
"Bocah kita harus menghancurkan gerbang gaib, agar para makhluk kegelapan itu tidak dapat terus bermunculan!" Dewa Rencong berteriak ke arah Suro.
Dia sedikit panik sebab sudah berkali-kali jurus rencong andalannya dikerahkan tetap tidak mampu membuat para makhluk kegelapan itu berhenti bermunculan.
"Bukankah mereka bagus untuk dijadikan latihan. Sekaligus menjajal kekuatan paman yang baru?" Suro mendekat ke arah Dewa Rencong yang terlihat sedikit kepayahan. Sebab tenaga dalamnya sudah banyak terpakai untuk digunakan membuat serangan yang terus menerus seakan tanpa jeda.
"Ini bukan waktunya bercanda bocah!"
"Seingat Suro bukankah paman aku berikan pill tujuh bidadari yang mampu mengembalikan tenaga dalam paman?"
"Bocah gila, aku tidak mau menggunakannya. Menurut perkataan Dewi Anggini harga persatuannya setara dengan seratus koin emas! Aku tidak mau menyia-nyiakan pill itu hanya untuk makhluk seperti ini. Tenaga dalamku masih cukup untuk menghabisi mereka semua, meski seratus kali lebih banyak dari sebelumnya!"
Suro terkekeh mendengar jawaban Dewa Rencong, pandangan matanya masih lurus kedepan menatap Naga Taksaka yang terus bergerak cepat mencoba menahan para makhluk kegelapan yang terus berdatangan.
Suara lengkingan dari manusia kelelawar kembali terdengar. Sesaat kemudian pasukan para naga dari gerbang gaib melontarkan api yang membuat puncak bukit itu merah membara.
'Lodra kendalikan api Naga Taksaka aku akan mengejar manusia kelelawar yang terbang ke langit itu. Aku yakin dia yang baru saja memberikan perintah para naga ini terus berdatangan.' Ketika Suro hendak melesat terbang suara lain segera dia dengar bukan Lodra yang menjawab ucapan dalam hatinya itu, tetapi justru Geho sama.
'Untuk apa kau belajar kekuatan jiwa dan sihirku bocah. Biarkan pecahan dirimu yang mengendalikan jiwa api itu.'
Mendengar perkataan Geho sama barusan, membuat Suro teringat pada latihan jiwa yang telah dia lakukan beberapa hari sebelumnya.
"Sedulurku dari selatan Purbangkara aku meminta pertolonganmu." Sesaat setelah Suro mengucapkan kalimat barusan, sesosok muncul dari samping Suro seperti datang dari arah selatan. Wujudnya mirip dengan Suro hanya saja kulitnya dan juga wajahnya terlihat kemerahan. Mungkin mendekati seperti udang yang direbus warna kulitnya.
Dewa Rencong yang melihat Suro berubah menjadi dua segera dia menyadari jika ilmu yang dikerahkan bukan hanya berdasarkan ilmu sihir dari Geho sama. Karena ada perubahan bentuk yang segera dia sadari adalah bentuk sedulur papat.
Dia hanya menggeleng-gelengkan kepala dengan kemampuan Suro yang begitu cepat menyerap ilmu yang dia wedar beberapa hari sebelumnya.
"Saudaraku Purbangkara hancurkan para pasukan kegelapan yang terus berdatangan aku akan mengejar manusia kelelawar." Suro segera melesat cepat ke atas mengejar makhluk yang terbang menembus ke atas awan.
Melihat Suro melesat keatas, kali ini Dewa Rencong tidak tinggal diam. Dia tidak hanya menatap lesatan tubuh Suro yang asli dengan pandangan matanya saja, dia juga ikut melesat ke atas. Dia yakin kekuatan para tetua dari pusat yang berjumlah tujuh orang dan ditambah tetua cabang sudah cukup membantu pecahan tubuh Suro. Apalagi adanya Naga Taksaka yang berkobar dengan ganas, dia yakin mereka akan mampu menghabisi semua makhluk yang terus berdatangan.
"Apa yang sedang dia pikirkan bocah gemblung itu?" Dia melesat dengan kekuatan penuh agar bisa mengejar Suro.
Sesaat setelah menembus awan tebal sebuah pemandangan terpampang dihadapan Dewa Rencong seperti yang pernah diceritakan Suro. Sesuatu benda besar terlihat begitu megah melayang di udara.
"Edan! Apa ini yang pernah diceritakan bocah gemblung itu? Wahana terbang sebesar ini bagaimana bisa melayang di atas udara?"
Di atas awan Dewa Rencong terkejut saat menyaksikan sebuah penampakan yang sangat besar. Penampakan itu membuat dirinya benar-benar terkagum-kagum. Sebuah wahana terbang atau wilmana telah terpampang didepan matanya. Manusia kelelawar yang mereka kejar terus melesat ke arah wilmana. Dibelakangnya Suro bergerak cepat terus membuntutinya.
"Makhluk apa yang sebenarnya yang menguasai benda sebesar itu?" Dewa Rencong terus mempercepat lesatan tubuhnya agar tidak tertinggal jauh dari Suro.
