
Suro beberapa kali terus berteriak sambil menajamkan pendengarannya dan juga merasakan getaran tanah yang dia tangkap dari telapak kakinya.
“Ini persimpangan jalan yang aku lalui sebelumnya. Seharusnya jarak antara diriku dan Mahadewi tidak terlalu jauh. Tetapi mengapa dia tidak merespon teriakanku?”
“Jangan-jangan dia juga telah terpancing oleh musuh dan berhasil dibawa menjauh sampai berada diluar dari jangkauanku?” Suro segera mempercepat langkah kakinya, namun beberapa langkah kemudian dia menemukan persimpangan jalan lagi. Dia terlihat ragu untuk menentukkan arah.
Dia kemudian memilih berjongkok dan kemudian memusatkan kekuatannya ditelapak tangannya yang dia tempelkan di permukaan tanah. Suro melakukan itu untuk mendeteksi keberadaan Mahadewi yang tidak dia ketahui entah sedang berada dimana?
“Ketemu, dia ternyata ada di sebelah tenggara. Sesuai perkataan wanita tadi, jika temannya telah bersama Mahadewi.”
Setelah mengetahui keberadaaan Mahadewi Suro memilih mengerahkan ilmu Langkah Maya untuk menyingkat waktu.
Gubrakk!
“Kurang ajar siapa yang berani menubrukku?”
Trang! Trang! Trang!
Pltak!
“Wadaaaawww...!”
“Oooo...siapa lagi ini yang berlagak menjadi kakang Suro ku?”
“Ini aku Mahadewi...ini aku yang asli...”
“Apa maksud kakang datang langsung menubrukku?”
“Aduhhh..duh..duh..kepalaku retak sudah...apes hari ini. Lihat mataku tidak bisa melihat seperti ini! Jadi ini artinya aku menubrukmu tidak disengaja!” Suro mengusap-usap kepalanya yang benjol.
“Maaf kakang, aku pikir ada musuh lain yang mencoba menyamar menjadi seperti kakang. Lihatlah, lelaki itu sempat menyamar seperti kakang. Beruntung aku berhasil menghabisinya, sebelum aku berhasil ditipu olehnya.”
"Baru saja aku menghabisinya, sebelum kakang datang. Jadi jangan salahkan Mahadewi yang menyerang kakang," sebuah senyuman yang cukup lebar menghiasi bibir Mahadewi yang tipis itu.
Dia sepertinya merasa begitu puas melampiaskan kemarahannya. Entah karena puas setelah berhasil menghabisi musuhnya hingga tubuhnya tak berbentuk lagi itu, atau justru puas karena berhasil membuat kepala Suro benjol.
"Jadi sekali lagi Mahadewi meminta maaf kepada kakang," senyum Mahadewi semakin merekah setelah meminta maaf.
'Mengatakan maaf gampang, tetapi kepalaku terlanjur benjol seperti ini...Kavacha! Kemana Kavacha, semua serangan pedang Mahadewi ditangkis semua, tetapi jitakannya tidak. Pasti Mahadewi tadi sudah menyadari jika ini aku yang asli. Lalu dengan sengaja menjitakku dengan sekeras ini.'
Suro mendengar penjelasan Mahadewi meringis sambil terus mengusap-usap kepalanya yang masih terasa sakit.
‘Kavacha mengapa kau hanya melindungiku dari tebasan pedang adinda saja, tetapi tidak melindungi dari jitakannya?’
Kavacha memilih terdiam dan tidak menyahut pertanyaan Suro. Berbeda dengan Lodra sejak tadi dia tertawa begitu puas melihat Suro tidak juga berhenti mengelus-elus kepalanya yang benjol.
Suro yang belum mampu melihat, saat mengerahkan ilmu Langkah Maya terjerebab sesaat setelah muncul di dekat Mahadewi. Dia belum terbiasa dengan kondisinya yang tidak bisa melihat itu.
Hasilnya dia tanpa sengaja menabrak Mahadewi. Dara itu begitu terkejut mendapati seseorang yang entah muncul dari mana, tiba-tiba menubruk tubuhnya.
Dia mengira ada sosok lain yang kembali mencoba meniru Suro untuk mengajaknya berbuat tidak senonoh kepada dirinya, seperti sebelumnya.
Karena itulah Mahadewi segera menyerang Suro dengan menggunakan jurus sepuluh pedang terbang. Tetapi Suro tidak berusaha membalas atau menghindarinya. Sebab dia hendak memberi tahu, jika dia adalah dirinya yang asli.
Suro cukup percaya diri, jika kekuatan pedang Mahadewi tidak akan mampu menembus zirah Kavacha yang melindungi dirinya.
Apalagi pengalaman pertarungan sebelumnya, jika sosok yang menyerangnya dapat menyerupai Mahadewi. Dia sudah dapat mengira pasti Mahadewi juga diserang musuh dengan menyamar menyerupai dirinya.
Perkiraannya memang tidak salah, begitu juga semua serangan yang dilakukan Mahadewi memang semua mampu diatasi oleh Kavacha. Namun tetap saja sekarang dia sedikit kesal dengan Kavacha.
