SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 493 Tebasan Perangkap Kematian



Setelah amukan yang dilakukan Suro yang berhasil menghabisi musuh dalam jumlah yang banyak, kini seluruh musuh yang mengepung Suro memilih menjauh, tidak terkecuali itu adalah pasukan Elang Langit. Begitu juga pasukan benih iblis tidak lagi berusaha menyerang pemuda itu.


Sudah belasan pasukan Elang Langit yang amblas nyawanya terkena serangan Suro. Ratusan musuhnya yang didalam tubuhnya bersemayam benih iblis dari pasukan Khan Langit dan Kerajaan Goguryeo berjatuhan seperti daun-daun di musim gugur.


Setelah serangan bertubi-tubi yang dikerahkan Suro ke arah musuh, dia mulai merasakan kepalanya pening. Tenaga dalam miliknya mulai terkuras habis.


Disaat musuh menjauh, Kesempatan itu lalu digunakan Suro untuk segera memulihkan kekuatannya. Tangan kanannya segera meraih botol sharkara Deva dibalik bajunya.


"Sialan, gara-gara mereka aku harus menghabiskan cadangan Sharkara Deva milikku." Dalam satu tegukan cairan dalam botol itu amblas habis masuk ke dalam mulutnya.


Seketika itu juga kekuatan meluap-luap kembali memenuhi sekujur tubuhnya. Tatapan matanya berpindah ke arah langit dimana sebelumnya dia berhasil menemukan keberadaan Kankuru.


Sejak musuh berduyun-duyun yang datang ke arahnya berhasil dihabisi, dia merasa jika aura sesat yang berasal dari pusaka Kunci Langit mengalami perubahan. Pancaran aura sesat dari pusaka Kunci Langit terasa semakin bertambah kuat.


'Perasaanku saja atau pancarannya memang semakin bertambah kuat. Apa yang sebenarnya sedang dilakukan Karuru diatas sana?"


Ketika Suro hendak mencari tau apa yang sedang disembunyikan musuhnya dibalik awan. Mendadak sebuah serangan datang, sehingga dengan terpaksa dia menunda niatnya.


Makhluk yang muncul dan langsung menyerang dirinya memakai jubah hitam dengan wajah merah dan juga dua tanduk menghiasi dahinya. Seringai buas menyertai setiap serangan mereka.


Jdaaar...


Jdaaar...


"Tebasan Perangkap Kematian!"


Wuuusss...


Serangan kombinasi makhluk itu menggunakan senjata cemeti dan juga sebilah pedang. Suro menyadari setiap serangan para makhluk itu sangat berbahaya dan tidak boleh sama sekali mengenai tubuhnya.


Karena itu dia buru-buru mengerahkan jurus Langkah Maya untuk menghindari serangan lawannya. Dia cukup waspada, bahkan dia tidak membiarkan tubuhnya kali ini tersambar oleh serangan lawan.


Geho Sama pernah menjelaskan kepada Suro, makhluk yang kini mengepung dan terus menghujani dirinya dengan serangan cemeti dan tebasan pedang bernama Kingkara. Kali ini pasukan Elang Langit yang telah putus asa bukan hanya memanggil satu Kingkara tetapi tiga Kingkara sekaligus.


Karena penjelasan Geho Sama yang sebelumnya, Suro tidak berani menangkis. Geho Sama bahkan mewanti-wanti Suro untuk tidak mencoba melakukannya. Dia terus bergerak menghindar.


Tetapi Suro merasa, jika serangan Kingkara yang menyerang dengan pedang besarnya terlihat tidak sama dengan yang terakhir kali dia lihat. Ada sesuatu yang janggal dengan serangan yang dilakukan musuh yang mendadak muncul itu.


Tebasan pedang besar itu bukan hanya membelah angin, tetapi benar-benar membelah ruang kosong yang ada didepannya dalam jarak hampir satu tombak. Ruang kosong yang terbelah itu seperti memperlihatkan sebuah alam lain.


Sebab udara kosong yang ditebas itu seperti retak dan seakan merobek batas dunia. Penampakannya justru mirip sebuah gerbang gaib.


Selain tebasan pedang, dia juga harus menghindari terjangan cemeti yang terus berusaha menyambar tubuhnya dengan disertai ledakan suara yang begitu kuat. Suaranya menggelegar mampu membuat telinga menjadi sakit sampai berdengung karena kerasnya.


Suro juga tidak ingin tersambar cemeti itu, sebab serangannya menurut penjelasan Geho Sama mampu mencabut nyawa seseorang, seperti mencabut rumput dari tanah.


Serangan para Kingkara, entah mengapa terasa lebih kuat dibandingkan saat pertama kali menghadapinya dalam pertempurannya di makam Kaisar Qing Shi Huangdi.


Kesulitan Suro semakin bertambah, sebab pasukan Elang Langit yang menumbalkan dirinya untuk memanggil Kingkara juga bergerak secara bersamaan menyerang dirinya.