Setelah beberapa saat dirinya berhasil mengejar ketertinggalannya.
"Bocah gendeng Kenapa tidak mengatakan sesuatu jika kamu sedari tadi melihat benda ini diatas awan?"
"Paman Maung? Aku juga tidak menyangka ada wahana terbang ini. Niat awalku adalah mengejar manusia kelelawar yang memiliki ukuran paling besar. Beberapa kali dia mengeluarkan lengkingan keras, seperti memberi perintah kepada para naga untuk terus berdatangan. Aku yakin dia yang memberikan perintah kepada makhluk kegelapan lainnya. Makanya saat dia melesat ke atas aku berniat menghabisinya. Tetapi ternyata makhluk itu hendak kembali kepada tuannya. Aku yakin paman, jika eyang guru yang dirasuki jiwa Dewa kegelapapan ada disana!" Suro menunjuk pagoda diatas wilamana.
Dewa Rencong hanya menganggukan kepala dan kembali mempercepat lesatan tubuhnya untuk mengejar manusia kelelawar yang terbang didepan mereka. Dari kejauhan mereka berdua melihat makhluk yang mereka kejar terus melesat ke arah bangunan seperti pagoda dan masuk kedalamnya.
"Paman aku punya rencana, kita tidak usah mengejar manusia kelelawar!"
"Sebaiknya kita buat saja wilmana milik mereka tidak bisa terbang. Kita lihat akan jadi apa jika benda itu tidak bisa terbang? Kita terbang ke bawah wahana terbang itu. Kita akan menyerap sesuatu yang mirip awan hitam itu! Aku pastikan kekuatan paman juga akan dapat meningkat pesat. Sebab itu bukanlah awan tetapi sebuah kumpulan energi murni, namanya adalah laghima."
Dewa Rencong hanya mengangguk mengikuti kemauan Suro. Mereka kemudian berubah haluan tidak jadi mengejar manusia kelelawar yang dari kejauhan sudah menghilang masuk ke dalam pagoda. Mereka justru menukik ke bawah wilmana, dimana ada sekumpulan asap atau kabut hitam.
"Suro masih mengingat paman, saat aku tanpa sengaja menyerapnya, membuat ilmu meringankan tubuhku meningkat dengan sangat pesat. Itu adalah salah satu alasan mengapa aku dapat menyamai kecepatan paman."
Setelah sampai dibawah wilmana, Suro lalu bersiap menghisap laghima disekitar mereka berdua.
"Mohon maaf paman sebaiknya jaga jarak karena aku akan memulai menyerap laghima dengan kekuatan maksimal."
Mendengar ucapan Suro, maka Dewa Rencong melesat kesamping memberi kesempatan Suro untuk memulai ilmu empat sage miliknya. Benar saja dalam sekejap terjadi pusaran angin disekitar Suro dan menarik seluruh laghima disekitar tubuhnya.
"Apa yang sebenarnya di lakukan bocah ini? Mengapa aku tadi tidak mencegahnya untuk tidak melakukannya? Gawat ini, apa yang terjadi jika dia terlalu banyak menghisap awan hitam ini?" Dewa Rencong menatap disekitar dia yang penuh seperti kabut hitam.
"Apakah ini memang hawa murni? Tubuhku terasa ringan disekitar awan ini. Bukankah bocah tadi mengatakan ini akan memperkuat diriku? Ah, tidak ada salahnya aku juga ikut menyerap awan hitam ini!" Dewa Rencong kemudian segera memulai menyerap laghima disekitar tempatnya melayang.
Dia menyerap dengan tehnik pranamaya atau tehnik pernafasan. Setiap kali dia menghirup udara dengan cepat, dia langsung merasakan tubuhnya semakin terasa ringan dan kekuatannya juga terasa meningkat drastis. Merasakan hal itu Dewa Rencong semakin semangat untuk menyerap laghima sebanyak mungkin dan secepat yang dia mampu.
Awan hitam disekitar Dewa Rencong mulai berputar cepat mengikuti arus perputaran chakra dalam tubuh pendekar tingkat langit yang bersirkulasi dengan begitu lancar. Sehingga laghima semakin deras ikut terhisap dalam tubuhnya.
Semuanya berlangsung sangat cepat tanpa mereka berdua sadari laghima di sisi utara dari wilmana itu hampir habis mereka serap.
Krrrraakkkk! Kraaaakkkkk!
Bersamaan dengan suara yang berbunyi keras seperti kapal yang mau pecah sebuah suara teriakan terdengar keras.
"Kurang ajar bagaimana kalian mengetahui rahasia tentang laghima?"
Suara teriakan keras barusan membuat mereka berdua segera menyelesaikan kegiatannya.
"Aku tidak mengira akan bertemu kembali dengamu bocah!"
"Sepertinya aku waktu itu terlalu menyepelekanmu! Kau sepertinya akan menjadi duri atas rencana besarku! Jika aku tidak mampu membunuhmu sekarang, maka aku tidak akan pantas menyandang nama Hyang Antaga!"
