
Pertempuran antara Dewa Kegelapan melawan Hanoman berlangsung selama berhari-hari. Kekuatan Hanoman yang merupakan makhluk setengah dewa tidak mudah ditaklukkan oleh Dewa Kegelapan.
Kekuatan yang dimiliki Hanoman cukup menyulitkan musuhnya. Beberapa kali Kuku Pancanaka milik Hanoman berhasil merobek tubuh Dewa Kegelapan, tetapi semua itu dapat pulih kembali dengan cepat.
Kesaktian milik Hanoman yang berupa Aji Bayu Bajra, Aji Moundri, Aji Pameling bertubi-tubi menghajar tubuh Dewa Kegelapan. Namun kekuatan makhluk itu tidak dapat dihancurkan oleh kekuatan milik Hanoman.
Akhirnya pertarungan itu dimenangkan oleh Dewa Kegelapan. Tubuh dari Hanoman moksa dan langsung kembali ke Khayangan Jongring Salaka dimana ayahnya, yaitu Sang Hyang Batara Guru bersemayam.
"Beruntung kekuatanku telah dapat aku kuasai, meskipun belum sempurna. Sebab jika tidak, maka aku akan dapat dikalahkan oleh kera putih itu. Aku tidak menyangka dibalik sosoknya yang kecil itu tersimpan kekuatan yang melebihi raksasa sebesar gunung."
Setelah memandang tubuh Hanoman yang lenyap dari pandangan mata, maka tatapan Dewa Kegelapan beralih pada gunung Kendali Sada didepannya.
"Prabu Godakumara! Bangunlah aku akan menghidupkan mu kembali!" Suara dari Dewa Kegelapan dengan tehnik tertentu dia hantamkan ke dalam balik gunung.
Suara itu dihantamkan dengan dilambari kekuatan besar miliknya. Sehingga gunung yang menjulang tinggi itu dapat bergetar hebat.
"Siapa yang telah memanggilku?" Mendadak sebuah suara mengelegar terdengar begitu menakutkan. Suara itu seakan berasal dari dalam gunung.
"Kau kah penguasa Akasa Dewa Kegelapan?"
"Benar itu adalah diriku." Dewa Kegelapan tetap menghadap gunung yang ada dihadapannya.
Tidak beberapa lama kemudian sesosok bayangan muncul dihadapan Dewa Kegelapan. Bayangan itu lamat-lamat menjadi sosok yang jelas.
Dilihat dari perawakannya tubuh sosok itu mungkin setara dengan tinggi dari Geho sama, yaitu setinggi satu tombak.
"Apa urusanmu datang membangunkan sukmaku ini?" Sosok itu menatap tajam ke arah Dewa Kegelapan.
"Aku hendak membangkitkanmu kembali, tetapi dengan syarat kau harus tunduk kepadaku." Dewa Kegelapan balik menatap dengan sorot mata dengan begitu mengerikan.
Dewa Kegelapan hendak menunjukkan, bahwa dialah yang berkuasa dan memaksa Sukma yang ada didepannya untuk tunduk kepadanya. Namun sosok itu tidak semudah itu dapat ditundukkan.
"Hohohoho...aku adalah Raawan, aku juga disebut Rewana. Aku juga disebut
Ravan. Namaku juga Dasamuka manusia yang memiliki sepuluh wajah. Dasasana yang memiliki sepuluh kepala.
Aku juga disebut dengan nama Dasagriwa karena memiliki leher sepuluh.Dasakanta yang memiliki sepuluh kerongkongan. Aku juga disebut Rahwana, karena raunganku yang sangat dahsyat.
Aku adalah raja tiga alam. Bagaimana mungkin aku menjadi bawahanmu Dewa Kegelapan?" Tatapan Rahwana semakin tajam seakan hendak memakan jantung Dewa kegelapan mentah-mentah.
"Matamu yang memiliki sepuluh pasang itu sepertinya tidak berguna karena telah ditutupi oleh kesombonganmu. Tubuhmu yang tergencet gunung Kendali Sada saja tidak dapat kau lepaskan, bagaimana kau mampu menjadi penguasa tiga alam? Jangankan tiga alam, kau saja tidak mampu lepas dari penjagaan Hanoman si kera putih!"
"Apa urusanmu kau begitu peduli dengan apa yang terjadi denganku?" Kemarahan Rahwana mulai tersulut mendengar ucapan Dewa Kegelapan yang terasa melecehkannya.
"Apakah kau tidak ingin menuntut balas kepada Batara Brahma yang menjanjikan mu sebagai manusia terkuat, manusia paling sakti di Jagad Raya. Dan tidak ada seorang manusia jua yang bisa mengalahkannya."
"Aku sudah merelakan, hal itu. Karena aku telah mengumbar hawa nafsuku. Mengumbar angkara murkaku. Adigang, adigung, adiguna, sapa sira, sapa Ingsun. Merasa paling hebat."
"Aku tau kau mati sebenarnya bukan karena Rama Wijaya. Bahkan senjata pamungkas milik titisan Sang Hyang Batara Wisnu yang bernama panah Gowa Wijaya sekalipun tidak sanggup membunuhmu.
