SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 129 Kemunculan Eyang Sindurogo Hitam



Sesaat setelah ledakan akibat benturan dua kekuatan, hampir semua pertarungan yang sedang berlangsung berhenti semua. Begitu kuatnya ledakan itu membuat hempasan angin dan juga membuat bumi bergetar dengan keras.


Orang-orang yang berada didekat tubrukan dua kekuatan itu banyak yang terhempas cukup jauh. Sebagian lagi bahkan membuat mereka sampai kehilangan kesadarannya atau kemungkinan justru telah tewas.


Sebagian lain yang masih tetap berdiri adalah para pendekar yang sudah berada pada tingkat shakti. Diantaranya adalah dua pendekar yang berjuluk Dewa Pedang dan Dewa Rencong yang bertarung melawan pasukan Medusa.


Semua orang terperanjat dengan kejadian barusan. Dewi Anggini juga tidak luput perhatiannya meski hanya bisa melihat dari kejauhan. Tetapi dia meyakini bahwa orang yang meluncur seperti jatuh dari langit itu adalah kakang Sindunya.


Namun dia menjadi sangsi karena dia justru menyerang muridnya dengan kekuatan yang begitu mengerikan. Dia tidak bisa memastikan hal yang dia lihat dengan menerobos kedepan pertempuran. Karena saat ini dia sedang bertempur di gerbang terakhir bersama tetua yang lain.


Tetapi yang paling terperanjat dengan kejadian barusan adalah Medusa. Dia terperanjat bukan karena kuatnya hempasan akibat ledakan dua kekuatan yang beradu. Tetapi karena yang baru saja melesat turun dari langit adalah sosok yang paling dia takuti, yaitu Eyang Sindurogo. Dia yang berada tidak jauh dari tempat Suro terhantam tentu melihat orang yang telah datang dari langit itu.


"Mustahil ini sesuatu yang tidak mungkin dia kali ini benar-benar hadir disini."


Reaksi ketakutan Medusa sempat terlihat saat dia tersurut beberapa langkah ke belakang.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa dia justru hendak menghabisi muridnya sendiri? Sepertinya ada sesuatu yang telah terjadi pada sosok Sindurogo ini? Apakah dia sedang terasuki oleh sesuatu kekuatan lain? Tingkahnya terasa janggal." Meski Medusa merasakan kejanggalan, tetapi dia tidak mau mengambil resiko.


Dia memilih mundur menjauh menjaga jarak dari keberadaan Eyang Sindurogo hitam. Dia sebelumnya saat melihat Suro jatuh dari langit dan berada ditempat yang jauh dari Dewa Pedang dan Dewa Rencong, ada niatan untuk menguasai pusaka yang dia miliki.


Tetapi melihat jurus yang dimainkan Suro begitu mengerikan membuat Medusa menjadi ragu. Sebab jurus itu kekuatannya tidak sama dibandingkan dengan jurus yang digunakan saat melawan dirinya.


Api hitam yang terkumpul dari tebasan pedang yang dia pegang menghancurkan pasukannya dengan mudah. Sebab api hitam itu seakan hidup dan berkumpul membentuk sesosok naga besar. Begitu kuatnya serangan itu telah menghancurkan barisan pasukannya dan mengubahnya menjadi abu.


Hal itu dapat terjadi, sebab api hitam yang dikendalikan Lodra adalah jenis api terkuat. Apalagi api itu berkobar dengan begitu besar dan melahap semua musuh yang berada dalam jangkauan serangannya.


Dia seakan melihat sosok lain saat melihat kuatnya jurus yang telah menghancurkan pasukannya itu. Dan dia semakin yakin bahwa kekuatan Suro tidak lagi sama setelah turun dari langit. Walau sebelumnya dia mampu mengalahkannya. Tetapi saat melihat Suro mampu menahan serangan yang dilakukan Eyang Sindurogo dia memilih mengubur dalam-dalam niat awalnya itu.


**


Sesosok manusia yang menghantam Suro terlempar ke sebelah kanan dari kawah. Ledakan kekuatan yang beradu itu berada ditempat yang tidak terlalu jauh dari Dewa Rencong dan Dewa Pedang. Sehingga dua pendekar dapat melihat dengan jelas apa yang baru saja terjadi.


"Eyang Sindurogo!"


Dewa Pedang tercekat setelah mengenali sesosok lelaki yang berdiri dipinggir kawah bekas ledakan tadi. Sebelumnya dia menyaksikan sendiri bagaimans sesosok itu melesat dengan cepat seperti jatuh dari langit dan langsung menghantam Suro.


"Kakang Dewa Rencong apa yang sebenarnya terjadi? Bukankah itu Eyang Sindurogo? Mengapa dia yang tiba-tiba muncul justru langsung menyerang muridnya sendiri? Ini suatu hal yang sangat janggal. Apa yang sebenarnya terjadi diatas awan hitam itu? Sepertinya ada sesuatu yang tidak kita ketahui. Karena Eyang Sindurogo yang telah lama hilang terjebak di alam lain tiba-tiba muncul dari balik awan itu. Apakah itu artinya dari sedari tadi dia sudah ada disana?"


Dewa Rencong tidak segera menyahut pertanyaan Dewa Pedang yang sedikit kalut. Mengingat kekuatan Eyang Sindurogo yang tingkat kekuatan tenaga dalamnya sudah pada tingkat langit, tentu sangat berbahaya jika diterima langsung oleh Suro. Bahkan dia sendiri sangsi sanggub menerima serangan itu.