'Hati-hati bocah, kekuatan yang baru saja berteriak keras itu sangatlah kuat. Aku sudah mengenalnya sejak lama. Dia adalah salah satu abdi setia Dewa Kegelapan.' Geho sama mencoba menjelaskan tentang Hyang Antaga kepada Suro.
'Aku pernah bertemu dia di wilmana ini sebelumnya.' Suro menjawab singkat perkataan Gagak setan.
'Apa? Benarkah? Bagaimana caranya kau tetapi hidup, setelah bertemu dengan dirinya?'
"Hati-hati Hyang Antaga memiliki ajian yang hampir mirip dengan ajian Puter Giling. Tetapi ini sesuatu yang berbeda, walau terlihat sedikit mirip. Sebab bukan hanya melenyapkan dan menghisap apapun yang berada didekat pusaran ruang waktu yang dia buat, namun semua hal yang masuk kedalamnya akan musnah termasuk seluruh tubuhnya. Nama ajiannya adalah ajian Cungkup Jagat.'
'Cungkup adalah nama untuk atap sebuah kuburan. Jurus itu seakan mampu menelan jagat ini dan menjadikannya sebagai kuburan terakhir bagi siapapun yang berhasil dihisapnya. Jadi sebaiknya kamu berhati-hati.'
'Gunakan ilmu sihir milikku digabung dengan kekuatan jiwa sedulur papat. Seperti yang sebelumnya kamu lakukan. Mungkin saja itu akan mampu menyelamatkan dirimu dari kuatnya ajian yang dia miliki!'
"Paman sebaiknya hati-hati orang yang baru saja menyebutkan namanya itu sangat berbahaya!" Suro segera mengingatkan Dewa Rencong yang hendak melesat mencari asal suara sendirian.
Selepas teriakan Hyang Antaga, mereka berdua yang berada dibawah wilmana segera melesat naik ke bagian atas wahana terbang itu. Karena derak suara keras wilmana yang limbung dan mulai berat sebelah, membuat mereka harus menyelamatkan diri. Jika tidak, maka mereka akan terhantam wahana terbang diatasnya.
Wilmana itu kini terus limbung dan bergerak miring dengan diiringi suara derakan keras.
Mereka berdua yang baru saja muncul di atas wilmana langsung disambut energi tebasan yang sangat kuat. Suro dan Dewa Rencong segera melesat menghindari. Bahkan Dewa Rencong terkejut sendiri dengan kecepatan ilmu meringankan tubuh miliknya. Sebab terasa jauh berbeda daripada sebelum menyerap laghima.
Sumber serangan dari tebasan energi pedang barusan, berasal dari sesosok manusia yang berdiri diatas atap bangunan mirip pagoda. Posisi bangunan itu berada persis ditengah-tengah wilmana, seakan itu adalah menara pengawas. Menara itu satu-satunya bangunan diatas wilmana yang datar.
"Akan aku bumi hanguskan wahana terbang milikmu, akan aku lihat bagaimana caranya dirimu menyelamatkannya dari api hitam milikku!" Suro berbicara ke arah lelaki yang berada dikejauhan dengan melambarkan tenaga dalam miliknya.
"Sebaiknya kita satukan kekuatan kita, aku tidak tahu seberapa kuat musuh yang ada didepan itu! Paman merasa setelah berhasil menghisap laghima, tubuhku terasa penuh dengan tenaga dan terasa ringan! Aku menyerang manusia itu. Seranganku pasti akan sangat dahsyat, kita lihat akan jadi apa manusia itu, jika menyatukan serangan?" Dewa Rencong mulai mengempos tenaga dalamnya hendak memulai serangan.
Suro mengangguk mendengarkan perkataan Dewa Rencong yang berada tidak jauh darinya.
"Kemarahan Hyang Garuda!" Teriakan keras Suro mengawali serangan api hitam miliknya.
Serangan balasan yang dilakukan Suro menyasar ke arah lelaki dipuncak pagoda. Api hitam meledak dari tebasan pedang miliknya yang berkali-kali dia tebaskan dengan menggunakan Jurus sejuta Tebasan pedang. Api hitam yang meledak semakin besar dan menerjang kedepan susul menyusul. Kemudian api hitan itu mulai membentuk sesosok burung raksasa.
"Jurus Rencong Penguasa Nirvana!" Setelah Suro berteriak Dewa Rencong segera menyusul.
Energi kekuatan yang dikerahkan Dewa Rencong seperti membentuk sesosok vajra raksasa. Ternyata sumber kekuatan tenaga dalam Dewa Rencong adalah perubahan unsur petir. Bentuk Vajra yang menerjang ke arah Hyang Antaga diselimuti dengan kilatan petir yang menyambar-nyambar dengan begitu mengerikan.
"Jangan sombong dengan api wisanggeni milikmu bocah! Cukup diriku saja untuk menghadapi kalian berdua!" Dari kejauhan Hyang Antaga terlihat tidak takut, setelah melihat dua lawannya telah menggerahkan jurus terkuatnya.
"Berbahagialah kalian, karena sudah lama aku tidak mengerahkan Ajian Cungkup Jagat milikku!"