SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 139 Batu giok Dewa part 2



'Tuanku jangan khawatir, tubuh tuanku tidak akan berubah menjadi seperti Nagatatmala. Karena untuk membuat tubuhnya menjadi seperti dinding ini membutuhkan waktu ribuan tahun. Tetapi yakinlah dengan menyerap energi ini maka akan mendapatkan manfaat besar untuk memperkuat tubuh tuanku. Terutama dengan kwalitas tulang tuanku.'


Suro sebelumnya sedikit ragu, karena takut jika wujud tubuhnya menjadi seperti Nagatatmala yang tidak bedanya dengan dinding dari ruangan dimana dia sekarang berdiri.


'Tuanku mungkin tidak mengingat, saat dimana sebuah kekuatan yang berasal dari orang, yang tuanku sebut sebagai eyang guru itu menghantam. Tetapi kekuatan yang menghantam itu tidak menciderai tuanku. Meskipun saat itu tubuh tuanku dilindungi oleh kekuatan milikku dan juga Lodra, tetapi sesungguhnya saat itu kwalitas tulang milik tuanku ikut membantu menahan kuatnya serangan lawan.'


'Kwalitas tulang yang tuanku miliki sudah ditempa oleh kekuatan yang berasal dari ruangan ini. Apakah tuanku tidak mengingat, saat tanpa sadar telah menyerap energi didalam ruangan ini dengan begitu banyaknya dalam waktu lebih dari dua purnama?'


"Benar Hyang Kavacha hamba mengingatnya dengan baik. Lebih dari dua purnama Suro terus membaca semua kitab yang ada diruangan ini tanpa makan maupun minum. Semua itu berkat energi yang memasuki tubuhku tanpa henti."


"Waktu itu tubuhku seperti sehelai kertas yang jatuh pada sebuah genangan air. Sehingga dalam kondisi itu, meski aku tidak berniat menyerapnya, energi itu terus meresap masuk ke dalam tubuhku."


"Dengan banyaknya energi yang masuk membuat diriku tidak merasakan lapar maupun haus. Seperti saat ini, aku masih mengingat secara jelas sensasi yang aku rasakan kala itu."


Suro mengingat kembali saat dirinya ditinggal gurunya membantu menghentikan peperangan kerajaan Kalingga. Selama itu juga dia terus membaca dan membaca seluruh kitab dalam ruangan tanpa henti.


Puncaknya saat dirinya mencoba menenangkan pikirannya dengan cara bersamadhi. Hal itu dilakukan setelah berkali-kali gagal mencari tau cara untuk membaca isi kitab tanpa aksara yang berada ditengah ruangan.


Sebab kala itu gurunya memberi perintah untuk menghafalkan seluruh kitab yang ada didalam ruangan itu. Hingga akhirnya tinggal satu kitab yang belum mampu dia hafalkan.


Karena kitab itu memang berbeda dari kitab yang lainnya. Jika pada kitab yang lain Suro tinggal membaca. Dan akan mengingat seluruh isi kitab yang dia baca tanpa kurang satu hurufpun.


Tetapi pada kitab yang telah berkali-kali dibuka perlembarnya itu, tidak ada satupun huruf yang tertulis. Sudah berulang kali dia mencoba mencari tau cara untuk bisa membaca kitab itu, tetapi usahanya itu tidak membuahkan hasil apapun. Akhirnya dia menyerah, setelah segala cara tidak ada satupun yang berhasil.


Kemudian dia mulai menenangkan pikirannya dengan bersamadhi. Tetapi justru pada saat bersamadhi itulah dirinya tanpa sengaja mampu membongkar metode untuk menyerap seluruh isi dari kitab tanpa aksara tersebut.


Sebab dengan membiarkan tubuhnya bersemadhi membuat arus energi yang berasal dari batu giok Dewa membanjiri seluruh tubuhnya. Dengan kondisi itu secara tidak sengaja justru membangunkan jiwa Hyang Kavacha. Walau jiwa itu hanya bangun dalam waktu yang relatif singkat, tetapi dengan terbangunnya jiwa itu telah membantu Suro memecahkan kebuntuan yang dihadapi.


Hyang Kavacha yang mampu membaca batin tuannya segera memanfaatkan waktu yang sekejab itu, untuk meminta Nagatatmala membiarkan tuannya menyerap isi dari kitab tanpa aksara.


Setelah kitab tanpa aksara terhubung dengan alam kesadaran Suro, maka pada saat itulah dia telah tenggelam dalam kesadaran sejati. Dimana dalam alam bawah sadarnya itu, dia seperti dibawa ke alam lain.


Dalam kesadaran itu seseorang yang telah hadir memberikan wejangan. Sesosok yang berpakaian mirip seorang resi. Entah manusia atau bukan karena wujud resi itu seluruh tubuhnya bersinar, sehingga Suro kesulitan untuk mengenalinya.


Meskipun sampai hari ini semua kaweruh yang diwedar tetap diingat Suro, tetapi sampai saat ini juga Suro belum memahami maksud dan arti dari Serat Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu.


