
'Raksasa itu akhirnya mati hanya oleh seorang anak kecil. Hasil yang sangat mengejutkan. Kekuatan bocah itu bagaimana bisa sekuat itu? Gawat jika seperti ini jadinya.
Seharusnya tadi aku menyerang bersama Kenjiro. Dasar raksasa sialan, aku justru dilarang mendekati pertarungannya. Padahal, jika tadi aku ikut membantunya kemungkinan ada kesempatan untuk membunuhnya.
Upah untuk pekerjaan kotor ini tidak sepadan, jika lawan yang harus aku hadapi sekuat ini.' Lelaki yang terus mengambang diatas ketinggian itu hanya menatap dari jauh pertarungan antara Suro dan Kenjiro yang akhirnya berakhir.
"Ilmu yang digunakan pemuda itu, mirip jurus lipat bumi. Tetapi justru lebih cepat. Dari mana dia memiliknya? Bukankah itu hanya dimiliki oleh kelompok Elang Langit.
Selain itu aku yakin pemuda itu bukan berasal dari Negeri Atap Langit. Aku semakin penasaran dengan latar belakangnya. Siapa sebenarnya pemuda ini?"
Sejak kedatangannya, lelaki itu terus berada diatas udara. Pada awal kemunculannya dia juga tidak luput dari serangan pedang Suro. Tetapi dia mampu lolos dari serangan itu.
Kemudian dia berpindah ke tempat yang cukup jauh diketinggian. Setelah itu dia hanya diam dan mengamati semuanya tanpa bertindak apapun.
"Subutai sialan! Akan menunggu berapa lama lagi kau tetap diketinggian itu?" Salah satu pasukan yang memakai jubah panjang dan topeng serigala, berteriak ke arah lelaki itu.
"Apa kau baru akan bergerak setelah kami semua dibantai oleh manusia rendahan ini?" Kembali seseorang yang berasal dari pasukan Elang Langit itu berteriak.
Sebenarnya lelaki itu sudah dipuncak kekuatan tingkat shakti. Namun saat menyaksikan kekuatan yang ditunjukkan Suro, dia terpaksa harus berpikir panjang untuk berhadapan langsung. Terlihat lelaki itu mulai dilanda kepanikan, hanya saja dia mencoba menutupinya.
Wajah Subutai berubah masygul, setelah namanya diteriakkan oleh lelaki itu. Sebab itu artinya dia harus menghadapi pemuda yang telah menghabisi Kenjiro.
Ada sesuatu yang unik mengenai Subutai. Sebab penampilan lelaki itu begitu berbeda dengan yang lain. Tentu saja selain kekuatan tingkat langit miliknya.
Jika pasukan Elang Langit, seperti Kenjuro dan Hideyoshi menggunakan jubah hitam besar dan sebuah topeng serigala. Maka Pakaian yang digunakan Subutai itu berupa kulit hewan berbulu tebal seperti kulit Yak. Binatang mirip lembu yang hidup di daerah pengunungan tinggi Himavat.
"Subutai, kau sekarang bagian pasukan Elang Langit! Bukan lagi dari bagian pasukan Khan Langit! Nyawamu adalah milik Yang mulia Karuru. Kau harus ingat itu!"
"Tcih, kalian tidak usah mengkotbahiku dengan ucapan tidak berguna! Kalian pikir aku berdiam diatas ini karena takut kehilangan nyawa? Aku juga paham, jika kini menjadi bagian pasukan Elang Langit."
Lelaki bernama Subutai itu lalu lenyap dan muncul di samping lelaki yang meneriakinya.
Setelah Suro berhasil menghabisi Kenjiro, maka pasukan Elang Langit itu tidak lagi menyerangnya. Meskipun begitu mereka tetap dalam kondisi siap dan mengepung dari empat penjuru arah mata angin.
Tetapi kesempatan itu justru digunakan Suro untuk berusaha menenangkan bayi yang ada dalam dekapannya yang tidak juga berhenti menangis.
"Kenjiro bodoh itu saja yang tidak bisa menggunakan isi kepalanya, seperti juga dirimu Ichiro. Seharusnya kalian secepatnya meninggalkan pemuda itu selagi bisa.
Apa dirimu tidak melihat dari seluruh pasukan yang kita bawa, kini tinggal mereka bertiga?" Subutai menunjuk tiga orang lainnya kepada lelaki yang berada disebelahnya.
"Kepalamu sudah bisa digunakan berhitung belum, Ichiro? Lihat hanya sisa mereka bertiga yang berhasil kabur bersama kita. Selain mereka itu, aku yakin yang lain telah mati di dalam kota Shanxi.
Sebab sebelum Hideyoshi memberikan tanda untuk membantunya, aku masih bertarung didalam kota menghadapi para pendekar yang berhasil menggagalkan serangan kita malam ini! Mereka juga seperti pemuda ini, bukan berasal dari Negeri Atap Langit!
"Seharusnya kau juga mengetahuinya, jika lawan kita bukan hanya pemuda ini dan para penjaga kota!" Nada bicara Subutai semakin meninggi.
Sebelum Subutai melanjutkan ucapannya, suara lain menyahuti ucapannya barusan dengan nada begitu kesal.
"Kalian berisik sekali, lihat bayi ini kembali menangis!" Suro mendengus kesal melihat bayi yang sudah susah payah dia tenangkan, kini justru kembali menangis. Karena suara Subutai yang menyentak.
