SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 81 MENUNGGU LATIHAN TAHAP TERAKHIR



"Tetua, bisakah murid ini bertemu dengan kakang Suro?"


Mahadewi yang sedari pagi menunggu di depan gerbang kediaman Dewa Pedang akhirnya melihat Dewa Rencong berjalan menuju ke dalam gerbang kediaman Dewa Pedang. Mahadewi tidak menyia-nyiakan hal tersebut, segera dia mendekati Dewa Rencong. Tanpa basa-basi lagi dia meminta ijin untuk bertemu dengan Suro.


Sejak kepergian Dewa Pedang, kediamannya kini dijaga dengan begitu ketat. Semua itu atas perintah Eyang Udan Asrep. Entah alasan apa yang membuat keputusan itu terjadi.


Dewa Rencong memincingkan matanya mendengar dara muda yang memohon bertemu dengan Suro.


"Siapa kalian? Ada urusan apa dengan nakmas Suro?"


Made Pasek yang berada di samping Mahadewi mengaruk-garuk kepalanya. Setelah Dewa Rencong selesai berbicara, ia segera menjura terlebih dahulu sebelum mengutarakan niat kedatangannya bersama Mahadewi.


"Mohon maaf Tuan Pendekar Dewa Rencong, mungkin tuan pendekar lupa dengan kami yang sebelumnya menjadi peserta seleksi tetua muda. Tujuan kami ingin bertemu tetua muda Suro, karena kami ingin melanjutkan latihan kami bersama tetua muda yang sudah tujuh hari ini tidak kembali kekediaman."


Made Pasek datang kekediaman Dewa Pedang memang menemani Mahadewi untuk bertemu Suro. Made Pasek seperti juga Mahadewi diperintahkan gurunya tetap tinggal dipadepokan pusat untuk menyelesaikan latihannya bersama Suro.


"Lalu mengapa kalian datang berdua? Apakah nakmas Suro sebelumnya melatih kalian?"


"Benar tetua!" Mahadewi dan Made Pasek menjawab secara serempak.


Dewa Rencong giliran yang mengaruk-garuk kepalanya.


"Apa aku tidak salah mendengar? Melihat perawakanmu bukankah kamu lebih tua daripada nakmas Suro? Selain itu bukankah dirimu juga sudah memiliki guru sendiri, yaitu para tetua cabang? Untuk apa kalian masih meminta diajari oleh nakmas Suro? Kalian seperti Kebo nusu gudel(anak kerbau)!"(Sebuah pemisalan seseorang yang lebih tua belajar kepada yang lebih muda).


"Benar tetua, umur saya memang lebih tua tetapi tidak terpaut jauh. Guru kami yang justru memerintahkan kami tetap tinggal dipadepokan pusat ini, agar bisa menyelesaikan latihan kami dengan tetua muda. Walaupun usia murid terpaut beberapa tahun lebih tua dibandingkan tetua muda Suro, tetapi jarak kami tidak lah sejauh para tetua yang ikut mengantri untuk meminta diajarkan dan dibimbing oleh tetua muda Suro!" Made pasek menunjuk para tetua dan murid lain yang ikut menunggu Suro keluar dari gerbang kediaman Dewa Pedang.


Mendengar jawaban Made Pasek rasanya Dewa Rencong seperti kesedak ikan mujair satu ekor.


Perkataan Made Pasek bukan menyingung tetapi memang benar bahwa para tetua setelah diajari jurus Tebasan Sejuta Pedang oleh Dewa Pedang masih meminta diajari Suro sebagai penemu jurus itu sendiri. Mereka meminta Suro untuk menjelaskan lebih dalam mengenai jurus tersebut, termasuk hal yang melatar belakangi terciptanya jurus yang begitu dahsyat.


Bahkan demi bisa memperdalam jurus itu mereka tanpa malu ikut menunggu bersama para murid lain.


Sebenarnya ada alasan lain yang membuat mereka, para murid dan tetua ikut mengantri selain menginginkan masukan dan bimbingan Suro, juga menginginkan obat yang sebelumnya pernah diberikan kepada peserta.


Walaupun kabarnya semua obat telah diminta, tepatnya diborong Dewa Pedang dan dibawa semua ke Banyu Kuning. Tetapi mereka tidak pupus harapannya untuk mendapatkan obat itu. Sebab dari kabar terakhir Suro telah memerintahkan Kolo Weling dan seluruh teman-temannya mulai mengumpulkan semua bahan untuk meracik obat itu.


