
"Aaaaaargggghhhh!!" Eyang Sindurogo mengerang kesakitan akibat ilmu gendam yang dikerahkan Suro dengan kekuatan maksimal.
"Jika kalian ingin lenyap dari dunia ini, maka akan aku kabulkan permintaan kalian!"
Duuum!
Sesaat setelah teriakan eyang Sindurogo terjadi ledakan energi yang sangat besar. Semua formasi serangan yang dilakukan Geho sama langsung hancur. Begitu juga yang dilakukan Suro. Akhirnya serangan gabungan mereka berhasil dihentikan oleh ledakan kekuatan eyang Sindurogo .
Bahkan karena begitu kuatnya ledakan energi itu, tubuh asli Suro terlempar keatas seperti dilemparkan ketapel. Geho sama yang sebelumnya telah menjauh, tentu saja aman.
Melihat kuatnya ledakan membuat dia segera mengejar tubuh Suro yang terlontar dengan begitu keras. Entah dia dalam kondisi sadar atau tidak.
Tetapi yang jelas dia cukup beruntung, sebab dia masih dilindungi oleh pusaka dewa. Kalau tidak, tentu tubuhnya sudah hancur terkena ledakan kekuatan barusan. Seperti janji dari Hyang Kavacha sebelumnya, bahwa dia akan menjamin tubuh Suro akan selamat. Meski eyang Sindurogo akan meledakkan kekuatannya.
Setelah menangkap tubuh Suro, maka Geho sama langsung membawa tubuh tuannya itu untuk bersembunyi. Dia harus melakukan itu untuk menghindari serangan susulan dari eyang Sindurogo.
Tubuh Suro yang terlontar semakin tinggi, membuat Geho sama memilih tempat persembunyian yang berbeda dari pada sebelumnya. Karena kali ini mereka bersembunyi dibalik awan.
Ternyata Suro yang terlempar dengan begitu kuat masih dalam keadaan sadar. Sambil bersembunyi Suro segera menggunakan kesempatan itu untuk menyerap kekuatan Sang Hyang Surya.
Seperti perkataan Kavacha sebelumnya jika kekuatan yang digunakan menahan ledakan energi eyang Sindurogo membutuhkan kekuatan yang besar. Tidak ingin zirah pelindungnya hilang dari tubuhnya ia mencoba memberikan Kavacha kekuatan matahari sebanyak yang dia butuhkan.
"Kekuatan guru terlalu kuat bagiku. Dia tidak mudah untuk ditundukkan!"
"Lalu rencana apa yang tuan Suro miliki?"
"Terpaksa aku akan memanggil bantuan." Suro sebenarnya ingin menggunakan bantuan ini, nanti pada saat yang lebih penting daripada sekarang. Sebab sosok yang dia panggil kemungkinan hanya akan memberikan pertolongan kepadanya sekali saja.
Suro kemudian mulai merapal mantra pemanggil. Selang beberapa saat kemudian sesosok muncul di hadapan mereka berdua.
Sosok itu berupa ular naga yang terlihat hanya sebesar paha lelaki dewasa. Tetapi sekujur tubuhnya memancarkan cahaya berwarna kehijauan. Naga itu dapat melayang seperti yang dilakukan Suro dan juga Geho sama.
"Ulun telah datang Sira meminta bantuan apa dari Ulun?"
"Mohon maafkan hamba pekulun, terpaksa hamba harus meminta bantuan pekulun." Sambil melayang di balik awan, Suro menundukkan badannya memberi hormat kepada sosok tersebut.
Suro kemudian menceritakan masalah yang sedang dia hadapi. Lawan yang dia hadapi adalah gurunya yang hendak dia lumpuhkan terlebih dahulu, bukan untuk dilukai.
Karena tujuan itulah mengapa dia tidak bisa menggunakan seluruh kekuatan yang dimiliki. Seandainya tujuannya bukan untuk melumpuhkan tentu ceritanya akan berbeda, meskipun lawannya memiliki kekuatan surga.
Dalam kondisi seperti itu, dia tidak bisa menggunakan seluruh potensi kekuatan yang dia miliki. Terutama kekuatan api hitam miliknya yang tidak bisa dia gunakan untuk melawan gurunya. Sebab kekuatan itu akan sangat berbahaya. Karena justru akan dapat membuat gurunya celaka.
Setelah tiga kali usahanya untuk menaklukkan kekuatan gurunya gagal, maka tidak ada pilihan lagi selain meminta bantuan. Sosok yang dipanggil itu meski memiliki wujud naga, sebenarnya dapat tampil dalam wujudnya seperti manusia.
Cahaya kehijuan dari sekujur tubuh naga itu adalah hasil dari menyerap kekuatan batu giok dewa dalam jangka ribuan tahun. Karena begitu lama dia menyerap kekuatan batu giok dewa, sehingga tubuh naganya telah menyerupai batu pusaka tersebut.
