
Setelah peperangan besar yang terjadi di Kadipaten Banyu Kuning semua pasukan Kalingga kembali ke kerajaan. Semua tatanan pemerintahan di Banyu Kuning kembali normal, setelah Senopati Aryo Seno menggantikan Adipati Banyu Kuning yang telah dibunuh Medusa.
Pasukan dari Perguruan Pedang Surga juga telah kembali ke perguruan pusat. Hanya beberapa tetua dan sebagian anggota perguruan yang tetap tinggal untuk membantu kembali berdirinya perguruan cabang Pedang Halilintar yang sebagian besar telah hancur.
Eyang Baurekso sebagai guru besar perguruan cabang berterima kasih yang luar biasa banyaknya atas pertolongan yang telah diberikan. Bahkan secara khusus dia mengucapkan terima kasih kepada Suro, karena dengan andilnya itu mampu membuat serangan para siluman dapat di hentikan. Dengan melesat terbang ke atas awan hitam, kemudian membakar habis semua siluman itu.
Setelah sampai di Perguruan pusat sesuai rencana awal, Dewa Rencong dan Dewa Pedang akan melakukan persiapan untuk memasuki alam lain. Salah satunya adalah dengan meningkatkan tingkat tenaga dalam dari dua pendekar itu agar bisa menembus tingkat langit.
Meskipun banyak pendekar yang sudah berada pada puncak tingkat shakti, tetapi tidak serta merta membuat mereka bisa menembus tingkat langit dengan mudah. Karena ada beberapa hal yang membuat mereka tidak bisa mencapai tahap berikutnya.
Salah satunya karena adanya granthi atau penghalang kekuatan yang tidak bisa dengan mudah dibuka. Dan jika gagal menembus granthi tersebut, maka akan membuat pendekar tersebut mengalami musibah yang sangat menakutkan bagi para pendekar.
Akibat yang paling ringan jika mereka gagal adalah kehilangan kekuatan tenaga dalam mereka seluruhnya. Penyebab dari musnahnya tenaga dalam yang mereka miliki, adalah karena pecahnya saluran nadi untuk menghimpun chakra mereka.
Hal itu disebabkan tenaga besar untuk membuka granthi tersebut akan berbalik dan justru akan menyebabkan hancurnya saluran nadi miliknya. Karena tenaga yang berbalik bisa menyebabkan saluran nadi mereka meledak.
Nadi yang pecah biasanya disekitar chakra sahasrara yang berada diumbun-umbun kepala. Dengan akibat itu membuat mereka lumpuh total. Satu resiko yang lebih menakutkan daripada mati.
Kesulitan yang dihadapi para pendekar untuk menembus tingkatan tersebut, karena memang disebabkan tidak ada yang mengetahui caranya, kecuali para pendekar yang telah melalui tingkatan tersebut.
Sedangkan mereka yang telah mencapai tahap tersebut, biasanya akan tetap merahasiakan cara yang telah mereka lalui. Selain itu, pendekar yang sudah mencapai tingkat langit sangatlah sedikit. Sebagai contoh di Benua Timur hanya Eyang Sindurogo seorang yang mampu mencapainya. Karena hal itulah mengapa dia menjadi pendekar terkuat di kolong langit Benua Timur.
Dengan kesulitan itu membuat mereka para pendekar pada puncak tingkat shakti, memilih tetap berada pada tahap tersebut. Karena resiko yang didapat terlalu riskan jika memaksakan kehendak tanpa Petunjuk yang benar.
Suro menyalin semua catatan yang ditinggalkan Eyang Sindurogo dalam ingatannya pada daun lontar. Nantinya salinan itu akan diserahkan kepada Dewa Pedang dan juga kepada Dewa Rencong.
Walaupun Suro mengingat dengan baik setiap kata dalam catatan itu, tetapi dia tidak memahami apa yang tertulis di naskah yang dibuat gurunya itu. Karena gurunya menulis dalam bentuk kidung sehingga tidak mudah untuk dipahami.
Didalam kidung itu salah satunya disebutkan dalam pupuh pertama, kedua, dan ketiga disebutkan dalam bahasa puisi syarat untuk menembus tingkat langit harus sudah berada pada puncak tingkat shakti. Kundalini sudah berubah menjadi shankhini dan nadi terdalam dari nadi sushumna, yaitu nadi brahma telah terbuka. Selebihnya Suro sendiri tidak memahaminya.
