
Ditengah podium sang Dewa Rencong berdiri diantara dua peserta yang masih menunggu untuk persiapan pertarungan sesi pertama. Mereka berdua Jaladara melawan seorang murid utama dari perguruan pusat.
Dia adalah murid Wakil Ketua perguruan Eyang Udan Asrep yang bernama Widura. Satu-satunya murid utama dari perguruan pusat yang lolos menuju tahap kedua ini.
Suro meskipun terdaftar sebagai murid Dewa Pedang, tetapi dia bukanlah murid utama perguruan pusat. Sehingga secara kebetulan dan tidak direncanakan perwakilan dari perguruan pusat yang mampu lolos ketahap ini adalah murid dari ketua dan wakil ketua perguruan.
Sejak awal memang Widura ini digadang-gadang akan menjadi calon tetua terkuat. Hal itu dikarenakan dia memiliki kelebihan dibandingkan murid yang lain sebuah kemampuan yang diatas rata-rata.
Bahkan nama dia sebagai murid utama memang paling populer diantara semua murid yang lain di perguruan pusat.
Selain nama Widura, nama Jaladara juga terdengar diteriakkan oleh para penonton.
Tentu saja yang meneriakkan adalah kaum perempuan. Ketampanan Jaladara memang selalu menjadi pusat perhatian para kaum hawa. Situasi begitu ramai bahkan sebelum pertarungan dimulai.
Suro datang terlambat karena sesuatu urusan. Saat itu dia merasakan perlaukan yang berbeda dari para peserta kepadanya.
Mereka ini terlihat begitu ramah kepadanya. Suro tidak memahami mereka sedang pamer deretan gigi mereka atau memang sedang tersenyum. Deretan gigi seakan memenuhi wajah mereka semua.
Dia sebenarnya sedikit ganjil dengan perubahan sikap para peserta. Bahkan Rithisak yang biasanya angkuh kepadanya, kini terlihat begitu ramah.
Sikap sebelumnya seperti anjing gila, kini seperti anjing yang berharap mendapatkan tulang darinya. Bedanya hanya lidah saja yang tidak keluar. Giginya yang sebagian besar berwarna merah karena sering mengunyah kapur sirih tidak lupa selalu dia pamerkan.
"Bagaimana kabarnya senior Rithisak? Dua hari tidak melihat, apakah kepalanya habis kebentur pintu, aku rasa ada yang salah?" Suro berhenti didepan Rithisak yang bertingkah ganjil dimatanya.
"Bisa saja kisanak bercanda," Rithisak mulai berkeringat dingin dan berbicara dengan terbata-bata.
Tidak ada lagi tatapan mata yang sedikit lagi mampu melontarkan biji matanya keluar. Tak ada lagi seringai ancaman yang menghiasi wajahnya. Suro semakin merasa ganjil dengan sikap yang diperlihatkan Rithisak.
Semakin bertanya kepada dirinya Rithisak semakin menggigil. Keringat dingin semakin banyak keluar. Tak lagi ada jawaban yang keluar dari mulutnya. Anggukan dan gelengan kepala yang mampu dia lakukan, sebab bibirnya tidak juga mau berhenti bergetar.
"Apakah senior baik-baik saja? Kebetulan Suro sedikit banyak tau tentang ilmu pengobatan. Kalau tidak keberatan Suro akan memeriksa kondisi senior. Mungkin ada luka dalam yang tidak terdeteksi akibat pertarungan sebelumnya senior!" Suro berbicara sambil mencoba memeriksa urat nadi Rithisak.
"Ti..tidak saya baik-baik saja. Silahkan kisanak duduk tak perlu merisaukan saya. Benar saya dalam kondisi baik-baik saja." Buru-buru Rithisak memundurkan tubuhnya mencoba menolak niat baik Suro. Wajahnya semakin terlihat pucat. Entah ketakutan apa yang menyebabkan dirinya bertingkah begitu aneh.
Tanpa diketahui oleh Suro, perubahan sikap Rithisak dan peserta yang lain, adalah kejadian dua hari sebelumnya.
