
"Bagaimana? Apakah kalian masih menganggapku gila?"
"Uhuk! Uhuk!"
Eyang Udan asrep menjadi terbatuk- batuk mendengar ucapan ketua perguruannya. Dia berasa tersentil dengan ucapan itu.
"Jika diantara kalian ingin belajar jurus ini panggil nakmas Suro dengan panggilan Guru. Baru setelah itu kalian boleh belajar jurus ini!"
Suro yang mendengar perkataan Dewa Pedang hanya menyengir dan mengaruk-garuk kepalanya. Para tetua dan petinggi pergurun saling berpandangan melotot mendengar perkataan ketua sekte mereka.
"Tidak perlu sungkan tetua anggap saja kita saling berbagi ilmu." Suro berkata sambil menjura dengan dalam kearah para petinggi perguruan.
Suro tidak merasa enak apalagi melihat reaksi para petinggi perguruan yang salah tingkah. Tetapi Dewa Pedang justru melotot mendengar perkataan Suro.
"Berbagi ilmu kepalamu! Tidak ada ilmu yang telah mereka bagikan kepadamu! Bagaimana itu disebut berbagi ilmu?"
Suro menjadi ikut salah tingkah dan tertawa-tawa kecil melihat Dewa Pedang melotot kepadanya tapi matanya sambil melirik-lirik kearah para tetua.
"Baiklah!" Dewa Pedang sambil menarik nafas panjang dan menghembuskannya.
"Karena nakmas Suro yang menciptakan jurus ini. Terserah dia yang menentukan syaratnya. Dan dia sudah mengatakan syaratnya saling berbagi ilmu. Maka jika diantara kalian ingin belajar jurus tebasan sejuta pedang. Bagikan ilmu kalian kepada nakmas Suro."
"Aku anggab itu hal yang adil bukan?"
"Dan ilmu yang diberikan tidak boleh sama dengan ilmu yang dibagikan dengan orang yang sebelumnya. Jika kalian ingin membagikan ilmu kalian yang ada dalam kitab Dewa Pedang aku katakan nakmas Suro sudah memahami dan hafal diluar kepala."
"Dan satu lagi kalian tidak boleh menukar ilmu yang nakmas Suro sudah tau."
Para tetua yang berada didepan Suro menunjukan mimik seakan tidak memahami sikap ketua mereka. Seperti tidak biasanya setelah melihat sikapnya berubah saat mendengar perkataan mereka sebelumnya. Entah mengapa mereka merasa ada sikap yang agak berbeda setelah menangapi perkataan mereka yang menyinggung Suro.
Bukan hanya mereka yang merasa seperti itu. Bahkan Dewa Pedang sendiri juga kebingungan dengan sikapnya yang tidak terima Suro dipandang sebelah mata oleh para petinggi dan tetua perguruan.
Mimik para petinggi perguruan terlihat begitu serius. Seakan sedang mengingat-ingat sesuatu.
Setelah melihat betapa dahsyatnya potensi jurus yang diperlihatkan barusan membuat mereka menjadi tergiur dengan kehebatan jurus tersebut. Tentu saja mereka tidak mau melewatkan kesempatan mempelajari jurus tersebut.
Mereka semua sedang berpikir keras untuk menukar ilmu yang pantas dia berikan kepada Suro sesuai syarat yang dikatakan ketua mereka.
Masalah yang timbul adalah, Karena kebanyakan dari mereka hanya mengerti satu kitab ilmu yang sampai sekarangpun tidak pernah selesai memahaminya yaitu kitab Dewa Pedang.
"Nakmas Suro silahkan lanjutkan latihannya! Tak perlu nakmas membagikan jurus dahsyatmu kepada orang yang tidak mau berbagi."
"Baik tuan pendekar!"
Suro menjawab Dewa Pedang sambil menjura kepadanya kemudian kearah para tetua dan para petinggi yang memandang dirinya dengan tatapan kekaguman juga kebingungan karena belum menemukan ilmu yang pantas untuk ditukar.
"Aku juga ingin mengatakan kepada kalian bahwa Suro mulai detik ini adalah bagian dari perguruan ini. Posisi dia tidaklah pantas disebut hanya sebagai murid karena pemahamannya tentang kitab Dewa Pedang sedikit banyak melebihi kalian semua bahkan beberapa hal melebihi diriku juga."
"Aku ingin jurus ini menjadi milik perguruan. Dia adalah aset yang sangat berharga untuk kemajuan Perguruan Pedang Surga. Bukan dia yang membutuhkan kita, tetapi justru kita yang membutuhkan keberadaannya di perguruan ini. Semoga para tetua dan petinggi perguruan ini bisa memahami keputusanku. Karena satu-satunya cara untuk menjadikan bocah itu menjadi bagian dari perguruan ini adalah menjadikannya seorang tetua muda."