Setelah selesai mendengar cerita dari Suro dia segera mengetahui akar permaslahannya. Dia terlihat menganggukkan kepala sebagai pertanda telah memahami apa yang seharusnya dilakukan oleh Suro.
"Sira telah menyerap Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu, tetapi tidak mengetahui cara menggunakannya. Bukan Ulun yang akan menyelamatkan gurumu justru Sira sendiri yang akan dapat melakukan itu. Karena Sira yang memiliki Sastra Jendra tersebut"
"Tetapi untuk melakukannya Ulun akan membantumu agar ilmu itu dapat menolong gurumu."
Suro kembali menundukkan tubuhnya sebagai rasa hormat dan bentuk rasa terima kasihnya yang tak terukur banyaknya.
Naga Tatmala kemudian mengajarkan kepada Suro bagaimana membuat eyang Sindurogo dapat terbebas dari penjara semesta hitam dari jurus milik Dewa kegelapan. Naga Tatmala yang telah menjadi penjaga kitab Sastra Jendra mengetahui cara menggunakannya sebagai ilmu pangruwatan.
Sesaat setelah selesai menjabarkan hal itu kepada Suro, muncul eyang Sindurogo di depan mereka.
"Akhirnya aku menemukan kalian!" Lelaki itu terlihat seperti memincingkan mata melihat lawannya kini bertambah satu orang lagi.
Begitu juga Naga Tatmala, wajahnya yang rupawan itu justru menatap lekat ke arah eyang Sindurogo didepannya. Dia bersikap seperti itu, setelah Suro menjelaskan sosok yang baru saja muncul didepan mereka.
"Jadi ini lelaki yang disebut ramanda waktu itu! Baiklah aku akan menaklukannya untuk Sira!"
Eyang Sindurogo yang sejak tadi mencari Suro segera menyerang mereka bertiga. Terjangan sinar dari jurus kedua tapak Dewa Matahari dapat ditahan oleh Naga Tatmala dengan mudah. Semua ditahan hanya dengan menggunakan kekuatan pukulan tangan kosongnya yang dilambari kekuatan mengerikan.
Bldaaar!
Serangan balik yang dilakukan naga Tatmala membuat eyang Sindurogo terpental dan melesat ke bawah. Naga Tatmala lalu mengejar dan secara berturut-turut membuat tubuh eyang Sindurogo jatuh menghantam bumi dengan keras.
Suro dan Geho sama kali ini tidak ikut menyerang, mereka justru terbelalak melihat betapa kuatnya sosok yang dimintai pertolongan itu. Bahkan Geho sama begitu terkagum-kagum melihat kekuatan yang diperlihatkan Naga Tatmala.
'Satu lagi muncul yang kekuatannya mampu menahan jurusku. Bahkan hanya dengan tangan kosong. Lawanku kali ini begitu kuat seperti bukan manusia saja.' Eyang Sindurogo meruntuk dalam hati, setelah merasakan kekuatan lawan yang begitu mengerikan.
Dia tidak memahami bagaimana lawannya mendadak bertambah satu lagi. Dan kekuatannya lebih mengejutkan dibandingkan dengan dua lawan yang dia hadapi sebelumnya.
Setelah beberapa kali bertukar jurus dengan Naga Tatmala, eyang Sindurogo segera menyadari betapa jauhnya jarak kekuatan lawan yang sedang dia hadapi. Karena itu dia memilih mundur sebentar untuk membaca situasi. Naga Tatmala membiarkan eyang Sindurogo menghentikan serangan dan tidak berusaha mengejar.
"Sialan! Apakah tugasku untuk mengumpulkan relik kuno akan gagal? Mengapa aku tidak mampu meraba kekuatan yang dimiliki sesosok ini?"
Mereka kemudian kembali melakukan pertarungan. Eyang Sindurogo sepertinya masih penasaran dengan kekuatan Naga Tatmala. Sebab jurus pertama dan kedua dalam tehnik tapak Dewa Matahari oleh lawannya dapat ditangkis menggunakan tangan kosong.
Entah bagaimana tangan lawannya tidak terluka. Padahal sebuah pedang musuh dapat dia hancurkan dengan mudah dengan jurus miliknya. Melihat lawannya mendapatkan bantuan dari seseorang yang memiliki kekuatan tidak masuk akal membuat Eyang Sindurogo juga memilih meminta bantuan kepada sosok yang kekuatannya pasti akan mampu mengimbangi lawannya.
"Kalian mengira hanya kalian yang sanggup memanggil bantuan? Kita lihat seberapa kuat temanmu itu mampu menahan kekuatan Ashura penjaga sisi timur? " Sambil melesat mundur Eyang Sindurogo melakukan sesuatu.
Dia merapalkan mantra dan tangannya sembari membuat segel simbol-simbol tertentu. Sekejap kemudian di hadapan mereka muncul sesosok makhluk yang besarnya hampir menyerupai sebuah gunung.