Ucapan Suro yang mengenal baik Ketua Perguruan mereka memang terbukti. Bahkan dia juga mengenal baik Baginda Sri Maharaja Wasumurti.
Mereka mencoba meraba latar beakang pemuda belia itu, tetapi apapun itu, mereka menyadari pemuda belia itu memiliki latar belakang yang tidak biasa.
Karena itu mereka tidak ingin berurusan ataupun hendak menyinggungnya. Sebab dengan memiliki hubungan dengan orang-orang besar itu akan sangat membahayakan mereka jika berani menyinggungnya.
"Baiklah jika memang benar kondisi senior tidak ada masalah." Suro kemudian berjalan ke arah belakang.
Saat berjalan ke arah belakang mendadak Suro berbalik arah kembali kedepan Rithisak. Hal itu membuat Rithisak terkejut sampai melompat dari kursinya seperti melihat penampakan bangsa lelembut.
"Aku tidak yakin senior dalam kondisi baik-baik saja. Aura dari wajah senior terlihat pucat seperti mau pingsan."
"Tentu saja saya baik-baik saja yakinlah kisanak. Ini hanya karena kurang istirahat saja. Tidak perlu kisanak merisaukannya. Ini mungkin akibat dari terlalu memaksakan diri untuk terus berlatih."
Rithisak menjawab pertanyaan Suro sekenanya berharap dia segera menjauh. Dia menjawab dengan tetap memasang senyum selebar mungkin. Rithisak juga merasa curiga karena sikap Suro terasa aneh.
Bagaimana tidak, sebelumnya dia mengintimidasi dirinya dengan sedemikian buruk. Jika sekarang dia justru bersikap perhatian tentu sesuatu hal yang perlu dicurigai.
"Ow..kalau itu mudah senior. Ini, minumlah obat. Ini akan membuat kondisi senior pasti cepat pulih kembali." Suro sembari berbicara sibuk mengeluarkan satu pil dari bungkusan dibalik bajunya yang dia masukan dalam wadah kecil.
Rithisak yang tak mampu menolak tawaran itu hanya bisa pasrah jika yang diberikan adalah racun. Dia segera menelan pil itu.
Sesaat setelah Suro kembali memintanya untuk segera menelan pil itu. Tetapi sesuatu sensasi hangat ditubuhnya menyadarkan dirinya, jika Pill itu bukan racun tetapi justru kebalikannya.
Demi merasakan rasa hangat yang menjalar ke dalam seluruh tubuhnya, dia segera bersemadhi menghimpun energi untuk membantu menyerap khasiat obat itu. Dia merasakan peredaran darah dan chakra ditubuhnya kini bersirkulasi dengan begitu lancar.
Setelah itu dia merasakan manfaat lain dari obat itu. Tubuhnya terasa nyaman, ringan dan bertenaga. Dia hampir tidak mempercayai hal itu. Tidak mempercayai bahwa orang yang ada didepannya telah membalas sikap buruknya dengan kebaikan.
Rithisak Somnang termangu menatap Suro setelah selesai bersemadhi. Dia tidak bisa memahami atas kebaikan yang dilakukan kepadanya barusan. Padahal sebelumnya dia sudah bersikap begitu buruk padanya.
"Terimakasih kisanak ternyata obat yang kisanak berikan benar-benar membuat tubuhku seakan tak lagi merasakan sakit dan kecapean akibat latihan yang kemarin aku lakukan. Bahkan sensasi perasaan ini mengingatkanku pada kondisi paling prima. Kondisi sebelum tenagaku hampir habis dalam pertarungan sebelumnya."
Kali ini Rithisak menjura dengan tulus. Apa yang Suro lakukan barusan telah membuka mata hatinya. Kini dia dibuat kagum dengan pribadi Suro.
"Hahaha..! Tidak perlu senior bersikap seperti itu. Senior terlalu berlebihan. Obat seperti ini banyak aku buat. Bahkan aku memiliki cadangan yang banyak. Kalau perlu senior akan aku berikan yang lebih banyak. Anggab saja sebagai oleh-oleh sebelum senior balik ke perguruan cabang!"
