SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 119 BANTUAN DATANG part 10



”Tidak salah jika wanita sepertinya disebut sebagai iblis betina! Baik ilmu maupun wujudnya tidak jauh berbeda dengan para iblis!"  Suro terkejut melihat Medusa mampu bangkit kembali setelah dihajar jurusnya hingga terluka parah. Bahkan dia sudah pulih kembali.


Jubah hitamnya yang hancur memperlihatkan luka dibagian perutnya yang sebelumnya hancur kini telah pulih, seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya.


Tidak kalah terkejutnya dengan Suro, setelah mampu bangkit Medusa segera menyadari, bahwa bocah yang terhantam oleh serangan dari kedua matanya tidak merubahnya menjadi patung batu.


"Aku kagum dengan kekuatan yang dimiliki bocah itu. Bagaimana mungkin dia tidak berubah menjadi batu. Baru kali ini ada yang bisa selamat dari kekuatan serangan mataku!”


Dia segera bersiap menerima serangan setelah dari jauh Suro telah meluncur cepat hendak menyerang dirinya kembali.


"Apakah dirimu sejenis dengan makhluk naga raksasa yang pernah menyerang negeri ini? Bagaimana bisa setelah kuhancurkan perutmu sebegitu parahnya bisa pulih dengan begitu cepat?"


"Cih, kamu kira bisa membunuhku segampang itu. Seranganmu hanya mampu membuat luka seperti dicakar kucing!"


Suro segera melesat menyerang Medusa dengan seluruh kekuatan yang dia miliki.


"Apakah kepalamu juga bisa kamu pulihkan kembali jika aku pisahkan dari badanmu?” Suro menerjang dengan lima sinar dari ujung lima jarinya dengan dikombinasikan dengan terjangan Pedang Pembunuh iblis. 


Api hitam dari pedang Suro menerjang ke arah Medusa. Melihat tebasan yang dilambari api hitam dia langsung tersurut dua langkah.


Reaksi yang dia perlihatkan disebabkan oleh sebuah cerita yang pernah dia dengar. Cerita tentang betapa berbahayanya kekuatan api hitam. Api hitam ini memiliki sebutan lain yaitu bisa api atau racun api.


Dalam bahasa jawa bisa atau racun disebut sebagai wisa, sedangkan api adalah geni. Menurut cerita api hitam adalah sebuah kekuatan yang dimiliki oleh seorang manusia setengah Dewa. Manusia itu merupakan cucu dari Sanghyang Batara Brahma, Dewa penguasa api. Nama manusia setengah Dewa itu adalah Wisanggeni.


Begitu kuatnya api itu membuatnya mampu membakar apapun. Karena begitu kuatnya api itu juga, maka nama pedang pembunuh iblis itu tersemat. Nama itu diambil dari sebuah cerita yang mengkisahkan keberhasilan  Wisanggeni membunuh iblis Batara kala.


'Apakah aku gunakan saja chakra yang barusan aku hisap bocah?' Lodra yang melihat Medusa yang selalu mampu menghindari serangan Suro mulai naik darah. Dia hendak meledakkan api hitam ke arah Medusa.


'Jangan, bukan sekarang waktunya.' Suro terus menyerang Medusa dengan kombinasi jurus sepuluh jari Dewa mengguncang bumi dipadukan dengan jurus pedang dan kali ini ditambah jurus yang bersumber dari kitab bumi, yaitu ilmu yang didapat dari Sanghyang Anantaboga. Hentakan tanah yang melontarkan Medusa selalu saja dapat dipatahkan dengan kekuatan shakti yang sudah melewati tahap pertengahan.


Setiap tanah yang melontarkan tubuhnya dia hancurkan terlebih dahulu dengan pukulan dahsyatnya.


"Aku akui bocah kekuatanmu sangat mengerikan dalam usiamu yang semuda ini mampu menyerangku dengan sebegitu dahsyatnya. Sebenarnya apa hubunganmu dengan setan Sindurogo?"


"Sebelum aku memengal kepalamu akan aku katakan agar tidak membuat matimu penasaran. Dia adalah guruku!"