''Apa itu tidak berlebihan?" Tetua Eyang Tunggak Semi kembali mempertanyakan keputusan Dewa Pedang.
"Apa Tetua tidak ingin jurus yang lebih hebat dari kekuatan pamungkas Kitab Dewa Pedang menjadi milik perguruan ini? Apa justru tetua tidak ingin perguruan ini mengalami kemajuan dengan membuat perguruan ini lebih kuat?"
Dewa Pedang membalas pertanyaan tetua pedang dengan melemparkan pertanyaan yang memojokkannya. Tentu saja tetua pedang kelabakan mendapat jawaban yang tidak dia sangka.
"Bukan seperti itu maksud dari pertanyaanku. Apakah tidak berlebihan menjadikan seorang yang masih bocah seperti itu menjadi tetua?"
"Ow..begitu! Seingatku peraturan perguruan ini syarat untuk menjadi seorang tetua adalah telah menguasai jurus seribu pedang melebur menjadi satu. Apakah peraturan itu telah berubah. Atau sekarang peraturan perguruan telah dirubah hanya melihat dari umur saja?"
Kembali jawaban Dewa Pedang membuat tetua pedang kehabisan kata-kata bingung untuk menjawab.
"Kalian ingin tau seberapa kuatnya bocah itu? Dalam pertempuranku melawan monster yang telah meratakan perguruan ini. Jika tanpa kehadiran bocah itu walau bersama Eyang Sindurogopun kami tetap akan kesulitan memenangkan pertempuran."
"Aku ingin bertanya kepada kalian semua mengapa tiga kerajaan begitu baik membantu membangun kembali perguruan kita dengan lebih megah daripada sebelumnya?"
"Jika kalian menjawab karena kesediaanku membantu mereka memerangi teror monster. Ya! Pasti itu salah satu alasannya."
"Diantara kalian semua ini. Apakah kalian semua tidak bisa mengingat? Bagaimana aku mencoba mempertahankan perguruan ini selamat dari kahancuran dan hasilnya, adalah perguruan kita rata dengan tanah."
"Jika itu belum cukup membuat kalian paham! Bagaimana perguruan kita berhutang jasa pada bocah itu? Aku katakan kepada kalian semua bahkan keberadaanku dalam pertempuran melawan monster hanya memiliki peran kecil. Peran yang besar telah diambil Guru dan murid itu."
"Bukan hanya karena kesediaanku membantu tiga kerajaan yang menyebabkan mereka membantu perguruan ini. Tetapi berkat Eyang Sindurogo guru dari bocah itu dan juga dari peran besar Suro dalam membantu mengalahkan monster. Sehingga mereka, tiga kerajaan mau mengulurkan tenagannya membantu membangun dan membuat perguruan ini bisa berdiri kembali."
"Dengan tidak langsung jasa bocah itu kepada perguruan ini sangat besar."
"Jadi setelah memahami apa kalian masih menganggab posisi yang akan kuberikan pada bocah itu kalian sebut berlebihan?"
Kali ini muka Dewa Pedang merah padam menahan kekesalan para petinggi perguruan yang telah meremehkan Suro. Entah mengapa tiba-tiba sekarang Dewa Pedang mudah tersinggung jika ada yang meremehkan keberadaan Suro.
"Dengan kata lain perguruan ini dapat kembali berdiri berkat campur tangan bocah itu."
"Mungkin maksud dari perkataan Eyang Tunggak semi adalah apa tidak akan menimbulkan kecemburuan kepada murid yang lain. Sesorang yang dari luar perguruan tiba-tiba masuk langsung diangkat menjadi tetua muda. Alangkah baiknya jika kita menghindari itu."
Para petinggi mangut-mangut pertanda setuju dengan yang dikatakan wakil ketua perguruan.
"Mungkin lebih baik kita adakan saja pemilihan tetua muda yang baru, betul tidak?"
"Mengingat begitu banyaknya para tetua yang ikut menjadi korban ganasnya serangan Naga raksasa."
"Sehingga membuat banyak posisi tetua yang kosong dan perlu segera diisi kembali dengan tetua yang baru. Bukankah itu justru menjadi jalan keluar yang baik untuk kemajuan perguruan ini?"
Wakil ketua Eyang Udan Asrep mencoba menengahi dan memberikan solusi yang lebih baik untuk kemajuan perguruan.
"Nah kalau seperti itu alasannya saya setuju dengan pendapat kakang Udan Asrep." Dewa Pedang menimpali pendapat wakilnya yang mengutarakan ide sangat bagus.