"Ini catatan yang Eyang guru tinggalkan. Suro sudah menyalin semua paman. Seharusnya tidak ada satupun yang terlewat sesuai yang Suro ingat. Saya tidak mampu menjelaskan apa yang tertulis disalinan ini paman, karena Suro hanya mengingat tetapi tidak terlalu memahami isinya."
"Seperti sebagian kitab yang ada dalam perpustakan milik Eyang guru. Suro telah menghafalkan tetapi untuk memahami secara sempurna belum sempat Suro lakukan. Karena Suro belum sempat menanyakan penjelasan lebih terperinci kepada Eyang guru."
"Memang beberapa hal Suro bisa memahami lebih cepat dari pada orang lain, tetapi tidak seluruhnya semua itu dapat langsung Suro pahami. Karena Suro tetap selalu bertanya kepada Eyang guru."
Suro sempat termenung sebentar mengingat nasib gurunya yang sekarang justru dijadikan boneka oleh musuh yang kemungkinan akan membuat kekacauan besar diseluruh bumi.
"Bocah apakah kau baik-baik saja?" Dewa Rencong melihat Suro yang terdiam seperti memikirkan sesuatu membuatnya sedikit khawatir. Sebab setelah bertemu dengan gurunya bukan kebahagiaan yang dia dapat, tetapi justru serangan mematikan yang menyambut kedatangannya.
Suro hanya memberikan senyum kecut dan menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Dewa Rencong.
"Oh, ee... Tidak mengapa paman Maung, Suro hanya sedih, jika mengingat nasib Eyang guru. Sampai sekarang Suro tidak habis pikir bagaimana mungkin Eyang guru bisa dikuasai oleh mereka? Bukankah dirinya adalah pendekar terkuat di seluruh Benua Timur ini? Meskipun sebelumnya mereka menyebut entah sengaja atau tidak, bahwa untuk menguasai Eyang guru mereka menggunakan tipu muslihat. Entah tipu muslihat apa yang mereka maksud?"
"Aku juga memahami apa yang nakmas rasakan. Semoga saja perjalanan kita ke alam di dimensi lain bisa menemukan jawabannya." Dewa Pedang yang menyahut perkataan Suro.
Suro hanya mengangguk dan tersenyum kecut, kemudian dia menyerahkan seluruh salinan catatan dari Eyang Sindurogo yang telah dia hafal diluar kepalanya itu kepada Dewa Pedang dan Dewa Rencong.
Dewa Pedang dan Dewa Rencong yang mendapatkan catatan itu segera membaca seluruh salinan dari Suro. Mereka berdua kadang mengrenyitkan dahi mencoba menelaah tulisan yang sedang mereka baca.
Setelah selesai membaca Dewa Pedang langsung menatap Suro seakan tidak percaya. Reaksi dari pendekar itu setelah membaca seluruh catatan itu seperti menemukan sebuah bongkahan emas.
"Catatan ini sangat berharga sekali nakmas Suro. Walaupun paman belum sepenuhnya memahami dari seluruh catatan yang ditinggalkan Eyang Sindurogo, tetapi semua terlihat masuk akal. Mungkin paman dan kakang Dewa Rencong membutuhkan waktu beberapa hari untuk bisa memahami keseluruhan kidung ini." Dewa Pedang menatap Dewa Rencong yang masih serius membaca pupuh terakhir yang belum selesai dia baca.
Pupuh sendiri bisa diartikan sebagai bait, aturan lagu, atau pola penyusunan syair dan juga aturan-aturan puisi jawa lama dalam menyusun syair yang digunakan untuk membuat sebuah tembang atau kidung.
"Bagaimana menurut kakang Dewa Rencong mengenai catatan tersebut?"
"Luar biasa sangat pantas Eyang Sindurogo menjadi pendekar terkuat, karena pengetahuannya sungguh sangat luas." Dewa Rencong berdecak kagum setelah selesai membaca salinan yang dibuat Suro.
"Tetapi benar kata adimas beberapa bagian aku kurang memahami. Kita perlu beberapa hari untuk bisa memahami secara sempurna seluruh kidung ini. Karena catatan yang ditinggalkan Eyang Sindurogo dalam bentuk kidung. Sehingga memerlukan pendalaman yang lebih lama agar tidak salah dalam mengartikannya."
"Silahkan paman berdua mempelajarinya. Saya beberapa hari kedepan akan pamit untuk kembali ke Gunung Arjuna."