
Mereka terus melesat dan mengikuti jejak bekas pertempuran yang cukup jelas terlihat. Semakin jauh mereka melesat, maka bekas pertempuran yang mereka temukan semakin bertambah dahsyat.
Semua itu jelas terlihat dari kawah-kawah kecil yang bertebaran sepanjang jalan yang mereka lalui. Selain itu tebasan pedang dengan kekuatan yang mengerikan bertebaran menghancurkan segala hal, sehingga dengan mudah dapat dibayangkan seperti apa dahsyatnya pertempuran yang telah terjadi.
Beberapa saat kemudian mereka akhirnya sampai diladang para penduduk kademangan Cangkring. Saat ini masih musim kemarau, ladang dan sawah penduduk yang mengandalkan air hujan terlihat kering kerontang.
Sawah dan ladang itu sebelumnya sempat ditanami singkong. Tetapi kini hancur luluh lantah tak berbentuk. Bekas pertempuran itu semakin bertambah dahsyat.
Rengkahan tanah yang memanjang sampai ke pusat kota kademangan Cangkring ternyata bersumber dari tempat itu. Seperti ucapan Geho Sama memang rengkahan tanah itu menuju ke arah kediaman Kolo Weling, karena disitulah mereka kini sedang berada.
Selain rengkahan tanah dan juga bekas tebasan pedang, mereka juga dengan mudah menemukan banyak kawah-kawah yang merupakan bekas hantamn kekuatan dengan daya penghancur besar.
Di tempat itu selain kawah-kawah kecil yang berjumlah lebih dari selusin, mereka menemukan empat kawah dengan diameter yang luar biasa besar.
Lubang itu begitu dalam sehingga ladang penduduk kini amblas membentuk cengkungan dalam. Jika turun hujan dapat dipastikan tempat itu akan menjadi sebuah danau besar dengan diameter tidak kurang dari sepuluh tombak.
Tanah dimana empat kawah itu muncul berwarna menghitam, pertanda telah terjadi pengerahan jurus yang mampu menciptakan sebuah kekuatan dengan suhu yang teramat panas.
"Aku yakin ini adalah jurus yang berasal dari Ilmu Tapak Dewa Matahari, yaitu jurus ledakan matahari kembar. Aku dapat mengingat jelas. Karena tuan Suro beberapa kali pernah mengerahkan jurus ini," tegas Geho Sama menatap ke arah kawah besar didepan mereka.
"Benar Geho Sama, berarti benar seperti dugaan kita di awal, jika Eyang Sindurogo sempat membantu Dewa Pedang menghadapi musuh."
Dewa Rencong sampai menggeleng-gelengkan kepala tidak mampu membayangkan seperti apa pertempuran dahsyat yang sudah terjadi, jika bekas pertempurannya saja sebegitu mengerikannya.
"Jika kakang Sindu saja sampai harus mengerahkan serangan dahsyat secara bertubi-tubi, maka sekuat apa serangan musuh yang mampu menanggungnya?" Dewi Anggini tidak dapat menutupi rasa penasarannya dan memandang betapa luasnya kawah yang dihasilkan dari pengerahan jurus Ledakan Matahari Kembar.
"Itu kakang Suro sedang berad direruntuhan kediaman paman Kolo Weling!" ucap Mahadewi sambil menunjuk ke arah utara.
Di saat yang lain sibuk mengamati bekas pertempuran, Mahadewi justru sibuk mencari keberadaan Suro.
Tempat dimana mereka berada memang sedikit tinggi, sehingga dari kejauhan mereka dapat melihat jelas Suro sedang sibuk mencari sesuatu diantara reruntuhan puing-puing rumah Kolo Weling yang telah rata dengan tanah.
"Apa yang sedang diakukan muridku disana?" Dewa Obat tanpa berbicara kembali setelah melihat Suro dikejauhan segera melesatkan tubuhnya ke arah Suro.
Dia juga ikut penasaran setelah melihat Suro sibuk mengais-ais diantara reruntuhan. Dari kejauhan dia terlihat seperti sedang mengumpulkan sesuatu.
Setelah Dewa Obat melesat ke arah Suro, maka yang lain tidak beberapa lama kemudian juga segera menyusul.
**
"Apa yang sebenarnya kau kais-kais dari reruntuhan ini?" Dewa Obat yang tiba duluan segera bertanya kepada Suro.
Suro menatap ke arah Dewa Obat yang bertanya kepada sambil tersenyum. Dia kemudian menunjukkan sesuatu benda kecil kepada Dewa Obat," ini, tuan guru!"
Dewa Obat setelah melihat benda kecil yang ditunjukkan Suro dengan menjepit menggunakan jari jempol dan jari telunjuk cukup terkesima, "Bagaimana mungkin benda yang begitu berharga tersebar begitu saja direruntuhan ini?"
Tanpa pikir panjang Dewa Obat ikut bergabung dengan Suro. Dia juga segera mengkais-kais diantara tumpukan puing-puing.