"Benarkah?" Rithisak terlihat begitu terkejut dengan perkataan Suro. Para peserta lain yang melihat reaksi Rithisak dan mendengar pernyataannya membuat mereka ikut penasaran dengan khasiat obat yang telah diberikan.
"Tentu saja. Tetapi sayang aku tidak membawa cukup banyak. Mungkin setelah seleksi ini selesai akan aku berikan kepada senior." Rithisak masih tidak mempercayai dengan apa yang dia dengar. Dia masih merasa aneh dengan sifat Suro yang begitu baik padanya. Hal itu membuat dia menjadi bertambah kagum.
"Apakah para senior juga berminat? Aku jamin dengan obat ini akan membuat para senior bisa lebih bersemangat melakukan pertarungan nanti?" Suro menatap para peserta lain yang mensiratkan keinginan untuk mencobanya juga.
"Tentu saja kami mau!" Hampir bersamaan mereka menjawab dan segera mengrubungi Suro.
"Biar adil akan aku bagikan satu persatu."
Mahadewi juga ikut diantara mereka menghampiri Suro dengan malu-malu. Tetapi hasratnya untuk memenangkan pertarungan yang harus dia lalui menepis perasaan itu.
Mereka semua agak merasa aneh dengan sikap Suro membagi-bagikan obat kepada lawannya. Karena dengan begitu justru telah membuat kerugian pada dirinya sendiri. Kini mereka semua telah merasakan khasiat obat itu. Mereka semua tersenyum puas karena merasakan kondisi paling prima.
"Terimakasih kisanak berkat kisanak telah membuat kami kembali pada kondisi terbaik." Suro tersenyum lebar mendengar para peserta puas dengan obat yang dia berikan.
"Tentu saja! Resep obat ini berasal dari tabib yang paling hebat."
Mereka semua tersenyum puas dan berterima kasih banyak kepada Suro. Tetapi dalam hati mereka menyebut itu sebagai sebuah tindakan yang paling bodoh karena telah menguntungkan lawannya.
Hanya Mahadewi yang sedikit memahami apa yang dilakukan Suro. Karena dia juga mengalami kebaikan yang dilakukan Suro. Dia tidak peduli sama sekali jika orang yang dia tolong akan mencelakainya. Entah karena terlalu percaya diri dengan kemampuannya. Atau memang dia sebenarnya terlalu bodoh.
"Apakah adinda sudah tidak merasakan sesuatu yang aneh disekitar luka pada bagian punggung?" Suro setelah selesai memberikan obatnya dia memilih duduk disamping Mahadewi yang memang kosong.
"Terima kasih kakang berkat pertolongan kakang sudah tidak ada hal ganjil yang saya rasakan."
"Ada rasa kebas atau kesemutan disekitar luka memar dipunggung adinda?"
"Tidak kakang!"
"Baguslah kalau begitu." Suro menatap Mahadewi yang selesai menyerap khasiat obat kembali tertunduk malu padanya. Segera dia mengalihkan pandangannya ke tengah arena.
Dia mencari sosok tetua La Patiganna ditengah arena. Tetapi dia tidak menemukan sosok yang dia cari. Dia menemukan sosok lain diantara Jaladara dan Widura murid utama dari perguruan pusat yang lolos.
"Siapa sosok itu yang mengantikan posisi tetua La Patiganna?" Suro bertanya kepada Mahadewi yang juga sedang memperhatikan arena pertarungan.
"Tetua itu memiliki julukan Dewa Rencong."
"Dewa Rencong? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu? "
"Tentu saja semua anggota perguruan pernah mendengar namanya yang tersohor itu. Bahkan adinda yang berada di perguruan cabang mendengarnya.
Guru dari tetua ini konon memiliki hubungan yang erat dengan seorang pendekar nomor wahid dikolong langit Benua Timur ini. Bagaimana kakang bisa tidak ingat dengan namanya?"