'Jika tuanku mengingat hal itu, maka sesungguhnya saat ini kwalitas tulang tuanku tidaklah sama dengan orang kebanyakan. Dan jika sekarang mampu menyerap lebih besar maka kwalitas tulang tuanku akan dapat sekuat baja sekalipun, bahkan lebih. Semua tergantung seberapa banyak tuanku menyerapnya.'


"Terima kasih Hyang Kavacha telah wedar kaweruh mengenai kekuatan yang tersimpan dibalik rahasia ruangan ini."


'Sudah kewajiban hamba membimbing tuanku!'


"Siapakah sejatinya diriku ini Hyang Kavacha, sehingga mendapatkan limpahan sebuah pusaka sehebat dirimu?"


'Hamba hanyalah sebuah pusaka tuanku. Meski dalam beberapa hal hamba seakan mengetahui banyak hal, tetapi bukan berarti hamba mengerti semua hal. Sekali lagi hamba hanya pusaka yang mendapatkan perintah untuk menjaga tuanku.'


Suro mengangguk-angguk memahami kedudukan Kavacha. Dia tidak menyalahkannya jika pertanyaan tentang jati dirinya tidak mampu dijawab olehnya.


"Baiklah, sebaiknya aku mulai menyerap sebanyak mungkin energi dari ruangan ini."


Suro kemudian mulai duduk bersila untuk bersamadhi dan sekaligus menyerap energi yang berasal dari batu giok Dewa. Meskipun tanpa dia serap sekalipun sebenarnya kekuatan itu telah bersinergi dengan Kavacha.


Sehingga dengan kemampuan dia yang juga telah berkembang pesat, membuat daya serap terhadap energi itu juga mengalami kemajuan yang sangat jauh daripada yang pernah Suro ingat.


Hal itu berkaitan dengan terbukanya seluruh nadi besar hingga chakra sahasrara yang berada pada nadi mahkota. Selain itu dia juga berhasil menyelesaikan seluruh tahap dalam pelatihan tehnik tenaga dalam sembilan putaran langit.


Sehingga saat dia memulai menyerap maka bergulung-gulung energi langsung menerjang masuk ke dalam tubuhnya.


Daya serap yang dilakukan Suro terlihat begitu menggerikan. Sehingga membuat tubuhnya kini telah diselimuti cahaya kehijauan. Persis seperti saat Kavacha hendak menyelimuti tubuhnya dengan sebentuk wujud zirah, hanya saja kali ini terlihat begitu terang.


Belum berhenti disitu saja seluruh energi itu kini membentuk pusaran energi yang begitu kuat. Energi yang begitu berlimpah semua melesat masuk ke dalam tubuh Suro. Karena begitu kuatnya energi yang berputar, maka terbanglah seluruh kitab yang ada didalam ruangan itu. Termasuk diantaranya kitab tanpa aksara.


Kitab-kitab itu menumpuk menimbun tubuh Suro, karena ikut terserap arus energi yang seakan banjir bandang masuk ke dalam tubuhnya.


Suro sudah tidak lagi menyadari apa yang telah terjadi karena dia dalam kondisi hening. Masuk ke dalam kesadaran yang sejati hilang dalam Nirvikalpa Samadhi. Atau samadhi yang tidak tergoyahkan. Sebab pada saat itu dia sedang mengalami puncak ketenangan. Segala panca inderanya telah menyatu dalam hening.


Setelah itu dia menuju fase berikutnya yaitu Sahaja Samadhi dan kemudian dia telah berada pada Dharmamegha Samadhi. Dalam kondisi inilah dia kembali mengalami kondisi saat dimana dirinya ditemui sesosok resi yang wedar kaweruh Serat Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu.


"Dimana diriku kenapa aku berada ditempat ini?" Saat itu Suro seperti berada ditempat yang tidak dia kenali sama sekali. Sebab dia seakan berada di tengah jagat raya yang mahaluasnya. Kini dia bisa menyaksikan seluruh alam raya. Bintang-bintang yang berada dalam ribuan galaksi terlihat olehnya.


"Mengapa dirimu kebingungan anakku?" Suro terkejut didepannya tiba-tiba muncul seorang sosok resi.


"Ha...anak?" Suro terkejut mendengar sesosok yang mirip resi memanggil dirinya dengan sebutan anakku.


Karena seumur hidupnya tidak seorangpun memanggil dirinya dengan sebutan anakku. Pun gurunya Eyang Sindurogo lebih sering memangil dirinya dengan sebutan thole(nak) atau kadang hanya dengan yek yang artinya sama. Tetapi tidak sekalipun memanggil dirinya dengan sebutan anakku.


Dia akhirnya bertanya-tanya siapakah resi yang telah berada dihadapannya itu? Selain itu dia juga kebingungan bagaimana tiba-tiba bisa berada ditempat yang begitu mengagumkan tetapi sangat asing?


"Maafkan patik ini yang memiliki mata tetapi tidak mampu memahami siapakah Maharesi yang agung ini? Selain itu tadi hamba mendengar jika Maharesi memangil patik dengan sebutan anakku, siapakah sejatinya yang agung ini? Apakah Maharesi ini sejatinya adalah ramanda dari hamba?"


Sesosok itu hanya tersenyum ke arahnya. Sama seperti dirinya sosok itu juga mampu berdiri mengambang diatas angkasa.