Mereka sudah tidak memperdulikan dengan keselamatan mereka. Sebab tubuh para Pasukan Elang Langit itu berubah menjadi kekal, sampai Kingkara berhasil menghabisi target serangan mereka, yaitu Suro.


Tetapi Suro tidak menghawatirkan pasukan Elang Langit yang berusaha membunuh dirinya secepat mungkin. Kekhawatirannya tetap pada serangan para Kingkara.


Dari penjelasan Geho Sama serangan pedang itu mampu mengirim seseorang masuk ke dalam dunia lain yang disebut-sebut sebagai dunia mimpi atau juga dunia ketiadaan. Ruang kosong yang retak ditebas para Kingkara memang hanya terlihat sekilas, sebelum kembali menutup.


Tetapi mereka terus menghujani dengan serangan yang sama berkali-kali. Serangan para Kingkara kali ini benar-benar membuat Suro kewalahan, dia harus berkali-kali menggunakan jurus Langkah Maya untuk menghindari hujan serangan para Kingkara.


Dulu dengan satu Kingkara, Suro telah berhasil memenangkan pertempuran. Tetapi kini dia harus berhadapan dengan tiga Kingkara sekaligus.


"Kau tidak akan aku biarkan hidup lebih lama, setelah sebelumnya dirimu berhasil membunuh salah satu dari kaum kami!" Seorang Kingkara berbicara dengan suara yang mirip raungan harimau.


Suro masih mencoba memahami serangan lawan sebelum memberi serangan balasan. Dia kembali mengerahkan mengerahkan jurus Langkah Maya untuk menghindar.


"Merepotkan, berhadapan dengan kalian!"


Meskipun Suro tidak mengetahui apa kelebihan jurus baru yang diperlihatkan para Kingkara, dia memilih menyerang lawan dengan serangan yang dulu mampu membinasahkan musuhnya.


"Maha Naga Taksaka!"


Bersama ledakan kekuatan pukulan yang diarahkan kepada Kingkara melesat tehnik perubahan api tahap hitam. Kobaran api yang bergerak laksana naga maha besar yang hendak melahap siapapun yang berada didekatnya.


Kembali dia mengerahkan jurus yang membuat Suro mengernyitkan dahi.


"Tebasan Perangkap Kematian!"


Sebelum kepala Maha Naga Taksaka melahap Kingkara didepannya, sosok makhluk itu telah lebih dahulu menebaskan pedangnya ke arah udara yang ada diantara mereka berdua. Seketika itu juga kembali muncul celah antara ruang dan waktu.


Kobaran api hitam yang berupa ular naga yang sangat besar seperti dicekik kepalanya dan ditarik dengan sedemikian kuat masuk ke dalam celah ruang dan waktu itu. Tidak butuh waktu yang lama perubahan api hitam milik Suro amblas hilang dari pandangan.


'Apa?! Tidak mungkin, ternyata seperti ini kekuatan jurus yang dia kerahkan sedari awal. Beruntung aku memiliki firasat buruk dan memilih menghindarinya. Gawat jika seperti ini jadinya.'


Suro cukup terkejut melihat kemampuan lawan yang tidak dia duga sama sekali. Karena serangan yang dikerahkan lawan barusan tidak diperlihatkan dalam pertempuran sebelumnya, yaitu saat berada di makam Kaisar Qing.


Suro kebingungan dan memilih menghindar dari serangan lawan yang kembali datang. Pasukan Elang Langit yang memanggil para Kingkara terus berupaya mencari kesempatan untuk bisa sesegera mungkin berhasil menghabisi musuhnya.


Suro hanya bisa mendengus kesal setiap kali pasukan Elang Langit yang telah menyatu dengan Kingkara yang dia panggil. Sebab mereka terus berupaya mengambil kesempatan saat dirinya sedang lengah.


Musuh memang sudah tidak peduli lagi dengan keselamatan sendiri. Sebab serangan apapun tidak akan membunuhnya, selama Kingkara yang mereka panggil tidak mati atau sampai kontrak yang dibuat selesai dijalankan, sehingga hasil akhirnya mereka akan tetap mati bersama musuhnya.


Saat melihat musuh yang sudah tidak lagi memikirkan hidup dan matinya mulai mengamuk, Suro lebih memilih menghindar jauh. Pasukan Elang Langit yang mengorbankan nyawanya demi mendatangkan para Kingkara berjumlah lebih dari setengah lusin.


Melihat Suro menghindar mereka tidak membiarkan lawannya lepas, secara serentak mereka segera mengejarnya.


Pemuda itu mengetahui jika dia menyerang pasukan Elang Langit yang sudah melakukan kontrak hidup mati dengan Kingkara, maka segala serangan apapun hanya akan membuang-buang tenaga saja.