Sebenarnya kau sendiri yang justru memilih untuk mati. Semua itu karena rasa sakit yang melebihi rasa sakitnya panah dewa yang berhasil menghujam dadamu. Bukan juga rasa sakit atas gunung Kendali Sada yang menimpamu.
Semua itu adalah akibat rasa sakit yang menghujam hatimu, karena dirimu telah ditinggalkan belahan jiwamu Dewi Shinta yang merupakan titisan Bathari Sri Widowati, istri Bathara Wisnu.
Kaulah pemilik pedang Chandrahasa pemberian dari Sang Hyang Batara Guru, kaulah yang menguasai Sastra Jendra dari ayahmu Resi Wisrawa. Bahkan kau kuasai ilmu milik para dewa itu sedari kecil. Dan kau juga Penguasa tiga dunia.
Bahkan gunung Kendali Sada ini sesungguhnya tidak sanggup mengurung tubuhmu maupun sukmamu. Tidak juga karena adanya kera putih yang setia menjaga gunung ini agar kau tidak dapat keluar dari kerangkeng gunung ini.
Semua itu adalah karena pilihanmu sendiri untuk tetap terhimpit oleh besarnya gunung ini. Karena dengan rasa sakit itu akan mampu mengalihkan rasa sakitmu atas keputusan Dewi Shinta menolak dirimu dan lebih memilih Rama Wijaya.
Karena kau tau sesungguhnya Dewi Shinta adalah titisan Dewi pertiwi Dewi Sri Wedowati pujaan hatimu. Menyedihkan sekali nasibmu Rahwana, memilih mati karena cinta! Hahaha...!"
Dewa kegelapan yang mengetahui apapun yang telah terjadi dengan menggunakan mata nujumnya, tergelak tertawa sepuasnya melihat reaksi sosok didepannya.
Kemarahan Rahwana telah sampai ubun- ubun mendengar ucapan Dewa Kegelapan. Dia terlihat bersungut-sungut ketika Dewa kegelapan membaca riwayat hidupnya yang telah dia lalui.
"Kau adalah penguasa ketiadaan, tau apa kau berbicara tentang rasa sakit dihatiku? Rasa sakit ini telah aku peram selama puluhan ribu tahun ini. Kau tidak akan mampu memahaminya.
Enyahlah dari hadapanku. Jangan kau kira aku yang hanya berupa sukma ini tidak mampu menghancurkanmu yang belum mampu menyerap seluruh kekuatan sejatimu!"
"Hahahaha...! Sudah aku duga, Rahwana manusia paling sakti sejagat yang memiliki ajian Panca Sona Bumi, Panca Sona Angin, dan Panca Sona Air. Selama di atas bumi, Rahwana tidak bisa mati. Selama masih ada angin, Rahwana tidak bisa mati. Dan selama masih kena air, Rahwana tidak akan bisa mati."
"Tetapi karena seorang wanita Rahwana lebih memilih mati! Hahahaha...!"
"Tutup mulutmu!"
"Hahaha...Berarti dirimu tidak waskito tidak mengetahui apa yang telah terjadi dimarcapada ini!"
"Apa maksudmu?"
"Bagaimana jika aku katakan kepadamu, bahwa Dewi Sri Wedowati telah terlahir kembali dibumi ini?"
Mendengar ucapan Dewa Kegelapan, Sukma Rahwana yang bergelar Prabu Godakumara itu memincingkan matanya.
"Jangan menipuku, itu tidak mungkin...aku sudah menunggu selama puluhan ribu tahun. Dewi Wedowati tidak kunjung terlahir kembali ke dunia ini! Setelah dia disia-siakan oleh Rama Wijaya. Dan memilih direngkuh kembali oleh ibu Pertiwi lenyap ditelan bumi."
"Aku tidak membohongimu, Dewi Wedowati sesungguhnya telah menitis dalam diri seorang dara yang bernama Mahadewi.
Tetapi jika dirimu akan mendapatkan pujaan hatimu, maka kau harus bertarung dengan seseorang yang merupakan titisan dari Pangruwatdewa. Karena dia tidak akan membiarkan titisan Dewi Sri itu kau bawa pergi.
Jika kau mampu menghabisi titisan dari Pangruwatdewa, maka tidak akan ada yang mampu menghalangi dirimu bersatu dengan kekasihmu Dewi sri Wedowati.
Aku berjanji kepadamu, akan aku berikan wujud baru layaknya wajah dari Sang Hyang Kumajaya, yaitu dewa yang memiliki paras tertampan diseluruh Khayangan Jongring salaka."
"Syaratnya adalah kau harus membunuh titisan Pangruwat dewa yang juga akan menjadi penghalang dirimu untuk mendapatkan Dewi Wedowati."
"Jika yang kau katakan benar adanya, jangankan Pangruwatdewa, bahkan rajanya para dewa sekalipun akan aku hadapi. Tetapi jika perkataanmu tidak dapat aku pegang, maka aku sendiri yang akan memisahkan kepalamu dari badanmu!"