Dengan perintah itu bahkan para anggota perguruan melihat sendiri begitu banyak bahan obat itu akhirnya dapat mereka peroleh. Karena itulah mereka bersikeras menunggu.


Jika dengan menunggu itu akhirnya mereka mendapatkan satu atau dua butir tentulah sangat sebanding dengan kesetiaan mereka masih berada didepan kediaman Dewa Pedang sampai beberapa hari ini. Mereka bisa begitu percaya diri akan memperoleh obat yang mahal dan sangat langka itu, karena mereka mengetahui seberapa besar kedermawaan Suro. Hampir semua mengetahui akan kedermawanan yang sudah banyak dia lakukan. Bahkan para penduduk kademangan Cangkring, hampir semuanya mengetahui tentang kedermawanannya yang telah banyak dilakukan untuk mereka.


Walaupun Suro sendiri tidak pernah ikut menyalurkan setiap bantuannya kepada para penduduk yang diwakili oleh Kolo Weling. Tetapi lambat laun mereka para penduduk mengetahui bahwa Dewa Penolong mereka yang sebenarnya adalah Suro.


Bagaimana tidak mengetahui, semua anak yatim maupun piatu dan para janda yang menjadi korban keganasan serangan Naga raksasa, ditampung dan tinggal ditempat yang semuanya dibiayai Suro.


Mereka begitu berharap mendapatkan obat itu karena menurut kabar, dari orang yang telah merasakan khasiat obat tersebut. Selain mampu memulihkan tenaga dalam, juga memiliki khasiat lain, yaitu bisa membantu menaikan satu tahap kekuatan tenaga dalam. Seperti diketahui setiap tingkat tenaga dalam memiliki sembilan tahap sebelum mencapai tingkat berikutnya.


Itulah mengapa mereka rela menunggu dengan sabar meski sudah tujuh hari ini, mereka tidak melihat tanda-tanda batang hidung Suro keluar dari gerbang kediaman Dewa Pedang.


"Silahkan kalian kembali ke kekediaman tetua kalian masing-masing. Akan sia-sia jika kalian tetap memilih menunggu disini. Karena aku rasa beberapa hari kedepan dia tetap tidak bisa diganggu."


"Kediaman ketua ini dijaga agar tidak sembarang orang masuk, salah satunya agar tidak mengganggu konsentrasi nakmas Suro."


"Karena nakmas Suro sedang dalam kondisi samadhi. Dia masih tenggelam dalam samadhinya. Tidak bisa diganggu karena akan sangat berbahaya, karena dia sedang berkonsentrasi memutar roda chakra ajna sebagai langkah awal dirinya membuka granthi terakhir. Semoga kalian memahami jangan ikut-ikutan dengan orang-orang gila itu." Dewa Rencong mengatakan itu sambil mendengus, karena sudah beberapa hari ini dia kerepotan mengusir mereka dari depan kediaman Dewa Pedang.


Beruntung kediaman itu begitu luas sehingga tidak khawatir mengganggu konsentrasi Suro yang berlatih di sebuah rumah yang agak jauh dari rumah utama. Tepatnya agak kebelakang rumah Dewa Pedang. Ditengah sebuah taman luas yang sengaja dibuat seperti hutan kecil yang sunyi. Dewa Pedang membuat tempat seperti itu, memang dikhususkan sebagai tempat dia berlatih.


Mahadewi dan Made Pasek dengan ekspresi kecewa akhirnya menjura untuk kembali dengan tangan kosong, karena tidak dapat berjumpa dengan Suro. Kemudian mereka berdua melangkahkan kakinya menuju kuda yang ditambatkan tidak jauh dari mereka berdiri.


Dewa Rencong melihat mereka berdua yang telah menjauh. Tetapi melihat orang-orang yang menunggu Suro didepan kediaman Dewa Pedang membuat dia hanya bisa menghembuskan nafas panjang. Dia sebelumnya saat berbicara kepada Mahadewi dan Made Pasek sengaja mengeraskan suaranya, agar para murid dan tetua itu paham dan bubar. Karena Suro tidak bisa diganggu selama latihannya sampai beberapa hari kedepan atau mungkin satu purnama kedepan.