Dewa Pedang menatap para tetua kemudian menarik nafas panjang dan dihembuskannya kembali.
"Ya itu benar, tentu saja kami juga setuju dengan pendapat itu!"
Akhirnya para tetua setuju dengan pendapat wakil ketua perguruan. Semua petinggi perguruan akhirnya membuat keputusan untuk mengadakan seleksi pemilihan kandidat terbaik untuk menduduki jabatan tetua baru.
Setelah perdebatan panjang itu selesai para tetua akhirnya meninggalkan kediaman Dewa Pedang satu demi satu. Didepan kediaman hanya tinggal Dewa Pedang yang memandang Suro yang masih sibuk dalm samadhinya.
"Nakmas Suro minggu depan akan ada seleksi pemilihan tetua baru dan kamu aku masukan sebagai kandidat." Setelah Suro membuka matanya untuk mengakhiri latihan hari itu Dewa Pedang segera memberitahu Suro mengenai rencana dirinya menjadikannya sebagai seorang tetua di Perguruan Pedang Surga.
"Untuk apa Suro harus ikut seleksi paman pendekar?" Suro mengaruk-garuk kepalanya dan bertanya dengan wajah polosnya.
"Ya tentu saja agar kamu bisa terpilih menjadi tetua."
"Maksud Suro, untuk apa posisi tetua bagi Suro. Cukup menjadi murid saja tidak perlu menjadi tetua. Toh, Suro sepertinya juga tidak akan tinggal lama disini. Kalau perlu cukup menjadi murid luar juga tidak masalah."
"Dengan posisi murid luar sudah cukup buat Suro yang penting dalam mempelajari tehnik sembilan putaran langit tidak lagi dipermasalahkan karena Suro sudah menjadi bagian perguruan."
Dewa Pedang memandangi wajah polos yang ada didepannya dan tersenyum. Sepertinya dia mulai menyukai sikap Suro yang polos dan begitu sederhana. Bahkan dia melihat pakaian yang dikenakan bocah ini sudah saatnya diganti. Terlihat sedikit kumal walaupun bersih tetapi karena sudah terlalu lama dipakai sehingga terkesan kumal.
"Posisi ini akan memberikan keluasan dirimu untuk mempergunakan sumber daya perguruan. Jika posisimu hanya sebagai murid hanya akan mempersulit dirimu untuk menyelesaikan tehnik Sembilan Putaran Langit."
"Selain itu kalau kamu menjadi murid, guru yang mana di perguruan ini yang bisa menyamai gurumu."
"Alasan lain sebenarnya karena tehnik yang kamu kuasai sudah tak mungkin bisa lagi disebut murid."
"Intinya tujuh hari kedepan kamu harus ikut seleksi menjadi salah satu tetua muda di perguruan ini. Agar saat nanti tiba aku ikut membantumu menyelamatkan gurumu, para petinggi perguruan tentu tidak akan kembali mempertanyakan sikap paman jika waktunya tiba!"
"Sendiko dawuh paman guru Suro setuju. Suro akan ikut sesuai arahan paman guru. Karena Suro tidak mau menambah kerepotan paman."
"Nah gitu panggil paman dengan paman guru saja terasa lebih enak dikuping nakmas. Hehehe...!"
"Selain itu, nakmas sebenarnya paman sebut terlalu jenius untuk disebut sebagai manusia. Paman benar-benar mengagumi nakmas tak ada yang mampu melakukan seperti yang telah nakmas lakukan. Kecepatanmu melatih tehnik ini bahkan mengalahkan Mahaguru yang telah menciptakan tehnik sembilan putaran langit ini. Apalagi diriku jika dibandingkan dengan nakmas terpaut cukup jauh kecepatannya."
"Benarkah paman? Mohon maaf paman jika Suro sudah melewati kecepatan paman sebelumnya saat melatih tehnik ini."
"Hahahaha! Tidak mengapa nakmas justru paman senang."
"O...iya paman, Berkat tehnik ini Suro juga merasa jika Ilmu saifi angin yang diajarkan Eyang guru ikut meningkat drastis. Langkah kilat dalam jurus saifi angin juga begitu signifikan peningkatan kecepatannya."
"Bagus paman juga penasaran dengan peningkatan yang nakmas katakan. Paman jadi tak sabar tunjukan nanti di seleksi pemilihan tetua. Jangan mempermalukanku didepan perguruan ini. Tunjukan pada semua kalau kau memang pantas menyandang tingkatan sebagai seorang tetua pedang Perguruan Pedang Surga."
"Sendiko dawuh, paman guru!" Suro menjura ke arah Dewa Pedang.