
"Bagaimana mungkin ada makhluk yang memiliki kemampuan hidup seperti ini?"
"Padahal makhluk ini sudah hancur lebur menjadi bubur, tetapi sangat tidak masuk akal dia masih bisa hidup kembali. Dengan kondisi seperti itu pun masih bisa kembali pulih dengan sangat cepat."
Adipati Rakai kalung warok tak mampu memahami kemampuan makhluk yang pertama kali dia lihat. Dia memandangi sepotong tubuh yang menggunung melebihi sebuah bukit kecil. Sebuah pemandangan mengerikan tentunya, begitu jelas terpampang ada dihadapan mereka semua. Sisa tubuh itu masih diselimuti api biru yang masih berkobar.
"Makhluk ini seperti makhluk jadi-jadian."
"Memang benar yai Adipati dari awal memang dia dikenal sebagai makhluk jadi-jadian. Karena menurut kabar Banteng iblis hasil perkawinan silang antara bangsa siluman, manusia dan juga bangsa raksasa."
Adipati Lowo Ireng menimpali perkataan Adipati Rakai kalung warok yang sedari tadi mengeleng-geleng kepala sambil berbicara dengan dirinya sendiri.
"Apa mungkin makhluk yang berbeda alam bisa bersatu dan menghasilkan keturunan?"
"Mungkin atau tidak mungkin yang kita lihat sedari tadi bukankah sebuah kejadian yang tidak mungkin terjadi secara akal yai Adipati?"
Adipati Lowo ireng membalas pertanyaan Adipati Rakai kalung warok tanpa menurunkan kewaspadaanya. Apalagi dia melihat Pendekar Dewa Pedang terlihat sedari tadi menatap sisa tubuh monster didepannya dengan raut muka terlihat tegang.
Para pasukan elit yang berada dibelakang dua Adipati itu merasakan ketakutan yang tak pernah mereka rasakan sebelumnya. Walaupun sebagian mereka adalah prajurit yang sudah puluhan kali melewati pertempuran antara hidup dan mati. Tetapi pertempuran yang dia lihat barusan tidak lagi bisa disebut pertempuran antara manusia. Tetapi sebuah level pertempuran yang lebih tinggi lagi yaitu pertempuran antara sesama monster.
Mereka semua tetap dalam kondisi kewaspadaan tinggi setelah melihat pertarungan barusan. Bagaimana tidak tubuh monster yang tinggal bubur daging, masih bisa memulihkan tubuhnya dengan cepat. Maka bukan sesuatu yang tidak mungkin tubuh yang terbakar ini bisa hidup kembali.
Sengaja mereka menjaga jarak sekitar dua puluh tombak sesuai perintah Dewa Pedang. Menjaga agar jika tiba-tiba sesuatu terjadi masih ada celah waktu untuk berlari menyelamatkan diri.
Mereka semua baru pertama kali ini menyaksikan kedahsyatan Jurus ke tiga Tapak Dewa Matahari setelah lama tak terdengar sepak terjang Sang Pendekar. Kobaran api biru masih menyala entah jenis api seperti apa yang mampu menyelimuti sisa tubuh monster yang menggunung.
Eyang Sindurogo mengamati dari atas, tubuh Naga yang tercerai berai menyebar ke seluruh penjuru perbukitan. Terlihat potongan tubuh yang besar masih menyala terbakar api biru.
"Makhluk jenis apa ini sebenarnya? Dari tubuhnya aku masih merasakan aura kekuatan yang tidak aku lupakan. Pasti ini sejenis kekuatan yang telah diserap dari dunia kegelapan persis yang dimiliki Jerangkong dari Jurang Neraka."
"Bahkan api biru dari chakraku yang meresap kedalam setiap jengkal dalam tubuhnya seharusnya mampu membakar sampai habis tak tersisa. Ternyata tidak bisa membakar secara maksimal. Kemungkinan api biru milikku sebagian besar telah dinetralisir oleh kekuatan kegelapan yang terkandung di dalam tubuhnya."
"Perpaduan ilmu apa yang membuat tubuhnya begitu luar biasa? Ataukah karena perpaduan tubuhnya yang sudah tak murni lagi sudah tak pantas disebut manusia maupun hewan?"
Setelah dirasa tak ada tanda-tanda yang memperlihatkan monster itu akan pulih secepat sebelumnya, Eyang Sindurogo langsung turun ke arah Dewa Pedang.
Terlihat Dewa Pedang begitu tegang menatap tubuh monster yang masih diselimuti kobaran api biru. Sebilah pedang pusaka miliknya tetap terhunus ditangannya. Pedang pusaka yang digengamnya bernama Pedang Naga langit.