Bahasa yang digunakan Subutai tidaklah sama dengan bahasa yang digunakan bangsa Han. Karena memang itu bahasa masyarakat yang tinggal didekat gurun Gobi. Karena itu Suro tidak memahami yang diteriakkan Subutai
Subutai memicingkan mata mendengar makian Suro yang menggunakan bangsa Han.
"Sebenarnya kau berasal dari mana bocah?"
Subutai kali ini mulai menggaruk-garuk kepalanya. Dia merasa kepala musuhnya itu ada yang salah. Setiap ucapan dan tingkahnya itu tidak seperti orang waras.
Apalagi sepanjang pertarungannya dengan Kenjiro, pemuda itu terus saja tertawa. Padahal bagi dia tidak ada yang lucu sama sekali. Karena itulah dia begitu yakin ada yang salah dengan isi kepala lawan yang akan dia hadapi itu.
Tetapi melihat hasil pertarungannya dengan Kenjiro barusan, dia terpaksa mewaspadai musuhnya itu. Dia merasa kelakuan pemuda itu bisa jadi hanyalah bagian dari tipu daya belaka.
Apalagi melihat pengerahan kekuatan yang dimiliki Suro membuat Subutai tidak berani gegabah. Sebab baru pertama kali ini ada yang sanggup mematahkan jurus lipat bumi dan tehnik penukar tubuh yang menjadi andalan mereka.
Selain itu jurus-jurus yang digunakan cukup membuat dirinya terbelalak, baik tehnik perubahan api hingga tahap hitam, dan juga pedang terbang yang baru pertama kali dia lihat itu, tentu saja itu membuat rasa penasarannya begitu besar.
"Apa yang kalian tunggu? Serang dia!"
Demi memastikan kekuatan Suro, lelaki bernama Subutai itu memerintahakan Ichiro dan yang lainnya untuk menyerang Suro. Meskipun dengan berat hati, akhirnya Ichiro melaksanakan ucapan Subutai.
Mereka terus berusaha menyerang Suro dari berbagai sisi dengan pisau terbang.
"Serangan yang sama tidak akan berhasil melukaiku, seharusnya kalian mengetahui hal itu!"
Suro sejak tadi menahan mereka hanya dengan menggunakan satu tangan dan satu tangan lainnya digunakan untuk mendekap bayi.
Para lawannya merasa kondisi Suro yang begitu kerepotan adalah waktu yang tepat untuk menghabisinya. Namun sejak tadi pemuda itu justru tetap dapat menahan serangan mereka. Kali ini Suro menggunakan lebih dari dua puluh bilah pedang yang terbang seliweran untuk menangkis semua pisau terbang yang menerjang ke arahnya.
Beberapa diantaranya, justru berhasil menyerang balik ke arah lawannya. Hanya saja tubuh lawannya itu dapat
Meloloskan diri dan menggantikan tubuhnya dengan potongan kayu.
"Kalian sedari tadi hanya menggunakan jurus itu saja! Karena kalian yang meminta akan aku perlihatkan jurus pedangku yang lebih kuat dari pada sebelumnya!"
Seperti ucapan Suro barusan, lawannya segera melihat perubahan jurus pedang terbang yang menerjang ke arah mereka. Kecepatan lesatan pedang itu sudah pada kondisi susah untuk ditangkap mata.
Melihat serangan lawan seperti itu, akhirnya Subutai turun tangan. Apalagi salah satu pasukan yang mengepung akhirnya tewas dengan kondisi jantungnya tertembus pedang milik Suro.
Suro melakukan itu sebelum musuhnya sempat membuat mudra. Sebab sekejap setelah tubuh musuhnya menghilang dan muncul ditempat lain, maka Suro langsung menghujaninya dengan bilah pedang terbang miliknya.
Dengan pengalaman pertarungannya sebelumnya, Suro menemukan celah untuk mengatasi jurus mereka. Apalagi seorang Kenjiro yang sudah mencapai tingkat langit saja berhasil dia habisi, tentu saja untuk menghabisi lawan yang masih ditingkat shakti lapis pertengahan lebih mudah baginya.
"Ichiro! Cepat panggil Hulagu si Mata iblis! Aku akan menahan pemuda ini bersama mereka berdua!"
Subutai lalu melesat sambil mencabut golok besar miliknya. Selain itu dia juga meraih dari balik bajunya sesuatu benda dan dilemparkan ke arah Suro secara berturut-turut.
Buuum! Buuum! Buuum!
Ledakan berturut-turut itu segera dihindari oleh Suro. Sebab selain ledakan itu, asap yang menyebar dengan pekat setelah ledakan cukup membahayakan bagi bayi yang ada dalam dekapannya.
Dia juga mencurigai, jika asap hasil ledakan itu beracun. Karena itu, demi mencegah hal buruk yang dapat membahayakan bayi yang masih juga menangis itu, Suro lebih memilih terus menghindar.
Tetapi Subutai merasa telah berhasil menggertak lawannya. Dia terus melemparkan bom-bom itu dengan jumlah lebih banyak. Apalagi dia memang sengaja melakukan itu untuk menutupi jejak Ichiro yang telah menghilang untuk meminta bantuan.
'Menyebalkan sekali, serangan kalian ini telah membuat adik kecilku ini terganggu!" Serangan Subutai membuat Suro murka.
Kali ini dia tidak lagi menahan jurus pedangnya, pedang yang menerjang ke arah lawan kini dua kali lipat lebih banyak dibandingkan sebelumnya.