Suro hanya bisa mengaruk-ngaruk kepala bagian belakangnya sambil membuat ekspresi tidak bersalah. Dia masih mencoba mengingat-ingat tetapi sepertinya hanya samar-samar pernah disebutkan namanya oleh Eyang Sindurogo.
Setelah melalui seleksi tahap pertama kini para peserta yang lolos hanya menyisahkan dua belas peserta saja. Mereka yang lolos antara lain Azura, Bayu aji, Rithisak Somnang, Suro, Mahesa, Jaladara.
Selain itu ada murid utama yang berasal dari negeri seberang. Suatu negeri yang berada di swarnabumi. Dengan kemampuan hebatnya dia mampu lolos sampai tahap sekarang. Murid utama tersebut memiliki panggilan yang agak panjang mungkin sebuah gelar bangsawan. Dia dipanggil dengan nama Datuk Bandaro Putih.
Dua murid utama dari perwakilan perguruan cabang yang berada diwilayah Kerajaan Malaka juga mampu melalui tahap pertama. Dan yang terakhir Widura yang sebentar lagi akan bertarung . Dia merupakan Perwakilan dari perguruan pusat.
Setelah Dewa Rencong membuat gerakan dimulainya pertarungan segera Jaladara mengebrak dengan serangan dahsyat kepada Widura.
"Gelombang Pedang Mengulung Gunung!"
Serangan Jaladara yang begitu cepat mengempur musuhnya seakan ombak laut selatan yang sedang pasang. Menerjang ke arah Widura dengan begitu hebatnya.
"Camar menyambar menembus ombak"
Untuk menembus serangan lawan Widura membuat gerakan yang sangat indah. Tubuhnya dilemparkan sedemikian rupa melewati tubuh Jaladara sambil membuat serangan yang menyusup diantara tarian pedang Jaladara yang bergerak dengan rapat.
Pedang milik Widura sepanjang satu depa menyerang ke arah Jaladara. Sebuah serangan balasan yang begitu unik tak terpikirkan bisa dilakukan.
Kecepatan serangan Widura memang sangat mengagumkan, tetapi Jaladara masih mampu menghindarinya.
Mereka terus bertukar serangan untuk menjajal kekuatan lawan dan berusaha membaca pola serangannya.
Jaladara segera menjatukan tubuhnya sambil berguling. Sebab pedang Widura hampir saja mengenai tempurung kepalanya.
Pertarungan mereka begitu seru membuat arena penonton begitu riuh mendukung para kandidat.
Semua serangan Jaladara dengan kemampuan yang diatas rata-rata banyak dipatahkan Widura. Trik yang Widura lakukan kadang ada yang begitu sederhana bahkan ada yang begitu rumit.
Pelatihan bersama dengan wakil tetua perguruan benar-benar membuat kemampuannya tidak bisa dipandang rendah.
Pertarungan yang begitu sengit jika diperhatikan sejak awal sebenarnya sudah terlihat berat sebelah. Akhirnya setelah melewati pertarungan dalam tiga puluh lima jurus, ujung pedang Widura bertengger pada kerongkongan Jaladara.
Tetua Dewa Rencong yang kali ini menjadi wasit segera menghentikan pertarungan. Dan mengumumkan kemenangan pada Widura.
Widura tersenyum puas dengan hasil pertarungan yang dia lewati. Berbeda sekali dengan sikap Jaladara yang terlihat beberapakali mengeleng-gelengkan kepala tidak menyangka lawan yang dia hadapi begitu tangguh.
"Tidak perlu kecewa kisanak. Kemampuan kisanak sudah luar biasa. Cukup kisanak tau, biasanya hanya perlu waktu beberapa seruputan teh saja untuk mengalahkan lawanku." Widura menepuk-nepuk telapak tangannya kepundak Jaladara.
***
Kepada para reader ditunggu like comment dan bantuan poin nya
terimakasih yang sudah merelakan pundi poinnya untuk mendukung novel SURO BLEDEK dengan mem"vote" novel ini.