'Jika ingin kesal, seharusnya itu tidak kau tujukan kepadaku. Bukankah dara itu sudah mengetahui, jika orang yang dia serang adalah tuan Suro?' mendengar penjelasan Kavacha barusan Suro mendengus kesal sambil mengusap-usap kepalanya.
Mahadewi kemudian menjelaskan kepada Suro jika sebelumnya seseorang yang meniru wajah Suro berusaha merayu dirinya. Tetapi hal itu justru menyulut kemarahan Mahadewi yang sengaja ditahan sejak berangkat dari Yawadwipa.
Hal itu disebabkan perilaku sosok itu sangat jauh dari perilaku Suro. Dia merasa hal itu sangat janggal. Apalagi sosok peniru itu berusaha merengkuh tubuhnya. Maka kemarahannya langsung meledak.
Dia lalu menyerangnya dengan menggunakan jurus sepuluh pedang terbang. Lawan yang hendak merayu itu tidak menyangka sama sekali, jika diserang oleh Mahadewi dengan begitu ganas. Padahal dirinya sudah membaca isi hati dari Mahadewi, jika dara itu begitu menyukai Suro.
Karena itulah dengan percaya diri setelah menyamar menyerupai Suro. Baik
paras dan suaranya tidak bisa dibedakan. Dia hendak melampiaskan nafsu bejatnya kepada Mahadewi. Tetapi dia tidak memahami seperti apa sifat dari dara tersebut.
Mahadewi semakin yakin, jika sosok Suro yang sedang dia hadapi itu adalah Suro yang palsu. Sebab sosok itu terlihat begitu kerepotan melayani sepuluh
pedang terbang yang bergerak begitu cepat.
Ditambah dengan kejadian selanjutnya, semakin membuat Mahadewi semakin curiga, yaitu serangan berupa bola-bola yang didalamnya ada racunnya. Karena itulah kali ini Mahadewi tidak lagi menahan, dia segera mempercepat gerakan serangannya.
Mahadewi bahkan menggunakan serangan terkuat yang dia bisa. Apalagi lawannya juga telah mencapai tingkat shakti.
Sosok yang menyerang Mahadewi itu adalah Ari Muka saudara dari Wah Muka. Sebelum bola-bola yang dilemparkan Ari Muka meledak, Mahadewi telah menjauh. Karena sejak mengetahui lawannya memang bukan Suro dia berniat menyerang dari jarak jauh. Dia mencoba mengantisipasi serangan yang tidak terduga.
Keputusannya itu berhasil menghindarinya dari ledakan yang berasal dari bola-bola milik Ari Muka. Dengan suara ledakan itu telah menyulut kemarahan Mahadewi yang sebenarnya.
Dara itu akhirnya menemukan cara untuk melampiaskan kemarahannya yang dia tahan. Bersama suara ledakan itu, ikut meledak lah kemarahan sang Batari Durga.
“Apa yang terjadi dengan mata kakang mengapa sampai seperti ini?”
“Kakang sepertinya sedikit ceroboh, sehingga mataku akhirnya terkena asap hijau.’
"Ledakan bola yang dilemparkan musuh ya? Untung Mahadewi telah melesat mundur melihat musuh melempar senjata yang mencurigakan itu."
Mahadewi lalu membantu Suro membasuh matanya dengan menggunakan air yang menjadi bekalnya. Namun mata itu tidak kunjung membaik setelah dibasuh oleh Mahadewi.
“Gawat, bisakah adinda bantu kakang mencarikan penawar racun ini di tubuh musuhmu yang berhasil kamu bunuh.”
Mahadewi lalu membantu Suro memeriksa di tubuh Ari Muka yang tergeletak didekatnya.
“Apakah adinda telah menemukan penawar racun yang kakang minta?”
“Mahadewi tidak begitu yakin dengan apa yang aku temukan. Sebaiknya kakang periksa sendiri terlebih dahulu.”
Setelah memeriksa tubuh Ari Muka, Mahadewi menemukan beberapa botol. Salah satunya dia juga menemukan bola-bola yang dapat meledak.
Setelah beberapa saat memeriksa beberapa botol yang ditemukan oleh Mahadewi, akhirnya Suro mengambil satu botol yang berisi semacam cairan tertentu. Dengan dibantu Mahadewi cairan itu diteteskan ke mata Suro.
"Aaaaaargggghhh.... Wuaduuuh panasssss!"
Reaksi yang dirasakan Suro diluar perkiraannya. Matanya seakan terbakar dua-duanya. Air mata mengalir begitu deras. Suro hanya mampu menahan rasa sakit perih itu dengan mencengkeram kepala sekuatnya.
"Apa kakang baik-baik saja?" Mahadewi begitu khawatir melihat Suro yang berteriak kesakitan setelah diteteskan cairan tersebut. Dia menyangka, jika Suro salah memilih obat penawar.
"Tidak mengapa adinda, cairan itu memang obat penawar racun ini. Meskipun terasa sangat sakit awalnya, kini sudah agak mendingan tidak terasa begitu perih seperti sebelumnya."
