SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 251 Rantai Pemasung Sukma part 2



Pembantaian yang dilakukan Pujangga gila yang terlintas dipikiran eyang Sindurogo sebenarnya sudah terjadi sangat lama sekali, yaitu puluhan tahun yang lalu. Semua itu terpicu oleh kematian mantan kekasih dari Pujangga gila.


Cerita itu hanyalah runut dari kejadian yang membuat kewarasannya akhirnya moksa(lenyap) dari kesadarannya. Kewarasannya mulai menghilang sejak kekasihnya meninggalkan dirinya.


Semua itu terjadi karena belahan jiwanya itu telah dijodohkan oleh orang tuanya dengan seorang anak bangsawan. Semenjak ditinggal kekasihnya inilah kewarasannya secara perlahan, tetapi pasti mulai terganggu.


Setelah menikah dengan anak bangsawan kekasihnya itu juga bukan mendapatkan kebahagiaan, tetapi itu justru menjadi awal petaka dalam hidupnya. Sebab hampir setiap hari kekasihnya itu disiksa oleh suaminya.


Semua hal buruk yang diterimanya karena sebuah alasan sepele atau tanpa alasan sedikitpun. Apalagi jika suaminya habis mabuk, maka siksaan yang dia terima lebih dari biasanya. Sedangkan suaminya itu memiliki hobi minum arak hampir setiap hari sampai mabuk.


Siksaan yang membekas ditubuhnya sudah tidak terhitung jumlahnya. Karena sudah tidak tahan akhirnya wanita itu gantung diri.


Saat upacara penguburan mantan kekasihnya itulah pujangga gila datang. Dia mulai meraung-raung dengan keras meratapi kematiannya.


Raungan dan ratapan itu bukan sebuah raungan dan ratapan biasa. Sebab selain berupa syair panjang, juga dilambari ilmu sesat dengan kekuatan yang mengerikan.


Itu adalah awal dimana dia diburu seluruh pendekar aliran putih dan prajurit kerajaan dan awal namanya dikenal oleh dunia persilatan.


Tetapi sebelum kejadian mengerikan itu terjadi, telah tak terhitung jumlahnya Pujangga gila mendatangi kota kadipaten tempat tinggal mantan kekasihnya.


Itu adalah cara bagi dirinya untuk melepaskan rasa kerinduannya, yaitu dengan cara bersyair sepanjang jalan di kota kadipaten itu.


Syair kerinduan yang tidak akan dipahami bagi yang tidak merasakannya. Syair itu walau diucapkan oleh orang gila tetapi bahasanya sangatlah indah.


Salah satu sebab itulah yang menjadi alasan bagi beberapa orang di kadipaten itu menuliskan syair-syairnya itu menjadi sebuah buku, yaitu karena keindahan susunan kata-katanya.


Memang sebelum kewarasannya hilang dari kesadarannya dia lebih dikenal jenius dalam ilmu bela diri, dia juga dikenal sebagai penyair yang handal.


Meskipun Pujangga gila setiap kali mendatangi kota kadipaten itu tidak berhasil bertemu, itu sudah cukup baginya.


Sebab lelaki gila yang dipisahkan oleh kekasihnya karena takdir perjodohan, memiliki cara tersendiri agar selalu terhubung dengan kekasihnya. Bagi lelaki itu kemanapun matanya memandang, kemanapun kaki melangkah, apapun wujud yang dia lihat, maka semua itu akan mewakili wujud kekasihnya.


Karena kegilaan dirinya itulah yang sebenarnya menjadi salah satu kematian mantan kekasihnya. Sebab suami dari kekasihnya adalah seorang pemarah.


Mendengar nama istrinya terus disebutkan dalam syair Pujangga gila, membuat dia malu dan marah, sehingga mulai menyiksa istrinya dengan lebih membabi-buta.


Suaminya itu sebenarnya sudah berusaha membunuh Pujangga gila, namun semua pembunuh itu justru kembali dengan tangan kosong.


Hal menakutkan dari keputusannya menyewa pembunuh bayaran , adalah mereka justru berbalik hendak membunuh dirinya. Sebab mereka semua terkena pengaruh dari ilmu gendam iblis milik Pujangga gila.


Akibatnya suami dari kekasihnya itu justru dikejar-kejar hendak dibunuh oleh pembunuh bayaran yang dia sewa. Kejadian itu membuat lelaki itu kapok untuk berurusan dengan Pujangga gila.