Sebenarnya kondisi itu sudah berlangsung sejak Suro diketahui memiliki banyak persediaan obat. Dan juga disebabkan keputusan Dewa Pedang yang tidak melarang para tetua meminta Suro mengajari mereka dengan tehnik Tebasan Sejuta Pedang.


Keputusan Dewa Pedang yang awalnya mengharusakan para tetua menurunkan ilmu tingkat tinggi sebagai bayaran kepada Suro, jika mereka ingin mempelajari jurus itu, akhirnya dibatalkan dengan menimbang banyak hal. Antara lain karena kekuatan mereka diperlukan membantu menyelamatkan Eyang Sindurogo. Ditambah sekarang mereka harus berperang dengan Pasukan yang berada di bawah bendera Medusa, yang didalamnya terdapat para siluman yang telah berumur ribuan tahun.


Dengan dicabutnya syarat pertama tadi, tentu saja artinya mereka bisa dengan leluasa meminta Suro untuk mengajari tehnik Tebasan Sejuta Pedang kepada mereka. Dengan keputusan itu juga membuat mereka tidak sungkan-sungkan ingin meminta masukan dari Suro agar ilmu yang diajarkan Dewa Pedang kepada mereka terasah semakin baik, walau dengan itu, ikut mengganggu latihan Suro.


Eyang Udan Asrep akhirnya merasa kegerahan dengan sikap mereka. Sehingga dia memutuskan melarang siapapun memasuki kediaman Dewa Pedang tanpa terkecuali, meskipun itu adalah para tetua.


Para penjaga ditempatkan didepan gerbang untuk menjaga siapapun tidak diperkenankan masuk, kecuali atas ijin Eyang Udan Asrep atau atas ijin Dewa Rencong.


"Bagaimana kakang Udan Asrep apakah kondisinya baik-baik saja?" Dewa Rencong bertanya ke arah Eyang Udan Asrep yang duduk dipinggir ruangan sambil terus mengawasi perkembangan Suro.


"Tidak kurang sedikitpun!"


"Ini sudah hari ketujuh sejak dia memulai bermeditasi. Nakmas Suro tidak bangun dari meditasinya sejak saat itu. Pada hari keempat hasta mudranya(isyarat tangan) dari dhyana mudra telah berganti menjadi padma mudra."


Mudra secara umum banyak dikenal dalam bentuk isyarat tangan. Tetapi sebenarnya ada berbagai jenis mudra. Karena mudra adalah isyarat yang juga melibatkan seluruh anggota tubuh. Semua ada lima jenis mudra, yaitu Hasta Mudras(Mudra Tangan), Mana Mudras(Mudra Kepala), Kaya Mudras (Mudra yang melibatkan gerakan tubuh), Bandha Mudras(Mudra Kunci), Adhara Mudras (Mudra Perineal).


"Benar adimas Dewa Rencong, itu pertanda dia sudah membersihkan hatinya mencapai ketenangan Nirvana. Sebuah awal dari tahap terakhir pada tehnik sembilan putaran langit."


"Karena pada tahap terakhir ini selain membuka dua chakra terakhir, yaitu chakra ajna dan chakra sahasrara atau chakra mahkota, dia juga akan membuka kekuatan spiritual. Salah satu syarat untuk bisa membuka kekuatan spiritual adalah samadhinya sudah mencapai ketenangan Nirvana."


"Benar kakang Udan Asrep, hanya saja aku merasa, apakah ini tidak terlalu cepat? Seingat aku saat mencoba mencapai ketenangan Nirvana sebagai tahap awal untuk membuka kekuatan spiritualku hampir dua purnama aku lakukan samadhi untuk mencapai titik ketenangan Nirvana itu."


"Dia sejak kecil bersama dengan seorang Maharesi. Membersihkan hati adalah makanannya sehari-hari. Selain itu anak ini memang belum diracuni pikiran-pikiran buruk. Karena sejak kecil dia banyak hidup didalam hutan dan selalu dibawah bimbingan dan pencerahan oleh gurunya yang Maharesi."


"Tentu saja berbeda dengan adimas Dewa Rencong yang dibesarkan didalam kawasan keraton kerajaan yang berada diujung Swarnabhumi itu. Banyak hal yang telah membuat pikiran adimas Dewa Rencong teracuni dengan lingkungan keraton. Selain itu segala cara berpikir abdi dalem yang mengasuh dan membesarkan ikut membentuk cara berpikir pendekar tak lagi semurni nakmas Suro."


