
Negeri yang di tuju Suro masuk dalam negeri Wei barat. Tetapi negeri itu sekarang dikuasai oleh dinasti Sui. Kaisar yang memerintah bernama kaisar Jing.
Suro muncul dipusat kota yang besar. Suro sendiri sampai kebingungan untuk menentukan arah pencarian gurunya. Sebab informasi yang didapat sangat sedikit.
Informasi yang didapat menyebut gurunya menuju Negeri Atap Langit mengejar pasukan pembunuh bayaran Mawar Merah. Menurut para tetua gurunya sempat menyebut markas dari perguruan itu ada di Padang Rumput Neraka.
Tetapi beruntung dia memiliki pusaka yang mampu menemukan apapun yang ingin dicari.
"Pusaka Kaca Benggala tunjukan kepada hamba dimana keberadaan eyang Sindurogo berada."
Beberapa saat kemudian kaca benggala menunjukkan kepada mereka apa yang sedang dicari.
"Ketemu...tetapi dimana ini? Pusaka kaca benggala berikan petunjuk kepada kami agar sampai ditempat ini!"
Gambar didalam bayangan yang ditunjukkan oleh pusaka Kaca benggala lalu bergerak. Secara perlahan Suro menatap penuh konsentrasi gambar yang silih berganti didepan mata Suro.
Mahadewi ikut menatap, tetapi dia justru menatap wajah Suro yang jauh lebih tampan dibandingkan yang dia ingat 'aku tidak boleh kalah saingan dengan dara yang sebelumnya dibawa oleh kakang Suro. Aku tidak akan menyerah dan tidak akan membiarkan sampai kehilangan apa yang aku kejar selama ini.'
"Mahadewi, Mahadewi adinda..! Apa kau mendengarku?"
Suro menatap ke arah Mahadewi yang menatap ke arah dirinya dengan tatapan kosong.
"See..ma..maaf kakang Mahadewi sedang memikirkan guruku sampai tidak mendengar kakang memanggilku."
"Tenang saja adinda, kakang akan berusaha sekuat tenaga untuk menemukan tetua Dewi Anggini. Begitu juga eyang guru, dia pasti tidak akan melepaskan kelompok pembunuh bayaran yang memiliki nama Mawar Merah itu."
"Ayo kita teruskan perjalanan kita, sepertinya kakang sudah menemukan apa yang dicari. Pusaka Kaca Benggala memang sangat membantu jika hendak menemukan yang dicari."
Kali ini Suro memilih terbang untuk menemukan gurunya yang sudah pergi mencari tetua Dewi Anggini.
Dia terus terbang mengikuti petunjuk yang diperlihatkan pusaka kaca benggala. Demi mengikuti petunjuk itu mereka terbang lebih rendah sekitar tiga kali pohon kelapa.
Setelah melewati beberapa gunung dan lembah mereka melihat sesuatu yang mencurigakan. Tempat yang terlihat mencurigakan itu berada dipinggir sebuah daerah lembah yang sangat luas.
"Sepertinya lembah inilah yang disebut dengan Padang rumput neraka."
"Kakang akan memeriksa teriakan-teriakan keras itu?" ucap Mahadewi bertanya kepada Suro
Mahadewi yang digendong oleh Suro, mampu menerka niat pemuda itu yang terus memandang ke arah rerimbunan pohon dipinggir padang yang cukup luas.
Suara teriakan meminta tolong yang terdengar akhirnya meluluhkan Suro untuk memeriksa.
"Kita akan melihat, mungkin saja ada yang bisa kita lakukan. Mengenai gurumu.." Suro berhenti sebentar sebelum melanjutkan ucapannya. Suara meminta tolong yang terdengar membuat Suro tidak bisa fokus.
"Aku yakin eyang guru sedang menyelidiki dan berusaha menolongnya."
Tanpa menunggu lama Suro lalu melesat turun agak jauh dari rerimbunan pohon didepan.
Mereka kemudian melanjutkan dengan berlari menggunakan ilmu langkah kilat.
