
Pedang Pelahap Sukma menganga lebar dan sesuatu yang tidak disangka terjadi. Pedang itu menghancurkan kekuatan yang dikerahkan Dewa Kegelapan. Melahap dnegan rakus kekuatan milik Dewa Kegelapan.
"Sungguh mengagumkan kekuatanmu Sosrobahu!" seru Suro dengan wajah yang dipenuhi senyuman lebar.
Keadaan itu membuat Pedang Akar Dewa memiliki kesempatan untuk menerjang lalu mulai mengepung dan menutup jalan bagi setiap jengkal yang dapat dilewati Dewa Kegelapan.
"Ini saatnya kau mati dengan sempurna!" Suro pun melesat dengan kecepatan penuh menerjang ke arah Dewa Kegelapan.
Dewa Kegelapan menyaksikan aura kekuatan yang menyelimuti dirinya terus dimakan oleh Pedang Pelahap Sukma. Dia kini mulai merasakan ancaman. Karena pada saat itu Suro telah menghantamkan pukulannya dengan sangat telak.
Duuuuuuuum!
Ledakan yang menghantam itu menggetarkan langit dan bumi. Kekuatan yang begitu besar seakan tidak mampu ditampung oleh Gunung Mahameru.
Akibatnya puncak gunung itu runtuh di sertai ledakan yang memekakkan telinga dan disertai semburan lahar yang kembali terjadi.
Duuuuuuum! Duuuuuuum!
Dentuman keras berturut-turut terjadi di tengah hamburan lahar yang menjulang tinggi ke langit.
Gelegar suara itu juga diiringi gempa bumi yang terasa hingga jauh. Semua itu terjadi karena Suro terus menghujani tubuh Dewa Kegelapan dengan pukulannya.
Bukan hanya satu tangan, pada saat bersamaan bermunculan kepalan tangan raksasa yang ikut menghantam tubuh Dewa Kegelapan. Tangan raksasa itu terbuat dari batu besar berlapis berlian. Itu adalah salah satu puncak teknik perubahan tanah yang dia kuasai.
Pertempuran diantara mereka begitu dahsyatnya, bahkan Geho Sama sendiri tidak mampu mengikuti. Keduanya telah masuk ke dalam lahar yang terus menyembur ke langit tinggi.
"Sial, bocah gendeng, bagaimana dia mampu bertahan dalam panasnya lahar seperti itu?" ucap Geho Sama yang hanya memandang dari atas udara.
Dentuman yang menggelegar seakan Gunung Mahameru seperti hendak dicabut dari akarnya. Para pendekar dan para prajurit yang sebelumnya menjauh banyak yang justru mwnjadi korban.
Keadaan itu akhirnya menjadi perhatian Geho Sama. Dia melesat menuju ke arah mereka.
"Apa yang terjadi dengan muridku Gagak setan?" tanya penuh khawatir Eyang Sindurogo.
Ternyata Eyang Sundurogo dan Maharesi Acaryanandana juga berusaha menyelamatkan para pendekar dan pasukan dari berbagai kerajaan dengan mengirim mereka menggunakan gerbang gaib.
"Dia terus menghajar Dewa Kegelapan sampai masuk ke dalam lahar gunung, aku tidak mampu mengikuti pertempuran mereka, karena itulah aku melesat kesini. Ternyata pendekar berdua sudah ada disini berusaha menyelamatkan para nyawa yang tidak bersalah," balas Geho Sama.
Melihat kedatangan Geho Sama, maka segera Mahadewi melesat mendekat dengan menggunakan teknik pedang terbang miliknya. "Paman Gagak setan, apa yang terjadi pada Kakang Suro?" ucap Mahadewi yang seperti orang yang hampir menangis.
"Jangan khawatirkan dirinya, sebaiknya dirimu dan yang lainnya segera meninggalkan tempat ini secepatnya. Karena aku tidak tahu akan seperti apa pertempuran yang tengah dilakukan antara Dewa Kegelapan dengan bocah sinting," terang Geho Sama dengan mimik yang penuh khawatir.
Geho Sama menyadari pertempuran yang tengah dilakukan oleh Suro juga akan memyangkut keselamatan dirinya juga.
Selagi dia sedang memikirkan apa yang dapat terjadi dalam pertempuran untuk melenyapkan Dewa Kegelapan dalam kawah Gunung Mahameru mendadak dari langit bersama lontaran lahar yang jatuh bermunculan sewujud makhluk yang wajahnya seperti dia mengenalnya.