Setelah peristiwa itu, maka siksaan yang diterima istrinya semakin menjadi. Sebab lelaki itu begitu malu nama istrinya terus disebut-sebut orang gila, sehingga dirinya menjadi pergunjingan seluruh penduduk kadipaten.


Nama Pujangga gila tidak banyak mengetahui sebelum kejadian mengerikan yang dia lakukan. Namun sebagian kabar menyebut dulu dia adalah murid sebuah perguruan aliran putih.


Karena suatu hal ia dikeluarkan. Tetapi entah disebut sebuah keberuntungan atau kesialan, justru sebuah takdir mempertemukannya pada sebuah kitab gendam iblis.


Pada saat itu penalarannya yang memang sudah tidak waras, namun dia adalah jenius dalam bidang sastra maupun bela diri.


Karena itulah meski sudah gila, dia tetap mampu memahami ilmu yang terkandung dalam kitab yang dia temukan. Maka setelah menguasai apa yang terkandung kitab itu, membuat dia menjadi orang gila yang sangat berbahaya.


Setelah sekian lama mengejar bayang-bayang kekasihnya yang telah hidup dengan lelaki lain, terjadilah peristiwa besar mengerikan yang membuat nama Pujangga gila diburu kerajaan maupun para pendekar aliran putih.


Kejadian itu tentu saja disebabkan oleh kematian kekasihnya. Saat melihat kekasihnya dikubur itu meraung-raunglah Pujangga gila dengan begitu menakutkan.


Raungan dan ratapan dalam bentuk syair itu bukanlah sembarang raungan, sebab itu merupakan bagian dari kekuatan gendam iblis yang dia pelajari.


Tentu saja semua yang ikut dalam upacara penguburan kekasihnya tidak ada yang hidup. Selain ilmu gendam, ratapan itu juga dilambari dengan tenaga dalam yang cukup tinggi, sehingga berhasil membantai mereka semua tanpa ampun.


Semua itu hanyalah awal dari sebuah pembantaian yang lebih besar. Sebab setelah semua orang yang ikut menguburkan kekasihnya itu mati, maka dia melanjutkan langkahnya terus bersyair sambil menjelajahi hampir setengah dari kota kadipaten.


Dia bersyair dengan ilmu gendam yang dipenuhi rasa kemarahan, keputusasaan dan tentu saja ditambah ketidak warasannya. Apa yang baru saja dia lakukan itu membuat setengah kota kadipaten ikut menggila. Mereka semua akhirnya saling bunuh membunuh hingga tidak ada yang tersisa.


Sebab yang masih hidup akhirnya memilih mengakhiri hidupnya, setelah mengetahui anak, istri dan semuanya yang dia kasihi telah dia bunuh dengan tangannya sendiri. Semua menjadi begitu kacau tidak ada yang menghentikan itu, karena semua ikut menjadi gila tidak ingat atas apapun yang terjadi.


Karena alasan itulah mengapa eyang Sindurogo mencari lelaki gila itu puluhan tahun lalu.


**


Eyang Sindurogo mencoba menyerang Pujangga gila dengan beberapa serangan mematikan, tetapi semua itu tidak ada yang berhasil membunuhnya.


Entah berapa kali dia berusaha menyerang lawannya dengan sinar dari ujung jari telunjuknya dan dari kedua matanya. Tetapi semua itu dapat dihindari oleh Pujangga gila.


Kondisi itu, akhirnya membuat eyang Sindurogo merubah siasat.


Saat lelaki gimbal itu menarik tubuhnya, maka dia justru menggunakan kekuatan tarikan itu untuk melesat mendekati lawannya.


"Wahahahaha...! Aku dapat ikan besar! Aku dapat ikan!" Pujangga gila berteriak kegirangan merasa menang tarik ulur dengan lawannya.


Meskipun lelaki yang mereka hadapi adalah orang gila yang kewarasannya sudah tidak lagi bercokol di kepalanya, justru itu menjadi salah satu masalah saat berhadapan dengan lawan gila seperti lelaki itu.


Sebab segala keputusan maupun serangan yang dilakukan hanya berdasarkan pada nalurinya saja. Sehingga apapun yang dilakukan tidak mudah diprediksi dan membuat mereka kesulitan mengalahkan lelaki gila tersebut.