Suara meminta tolong semakin terdengar lebih keras. Suro maupun Mahadewi semakin mempercepat langkahnya.
Tidak beberapa lama kemudian mereka menemukan sumber suara yang terdengar. Ternyata dibalik rimbunnya pepohonan ada sebuah pemukiman penduduk.
Didepan mereka seorang wanita muda berlari kencang dikejar orang-orang yang memiliki tampang kasar dan memakai pakaian yang sama.
"Tolong selamatkan kami pendekar mereka akan menangkapku!" Melihat Suro yang membawa sebuah pedang dan memiliki tampang yang tidak bengis, ada secerah harapan jika dua orang yang berlari itu adalah seorang pendekar.
Dara muda itu langsung bersembunyi dibelakang Suro. Dia memegang erat pakaian Suro dengan penuh ketakutan.
"Kalian siapa? Tidak usah ikut campur dengan urusan kami! Kalian tau berurusan dengan siapa?"
"Me..me..mereka kelompok Mawar Merah pendekar. Mereka hendak menangkap seluruh penduduk dikampung kami." Dengan terbata-bata dara muda dibelakang Suro menjelaskan dengan raut penuh ketakutan.
"Kalian sudah mendengar sendiri, bukan? Siapa yang sedang kalian hadapi ini!" Lelaki tambun itu menarik pedang lalu menjilat bilahnya yang masih ada noda darahnya.
"Dan kalian tau dengan siapa kalian berhadapan?" Suro mencabut bilah pedang kristal dewa lalu ikut menjilatinya.
"Sepertinya kalian memang ingin mati menemani para penduduk yang menolak mengikuti perintah kami!"
Lima orang yang bersama si tambun itu segera mencabut bilah pedang mereka semua. Kekuatan mereka rata-rata setingkat pendekar kelas tinggi. Namun satu orang yang berbadan tambun telah mencapai tingkat shakti.
"Kalian sepertinya juga tidak mengetahui dengan siapa kalian berhadapan?" Suro berbicara dengan tenang dan satu senyuman tersungging disudut mulutnya.
"Kalian sesungguhnya sedang berhadapan dengan utusan Yamadipati yang akan mencabut nyawa kalian semua!" Suro mengakhiri ucapannya dengan tertawa terkekeh.
"Habisi pemuda bodoh ini, tetapi dua wanita itu lumpuhkan saja! Aku ingin menikmatinya terlebih dahulu sebelum diberikan kepada pimpinan. Terlalu sayang, jika mereka hanya dibunuh begitu saja!"
"Seraaaang!"
Wuuut...
Slaaassh...
Slaaashh...
Lelaki tambun itu memerintahkan orang-orang yang mengikuti dibelakangnya untuk segera menyerang Suro. Namun tidak ada tanggapan apapun, dia hanya melihat sekelebat bayangan bergerak melewatinya.
"Kemana bocah tadi?" Lelaki tambun itu kebingungan, sebab tanpa dia sadari saat memberi perintah dengan penuh semangat mendadak pemuda dihadapannya lenyap.
"Ehem..ehem"
"Aku ada disini kisanak," Suro berdehem untuk menarik perhatian si tambun. Namun lelaki itu hanya mendengar saja, tanpa sempat melihat siapa yang baru saja berdehem.
Slaashh...
Craat...
Glodak..
Lelaki itu segera menyadarinya, jika suara itu adalah pemuda yang dia cari. Namun itu sudah terlambat, sebab Suro telah menebas lehernya. Kepala lelaki itu langsung terpisah dari badannya.
Dara yang memeluk tubuh Mahadewi bergetar hebat saat menyaksikan tubuh orang-orang yang mengejarnya telah bertumbangan hanya dalam satu tarikan nafas.
"Mereka sudah tewas semua, bisa ceritakan apa yang sebenarnya terjadi?"
Dara itu lalu menceritakan apa yang telah terjadi di pemukiman mereka. Wajah Suro langsung berubah penuh kemarahan.
"Mahadewi kamu jaga dara ini, biarkan aku menghabisi manusia-manusia biadab disana."
