisi alam dimana kini tinggal tidak lagi sama seperti sebelumnya.


Hal itu disebabkan dengan hilangnya semua shurala dari beberapa tempat yang mereka lalui.


"Seperti sekarang, diriku tidak merasakan keberadaan mereka."


"Benar juga apa yang kau katakan Geho sama, aku tidak merasakan keberadaan mereka. Apakah kali ini mereka akhirnya sama sekali menghilang dari alam ini?"


"Sebaiknya kita periksa, mungkin saja perkataanmu ada benarnya Geho sama."


Sebelum Geho sama ataupun Suro mengerahkan langkah Maya, La Tongeq sakti yang tidak pernah sekalipun meninggalkan tempat itu, dia tertarik untuk mencoba pergi bersama mereka berdua.


"Ayolah kalau memang paman berminat."