"Selain itu aku mendengar sewaktu kecil, bukankah pendekar suka berbuat onar alias biang rusuh sampai akhirnya ayahanda pendekar mengungsikan ketempat kediaman gurumu? Secara tidak langsung itu juga akhirnya membuat pendekar memilih menjadi seorang pendekar daripada sebagai seorang pangeran kerajaan."


"Haha! Kakang Udan Asrep ternyata mengetahui juga jalan hidupku yang penuh kebahagian ini. Hahaha!" Dewa Rencong tidak mampu menahan tawa mendengar Eyang Udan Asrep mengetahui rahasia masa kecilnya yang terkenal biang onar. Dia teringat bagaimana dia suka menjahili para abdi dalem sesuka dia saja.


Dan puncaknya adalah dia diasingkan dari keraton, karena dia menjahili tamu kerajaan dari Sinhaladwipa atau Sri langka pada masa sekarang.


Dia diasingkan agar bisa memiliki rasa tanggung jawab dengan jalan menjadi murid seorang pendekar yang terkenal. Tempat dimana dia diasingkan justru membuat dia betah dan menyukainya. Gurunya yang mengajarinya ilmu olah kanuragan, sebenarnya dia dulunya adalah termasuk salah satu senopati yang menjadi andalan. Sebelum mengasingkan diri untuk hidup sebagai seorang petapa.


"Kakang Udan Asrep dia telah merubah mudranya beberapa kali sejak empat hari yang lalu. Sekarang dia telah mampu menarik energi dichakra anahata dan telah melewati chakra vishudda yang berada ditenggorokannya. Dengan ditandai penggunaan granthita mudra yang berguna untuk memutar chakra vishudda menjadi mahashirsha mudra atau mudra kepala besar. Artinya energi sudah mulai memasuki chakra ajna dan telah memulai bergerak memutar sebagai bentuk sirkulasi energi dichakra ajna."


"Dia sudah mengunakan mahashirsha mudra sejak hari kelima. Dengan melihat isyarat tangan itu dia terus berusaha agar perputaran energi bergerak hingga lancar di chajra ajna atau juga disebut mata ketiga atau indera keenam."


"Pada tahap ini kemungkinan dia akan segera membuka granthi atau simpul kekuatan di chakra ajna. Biasanya pada tahap ini akan terjadi ledakan energi begitu simpul itu dibuka!


"Benar kakang Udan Asrep semoga tubuhnya sudah siap menerima ledakan kekuatan akibat dibukanya granthi terakhir yang ada dalam tubuhnya."


"Apakah rumah ini kuat menerima ledakan energi? Mengingat sebelumnya dia sudah menghancurkan satu rumah akibat ledakan energi saat membuka granthi kedua?" Eyang Udan Asrep melihat langit-langit rumah mencoba menakar kekuatan konstruksi bangunan yang menjadi tempat latihan itu.


"Lihatlah sekarang dia telah memulai dengan bhoochari mudra!" Dewa Rencong terkejut melihat perubahan mudra yang digunakan Suro.


Bhoochari mudra termasuk didalam jenis mudra kepala atau Mana Mudras. Karena memang berhubungan dengan kepala tepatnya di dahi, yaitu tengah-tengah alis sedikit keatas. Pada bhoochari mudra memiliki tujuan yang salah satunya dapat mengaktifkan titik ajna. Posisi mudra ini telapak tangan diluruskan melintang dibawah lubang hidung. Telapak tangan kiri diletakan didengkul kaki kiri yang dalam posisi bersila menyilang.


"Pertanda dia sudah mampu memutar energi di chakra ajna dan telah bersirkulasi dengan lancar." Eyang Udan Asrep membalas perkataan Dewa Rencong.


"Dengan terbukanya granthi dititik ajna dia juga akan membuka kekuatan spiritual miliknya. Aku penasaran akan sehebat apa ilmu pedang bocah ini jika telah dibuka kekuatan spiritualnya? Mengingat pada pertarungannya di seleksi tetua muda, apa yang dia lakukan begitu mengagumkan. Bahkan sampai membuat tetua Tunggak Semi harus menggunakan tahap bersatu dengan pedang."


"Benar kakang Udan Asrep aku juga penasaran akan seberapa kuat bocah ini. Membuat aku tidak sabar untuk mengajarinya kekuatan jiwa milikku." Satu senyumn tersungging diwajah Dewa Rencong yang menatap Suro dengan begitu serius.