Kelakuan mereka berdua tentu saja semakin membuat yang lain bertambah penasaran. Tetapi mereka tidak bertanya, melainkan mengamati terlebih dahulu dengan apa yang mereka lakukan.
Dewa Obat terlihat begitu semangat memunguti beberapa benda-benda beraneka ragam. Semua itu merupakan bahan obat yang dikumpulkan Kolo Weling. Suro memperlihatkan kepada Dewa Obat Pill Bhavana Sahasra Nirwana.
Tentu saja dia terkejut sekaligus senang tak terkira. Setelah pertempuran yang dia lewati, kekuatan tenaga dalam yang dia miliki belum juga pulih. Karena pertempuran itu benar-benar menguras tenaga dalamnya.
Setelah itu Dewa Obat juga menemukan berbagai bahan langka lainnya saat sedang mencari pill yang tersebar di antara puing-puing. Tentu saja dia tidak mensia-siakan semua itu. Karena dengannya akan dapat dibuat sebuah obat berkualitas tinggi.
"Sebaiknya kalian bantu kami memunguti bahan-bahan langka ini. Semua ini akan dapat menjadi kunci kemenangan kita seperti pertempuran di benteng kota He Bei." Dewa Obat berkacak pinggang melihat yang lain hanya memandang mereka tanpa ikut membantu.
"Apa kalian tidak ingin segera dapat memulihkan tenaga dalam? Aku tau kalian juga merasa belum mampu puoih secara sempurna setelah pertempuran dikota He Bei. Jika kalian tidak mau membantu kami, maka jangan harap kalian mendapatkam satu pun pill Bhavana Sahasra Nirwana," imbuj Dewa Obat dengan bersungut-sungut.
Suro tertawa kecil lalu kembali memunguti bahan-bahan langka diantara puing-puing.
Mendengar ancaman Dewa Obat, mereka kemudian segera turun dan membantu memunguti bahan-bahan langka tersebut. Pill Bhavana yang ditemukan hanya tiga butir.
Karena itulah jika ingin memulihkan kekuatan mereka semua pilk yanh dia kumpulkan tidak cukup untuk mereka semua. Suro akhirnya memilih mengumpulkan bahan-bahannya terlebih dahulu agar bisa digunakan untuk membuat pill Bhavana Sahasra Nirwana.
Grraooooorrrrrrrr!
Disaat mereka sedang memunguti bahan obat-obatan, mendadak terdengar suara auman harimau begitu keras.
"Maung!" Spontan Suro langsung berteriak.
Dia segera dapat mengenali suara yang berasal dari bukit dikejauhan yang berdiri dengan gagah. Benteng yang melingkar menutupi bukit buatan Suro terlihat masih begitu kokoh.
"Jangan-jangan Maung dan paman Kolo Weling masih selamat?" Matanya menatap Dewa Obat dan juga yang lain.
Mereka akhirnya mendapatkan penjelasan dari Kolo Weling dengan apa yang terjadi. Menurut Kolo Weling serangan yang terjadi di Perguruan Pedang Surga begitu mendadak.
Semua di awali seseorang yang menyebut dirinya sebagai Prabu Gondakumara. Dia meminta pusaka iblis Kunci Langit kepada Perguruan Pedang Surga.
Sebuh rahasia besar akhirnya baru diketahui, mengapa dulu Mahaguru Dewa Pedang mendirikan Perguruannya disitu. Ternyata dia memiliki misi untuk melindungi pusaka itu dari tangan jahat.
Rahasia itu hanya diketahui oleh Dewa Pedang dan Eyang Sindurogo yang mengenal Mahaguru Dewa Pedang.
Eyang Sindurogo datang terlambat saat penyerangan itu terjadi. Saat dia hadir Perguruan Pedang Surga sudah rata dengan tanah, begitu juga Kademangan Cangkring.
Makhluk bernama Prabu Godakumara merupakan sejenis raksasa yang setinggi satu tombak. Begitu juga dengan pasukan miliknya yang datang kemudian.
Menurut penjelasan Eyang Sindurogo kekuatannya kemungkinan sudah setara dengan dewa. Karena itulah mengapa dia dan juga Dewa Pedang yang didukung seluruh anggota perguruannya tidak sangup untuk mengalahkannya.
Eyang Sindurogo sempat kehabisan tenaga dan segera muncul dikediaman Kolo Weling. Tentu saja dia hendak mencari pill Bhavana Sahasra Nirwana.
Tetapi salah satu raksasa yang merupakan pasukan Prabu Gondakumara muncul. Pertarungan keduanya akhirnya menghancurkan kediaman Kolo Weling.
Setelah berhasil membunuh raksasa yang hendak menghabisinya, eyang Sindurogo kemudian segera memulihkan kekuatannya dengan pil pemulih tenaga yanh khasiatnya bisa begitu dahsyat.
Setelah pulih dia kembali ke tengah pertempuran. Secara berturut-turut dia menghantamkan jurus Ledakan Matahari kembar ke arah Prabu Godakumara.