"Pantas saja jika dia gurumu kesombongannya ternyata telah menurun kepada muridnya. Rasakan ludah beracunku ini!"


Semburan Medusa dalam jarak dekat menerjang ke arah Suro, tetapi sebelum semburan itu mengenainya satu tebasan Pedang Pembunuh iblis yang dilambari api hitam menghempas kuat dan membuat serangan itu balik ke arah Medusa.


"Darimana kau memiliki pedang yang memiliki kemampuan seperti milik Pedang iblis?"


"Pertanyaanmu sama dengan tujuh pendekar pedang yang sebelumnya berhadapan dengan para tetua Perguruan Pedang Surga. Salah satunya telah aku jadikan abu. Dia terbakar habis oleh api hitam dari bilah pedang ini."


"Tujuh pendekar pedang? Apakah yang kau maksudkan Tujuh Pedang Sesat bocah? Tidak mungkin Tujuh Pedang Sesat mampu kamu kalahkan bocah! Tidak usah bermulut besar. Mereka orang-orang yang sudah pada tingkat shakti tahap tinggi. Bagaimana mungkin bisa dikalahkan olehmu? Kekuatan mereka hanya satu tingkat dibawah kekuatan pemimpinnya, yaitu Pedang iblis!"


"Apakah yang kau maksud pedang iblis itu adalah orang yang sebelumnya memiliki bilah pedang ini?"


"Apa maksudmu? Kau kira aku tidak memiliki mata. Pedang Pembunuh iblis berwarna hitam, sangat berbeda sekali dengan bilah pedang yang kau pegang. Walaupun memiliki kemampuan yang sama."


"Aku tidak memintamu mempercayai perkataanku. Tetapi orang itu sudah dikalahkan oleh paman guru Dewa Pedang. Satu tangannya telah dihancurkan oleh paman guru. Mungkin julukan yang pantas disematkan untuk dia sekarang adalah iblis tangan buntung. Hahaha...!"


Karena jika Dewa Pedang telah menang, maka artinya dia bisa menjadi ancaman besar gagalnya seluruh rencana dirinya untuk bisa jumeneng menjadi seorang Ratu ditanah Javadwipa. Medusa mendegus kesal mendengar ocehan Suro yang sangat sulit dipercaya itu.


Tetapi setelah menyinggung nama Dewa Pedang perkataan Suro terasa masuk akal. Sebab sebelumnya memang Dewa Pedang sedang terlibat pertempuran dengan Pedang iblis. Pertempuran dua ahli pedang yang kemampuannya sama-sama mengerikan membuat siapapun, termasuk dirinya lebih memilih menghindar.


Selain itu pertarungan itu entah disengaja atau tidak, telah bergerak menjauh dari area peperangan yang berpusat di depan gerbang Perguruan Pedang Halilintar. Bahkan sejalan dengan pertarungan mereka yang berlangsung begitu dahsyat membuat kehancuran yang telah meratakan hutan disisi selatan. 


Pertarungan itu semakin menjauh dan menjauh hingga tidak terlihat dari pandangan semua orang yang juga sedang sibuk bertarung. Tidak ada yang berani mendekati apalagi ikut campur mengganggu pertarungan mereka berdua. 


Hal itu membuat Medusa juga tidak mengetahui dengan pasti akhir pertarungan mereka yang sudah tidak terlihat. Apalagi dia sendiri sejak awal peperangan memang sudah disibukkan dengan lawannya yang susah ditaklukan. Walaupun akhirnya lawannya Datuk Rajo Mustiko Alam akhirnya mampu dijadikan arca batu.


Tetapi sebelumnya dia mendengar suara dentuman keras yang bukan berasal dari pertarungan disekitar Perguruan Pedang Halilintar. Entah suara apa? Tetapi dia meyakini itu adalah suara yang ditimbulkan dari beradunya kekuatan yang begitu besar.


"Aku tau Pedang iblis adalah orang yang pantas disebut gila. Tetapi dia bukanlah seseorang yang dikenal sebagai penakut, sehingga harus melarikan diri dari pertarungan!"