Karena itu dibandingkan menyerang mereka Suro memilih menghindar. Dia harus menghemat tenaganya, sebab Sharkara Deva miliknya telah habis.


**


Akibat amukan yang dilakukan Suro, serangan ke arah benteng kota He Bei berkurang. Bahkan pasukan dari Khan Langit dan Kerajaan Goguryeo yang telah menyerang masuk ke dalam benteng, sebagian berbalik.


Mereka tidak terima dari kejauhan Suro membantai teman mereka, yaitu manusia yang telah diperkuat dengan benih iblis. Amukan Suro berhasil membantai lawan begitu banyak, Sehingga dari kejauhan mereka terlihat berjatuhan seperti hujan.


Tentu saja mereka murka dan segera berbalik meninggalkan benteng untuk bersama-sama menyerbu ke arah Suro.


Keadaan itu membuat pasukan kekaisaran yang bertahan di benteng dapat sedikit bernafas lega. Jendral Yuwen Shiji menjadikan kesempatan itu untuk kembali mengatur pertahanan benteng.


Dia merasa terbantu dengan kehadiran Dewa Obat disampingnya selama pertempuran untuk mempertahankan benteng. Dewa Obat sendiri sebenarnya sudah gatal hendak membantu Suro, bahkan sejak awal ketika dia melihat kehadiran pemuda itu.


Namun dia tidak dapat meninggalkan pasukan kekaisaran yang sudah terdesak. Dengan kehadirannya sekalipun pasukan kekaisaran masih diujung tanduk, apalagi jika tanpa bantuannya, tentu mereka akan mampu dikalahkan musuh lebih cepat.


"Pendekar Dewa Obat yakin tidak akan membantu muridmu menghadapi musuhnya?"


Dewa Obat tidak segera menjawab atas pertanyaan Jendral Yuwen Shiji, matanya masih lekat menyaksikan pertarungan yang terjadi di atas udara.


"Lawannya adalah Kingkara, makhluk yang tidak bisa dibunuh dengan menggunakan senjata apapun. Kekuatanku sekalipun tidak berguna untuk menghadapinya. Bahkan para astra milikku tidak akan melukainya.


Hanya muridku seorang yang mampu menghadapinya. Jika dia tidak mampu menghadapinya. Maka itu artinya kita harus bersiap-siap menghadapi kematian."


Suara Dewa Obat cukup pelan bahkan seperti gumaman, tetapi Jendral Yuwen Shiji yang berada disebelahnya dapat mendengar dengan sangat jelas. Dia sampai menelan ludah mendengar ucapan Dewa Obat barusan.


Dia segera memahami kondisi Suro yang begitu gawat. Apalagi Dewa Obat sendiri yang begitu dahsyat kekuatannya saja bisa mengatakan jika kekuatannya tidak berguna untuk membunuh lawan yang sedang dihadapi Suro.


Jendral Yuwen Shiji yang kekuatannya setara dengan pendekar tingkat surga mampu melihat musuh yang berada di kejauhan dengan cukup jelas. Namun dia tidak pernah melihat sekalipun ada makhluk seperti itu.


"Apakah pendekar Suro akan baik-baik saja tuan pendekar Dewa Obat? Lihatlah sejak kedatangan tiga makhluk itu, dia terus memilih menghindar dari serangan musuh."


"Seharusnya tidak, aku yakin dia akan baik-baik saja." Dewa Obat sebenarnya sedikit ragu dengan apa yang dia lihat. Tetapi dia berupaya meyakinkan dirinya sendiri jika Suro mampu menghadapi mereka semua.


Dewa Obat sebenarnya berubah semakin khawatir setelah melihat serangan tehnik perubahan api milik Suro berhasil dilenyapkan oleh musuh. Tehnik yang diperlihatkan musuh itu juga dia baru lihat.


"Semoga saja dia mampu mengalahkannya," ucap Dewa Obat dengan rasa khawatir.


Apa yang diucapkan Dewa Obat, sepontan membuat Jendral Yuwen Shiji semakin khawatir. Begitu juga kolonel Xian Hua dan para pendekar yang mendengarkan percakapan mereka.


Mereka tidak menyangka musuh yang terus berdatangan itu memiliki kekuatan yang tidak dapat dilawan oleh Dewa Obat sekalipun.


Kecemasan segera melanda mereka semua, apalagi kemampuan dari mereka tidak ada yang sanggup membantu Suro melawan musuh yang sedang dia hadapi. Kecemasan mereka sangat beralasan, sebab apapun yang terjadi dalam pertempuran Suro, kemungkinan besar juga akan berdampak besar atas nasib mereka.


Jika Suro kalah, maka nasib mereka yang sudah diujung tanduk akan dapat mudah ditebak akan menjadi apa. Dengan kedatangan musuh-musuh kuat seperti mereka, membuat harapan jendral Yuwen Shiji semakin menipis dapat bertahan hidup sampai esok hari.