Sebuah Pedang yang terkenal ketajamannya diseantero Benua Timur. Itu semua karena bahan baku dari pedang benar-benar khusus terbuat dari baja yang berasal dari batu meteor. Ditempa dari api abadi di puncak Merapen. Dan dibuat oleh seorang ahli pembuat senjata Empu Ciung Wanoro.
Bahkan pedang itu pernah menjadi pusaka yang diperebutkan di dunia persilatan. Sebelum akhirnya jatuh ditangan guru dari gurunya Dewa Pedang yang sekarang.
Walaupun yang sebenarnya terjadi adalah pedang itu dihadiahkan oleh Eyang Sindurogo. Karena dia mempercayai tokoh itu dan menganggab pedang itu lebih tepat berada ditangannya.
Seorang yang lebih dikenal sebagai tokoh dibalik pencipta Kitab Dewa Pedang. Sebagai rasa terimakasihnya dia mengajarkan semua isi kitab Dewa Pedang kepada Eyang Sindurogo.
"Dewa Pedang, menurutmu makhluk didepan kita memiliki kemampuan seperti ini apakah karena kombinasi ilmu yang dia miliki sebelumnya?"
"Atau mungkin karena kemunculannya yang berasal dari sebuah ketidak sengajaan karena percampuran dari berbagai ras makhluk yang memungkinkannya terlahir didunia?"
Eyang Sindurogo melemparkan pertanyaan walaupun sebenarnya adalah sebuah pemikiran dari hasil perenungannya sesaat.
Dia bertanya kepada Dewa Pedang tentang kemungkinan dibalik kekuatan yang seolah tak bisa dibunuh itu. Dia berpikir pasti ada alasan dibelakangnya yang membuat makhluk itu memiliki kekuatan seperti itu.
Dia berharap bisa menemukan jawaban dibalik kejadian kemunculan makhluk raksasa ini. Sebab setelah mendengar kemunculan Hyang Anantaboga diperistiwa Kerajaan Galuh yang dilihat orang awam dengan wujudnya yang membawakan seruling kristal, dia memastikan akan bakal ada bencana susulan yang lebih besar daripada satu monster ini.
"Justru menurutku dia terlahir dalam kondisi yang sebelumnya sebagai Lembu jahanam adalah bentuk campur tangan yang disengaja oleh Bathara Karang. Dengan campur tangannya percampuran berbagai makhluk dapat menyatu dan melahirkan makhluk terkutuk seperti ini."
"Aku juga mencurigai Lembu jahanam adalah sebuah makhluk yang dia jadikan sebagai kelinci percobaan. Atas ujicoba dirinya untuk mencari kesempurnaan ilmu yang telah dia buat dari berbagai ilmu abadi."
Sesaat setelah api biru yang membakar padam sesuatu terjadi dari sisa tubuh monster. Bentuk dari sisa tubuh monster sekarang tak lebih dari segunung daging terbakar. Keadaanya benar-benar telah gosong seluruh permukaanya.
Pada bagian yang hancur perlahan-lahan mulai membentuk bagian tubuh dan memecah kulit luar yang gosong terbakar. Lalu anggota tubuh yang baru muncul dari balik kulit luar yang benar-benar telah gosong. Kejadian itu dapat digambarkan kejadian seekor cicak yang mencoba menumbuhkan ekornya kembali.
" Suro segera seret sisa tubuh monster ini masukkan kedalam inti bumi. Hancurkan dengan aliran magma supaya tidak menyisahkan sama sekali bagian tubuhnya!"
Eyang Sindurogo segera memerintahkan Suro bledek untuk menghancurkan sisa tubuh monster. Mumpung perkembangan pemulihan tubuhnya melambat Eyang Sindurogo tidak ingin memberikan kesempatan makhluk itu untuk hidup lagi.
"Baiklah Eyang Guru."
Suro bledek melakukan kuda-kuda dengan kokoh sambil mengerakkan tangannya seakan sedang
menyimbakkan air kekanan dan kiri.
"Naga api keluarlah!"
Teriakan Suro memecah kesunyian dibarengin suara retakan tanah yang sangat keras.
"Bldaaaar!" Kraak! Kraak!"
Sebuah ledakan di tanah membelah dan menjalar dengan cepat, sepanjang lebih dari dua ratus tombak persis disamping sisa tubuh naga yang hanya berupa gunungan tubuh monster yang hitam gosong. Dari rengkahan itu seakan dipaksa ditarik kesamping kanan kiri membuka semakin lebar.
