SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Serahkan Sisanya Pada Mereka



"Tujuh Lapis Gerbang Neraka!" teriak Suro mencoba menghentikan serangan Batara Karang yang berupaya menghabisi pasukan para pendekar dan gabungan beberapa kerajaan.


Seketika dari dalam tanah muncul gerbang berlapis-lapis yang sedemikian kuat dan besar. Namun kali ini ada yang berbeda dari jurus perubahan tanah yang dikerahkan Suro.


Gerbang itu bukan dalam wujud dinding tanah, tetapi berbentuk dari kristal berlian yang sangat kuat. Sehingga hantaman serangan yang akan melenyapkan pasukan yang bersama Suro berhasil ditahan.


Meskipun serangan yang dikerahkan. Batara Karang itu berhasil menghancurkan beberapa gerbang. Namun pada gerbang ketiga semua serangan itu sudah habis.


"Kurang ajar, bagaimana mungkin kau memiliki ilmu yang seperti tidak ada batasnya?" Batara Karang mengakui kekuatan Suro yang memang sangat menakutkan.


Suro langsung melesat menggunakan jurus Langkah Kilat dan muncul dari berbagai arah. Karena dia kali ini langsung mengerahkan tubuh kembarannya.


"Matilah!"


Teriakan Suro dibarengi dengan hantaman Pedang Pelahap Sukma yang berupaya menghalau awan hitam yang mengelilingi tubuh Batara Karang.


Seperti dugaan Suro, hantaman serangan itu berhasil membuat awan hitam itu ditelan oleh Pedang Pelahap Sukma yang mulutnya menganga lebar dan menyedot awan yang digunakan Batara Karang untuk menangkis dan menyerap serangan lawannya.


Setelah ada peluang, maka keempat tubuh gaibnya langsung mengerahkan serangan secara beruntun. Dari sebelah atas Suro menghantamkan jurus Pedang Pelahap Sukma untuk terus mengikis ledakan awan hitam yang hendak melindungi tubuh Batara Karang.


Lalu dari sebelah depan melesat Tirtanata, dari sebelah belakang Warudijaya. Sisanya Purbangkara dan Sinotobrata dengan kemampuan unik mereka masing-masing menggempur Batara Karang dengan kekuatan penuh.


"Segel Empat Mustika Dewa!" teriak Suro memberikan perintah.


Serangan pertama dimulai oleh Tirtanata mengerahkan teknik perubahan es membekukan tubuh dari Batara Karang. Namun ledakan kekuatan hitam yang dikerahkan Batara Karang mampu melenyapkan kekuatan dari Tirtanata.


Namun itu hanya sesaat, sebab setelah itu serangan teknik perubahan lain memborbardir Batara Karang. Seluruh tubuh Batara Karang langsung digulung dengan kekuatan yang tidak dapat dia hancurkan hanya dengan mengandalkan rantai hitam dan hawa kegelapan.


Kekuatan gabungan mereka setara kekuatan gabungan empat dewa penguasa terkuat teknik perubahan dari seluruh alam raya. Karena kekuatan itu didukung kekuatan empat mustika dewa.


"Aaaaarrrgggghhh! Apa yang hendak kau lakukan padaku?!" teriak cemas Batara Karang yang tubuhnya diliputi semacam sulur yang bukan hanya terbuat dari api, tetapi juga logam dan berlian. Selain itu api hitam yang berkobar dengan begitu ganas membakar seluruh hawa kegelapan.


Mata Batara Karang terbelalak saat menyadari, jika sulur yang membelit sekujur tubuhnya bukan hanya hendak meremukkan seluruh tulangnya, tetapi juga menyerap seluruh kekuatannya.


"Aaaaarrrgggghhh! Cepat bunuh aku jika kau mampu!" pancing Batara Karang.


Suro hanya tertawa melihat lawannya kini telah terjerat oleh kekuatan yang tidak dapat dihindari lagi oleh Batara Karang. Dia kali ini tidak berniat membuat tubuh itu hancur lebur tanpa sisa, Suro justru berniat hendak menyegelnya.


"Kau pikir aku tidak tahu dengan Ilmu Malih Cangkangmu," cibir Suro yang membuat musnah harapan Batara Karang dapat lepas dari segel yang dikerahkan Suro.


"Aku tidak akan semudah ini dapat kau kalahkan!" teriak penuh murka Batara Karang.


Dia lalu meledakkan kekuatan kegelapan yang sangat pekat yang dapat melahap segala hal yang ditelannya.


"Lalu kau pikir aku tidak memikirkan langkah yang akan kau ambil makhluk terkutuk!" seringai Suro yang segera mengerahkan jurus Empat Sage.


Lalu pada saat bersamaan Suro juga melesatkan Pedang Pelahap Sukma dan Pedang Akar Dewa untuk memperkuat segel yang tengah dikerahkan empat penjaga gaib miliknya.