"Astaga! Mengapa wajahnya mirip Pendekar Suro!" teriak terkejut orang-orang yang ada disana.
Seketika Geho Sama segera menyadari hal itu, sebab wajah dan tubuh makhluk itu berbalut lahar panas yang membara.
Belum juga rasa terkejut mereka selesai, justru pada saat iutlah para makhluk misterius yang berbalut lahar menyerang mereka semua dengan kemampuan api yang mereka miliki.
"Makhluk apa sebenarnya mereka Geho Sama?" teriak Eyang Sindurogo yang segera mengerahkan jurus Tapak Dewa Matahari untuk mengahadang serangan yang datang.
Maharesi Acaryanandana juga segera bergegas mengerahkan panah dewa untuk menghadang.
"Entahlah, apapun itu tugas kita adalah memusnahkannya!" ucap Geho Sama yang segera menghantamkan Pedang Kristal Dewa untuk menghentikan serangan lawan yang begitu mengerikan.
Wajah Geho Sama terkesiap saat menyaksikan jurus yang digunakan lawan adalah Naga Taksaka yang biasa digunakan oleh Suro.
"Apa yang sebenarnya terjadi pada anak itu? Mengapa kekuatan kegelapan dapat meniru wujudnya dan juga pengetahuannya?" ucap Geho Sama dengan penuh resah.
Dia menyadari telah terjadi sesuatu hal yang membuat Dewa Kegelapan berhasil mencuri pengetahuan milik Suro.
Namun saat ini tidak banyak waktu memikirkan hal yang tidak diketahui jawabannya, sebab musuh bertambah banyak.
"Brahmastra!" teriak Maharesi Acaryanandana mengerahkan salah satu panah dewa andalannya.
Seketika muncul bola api raksasa yang menerjang ke arah berduyun-duyun nya para makhluk yang tercipta dari lahar yang hendak membumi hanguskan para pendekar yang berkumpul.
"Tebasan Sejuta Pedang Es!" teriak Dewa Pedang.
Seketika itu juga segunung es langsung menyegel para makhluk yang berkumpul. Meskipun sebelum disegel hantaman energi pedang itu berhasil menghancurkan seluruh makhluk terlebih dahulu, namun itu tidak mampu melenyapkan secara keseluruhan.
Dalam beberapa saat makhluk yang hancur itu dapat lepas dan kembali maju untuk menyerang.
"Varinastra!" teriak Maharesi Acaryanandana yang segera mengerahkan serangan dewa laut.
Dalam waktu sekejap muncul badai angin dan air yang menggulung makhluk yang sebelumnya telah dihancurkan oleh Dewa Pedang.
Tubuh mereka diterbangkan begitu tinggi dan disegel menjadi es. Setelah itu dihancurkan sampai menjadi tidak terhitung jumlahnya dan di sebar ke berbagai arah.
Rupanya cara yang digunakan Maharesi Acaryanandana jauh lebih manjur. Makhluk yang berwujud api itu telah kehilangan kemampuannya untuk mampu membentuk lagi tubuhnya.
"Serang lagi Maharesi! Caramu itu lebih manjur!" teriak Geho Sama yang ikut memperhatikan serangan yang dikerahkan barusan.
Maharesi Acaryanandana yang melihat serangannya berhasil, maka dia segera mengerahkan jurus yang sama untuk melibas. Namun itu hanya berlangsung beberapa saat saja, sebab setelah berulang kali justru terjadi keadaan yang tidak mereka sangka.
Makhluk itu mampu menggabungkan seluruh tubuh mereka yang hancur dan menciptakan makhluk lain yang baru dan berukuran teramat besar.
"Astaga apa yang sebenarnya terjadi pada muridku?" ucap penuh cemas Eyang Sindurogo, sebab raksasa yang berbentuk dari bongkahan-bongkahan es itu memiliki wajah yang sulit di sangkal, jika kemiripan nya dengan Suro hampir seratus persen.
"Geho Sama cepat bertanya kepada muridku tanyakan kondisi pertempurannya dengan Dewa Kegelapan! " ucap Eyang Sindurogo bertambah panik.
"Maafkan diriku tuan guru, hanya saja kesadaran tuan Suro tidak dapat aku masuki. Seperti ada sesuatu yang berusaha mengendalikannya," ucap Geho Sama dengan suara bergetar.