Setiap kali mati maka, makhluk itu kembali hidup. Setelah empat kali serangan dengan jurus yang sama, akhirnya eyang Sindurogo kembali kehabisan tenaga dan menelan pill Bhavana Sahasra Nirwana.
Tetapi musuh tidak mensia-siakan kesempatan itu dengan menyerang balik. Serangan telak itu membuat Eyang Sindurogo luka dalam teramat parah.
Tubuhnya langsung lumpuh, disebabkan tulang punggungnya retak. Dewa Pedang dan para sesepuh perguruan tidak tinggal diam. Mereka sebenarnya terua berusaha menghabisi makhluk itu dengan serangan pedang mereka yang terkenal dahsyat.
Tetapi pedang yang di gunakan musuh bukanlah pedang yang bisa dihadapi hanya dengan pedang langit sekalipun. Pedang yang digunakan prabu Gondakumara bernama Pedang Candrahasa.
Menurut kabar pedang itu milik seorang dewa karena pengabdiannya kepada Dewa tersebut. Di saat genting mendadak muncul dari dalam tanah seekor naga yang begitu besar dan mengerikan bentuknya.
Menurut Eyang Sindurogo naga itu adalah penjelmaan Sang Hyang Anantaboga. Berkat kedatangan Sang Hyang Anantaboga, akhirnya pasukan Prabu Gondakumara berhasil dipukul mundur.
Naga Raksasa yang muncul dari dalam bumi itu kemudian lenyap dengan menyisahkan bekas rengkahan tanah yang memanjang. Sebelumnya pasukan Prabu Godakumara banyak yang amblas masuk ke dalamnya.
Eyang Sindurogo sempat diobati oleh Kolo Weling. Setelah sehari dalam perawatan Kolo Weling mendadak muncul begitu saja seseorang yang datang dihadapan.Eyang Sindurogo.
Mereka juga begitu terkejut dengan sikap eyang Sindurogo yang begitu menaruh hormat dengan seseorang yang sangat rupawan itu. Semua irang tentu saja terkejut dengan cara lelaki rupawan itu yang muncul begitu saja tanpa angin tanpa hujan didepan Eyang Sindurogo.
Bukan hanya sikap Eyang Sindurogo yang begitu hormat. Bahkan aura kekuatannya membuat Kolo Weling dan yang lain seperti sesak dadanya.
Setelah kepergian lelaki rupawan itu, maka Eyang Sindurogo menjelaskan, jika itu merupakan penjelmaan dari Sang Hyang Anantaboga yang dalam wujud manusianya.
Eyang Sindurogo diperintahkan untuk pergi ke Gunung Arjuno untuk memulihkan tulangnya yang retak. Dia diperintahkan bersamadhi dengan cara mengerahkan tehnik empat sage untuk menyerap aura dalam ruangan itu.
Sedangkan Kolo Keling dan yang lain diperintahkan untuk tetap tinggal. Semua itu atas perintah Sang Hyang Anantaboga. Menurutnya Suro dan yang lain akan datang, setelah itu mereka diperintahkan untuk pergi menuju Medang menyusul Dewa Pedang.
"Jika seperti itu kita segera menyusul ke Medang." ucap Dewa Rencong.
"Sebaiknya kita mempersiapkan untuk pertempuran disana dengan membuat Pill sebanyak mungkin." saran Suro kepada Dewa Rencong.
"Benar yang dikatakan muridku, sebelum kita menyusul ke Medang, sebaiknya kita membuat Pill Bhavana sahasra Nirwana dan Pill lainnya sebanyak mungkin." ucap Dewa Obat.
Seperti rencana yang telah dibuat, mereka semua menuju ke Medang setelah Suro dan Dewa Obat selesai membuat obat. Perjalanan mereka kali ini sedikit berbeda, sebab kali ini Maung dan Naga Raja Sisik Emas ikut bersama Suro.
Suro terkesima dengan besarnya ukuran tubuh ular tersebut. Sekarang tubuhnya membesar sebesar pohon kelapa. Dengan panjangnya sekitar tiga tombak.
Orang-orang biasa tentu akan ngeri dan menjauh dari ular raksasa itu. Tetapi tidak bagi beberapa pendekar. Mereka memilih bersamadhi didekat ular besar
Tentu saja mereka mengetahui kehebatan Naga Raja Sisik Emas yang melegenda itu, yaitu dapat mengembalikan luka maupun kekuatan, cukup hanya berada didekatnya.
"Semua persiapan telah selesai. Hari ini kita berangkat menuju Medang. Pertempuran besar telah menunggu kita disana." ucap Geho Sama bersemangat.
Didekatnya Suro tersenyum mendengar Geho Sama. Suro terlihat duduk diatas punggung Maung yang semakin bertambah besar. Berkat perawatan Kolo Weling yang memberikan jatah makan besar membuatnya terlihat begitu besar dan mengerikan.
****
Saat ini Author sedang ada proyek novel lain berjudul Maha Manusia di tetangga berinisial warna kuning.
Silahkan jika ada yang berkenan bisa mampir. Jangan lupa berikan komentar dukungan agar authornya tambah semangat
Terima kasih.