Tubuh Suro langsung menghilang dari pandangan mata. Dia kemudian muncul ditengah perkampungan. Namun sebelum menghilang itu, dia sempat menyambar kepala si tambun.
Aksi Suro yang berteriak keras untuk memancing para kelompok yang sedang sibuk menangkap para penduduk.
"Xiao Peng! Lelaki itu telah membunuh Xiao Peng!"
"Bagus kalian akhirnya melihatku! Xiao Peng temanku ini berhutang kepadaku, sebelum dia mati aku disuruh menagih hutang yang dia miliki kepada kalian!" Suro lalu melemparkan kepala itu kepada seseorang yang memiliki tubuh begitu tinggi.
"Kurang ajar, ada berapa nyawamu bocah? Berani sekali kau mencari keributan dengan kelompok Mawar Merah!"
"Akhirnya ada yang bisa aku tagih hutang si gempal ini!" Suro menunjuk dengan bilah pedangnya kepada lelaki yang memegang sebuah golok besar.
Suara bergemeletuk gigi milik lelaki itu terdengar dengan jelas.
"Kurang ajar, berani sekali kau bocah!"
"Potong tangan kakinya terlebih dahulu, aku ingin memakan jantungnya selagi bocah ini masih bernafas!"
"Baiklah jika itu permintaanmu aku sanggupi!" Suro tersenyum jenaka ke arah lelaki yang sudah murka itu.
"Setan alas, cepat habisi bocah itu!"
Teriakan kedua dari lelaki itu segera mengerakkan puluhan orang menyerbu ke arah Suro.
Crashh! Craasshh!
Craashh! Craaasshh!
Aaaaakh!
"Apa yang kalian serang? Aku ada disini!"
"Aaaarrrggghhhh! Bocah sialan kelompok Mawar Merah tidak akan melepasmu!"
"Tutup mulutmu!"
Saat mereka semua menyerbu ke arah Suro dan hanya tinggal jarak satu langkah, bocah itu telah menghilang dari pandangan mata.
Dia kemudian muncul dibelakang lelaki yang menjadi pemimpin kelompok tersebut. Sebelum lelaki itu menyadari ke hadiran Suro, dia telah menebaskan pedangnya dengan sangat cepat.
Saat lelaki itu menjerit kesakitan, kedua tangan dan kakinya telah terpisah dari badannya. Kondisi itu telah dapat menggambarkan betapa tajamnya pedang kristal dewa yang ada ditangan Suro.
Mereka sangat terkejut saat melihat apa yang telah dilakukan Suro. Sebab secara jelas mereka melihat Suro ada didepan mata, namun mendadak telah lenyap dan muncul dibelakang orang yang mereka takuti itu.
Walaupun mereka semua pembunuh yang berdarah dingin, namun apa yang dilakukan Suro sambil tertawa, adalah sesuatu yang tidak wajar.
Selain itu dari segi kekuatan dan kecepatan yang dimiliki pemuda didepan mereka, sepertinya jauh melampaui pimpinan mereka. Sebab dalam satu serangan itu telah mampu memotong keempat anggota tubuhnya dengan sangat mudah.
Mereka tidak mengetahui mengapa Suro dapat berlaku begitu sadis, sebab sebelumnya dara yang baru saja diselamatkan telah bercerita semua hal yang barusan dialami.
Dara itu bercerita ayahnya telah dibunuh. Namun sebelum dibunuh dia harus melihat istri dan anak tertuanya diperkosa didepan matanya. Dara itu memanfaatkan kelengahan yang lain, saat mereka bergembira melihat ibu dan kakaknya diperkosa.
"Setiap dari kalian tidak akan aku biarkan ada yang selamat, kecuali kalian menunjukkan dimana markas kalian!"
"Bermimpi saja kau bocah!"
Wuuussh...
Sebelum pasukan yang lebih dari lima lusin itu bergerak, Suro telah mendahului mereka. Dia hendak mencoba racun pelumpuh tulang yang dia buat sebelumnya.
Dalam satu kebutan tangan racun itu telah dihirup oleh mereka, sebelum mereka sempat menyadarinya.