Dia masih mengingat sudah beberapa kali dia berhasil membunuh Batara Karang, namun dia dapat kembali hidup tanpa memiliki bekas luka sedikitpun. Semua itu tidak lepas dari kemampuan unik yang dimiliki oleh Lawannya.


Kali ini Suro tidak akan membiarkan musuhnya dapat hidup kembali dan juga mati. Dia akan menyegelnya yang membuatnya terkungkung dalam ruang kegelapan yang membuatnya dalam keadaan tidak hidup dan juga tidak mati.


"Aaaaarrrgggghhh! Cepat bunuh aku!" teriak penuh kesakitan Batara Karang.


"Kau pikir aku begitu bodoh mau mengikuti kemauanmu yang memintaku untuk membunuhmu?" sindir Suro yang justru semakin memperkuat jurusnya.


Kraaak! Kraaak!


"Aaaaarrrgggghhh!"


Suara teriakan Batara Karang berbaur dengan suara tulang belulangnya hancur diremukkan oleh segel yang menahan tubuhnya. Suara itu semakin lama semakin pelan tertutup kristal penyegelan yang berbentuk bola tak lebih dari sekepala manusia dewasa.


Setelah selesai penyegelan yang dia lakukan, maka Suro segera menghantamkan Pedang Pelahap Sukma. Ujung pedang yang memiliki mulut segera menganga dengan lebar dan melahap dengan rakus bola berisi tubuh Batara Karang yang tersegel.


"Akhirnya aku dapat membuatnya tidak dapat kembali ke dunia ini," seringai Suro yang kemudian langsung melesat ke arah puncak Gunung Mahameru.


Eyang Sindurogo dan Maharesi Acaryananda segera menyusul ke atas. Beberapa saat kemudian Geho Sama juga telah menyusul. Karena suara bergemuruh terdengar begitu keras di puncak Gunung Mahameru.


Suara itu diikuti dengan gempa bumi yang melanda. Keadaan itu membuat para pendekar dan para prajurit harus bergegas bergerak mundur menjauh dari wilayah Gunung Mahameru.


Melihat hal yang sudah menghawatirkan tersebut Dewa Pedang sebagai pemimpin koalisi segera bertindak mengambil keputusan cepat.


"Semuanya mundur cepat! Kita tinggalkan kaki Gunung Mahameru secepatnya! Gunung ini akan meletus!" teriak Dewa Pedang memberi arahan. Dia berbicara dengan dilambari tenaga dalam, sehingga puluhan ribu pasukan itu dapat mendengar dengan jelas


Apalagi saat itu Pasukan aliran hitam yang memiliki wujud seperti Butha kala juga telah ditumpas habis oleh Geho Sama. Kapak Pembelah Semesta yang dia gunakan berhasil menghancurkan barisan pasukan yang sulit dibunuh itu.


Lalu dia melenyapkan semua tubuh bercecer yang tersebar dalam area pertarungannya menggunakan api hitam dan juga jurus Empat Sage.


"Semua menjauh jangan ada lagi yang mendekat ke arah Gunung Mahameru. Tugas kita sudah selesai, biarkan mereka berempat yang menyelesaikan sisanya!" ucap Dewa Pedang.


Wajah Dewa Pedang yang berbicara dengan tenang itu tetap tidak dapat menyembunyikan kekhawatirannya atas pertarungan yang akan dihadapi Suro di atas puncak Gunung Mahameru.


Mahadewi terlihat bersama gurunya Dewi Anggini dan juga Dewa Rencong. Pasukan pendekar dan gabungan kerajaan yang sejak awal terus menahan serangan dari pasukan milik Dewa Kegelapan harus dibayar mahal.


Setengah dari pasukan mereka tewas dalam pertempuran tersebut. Kini mereka hanya bisa berharap banyak Suro dapat memenangkan pertempuran puncak. Mereka semua menyadari, jika pertempuran itu berkekuatan sangat dahsyat.


Mereka semua tidak mungkin mendekati apalagi membantu. Pandangan mata mereka menyaksikan puncak Gunung Mahameru mulai bergejolak dan memutahkan laharnya.


"Beruntung kita telah menjauh mengikuti perintah Ketua Dewa Pedang," ucap Dewi Anggini sambil memandang di kejauhan murahan lahar yang dapat terlihat dari kejauhan disertai asap tebal membumbung tinggi.


"Apakah mereka berempat selamat guru, terutama kakang Suro?" tanya penuh khawatir Mahadewi yang melihat betapa mengerikannya murahan lahar dari puncak Gunung Mahameru.


"Kita lihat saja, namun yang jelas anak mas Suro kekuatannya sudah setara para dewa. Jika dia tidak mampu menghentikan, maka tidak akan ada yang mampu menghentikan Dewa Kegelapan," terang Dewi Anggini.