" Beruntung aku segera menemukan obat penawarnya. Jika tidak, pasti akan sangat membahayakan kondisi kedua mataku. Tetapi meski sudah mendingan, mataku ini sepertinya masih belum bisa kakang buka."
"Benar, mata kakang masih terlihat begitu merah seperti darah. Sebaiknya mata kakang aku bebat saja terlebih dahulu." Mahadewi kemudian menggunakan kain yang disobek dari lengan baju miliknya sendiri untuk membebat kedua mata Suro.
"Sementara waktu sampai kakang bisa membuka mata, adinda akan memandu kakang." Mahadewi tersenyum melihat hasil kerjanya menutup mata Suro.
'Jika caranya seperti ini, aku berhasil membuat kakang tidak bakal melirik wanita lain,' sambil membatin dara itu tersenyum puas.
"Benar, kakang sementara waktu akan memerlukan panduan dari adinda, walaupun sebenarnya aku masih mampu melihat dengan cara merasakan getaran dari permukaan tanah."
"Jangan khawatir, kali ini Mahadewi akan menjadi penunjuk arah jalan yang akan kita lalui kakang."
Suro hanya menganggukkan kepala menanggapi ucapan Mahadewi. Mereka kemudian kembali melanjutkan perjalanan dengan kembali berlari menggunakan ajian Saifi angin.
Sambil berlari cepat Suro terpaksa mendengarkan ceramah panjang Mahadewi. Matanya yang tertutup dibebat dengan kain semakin membuat wajahnya bertambah kusut mendengar ceramah dara disampingnya.
"Kakang seharusnya memahami hikmah apa yang dialami kakang, sehingga matanya hampir buta seperti ini. Kakang mendengar tidak?" Mahadewi mendecak kesal, sebab Suro hanya terdiam tidak menanggapi ucapannya yang panjang kali lebar kali tinggi.
"Iya, kakang mendengarnya," Suro menggaruk-garuk kepalanya yang membuat rambutnya semakin awut-awutan.
"Itu tandanya Sang Hyang Dewata tidak menginginkan kakang suka melirik-lirik wanita, apalagi tiba-tiba membawa seorang dara pulang kerumah. Kakang seharusnya tidak boleh bersikap seperti itu."
"Lihatlah akibatnya setelah kakang melakukan hal itu. Sebaiknya perbuatan kakang tidak kembali diulang. Sebab ini pertanda jika para Dewata tidak merestui dengan apa yang kakang lakukan."
'Apa hubungannya coba? Dasar wanita gemblung. Sudah aku duga perjalanan kali ini pasti merepotkan, karena aku harus mendengar omelannya. Ini Omelan terpanjang setelah paman Maung,'
Suro kali ini hanya bisa meruntuk dalam hati mendengar ocehan Mahadewi. Tetapi dia bersyukur, sebab kemarahan atas dirinya sepertinya telah terlampiaskan kepada seseorang yang meniru wajahnya.
Ocehan Mahadewi terhenti karena sesuatu yang berkelebat di persimpangan yang berada sedikit jauh didepan mereka. Gerakan bayangan itu sempat tertangkap oleh mata Mahadewi.
"Kakang didepan ada sosok melesat ke arah kanan! Apakah sebaiknya kita mengejar sosok tadi? Mungkin saja kita memiliki petunjuk untuk menemukan Markas Mawar Merah?"
"Tidak, kita tidak usah menghiraukan apa yang sempat adinda lihat. Karena kakang tidak merasakan ada orang di arah depan."
"Berarti kita terus melesat ke arah depan?"
"Benar, apa yang adinda lihat barusan kemungkinan adalah bentuk sihir ilusi. Karena sihir itu, membuat kakang sempat kehilangan adinda. Mataku yang ditutupi ini ternyata justru akan membantu kita agar tidak disesatkan oleh sihir ilusi."
Labirin yang mereka lewati berliku penuh kelok dan persimpangan, sehingga begitu menyesatkan. Tak khayal Mahadewi ikut kebingungan dengan jalan yang mereka lewati itu.
"Kakang, jalan yang kita lalui ini mengapa seperti tidak ada ujungnya?"
"Tenang saja adinda, jalan ini bagi orang yang melihat memang sangat membingungkan. Kakang juga merasakan hal yang sama seperti adinda."
"Tetapi kondisi mataku yang tertutup ini justru membuka sudut pandangku lebih luas."
"Apa maksud kakang?"
"Maksudku, dengan kondisi mata tertutup ini, justru membuat indera pendengaranku dan juga indera perasa ditelapak kakiku yang menerima getaran dipermukaan tanah dipaksa menjadi semakin tajam."
Mereka terus berlari dengan jurus saifi angin tingkat tinggi, yaitu langkah kilat. Mereka telah berlari cukup jauh. Kini mereka telah memasuki sebuah lorong tertutup yang sebenarnya merupakan celah diantara dua gunung batu. Tetapi karena tertutup, tempat itu justru mirip sebuah goa yang sangat panjang.
"Berhenti Mahadewi, gawat! Kembali mundur cepat!"