"Mungkin saja dia bukanlah penakut seperti dirimu yang dikenal juga sebagai iblis betina Ratu Ular Medusa Hitam. Tetapi seperti dirinya juga saat kedatanganku langsung berlari menjauh. Anggab saja dia bukan penakut tetapi sebut saja dia terlalu takut dengan kehadiranku. Karena saat aku datang dia langsung berlari kencang menghilang dibalik hutan. Bukankah dirimu juga sejak tadi ketakutan dengan kehadiranku berlari menjauh?  Bahkan sampai meminta bantuan para siluman untuk mengeroyokku. Apakah Ratu Medusa yang agung ini ternyata seorang penakut seperti Pedang iblis? Sehingga tidak berani menghadapiku yang hanya seorang bocah? Hahahaha...!"


"Kesombonganmu akan membunuhmu bocah!" 


Medusa segera menyerang dengan tehnik sihir ular. Serbuan ular yang begitu banyak menghajar ke arah Suro. Ular-ular kobra yang berasal dari wujud ular yang mewakili rambut dikepalanya, mendadak menjelma menjadi pasukan ular kobra yang besar dan sangat banyak.


Terjangan ular yang begitu banyaknya langsung dipotong dengan sinar yang berasal dari ujung jarinya. Tetapi seiring ular itu di tebas semakin banyak bermunculan ular yang berasal dari potongan ular yang ditebasnya.


Melihat semakin bertambahnya ular yang menyerang dirinya membuat Suro memilih kembali menebas semua ular itu dengan jurus tebasan sejuta pedang. Al hasil setelah hancur tak berbentuk ular-ular yang hancur itu justru menjelma menjadi ular yang semakin bertambah banyak.


Begitu banyaknya ular itu bahkan memenuhi hamparan tanah didepan Suro. Ular-ular itu begitu beringas berkali-kali menyemburkan racun yang begitu pekat. Begitu banyaknya ular dan pekatnya racun itu membuat kabut racun yang memaksa Suro harus tersurut menjauh.


"Lodra bakar semua ular-ular ini!"


'Apakah aku ledakkan dengan kekuatan penuh?'


'Tidak perlu kekuatan penuh Lodra, cukup semua ular ini saja yang menjadi sasaran yang harus kau jadikan abu!'


Bersamaan dengan ayunan pedang yang menebas ke arah ribuan ular yang menyerbunya, sebuah ledakan api hitam langsung menggulung ke seluruh ular yang bergerak cepat ke arahnya.


"Tidaaaaak!  Ular-ularku...ularku...ularku!"


Dalam satu sapuan itu benar-benar telah membakar habis ular kobra hitam yang begitu banyaknya.


Setelah api itu membakar habis ular-ular yang mampu terus mengandakan dirinya tiap kali di tebas, kini semua telah musnah tak berbekas. Dengan menghilangnya para ular itu kini rambut Medusa ikut menghilang. Melihat penampakan Medusa yang baru Suro langsung tertawa keras sambil memegang perutnya.


"Hahahaha...! Ratu Ular Medusa hitam si iblis betina, sekarang sudah berganti nama menjadi Medusa botak! Hahahahaha...!"


"Setan akan aku habisi dirimu!"


Kemarahan Medusa kali ini benar-benar mencapai titik yang bisa disebut sebagai puncak dari segala puncak kemarahannya.


Serangan Medusa langsung menerjang ke arah Suro dengan sinar matanya yang tidak biasa.  Kedua matanya itu telah berubah menjadi mata seekor ular. Terjangan sinar itu menerjang ke arah Suro seperti ledakan cahaya yang tidak mungkin dihindari.


Ledakan cahaya itu langsung menerjang kearah Suro. Bukan dia saja yang terkena amukan dari Medusa, bahkan pasukan miliknya sendiri yang berjarak lebih dari lima tombak yang berada didepan Medusa ikut terhantam serangan itu. Dan langsung merubah mereka semua menjadi seonggok patung batu.