"Memang benar ini sangat janggal. Agaknya Eyang Sindurogo yang dihadapan kita ini bukanlah pendekar lelananging jagat yang kita kenal. Lihatlah hawa kegelapan yang merembes keluar dari jubahnya itu bukanlah kekuatan miliknya. Hawa ini begitu sesat seakan dia sumber dari segala kegelapan yang ada. Selain itu apakah ada manusia yang memiliki sorot mata seperti itu, seakan ada api yang menjilat-jilat keluar dari bola matanya?" Dewa Rencong menatap ke arah bekas ledakan dengan tanpa menurunkan kewaspadaannya.


"Bagaimana kondisi nakmas Suro? Apakah dia masih hidup? Jika pukulan sebegitu kuatnya, belum tentu aku mampu menahannya." Dewa Pedang tatapannya tidak lepas ke arah kawah bekas tubukan barusan.


"Entahlah aku juga tidak tahu. Semoga saja dia akan baik-baik saja. Apakah kita akan menolongnya atau tidak kita tunggu sebentar. Karena aku merasakan sebuah aura kekuatan lain berasal dari dalam kawah bekas hantaman itu!" Tatapan Dewa Rencong juga tak lepas dari kawah menunggu Suro muncul.


Setelah sekitar tiga tarikan nafas sebuah kekuatan tebasan dilambari api hitam keluar dari kawah menerjang ke arah Eyang Sindurogo. Dalam waktu yang hampir bersamaan sesosok tubuh ikut melesat menerjang keluar dari dalam kawah dan langsung menyerang.


Buuuuum!


Sebuah tendangan dari Suro bertemu pukulan tangan kosong Eyang Sindurogo menimbulkan ledakan yang keras.


Orang-orang yang berada didekat pertarungan itu, sebelumnya sudah melihat jurus pedang yang digunakan Suro untuk membumi hanguskan musuh yang mengepungnya. Sebuah jurus pedang yang tidak seorangpun mengenalinya.


Jurus itu dia gunakan untuk membantai pasukan musuh, sesaat setelah Suro meluncur turun dari langit. Dia menyerang musuhnya seperti kesetanan. Jurus yang dimainkan membuat api hitam yang selalu menyelimuti bilah pedangnya menyerang musuh dengan sangat dahsyat.


Hampir tidak ada yang selamat begitu api itu menyelimuti tubuh musuhnya. Sebab hanya butuh waktu tidak lebih dari tiga tarikan nafas tubuh itu akan terbakar habis menjadi abu.


Kemudian saat mereka melihat Suro mampu menahan serangan yang berasal dari Eyang Sindurogo membuat semua orang terkesima. Bagaimana tidak, serangan yang ditahan itu berasal dari seseorang yang sudah ditingkat langit, tentu sesuatu yang akan sangat sulit dipercaya.


Mereka tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Karena sesungguhnya yang bertarung dengan Eyang Sindurogo hitam adalah dua jiwa pusaka Dewa yang menyatukan kekuatannya.


Satu pusaka memiliki daya pertahanan terkuat dan satunya adalah jiwa pedang dengan kekuatan api yang merupakan jenis api yang hanya ada dalam dongeng para penganut kitab agni. Karena belum pernah seorangpun yang menguasai perubahan api mencapai tahap yang mampu menghasilkan api hitam.


Itulah mengapa Suro mampu menghabisi para siluman tanpa harus menggunakan Jurus Tapak Dewa Matahari atau menggunakan tahap pedang langit. Sebab dengan mengandalkan api hitam itu saja telah membuat para siluman itu berakhir menjadi abu.


"Hahahaha...! Aku adalah penguasa panca mahabhuta yang sebenarnya apimu itu bukanlah lawanku! Lihatlah jika kekuatan ketiadaanku ini meniadakan apimu!"


Selesai mengucapkan itu api milik Lodra yang menerjang ke arah Eyang Sindurogo tertelan dalam gulungan aura yang keluar dari sekujur tubuhnya.


"Kurang ajar apiku ditelan aura sesat itu!" Lodra mengumpat melihat kekuatan api yang menjadi andalannya diserap habis.


"Tiadakan apiku ini! Jurus ketiga Kemarahan Sang Hyang Garuda!"


Bersama setiap tebasan yang dilakukan Lodra melesatlah ledakan api yang sangat besar bergulung-gulung menerjang ke arah Eyang Sindurogo. Pada jurus ini dalam setiap tebasannya menggabungkan dua perubahan, yaitu bayu atau angin dan perubahan api.


Kunci kekuatan dari jurus ini terletak pada perubahan yang digunakan. Perubahan angin cenderung meningkatan kekuatan perubahan api.


Maka begitu kekuatan yang bersumber pada kitab bayu melesat, maka api hitam yang melambari serangan itu seperti dihembuskan menjadi kobaran api yang begitu besar seakan gunung api.


Semua orang tercekat melihat besarnya api hitam yang dikendalikan Lodra. Eyang Sindurogo melihat api hitam yang begitu besar melesat ke atas menghindari serangan itu. Sebab api hitam yang menerjang itu telah menjelma menjadi semacam makhluk raksasa bersayap yang juga langsung melesat mengejarnya.