Kemudian secara cepat meluncur hembusan awan panas keluar dari lubang itu, meluncur deras keatas mengawali penampakan berikutnya. Tekanan bumi yang sangat besar membuat semburan magma yang meledak menyembur dengan keras membentuk semburan tegak lurus keatas sangat tinggi.
Sebuah semburan magma menerjang keluar berputar bergulung-gulung membentuk sebuah pusaran tornado dari lelehan magma. Sesuatu pemandangan yang sangat mengerikan membuat suhu disekitar naik secara drastis. Tornado yang terbuat dari magma berputar terus naik seakan hampir setinggi langit dan secara tiba-tiba meluncur cepat kebawah.
Lalu secepat kilat mengulung tubuh monster yang tak berdaya. Sepertinya akibat api biru meresap masuk kedalam tubuh monster itu dan membakar setiap sel didalam tubuhnya, membuat monster itu melambat pemulihan tubuhnya.
Magma itu bergulung-gulung seakan tubuh seekor naga dan melilit dengan sangat kencang. Tentu saja tubuh monster itu kembali terbakar disertai bunyi gemeletak pertanda tulang-tulang dari tubuh yang mengunung seakan bukit besar itu remuk.
Segera saja seluruh badan monster kembali diselimuti api dan membakar seluruh tubuhnya. Naga dari lahar itu terus mengulung seakan tak ada putusnya menarik dengan kuat, kearah lubang tanah yang telah dibuka Suro.
Setengah badan dari monster yang seakan bukit mampu ditarik dengan kuat ditengelamkan kedalam lubang yang menganga. Suhu panas bumi yang keluar seakan neraka dunia.
"Kraak! Kraak! Duuum!"
Suro bledek kemudian menutup rekahan tanah dengan cepat tanah itu bergerak menutup dan menghasilkan suara berdentum.
Satu masalah telah selesai, setengah badan Rhaksasa itu ditenggelamkan dan dikirim kedalam inti bumi untuk dapat dipastikan tidak bakal bisa memulihkan tubuhnya kembali.
Mereka semua terlalu terpana dengan kemampuan bocah yang ada dihadapan mereka. Sebuah kemampuan yang sangat mengerikan yang bahkan mampu menengelamkan sebuah kota raja ke dasar bumi. Walau untuk sekarang tentu saja Suro belum mampu melakukan seperti itu, sebab tenaga dalam yang diperlukan untuk melakukan itu belum dia miliki.
Untung saja kemampuan yang begitu menakutkan tidak dimiliki oleh tokoh aliran hitam. Walaupun begitu jika melihat langsung bagaimana dia menenggelamkan tubuh raksasa dan dikirim ke dasar bumi dengan begitu mudahnya. Tetap saja akan mampu membuat terkencing-kencing dicelana saking begitu dahsyatnya penampakannya.
Sebuah magma didalam kedalaman bumi mampu dia tarik keluar tentu bukanlah kemampuan manusia lumrah.
Saat semua mata tertuju kepada Suro disekeliling hamparan bukit yang menjadi ajang pertempuran, bagian tubuh monster yang hancur tersebar seakan memiliki magnet dan mengumpul membentuk tubuh baru dari monster. Walaupun dengan skala yang lebih kecil seperti seukuran lima gajah.
Sebelum semua orang menyadari kejadian tersebut. Setelah bentuk tubuhnya terbentuk dengan sempurna dari mulutnya menyembur kali ini bukan api yang menyembur dari mulutnya seperti sebuah asap hitam pekat dan memadat. Bahkan menyerupai awan yang bergulung-gulung menerjang dengan kuat ke arah udara kosong yang berada persis didepan makhluk itu.
Ternyata makhluk naga itu sedang membuat sebuah gerbang dimensi yang terbuka dengan lebar. Sebuah gerbang dimensi yang mengirim apapun yang masuk ke alam kegelapan.
"Eyang guru disebelah selatan bukit ada formasi sihir gerbang dimensi alam lain telah terbuka kembali! Pecahan dari monster kemungkinan akan kabur!"
Suro yang selesai mengirim bagian tubuh monster ke dalam tanah tiba-tiba kembali merasakan formasi sihir gerbang dimensi yang telah terbuka. Buru-buru dia memberi tau semua tentang formasi sihir yang telah aktif kembali itu.
Tak ada yang mampu terbang melebihi kecepatan maksimal yang mampu dilakukan Eyang Sindurogo. Tubuhnya segera menghilang melesat dengan kecepatan tinggi mengikuti arah yang ditunjukan muridnya.