Racun itu bereaksi dengan sangat cepat. Mereka semua langsung jatuh terjungkal saat mereka sedang berlari menuju ke arah Suro.
Kedua kaki dan tangan yang sedang memegang senjata, mendadak lemas tidak mampu bergerak lebih jauh.
Suro lalu mulai mencecar pertanyaan yang sama, yaitu menanyakan keberadaan markas Mawar Merah.
Tetapi tidak satupun dari mereka mau membuka mulut menjawab pertanyaan Suro.
"Kalian memang orang-orang yang memiliki kepala yang keras dan hati yang keji, aku akan membuat kalian membuka mulut dengan caraku.
"Apa yang akan kau lakukan bocah? Kami adalah pembunuh terlatih yang tidak akan takut mati!"
"Aku tidak akan membunuh kalian, tetapi aku akan memotong pusaka milik kalian satu-satunya itu. Dan akan aku buat hidup kalian lebih menakutkan dibandingkan mati!"
"Jangan tuan pendekar..ampuni kami..kami hanya disuruh.."
Satu lelaki didepan Suro yang hendak didekati sudah menangis ketakutan mendengar ancamannya barusan.
"Kami tidak mengetahui dimana markas besar dari Mawar Merah, satu-satunya orang yang mengetahui telah tuan pendekar potong kedua tangan dan kakinya. Sepertinya sekarang juga di sudah tidak hidup."
"Begitu, ternyata," Suro hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya, karena telah salah langkah untuk dapat menemukan markas Mawar Merah.
"Ampuni kami tuan pendekar.."
"Jika kalian tidak mampu menunjukkan markas Mawar Merah, maka urusanku dengan kalian juga selesai."
"Maksud tuan pendekar kami dilepaskan?" Salah satu dari pasukan pembunuh itu berteriak kegirangan mendengar ucapan Suro barusan.
"Aku akan melepaskan kalian, tetapi para penduduk yang telah kalian sakiti, aku tidak menghalangi mereka membalaskan tindakan keji yang barusan kalian lakukan.
Suro bergerak cepat menolong para penduduk yang sudah dikumpulkan kelompok Mawar Merah. Dia mulai memotong tali yang mengikat tangan dan kaki mereka.
"Terima kasih tuan pendekar, karena telah menolong kami semuanya. Sebelumnya aku mendengar tuan pendekar bertanya kepada para pembunuh berdarah dingin itu tentang markas besar mereka?"
"Benar paman..," Suro menjawab sambil membuka tali yang mengikat tali orang tua yang bertanya kepadanya barusan.
"Tetapi jika saya menjawab apakah kami diperbolehkan membunuh mereka?"
"Tanpa paman perlu menjelaskan dimana markas Mawar Merah sekalipun, saya tidak akan menghalangi jika paman ingin menghabisi orang-orang biadap itu,"
Lelaki tua itu menganggukan kepala, dia lalu tanpa diminta bercerita kepada Suro tentang nasib anak, istri dan cucunya yang berakhir tragis karena kebiadaban orang-orang yang telah berhasil dilumpuhkan Suro.
Dia lalu menunjukkan kepada Suro tempat yang dicari. Kebetulan lelaki tua itu adalah seorang pemburu hewan, sehingga secara tidak sengaja pernah melihat keberadaan markas Mawar Merah.
"Sekarang mereka milik paman, terima kasih paman telah memberitahukan hal ini kepada saya. Saran saya jangan ada satupun yang dibiarkan hidup. Sebab mereka akan memburu sisa penduduk ini."
"Selain itu paman dan seluruh penduduk sebaiknya secepatnya meninggalkan pemukiman kalian setelah menyelesaikan urusan kalian dengan mereka. Aku takut pasukan yang lain akan kembali menyambangi tempat ini."
Suro sebelum meninggalkan tempat itu sempat memberikan satu kantong emas kepada lelaki tua itu untuk dibagi kepada seluruh penduduk. Dia kemudian menghilang dari pandangan mata mereka semua.